Teilen

Slow Living

last update Veröffentlichungsdatum: 17.06.2026 20:54:56

Menjelang sore—rumah sakit mulai lebih tenang.

Jam besuk sudah selesai.

Perawat keluar masuk mengecek kondisi Kaluna dan si kembar.

Bunda akhirnya memutuskan mengajak semuanya beristirahat di hotel dekat rumah sakit.

Davanka dan Zevanya langsung pulang kembali ke Jakarta karena Davanka ada meeting besok pagi.

Zyandru juga ikut pulang ke Jakarta.

Bunda sebenarnya sempat menawarkan untuk menemani Kaluna menginap.

Tapi Kaluna menolak.

“Bunda pulang aja istirahat… besok datang lagi.”

Bunda
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (3)
goodnovel comment avatar
virna putri
Intinya berkah dan bersyukur ya Sat.. jgn sampe kerja banting tulang tp ga berkah.. klrga no 1..semangat bahagia versi kalian..
goodnovel comment avatar
eLLy aprilia
Semangat terus satria. Pokoknya aku titip kamu harus bikin rumah di jkt di komplek ayah kama yaaa min di komplek abang dava. lanjut thorr pengen baca semua gunadhya dtg kerumah baru kaluna n bikin party kecil2an untuk si kembar. Jgn lupa om kana n om kaivan beserta anak2nya jg dtg plus kakek rendra
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
ya apapun itu sat... keluarga nomor satu ya.... jangan abai sama keluarga ketika kamu terlalu sibuk bekerja mengembangkan usaha sama nama wirakusuma
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Menantang Kasta   Slow Living

    Menjelang sore—rumah sakit mulai lebih tenang.Jam besuk sudah selesai.Perawat keluar masuk mengecek kondisi Kaluna dan si kembar.Bunda akhirnya memutuskan mengajak semuanya beristirahat di hotel dekat rumah sakit.Davanka dan Zevanya langsung pulang kembali ke Jakarta karena Davanka ada meeting besok pagi.Zyandru juga ikut pulang ke Jakarta.Bunda sebenarnya sempat menawarkan untuk menemani Kaluna menginap.Tapi Kaluna menolak.“Bunda pulang aja istirahat… besok datang lagi.”Bunda sempat ingin menolak.Tapi melihat Satria yang dari tadi bahkan tidak memberi kesempatan Kaluna mengambil minum sendiri—akhirnya beliau menurut.Ruangan rawat Kaluna kembali sepi. Lebih tenang.Sore berganti malam.Lampu kamar diredupkan.Langit di luar jendela begitu gelap tanpa sinar bulan.Kaluna baru selesai minum obat.Satria selesai membereskan ruangan itu agar terlihat rapih dan nyaman.Dia juga merapihkan tas, mengecek ponsel.Mengecek suhu AC.Mengecek tirai.Mengisi ulang a

  • Menantang Kasta   Restu Yang Terlambat Datang

    Satria berdiri beberapa detik setelah ayah Kama selesai bicara.“…antar Ayah ketemu cucu Ayah.”Kalimat itu masih menggema di kepalanya.Aneh.Sesederhana itu.Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang selama ini mengganjal di dada—akhirnya bergeser.Satria mengangguk pelan.Lalu tanpa banyak bicara mulai berjalan.Ayah Kama berjalan di sampingnya.Tidak terlalu dekat.Tapi juga tidak lagi menjaga jarak seperti dulu.Koridor rumah sakit terasa panjang.Banyak orang berlalu lalang.Perawat mendorong troli.Ada suara langkah.Ada suara bayi menangis dari kejauhan.Tapi bagi Satria—semuanya terasa jauh.Karena untuk pertama kali sejak dia menikah dengan Kaluna—dia bisa berjalan berdampingan dengan ayah mertuanya tanpa rasa takut.Tidak ada tatapan merendahkan.Tidak ada penolakan.Tidak ada perang dingin.Hanya dua orang laki-laki yang sama-sama sedang berjalan untuk bertemu dua manusia kecil.Langkah mereka berhenti di depan ruang bayi.Dinding kaca besar memisahkan d

  • Menantang Kasta   Ayah

    Pagi datang lebih cerah dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang rawat dan jatuh lembut di lantai mengkilap.Kaluna sudah jauh lebih segar dibanding semalam meski wajahnya masih pucat dan gerakannya masih sangat hati-hati.Hari ini dia memakai piyama khusus menyusui warna krem yang dibawakan ibu.Rambutnya dikepang longgar.Dan sekarang—di pelukannya ada bayi perempuan kecil yang sedang menyusu dengan tenang.Sementara bayi laki-laki ada di gendongan Satria.Pria itu duduk kaku. Benar-benar kaku. Takut salah posisi. Takut bayinya jatuh.NTakut bernapas terlalu kencang. Tapi ingin menggendongnya.Setiap tiga detik sekali dia melihat ke Kaluna.“Sayang, ini cara aku gendongnya udah bener belum?”Kaluna melirik. “Kalau enggak bener, dia udah protes dari tadi.”Satria menundukan melihat bayinya. Bayi itu tidur pulas. “…oh.”Kaluna menahan senyum.Sejak perawat membawa si kembar ke ruangan itu, Satria sudah berubah jadi ayah paranoid.Bayi bersin—panik.

  • Menantang Kasta   Cucu Pertama Bapak Dan Ibu

    Pelukan mereka terurai pelan.Satria masih duduk di samping Kaluna dengan satu tangan memeluk bahunya.Kaluna menyandarkan kepala sebentar di pundak Satria.Tubuhnya masih lemah. Masih terasa pegal.Tapi entah kenapa—dadanya terasa penuh.Penuh syukur.Penuh bahagia.Dan sangat ingin melihat dua manusia kecil yang baru beberapa jam lalu keluar dari tubuhnya.Belum sempat mereka bicara lagi—terdengar ketukan di pintu.Tok.Tok.Tok.Satria turun dari atas ranjang untuk membuka pintu.Dan detik berikutnya—suasana tenang ruang VIP itu langsung berubah.Ibu masuk paling depan sambil membawa tiga tas besar.Di belakangnya bapak membawa kantong kain dan satu termos besar.Kaluna yang tadi setengah rebahan seketika senyumnya melebar.“Ibuuuu….”Ibu mendekat cepat.“Ya Ampun Neng…” Beliau langsung mengusap kepala Kaluna. “Gimana sekarang?”Kaluna mengangguk kecil. “Masih sakit dikit.”Ibu langsung melotot ke Satria. “Loh kok cuma dikit? Operasi itu sakit.”Satria melongo

  • Menantang Kasta   Arutala Dan Arunika

    Setelah dokter memastikan kondisi Kaluna aman dan stabil, perawat membawa Kaluna ke ruang rawat inap.Satria menunggu Kaluna di luar ruang operasi, begitu mendapati sosok Satria—bibir Kaluna tersenyum.“Aku berhasil,” katanya serak.“Iya sayang … Kamu berhasil, kamu hebat.” Satria mengecup tangan Kaluna yang dia genggam sambil berjalan di samping ranjang di dorong perawat.Dua perawat pria yang mendorong ranjang itupun ikut tersenyum merasakan kebahagiaan pasangan muda yang baru saja menjadi orang tua dari bayi kembar yang sehat.Satria memilih ruangan VIP agar Kaluna nyaman, sekarang saldo di rekeningnya lebih dari cukup untuk memberikan fasilitas terbaik bagi istrinya.Ruang rawat VIP itu cukup tenang.Tidak benar-benar sunyi karena masih ada suara langkah perawat sesekali di koridor dan bunyi mesin monitor yang ritmenya pelan.Kaluna dipindahkan ke ranjang pasien, wajahnya masih pucat dan lemas.Kelopak matanya tampak berat dan bibirnya sedikit kering.Efek obat membuat t

  • Menantang Kasta   Bayi Kembar

    Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.“KENAPA LAMA?!”Dia tiba-tiba marah.Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.“AKU MAU MELAHIRKAN!”Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.Menyambar tas dari atas lemari kemudian memasukan bantal, lalu charger, dan dompet.Pria itu panik jadi benaknya tidak bisa berpikir jernih.“Satriaaaaaa, kamu apa bawa bantal? Di rumah sakit banyak bantal!”Satria seketika tersadar. “… oh iya sayang.” Mengeluarkan bantal dan memasukan keperluan Kaluna.“Bu, kami pergi ya.” Satria pamit sambil menggendong Kaluna.“Iya … iya, nanti Ibu dan bapak menyusul.” Ibu membantu membawakan tas ke dalam mobil.Lima menit kemudian mereka berangka

  • Menantang Kasta   Tak Ingin Melepaskan

    “Nona, hari ini jadwal kita akan mengunjungi proyek—“ Brifing singkat Satria terjeda.“Sekarang aja, langsung … biar enggak bolak balik,” potong Kaluna.“Baik Nona.” Diam-diam Satria mengirim pesan kepada kepala proyek kalau jadwal kunjungan sang CEO dimajukan.Pagi itu udara di lokasi proyek

  • Menantang Kasta   Tidak Pernah Berubah

    Keesokan paginya gedung anak perusahaan AG Group yang dipimpin Kaluna terlihat jauh lebih hidup dari biasanya.Balon-balon perusahaan dengan warna emas dan biru tergantung di beberapa sudut lobi. Booth bazar berdiri berjajar di area taman belakang gedung. Musik ringan mengalun dari panggung

  • Menantang Kasta   Cemburunya Satria

    Keesokan harinya Andre datang lagi. Kali ini untuk presentasi kolaborasi properti.Ia duduk di ruang meeting bersama Kaluna dan Satria.Andre berbicara dengan percaya diri.“Kita bisa mulai pilot project bulan depan.”Kaluna mengangguk.“Menarik.” Matanya berbinar.Satria membuka dokumen di i

  • Menantang Kasta   Pria Lain

    Pagi itu berjalan terlalu normal dan justru itu yang membuat Kaluna merasa tidak normal.Kaluna keluar dari lift dengan langkah tenang. Blazer peach, rambut diikat rendah. Wajahnya kembali dingin dan profesional seperti keputusan yang ia buat beberapa hari lalu meski hatinya berkata lain.Satria

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status