LOGINBerhubung Kaluna sedang kabur dari rumah orang tuanya—jadi dia menghubungi butik langganan keluarganya untuk memesan pakaian kerja.Selain itu, dia memerintahkan sekretaris barunya untuk mengirim mobil ke rumah Davanka untuk menjemputnya.Kaluna mengikuti nasihat sang kakak agar tetap bekerja, mengikuti prosedur eksogen yang harusnya.Dia menurut bukn karena patuh tapi karena berterimakasih, sang kakak masih mau mendukungnya.Jadi meski semuanya serba mendadak beli tapi Kaluna tetap tampak elegan. Tegas. Tanpa cela.Seolah tidak ada yang berubah.Padahal di dalam dirinya—semuanya sedang berantakan.Kaluna turun dari mobil di depan loby kantor dengan langkah yang kembali pasti. Wajahnya tenang. Tidak ada bekas tangis semalam. Tidak ada tanda bahwa dia baru saja “kabur” dari rumahnya sendiri.Dia kembali menjadi CEO. Topeng itu terpasang sempurna.“Pagi Bu.” Sang sekretaris menyapa Kaluna.“Pagi!” Kaluna menyahut sembari masuk ke dalam ruangannya.Dia menutup pintu lalu bers
Pagi itu meja makan panjang di mansion Gunadhya sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan—dari roti panggang, omelette, hingga jus segar yang disiapkan oleh para asisten rumah tangga sejak subuh.Ayah Kama mengecup pelipis sang istri yang sedang menata meja makan sebelum akhirnya duduk di ujung meja.Setelah itu bunda Arshavina Duduk di samping ayah Kama.“Pagiiii ….” Suara riang Zyandru tertdengar sebelum sosoknya sampai di ruang makan.Seperti ayah Kama—Zyandru juga mengecup pelipis sang bunda.“Pagi sayang.” Bunda yang menyahut.Zyandru duduk di depan bunda. Setelah sarapan pagi berlangsung beberapa saat dengan obrolan hangat, mereka baru menyadari kalau kursi di mana Kaluna biasa duduk itu masih kosong.“Luna belum turun?” tanya bunda Arshavina sambil menoleh ke arah tangga.Ayah mendongak melihat jam dinding dan waktu sudah menujukan pukul tujuh lebih lima belas menit di mana seharusnya Kaluna sudah pergi ke kantor tapi sekarang bahkan turun untuk sarapan pun belum.
Setelah menutup panggilan telepon, Kaluna mengembuskan nafas panjang, dia merentangkan kedua tangan, matanya menatap kosong langit-langit kamar.Tiba-tiba perutnya berbunyi. Dia belum makan malam karena sekretarisnya tidak peka.Akhirnya Kaluna keluar kamar, masih belum ganti baju—dia menuju dapur.Sialnya dia bertemu ayah ketika melewati ruang keluarga.“Bunda mana Yah?” tanya Kaluna basa-basi.“Di kamar ….” Ayah menjawab dingin.Kaluna juga melanjutkan langkah menuju dapur.Di sana dia menghangatkan cream soup dari kulkas.Sambil menunggu microwave selesai menghangatkan, Kaluna menunggu.Dia mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu menoleh.“Ayah lapar juga?” tanya Kaluna begitu mendapati ayahnya masuk ke dapur.“Ayah mau buat kopi ….” Ayah menjawab tanpa menatap wajah Kaluna.“Nikmati semua apa yang bisa kamu nikmati selagi masih di sini … setelah keluar nanti, Ayah enggak bisa menjamin perut kamu tetap kenyang.”
“Aku pulang untuk menghadiri pesta pernikahan kak Luna ….” Nada suara Zyandru sudah lebih rendah.Dia pergi usai berkata demikian meninggalkan sang ayah di meja makan dengan rahangnya yang mengeras.Tanpa di sangka, di mulut tangga paling bawah—Zyandru bertemu sang kakak yang sedang berdiri di sana sembari mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.Kaluna masih mengenakan pakaian kerja, dia mendengar percakapan antara sang ayah dengan adik bungsunya ketika hendak naik ke lantai dua.“Kak ….” Zyandru mengusap-ngusap pundak Kaluna.“Kita ngobrol di atas yuk!” ajak Kaluna.Zyandru mengikuti kakaknya ke kamar di lantai dua.Dia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang di dekat walk in closet.Kaluna duduk di sana juga di samping Zyandru, melipat satu kakinya agar bisa menghadap sang adik.“Makasih ya udah pulang ….” Zyandru mengangguk, sorot matanya tampak iba.“Tenang aja, gue masih kakak lo.” Kaluna mengusak rambut Zyandru.Zya
Ketika malam di perbatasan Lembang-Subang—udara begitu dingin.Di luar, langit dipenuhi bintang.Satria duduk di teras rumah, di bangku kayu sedang menikmati malam sendirian.Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar lalu pintu terbuka.Bapak muncul dari dalam lantas duduk di sampingnya.Beberapa saat hanya hening, tatapan mereka tertuju ke depan.“Kamu masih kerja di AG Group setelah menikah nanti?” tanya bapak tiba-tiba.Satria menoleh lalu menjawab jujur.“Enggak, Pak.”Bapak menatapnya dengan kening mengkerut.“Aa sudah resign.”“Kenapa?” Nada suara Bapak meninggi. Terdengar cemas dan tidak terima.Mungkin beliau berpikir akan diberi makan apa oleh Satria nanti anak konglomerat itu jika Satria resign?“Aa mau mulai dari awal lagi.”Bapak masih menatap Satria, menunggu kelanjutan kalimatnya.“Aa sudah melamar di beberapa perusahaan.”Satria tersenyum. “Dan beberapa hari lalu melakukan interview sebagai tes di perusahaan besar milik asing.”Bapak mengangguk pelan. “Bag
Jalanan menuju kampung halaman tidak pernah berubah.Aspal yang mulai retak di beberapa sisi. Deretan pohon pinus yang berdiri diam seperti penjaga waktu. Udara yang lebih sejuk dari di Jakarta—lebih jujur.Satria memperlambat laju mobilnya.Matanya menatap ke depan tapi pikirannya jauh menerawang ke masa lalu.Ke tempat di mana semuanya dimulai dan ke tempat di mana ia harus kembali untuk meminta restu yang paling tulus.Mobil berhenti di depan rumah sederhana itu.Meski tidak besar dan semewah mansion Gunadhya tapi selalu ada kehangatan di sana.Selalu terasa seperti rumah yang sesungguhnya.Satria turun dari mobil, langkahnya pelan tidak seperti biasanya yang tegas dan pasti.Tangannya terangkat tapi kemudian menghela napas sebentar sebelum mengetuk pintu kayu itu.Tok.Tok.Dari dalam terdengar suara langkah.Pintu terbuka dan sosok itu muncul.“Ibu .…”Ratna membeku selama beberapa detik.Matanya tampak berkaca-kaca. “Satria .…”Tangannya langsung meraih wajah sa







