Share

Perpisahan

Author: Erna Azura
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-17 21:30:05

Pagi itu setelah sarapan pagi, Ratu sibuk menghitung koper-koper besarnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Lima.

Enam.

Belum termasuk paperbag-paperbag butik mewah yang memenuhi hampir setengah ruang keluarga yang berisi dress, coat, tas, sepatu, skincare, make up, parfum.

Dan semua barang yang dulu dibeli dengan wajah bahagia kini justru terlihat seperti benda-benda yang akan menjadi saksi sebuah perpisahan.

Ratu menggigit bibir bawah.

Tangannya sibuk merapikan pegangan koper meski sebenarny
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (10)
goodnovel comment avatar
Syarilln
perpisahan yang menyakitkan
goodnovel comment avatar
JuliAti
mewek jga kan baca bab ini jadinya thor
goodnovel comment avatar
virna putri
tadinya mau skip tapiii ahhh nangis jg kannn
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menantang Kasta   Perpisahan

    Pagi itu setelah sarapan pagi, Ratu sibuk menghitung koper-koper besarnya.Satu.Dua.Tiga.Empat.Lima.Enam.Belum termasuk paperbag-paperbag butik mewah yang memenuhi hampir setengah ruang keluarga yang berisi dress, coat, tas, sepatu, skincare, make up, parfum.Dan semua barang yang dulu dibeli dengan wajah bahagia kini justru terlihat seperti benda-benda yang akan menjadi saksi sebuah perpisahan.Ratu menggigit bibir bawah.Tangannya sibuk merapikan pegangan koper meski sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dirapikan.Sementara di seberang sana—Zyandru berdiri diam.Tangannya masuk ke dalam saku celana, mengepal.Tatapannya terus mengawasi setiap gerak Ratu.Sejak semalam.Sejak penolakan itu.Sejak tangis di Central Park.Dan sejak kalimat Ratu yang terus terngiang sampai sekarang—“Aku mau mencintai Aa dengan bebas….”Zyandru menarik napas panjang.“Neng.”Ratu berhenti bergerak.Pelan, ia menoleh.“Iya?”Zyandru diam beberapa detik.Lalu tersenyum tipis.

  • Menantang Kasta   Sebuah Pengakuan

    Ketika langit sudah berubah jingga, Satria akhirnya sampai di rumah.Dia memarkirkan mobilnya. Mungkin hanya dia, kuli angkut yang menggunakan mobil ke tempat kerja.Satria tersenyum miris membayangkan hal itu. Suasana rumah terlihat sepi dari luar. Satria mengetuk pintu lalu membukanya.Ternyata suasana di dalam rumah tidak jauh berbeda.Tidak ada Kaluna yang biasa menyambutnya.“Luna …,” panggil Satria.Tapi dia menemukan bapak dan ibu di ruang televisi.Mata Ibu terlihat bengkak seperti habis menangis.“Ibu … Bapak ….” Satria menyapa. Satria menatap ibu lamat-lamat, penuh khawatir dan curiga.“Ada apa? Kaluna mana?” tanyanya sembari duduk di single sofa.“Kamu kenapa enggak bilang kalau kerja di perkebunan Deni jadi kuli angkut?” Bapak bertanya, nada suaranya rendah namun tegas. Terdengar butuh penjelasan.Satria tertawa pelan, akhirnya bapak tahu juga. “Awalnya Aa pikir dia akan kasih Aa kerjaan jadi kepala perkebunan … tapi dari awal dia nawarin Aa kerja cuma m

  • Menantang Kasta   Kuli Angkut

    “Hati-hati ya sayang,” kata Kaluna dengan mata berbinar ketika mengantar Satria hingga teras.Satria tersenyum lalu mengecup kening Kaluna.“Kamu mau jajan?” Satria merogoh saku celananya.“Enggak … aku enggak mau jajan, banyak makanan di rumah … buah-buahan juga nyaris enggak kemakan.” Kaluna meraih kedua tangan Satria yang memakai sarung tangan rajut kemudian menggenggamnya.“Sayang, kamu kedinginan banget ya sampe pakai-pakai terus sarung tangan?” Kaluna mengangkat tangan Satria.Satria menurunkannya kembali. “Iya sayang,” balas Satria kemudian memeluk Kaluna.“Minggu depan aku gajian, kita dinner romantis ya.”Kaluna tergelak. “Suami aku itu ya, baru dapet duit enggak banyak aja lagaknya udah kaya bos tambang … pengennya jajanin aku terus ….” Satria ikut tertawa hingga kepalanya mendongak.“Semoga rezeki kamu lancar ya sayang … Tuhan bukakan pintu rezeki dari segala arah.” Kaluna menambahkan.“Aamiin.” Satria mengecup kening Kaluna lagi.Satria mengurai pelukan lalu mu

  • Menantang Kasta   Lamaran Yang Ditolak

    “Pakainya yang ini.”Zyandru meletakkan sebuah box hitam panjang di atas kasur. Ratu yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menoleh.“Apa ini?”“Buka saja,” kata pria itu sembari masuk ke dalam walk in closet.Ratu berjalan mendekat lalu membuka box itu perlahan.Dan matanya langsung membesar.Sebuah gaun satin champagne dengan detail kristal halus di bagian bahu terlipat sempurna di dalamnya. Potongannya elegan. Mewah. Dewasa. Tapi tetap lembut.“Aa ini untuk apa?“Zyandru tidak langsung menjawab hingga beberapa menit kemudian—di saat Ratu masih mengagumi gaun tersebut—pria itu muncul lalu berdiri di depan walk-in closet sambil memasang cufflink di lengan kemeja putihnya.Malam ini Zyandru juga terlihat berbeda.Setelan tuxedo hitam fitted membungkus tubuh tingginya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi ke belakang. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan. Dan tatapan mata itu…Terlalu mematikan.Ratu sampai menelan ludah.“Kita mau ke kondangan?”Zy

  • Menantang Kasta   Memperlakukan Satria Tidak Baik

    Menjelang siang ketika matahari mulai naik lebih tinggi.Kabut pagi yang tadi menyelimuti perkebunan sudah benar-benar hilang, berganti panas yang mulai menyengat kulit.Kaos hitam Satria sudah basah kuyup oleh keringat.Debu teh menempel di lengan, leher, bahkan sebagian wajahnya. Wajah putih pria itu kini tampak memerah karena terlalu lama terpapar sinar matahari.Telapak tangannya pun mulai terasa perih.Namun sejak pagi, tidak sekali pun dia mengeluh.“Udah dulu!” Pak Jaja berseru sambil menepuk kedua tangannya.“Istirahat! Makan dulu!”Beberapa pekerja langsung bersorak kecil.Ada yang duduk di bawah pohon.Ada yang membuka bekal.Ada yang mengambil air minum.Satria duduk di atas batang kayu besar dekat gudang.Tangannya membuka tutup botol air mineral.Kepalanya sedikit menunduk.Tubuhnya lelah.Tapi yang lebih melelahkan justru pikirannya.Sampai tiba-tiba—suara mobil terdengar dari arah jalanan.Satria tidak terlalu peduli.Namun beberapa detik kemudian, l

  • Menantang Kasta   Mempertimbangkan

    Malam hari ketika hendak tidur, tawaran Deni terus terngiang dalam kepala Satria. Pekerjaan apapun saat ini sangat Satria butuhkan, tapi bukan berarti datangnya dari Deni. Satria membalikan tubuhnya membelakangi Kaluna. Tapi uang di dompetnya tinggal selembar, bagaimana nanti kalau Kaluna ingin makan sesuatu atau beli skincare? Satria membalikan lagi tubuhnya menghadap Kaluna. “Sayang … gelisah banget sih? Mau lagi?” tanya Kaluna yang hampir kehilangan kesadaran, masuk ke alam mimpi setelah mendapatkan lima kali pelepasan.“Enggak … tidur aja, kamu pasti capek.” Satria mengusap kepala Kaluna.Kaluna kembali terlelap.Namun beberapa saat kemudian—Satria bertanya,”Sayang ….”“Hem?” Kaluna masih menjawab meski dengan mata terpejam.“Tadi Deni datangin aku ke ladang, katanya dia mau kasih aku kerjaan … besok jam delapan, aku harus datang ke kantornya.”Kaluna menghela nafas. “Datang aja, beli perkebunannya ….” Kaluna ngelantur.Satria tersenyum, dia mengecup kening Kaluna dalam

  • Menantang Kasta   Mulai Berbahaya

    Ruang arsip itu tidak pernah menjadi tempat favorit siapa pun.Dingin. Berdebu tipis. Dindingnya dipenuhi lemari besi tinggi berderet seperti barisan prajurit tua yang menyimpan sejarah puluhan tahun perusahaan.Namun bagi Kaluna, tempat itu justru terasa seperti ruang belajar paling jujur.Dan

  • Menantang Kasta   Karakter Kaluna Yang Sebenarnya

    Ruangan sunyi.Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di wajahnya.Satria bersandar ke belakang sedikit, tetap dalam posisi duduk, tangan mereka masih saling menggenggam.Waktu berjalan.00.1800.4201.07Kantor sepenuhnya hening.Di sela keheningan itu,

  • Menantang Kasta   Senyum Sang Sekretaris

    Sampai di rumah, Kaluna disambut bunda dan ayah dengan senyum dan tatapan mencurigakan penuh tanya.“Sayang ….” Bunda mendekat lebih dulu, mengecup kedua belah pipinya.“Are you oke?”Kaluna menarik nafas panjang bersama pejaman mata sekilas.“Ada yang mau Kaluna bicarakan,” katanya sembari men

  • Menantang Kasta   Tidak Menyesalinya

    Perjalanan kembali ke Jakarta lebih hening dibanding pagi tadi.Kaluna lelah.Bukan hanya fisik, tapi juga mental.Survey berjalan sukses. Ia berhasil membuktikan kapasitasnya. Namun satu hal yang tidak bisa ia kuasai adalah pikirannya sendiri.Dan bibir itu.Setibanya di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status