ANMELDENMenjelang sore—rumah sakit mulai lebih tenang.Jam besuk sudah selesai.Perawat keluar masuk mengecek kondisi Kaluna dan si kembar.Bunda akhirnya memutuskan mengajak semuanya beristirahat di hotel dekat rumah sakit.Davanka dan Zevanya langsung pulang kembali ke Jakarta karena Davanka ada meeting besok pagi.Zyandru juga ikut pulang ke Jakarta.Bunda sebenarnya sempat menawarkan untuk menemani Kaluna menginap.Tapi Kaluna menolak.“Bunda pulang aja istirahat… besok datang lagi.”Bunda sempat ingin menolak.Tapi melihat Satria yang dari tadi bahkan tidak memberi kesempatan Kaluna mengambil minum sendiri—akhirnya beliau menurut.Ruangan rawat Kaluna kembali sepi. Lebih tenang.Sore berganti malam.Lampu kamar diredupkan.Langit di luar jendela begitu gelap tanpa sinar bulan.Kaluna baru selesai minum obat.Satria selesai membereskan ruangan itu agar terlihat rapih dan nyaman.Dia juga merapihkan tas, mengecek ponsel.Mengecek suhu AC.Mengecek tirai.Mengisi ulang a
Satria berdiri beberapa detik setelah ayah Kama selesai bicara.“…antar Ayah ketemu cucu Ayah.”Kalimat itu masih menggema di kepalanya.Aneh.Sesederhana itu.Tapi rasanya seperti ada sesuatu yang selama ini mengganjal di dada—akhirnya bergeser.Satria mengangguk pelan.Lalu tanpa banyak bicara mulai berjalan.Ayah Kama berjalan di sampingnya.Tidak terlalu dekat.Tapi juga tidak lagi menjaga jarak seperti dulu.Koridor rumah sakit terasa panjang.Banyak orang berlalu lalang.Perawat mendorong troli.Ada suara langkah.Ada suara bayi menangis dari kejauhan.Tapi bagi Satria—semuanya terasa jauh.Karena untuk pertama kali sejak dia menikah dengan Kaluna—dia bisa berjalan berdampingan dengan ayah mertuanya tanpa rasa takut.Tidak ada tatapan merendahkan.Tidak ada penolakan.Tidak ada perang dingin.Hanya dua orang laki-laki yang sama-sama sedang berjalan untuk bertemu dua manusia kecil.Langkah mereka berhenti di depan ruang bayi.Dinding kaca besar memisahkan d
Pagi datang lebih cerah dari biasanya.Sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang rawat dan jatuh lembut di lantai mengkilap.Kaluna sudah jauh lebih segar dibanding semalam meski wajahnya masih pucat dan gerakannya masih sangat hati-hati.Hari ini dia memakai piyama khusus menyusui warna krem yang dibawakan ibu.Rambutnya dikepang longgar.Dan sekarang—di pelukannya ada bayi perempuan kecil yang sedang menyusu dengan tenang.Sementara bayi laki-laki ada di gendongan Satria.Pria itu duduk kaku. Benar-benar kaku. Takut salah posisi. Takut bayinya jatuh.NTakut bernapas terlalu kencang. Tapi ingin menggendongnya.Setiap tiga detik sekali dia melihat ke Kaluna.“Sayang, ini cara aku gendongnya udah bener belum?”Kaluna melirik. “Kalau enggak bener, dia udah protes dari tadi.”Satria menundukan melihat bayinya. Bayi itu tidur pulas. “…oh.”Kaluna menahan senyum.Sejak perawat membawa si kembar ke ruangan itu, Satria sudah berubah jadi ayah paranoid.Bayi bersin—panik.
Pelukan mereka terurai pelan.Satria masih duduk di samping Kaluna dengan satu tangan memeluk bahunya.Kaluna menyandarkan kepala sebentar di pundak Satria.Tubuhnya masih lemah. Masih terasa pegal.Tapi entah kenapa—dadanya terasa penuh.Penuh syukur.Penuh bahagia.Dan sangat ingin melihat dua manusia kecil yang baru beberapa jam lalu keluar dari tubuhnya.Belum sempat mereka bicara lagi—terdengar ketukan di pintu.Tok.Tok.Tok.Satria turun dari atas ranjang untuk membuka pintu.Dan detik berikutnya—suasana tenang ruang VIP itu langsung berubah.Ibu masuk paling depan sambil membawa tiga tas besar.Di belakangnya bapak membawa kantong kain dan satu termos besar.Kaluna yang tadi setengah rebahan seketika senyumnya melebar.“Ibuuuu….”Ibu mendekat cepat.“Ya Ampun Neng…” Beliau langsung mengusap kepala Kaluna. “Gimana sekarang?”Kaluna mengangguk kecil. “Masih sakit dikit.”Ibu langsung melotot ke Satria. “Loh kok cuma dikit? Operasi itu sakit.”Satria melongo
Setelah dokter memastikan kondisi Kaluna aman dan stabil, perawat membawa Kaluna ke ruang rawat inap.Satria menunggu Kaluna di luar ruang operasi, begitu mendapati sosok Satria—bibir Kaluna tersenyum.“Aku berhasil,” katanya serak.“Iya sayang … Kamu berhasil, kamu hebat.” Satria mengecup tangan Kaluna yang dia genggam sambil berjalan di samping ranjang di dorong perawat.Dua perawat pria yang mendorong ranjang itupun ikut tersenyum merasakan kebahagiaan pasangan muda yang baru saja menjadi orang tua dari bayi kembar yang sehat.Satria memilih ruangan VIP agar Kaluna nyaman, sekarang saldo di rekeningnya lebih dari cukup untuk memberikan fasilitas terbaik bagi istrinya.Ruang rawat VIP itu cukup tenang.Tidak benar-benar sunyi karena masih ada suara langkah perawat sesekali di koridor dan bunyi mesin monitor yang ritmenya pelan.Kaluna dipindahkan ke ranjang pasien, wajahnya masih pucat dan lemas.Kelopak matanya tampak berat dan bibirnya sedikit kering.Efek obat membuat t
Tujuh menit kemudian, mobil Satria masuk halaman rumah seperti habis memenangkan balapan.“LUNA!” Dia berteriak dari luar sambil berlari masuk ke dalam rumah.Kaluna sedang rebahan di sofa menahan mulas dengan wajah sekusut rambutnya.“KENAPA LAMA?!”Dia tiba-tiba marah.Satria melongo. “Ini aku sampai sini cuma tujuh menit loh, harusnya sep—” Kalimatnya terpotong.“AKU MAU MELAHIRKAN!”Satria terperanjat, dia bergegas pergi ke kamar.Menyambar tas dari atas lemari kemudian memasukan bantal, lalu charger, dan dompet.Pria itu panik jadi benaknya tidak bisa berpikir jernih.“Satriaaaaaa, kamu apa bawa bantal? Di rumah sakit banyak bantal!”Satria seketika tersadar. “… oh iya sayang.” Mengeluarkan bantal dan memasukan keperluan Kaluna.“Bu, kami pergi ya.” Satria pamit sambil menggendong Kaluna.“Iya … iya, nanti Ibu dan bapak menyusul.” Ibu membantu membawakan tas ke dalam mobil.Lima menit kemudian mereka berangka
Sepanjang perjalanan pulang dari gala dinner, Kaluna tidak banyak bicara.Kama sendiri sibuk mematuti ponselnya membalas chat dan email jadi tidak menyadari kegalauan Kaluna.Bayangan Putri berdiri terlalu dekat dengan Satria terus terputar di kepala Kaluna.“Pak Satria tadi bantu
Senin pagi datang terlalu cepat.Kaluna berdiri di depan cermin kamar, blazer krem terpasang rapi, rambutnya digelung elegan. Wajahnya tampak profesional seperti biasa.Tapi pikirannya tidak setenang tampilannya.Ucapan Kanaya, ucapan ayah, ucapan bunda di meja makan kemarin tentan
Keesokan paginya, Kaluna turun ke ruang makan dengan langkah santai. Rambutnya sudah disisir rapi, wajahnya segar tanpa riasan berlebihan.Ia tidak tahu kalau suasana di bawah telah berubah total.Begitu melewati lengkungan koridor menuju ruang makan utama—Suara anak kecil terdengar lebih dulu.
Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad







