Beranda / Romansa / Menantang Kasta / Sebuah Pengakuan

Share

Sebuah Pengakuan

Penulis: Erna Azura
last update Tanggal publikasi: 2026-05-15 19:56:36

Ketika langit sudah berubah jingga, Satria akhirnya sampai di rumah.

Dia memarkirkan mobilnya.

Mungkin hanya dia, kuli angkut yang menggunakan mobil ke tempat kerja.

Satria tersenyum miris membayangkan hal itu.

Suasana rumah terlihat sepi dari luar.

Satria mengetuk pintu lalu membukanya.

Ternyata suasana di dalam rumah tidak jauh berbeda.

Tidak ada Kaluna yang biasa menyambutnya.

“Luna …,” panggil Satria.

Tapi dia menemukan bapak dan ibu di ruang televisi.

Mata Ibu terlihat bengkak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
rianur378
semangat k Othor,,, muachhh 🫣
goodnovel comment avatar
Nuada Airlangga
nangis saya,suami saya gitu jadi petani dan peternak sapi
goodnovel comment avatar
virna putri
iya Lun.. berbuat sesuatu atuh lah.. relasi & tmn kamu jg banyak kan? masa ga ada yg bantu.. smg ada jalan ya.. doa ortu dan istri InsyaAllah diijabah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menantang Kasta   Sebuah Pengakuan

    Ketika langit sudah berubah jingga, Satria akhirnya sampai di rumah.Dia memarkirkan mobilnya. Mungkin hanya dia, kuli angkut yang menggunakan mobil ke tempat kerja.Satria tersenyum miris membayangkan hal itu. Suasana rumah terlihat sepi dari luar. Satria mengetuk pintu lalu membukanya.Ternyata suasana di dalam rumah tidak jauh berbeda.Tidak ada Kaluna yang biasa menyambutnya.“Luna …,” panggil Satria.Tapi dia menemukan bapak dan ibu di ruang televisi.Mata Ibu terlihat bengkak seperti habis menangis.“Ibu … Bapak ….” Satria menyapa. Satria menatap ibu lamat-lamat, penuh khawatir dan curiga.“Ada apa? Kaluna mana?” tanyanya sembari duduk di single sofa.“Kamu kenapa enggak bilang kalau kerja di perkebunan Deni jadi kuli angkut?” Bapak bertanya, nada suaranya rendah namun tegas. Terdengar butuh penjelasan.Satria tertawa pelan, akhirnya bapak tahu juga. “Awalnya Aa pikir dia akan kasih Aa kerjaan jadi kepala perkebunan … tapi dari awal dia nawarin Aa kerja cuma m

  • Menantang Kasta   Kuli Angkut

    “Hati-hati ya sayang,” kata Kaluna dengan mata berbinar ketika mengantar Satria hingga teras.Satria tersenyum lalu mengecup kening Kaluna.“Kamu mau jajan?” Satria merogoh saku celananya.“Enggak … aku enggak mau jajan, banyak makanan di rumah … buah-buahan juga nyaris enggak kemakan.” Kaluna meraih kedua tangan Satria yang memakai sarung tangan rajut kemudian menggenggamnya.“Sayang, kamu kedinginan banget ya sampe pakai-pakai terus sarung tangan?” Kaluna mengangkat tangan Satria.Satria menurunkannya kembali. “Iya sayang,” balas Satria kemudian memeluk Kaluna.“Minggu depan aku gajian, kita dinner romantis ya.”Kaluna tergelak. “Suami aku itu ya, baru dapet duit enggak banyak aja lagaknya udah kaya bos tambang … pengennya jajanin aku terus ….” Satria ikut tertawa hingga kepalanya mendongak.“Semoga rezeki kamu lancar ya sayang … Tuhan bukakan pintu rezeki dari segala arah.” Kaluna menambahkan.“Aamiin.” Satria mengecup kening Kaluna lagi.Satria mengurai pelukan lalu mu

  • Menantang Kasta   Lamaran Yang Ditolak

    “Pakainya yang ini.”Zyandru meletakkan sebuah box hitam panjang di atas kasur. Ratu yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh.“Apa ini?”“Buka saja,” kata pria itu sembari masuk ke dalam walk in closet.Ratu berjalan mendekat lalu membuka box itu perlahan.Dan matanya langsung membesar.Sebuah gaun satin champagne dengan detail kristal halus di bagian bahu terlipat sempurna di dalamnya. Potongannya elegan. Mewah. Dewasa. Tapi tetap lembut.“Aa ini untuk apa?“Zyandru tidak langsung menjawab hingga beberapa menit kemudian—di saat Ratu masih mengagumi gaun tersebut—pria itu muncul lalu berdiri di depan walk-in closet sambil memasang cufflink di lengan kemeja putihnya.Malam ini Zyandru juga terlihat berbeda.Setelan tuxedo hitam fitted membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan. Dan tatapan mata itu…Terlalu mematikan.Ratu sampai menelan ludah.“Kita mau ke kondangan?”Zy

  • Menantang Kasta   Memperlakukan Satria Tidak Baik

    Menjelang siang ketika matahari mulai naik lebih tinggi.Kabut pagi yang tadi menyelimuti perkebunan sudah benar-benar hilang, berganti panas yang mulai menyengat kulit.Kaos hitam Satria sudah basah kuyup oleh keringat.Debu teh menempel di lengan, leher, bahkan sebagian wajahnya. Wajah putih pria itu kini tampak memerah karena terlalu lama terpapar sinar matahari.Telapak tangannya pun mulai terasa perih.Namun sejak pagi, tidak sekali pun dia mengeluh.“Udah dulu!” Pak Jaja berseru sambil menepuk kedua tangannya.“Istirahat! Makan dulu!”Beberapa pekerja langsung bersorak kecil.Ada yang duduk di bawah pohon.Ada yang membuka bekal.Ada yang mengambil air minum.Satria duduk di atas batang kayu besar dekat gudang.Tangannya membuka tutup botol air mineral.Kepalanya sedikit menunduk.Tubuhnya lelah.Tapi yang lebih melelahkan justru pikirannya.Sampai tiba-tiba—suara mobil terdengar dari arah jalanan.Satria tidak terlalu peduli.Namun beberapa detik kemudian, l

  • Menantang Kasta   Mempertimbangkan

    Malam hari ketika hendak tidur, tawaran Deni terus terngiang dalam kepala Satria. Pekerjaan apapun saat ini sangat Satria butuhkan, tapi bukan berarti datangnya dari Deni. Satria membalikan tubuhnya membelakangi Kaluna. Tapi uang di dompetnya tinggal selembar, bagaimana nanti kalau Kaluna ingin makan sesuatu atau beli skincare? Satria membalikan lagi tubuhnya menghadap Kaluna. “Sayang … gelisah banget sih? Mau lagi?” tanya Kaluna yang hampir kehilangan kesadaran, masuk ke alam mimpi setelah mendapatkan lima kali pelepasan.“Enggak … tidur aja, kamu pasti capek.” Satria mengusap kepala Kaluna.Kaluna kembali terlelap.Namun beberapa saat kemudian—Satria bertanya,”Sayang ….”“Hem?” Kaluna masih menjawab meski dengan mata terpejam.“Tadi Deni datangin aku ke ladang, katanya dia mau kasih aku kerjaan … besok jam delapan, aku harus datang ke kantornya.”Kaluna menghela nafas. “Datang aja, beli perkebunannya ….” Kaluna ngelantur.Satria tersenyum, dia mengecup kening Kaluna dalam

  • Menantang Kasta   Tawaran Deni

    Tujuan pertama mereka adalah Times SquareBegitu turun dari mobil—Ratu benar-benar membeku.Matanya membesar. Mulutnya sedikit terbuka.Gedung tinggi mengelilingi mereka. Layar digital raksasa menyala di segala arah. Iklan fashion. Film. Brand dunia. Lampu warna-warni. Suara musik jalanan. Turis dari berbagai negara. Dan energi kota yang seperti tidak pernah tidur.“Aa .…” Ratu menatap sekeliling, suaranya pelan sekali.“Aku kayak masuk film Hollywood.”Zyandru tertawa kecil. “Iyaaa, Neng pemeran utamanya.”Ratu tidak merespon. Ia justru berputar pelan demi bisa menjangkau penglihatan ke segala arah.Lalu—cekrek.Zyandru diam-diam memotret.Detik itu juga Ratu menoleh.“Aa!”“Kenapa?”“Jangan candid!”“Tapi cantik.”Dan sukses.Pipi Ratu kembali merah.Beberapa menit kemudian—mereka berfoto bersama.Ratu memaksa Zyandru ikut gaya lucu.Zyandru awalnya menolak.Namun akhirnya menyerah.Dan hasilnya—Ratu tertawa sampai memegangi perut.“Ya ampun… muka Aa kaku bange

  • Menantang Kasta   Bukan Lagi Profesionalisme

    Sepanjang perjalanan pulang dari gala dinner, Kaluna tidak banyak bicara.Kama sendiri sibuk mematuti ponselnya membalas chat dan email jadi tidak menyadari kegalauan Kaluna.Bayangan Putri berdiri terlalu dekat dengan Satria terus terputar di kepala Kaluna.“Pak Satria tadi bantu

  • Menantang Kasta   Apa Namanya Kalau Bukan Cinta?

    Senin pagi datang terlalu cepat.Kaluna berdiri di depan cermin kamar, blazer krem terpasang rapi, rambutnya digelung elegan. Wajahnya tampak profesional seperti biasa.Tapi pikirannya tidak setenang tampilannya.Ucapan Kanaya, ucapan ayah, ucapan bunda di meja makan kemarin tentan

  • Menantang Kasta   Perasaan Yang Mulai Tumbuh

    Keesokan paginya, Kaluna turun ke ruang makan dengan langkah santai. Rambutnya sudah disisir rapi, wajahnya segar tanpa riasan berlebihan.Ia tidak tahu kalau suasana di bawah telah berubah total.Begitu melewati lengkungan koridor menuju ruang makan utama—Suara anak kecil terdengar lebih dulu.

  • Menantang Kasta   Benaknya Dipenuhi Satria

    Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status