LOGINBeberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.
Kini semuanya kosong. Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam. Bukan mencicipi tapi menghabiskan. Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang. Pukul empat sore. Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan. Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya. Layarnya kemudian menyala. Hening. Tidak ada nama Brian di sana. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya. Hanya notifikasi email promosi. Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya datar—terlalu datar untuk seseorang yang baru saja dikhianati hampir sepuluh tahun cintanya. “Apakah tadi malam itu cuma mimpi?” gumamnya lirih. Dia menutup mata, berusaha mengingat. Lampu tidur. Kuku merah Amanda. Tangan Brian di tubuh perempuan itu. Tatapan terkejut mereka. Kaluna membuka mata cepat-cepat. “Enggak… itu nyata.” Tangannya gemetar ketika membuka ruang pesan dengan Brian. Chat terakhirnya masih ada. Kaluna : Brian, sorry aku telat balas. Aku lagi sama Nay, Arthur dan Davian. Jangan marah ya… Pesan itu terkirim dengan tanda dua centang biru. Tidak ada balasan setelahnya. Kaluna mendengkus pelan, tapi air mata mulai berkumpul lagi. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Dia mengingat hari pertama bertemu Brian di kampus. Menghabiskan musim panas bersama. Liburan keluarga. Rencana masa depan. Rumah yang akan mereka beli. Nama anak yang pernah mereka diskusikan. Dan semua itu runtuh dalam satu malam. Yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan… adalah keheningan. Brian tidak menghubunginya. Tidak mengejar. Tidak menjelaskan. Tidak meminta maaf. Seolah-olah Kaluna bukan siapa-siapa. Kaluna menggigit bibirnya keras. “Apa selama ini cuma aku yang serius?” bisiknya parau. Bayangan percakapan mereka beberapa bulan terakhir melintas. Brian yang makin posesif. Brian yang sering mencari-cari kesalahan. Brian yang marah hanya karena pesan tak dibalas cepat. Kaluna selalu mengalah. Karena dia pikir itu cinta. Ternyata itu hanya ego. Kaluna meraih salah satu botol kosong di lantai, memandangi sisa tetesan terakhir di dasarnya. Dia, Kaluna Shaqeenarava Gunadhya, pewaris kerajaan bisnis, cucu aristokrat terpandang… duduk sendirian di lantai apartemen Manhattan, menunggu pria yang bahkan tidak peduli ia hidup atau mati. Sungguh ironis. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Bagaimana nanti ia pulang ke Indonesia? Semua sepupunya sudah menikah. Kanaya sudah punya dua anak. Zyandru-adik bungsunya akan segera dijodohkan setelah lulus S2. Dan dia? Perempuan hampir kepala tiga yang gagal mempertahankan hubungan sepuluh tahun. Kaluna menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku enggak punya siapa-siapa di sini…” Suara itu keluar begitu saja. New York yang dulu terasa seperti rumah, mendadak menjadi kota asing. Apartemen mewah ini terasa dingin. Sunyi. Kosong. Kaluna menatap lagi ponselnya. Masih tidak ada pesan. Seketika harga dirinya runtuh sepenuhnya. Kalau Brian masih peduli, seharusnya dia menghubungi. Kalau Brian menyesal, seharusnya dia datang. Tapi tidak. Keheningan adalah jawaban. Kaluna menarik napas panjang, mencoba berdiri. Tubuhnya masih lemas, tapi kepalanya mulai jernih oleh rasa sakit yang lebih tajam dari mabuk. Ia membuka galeri foto. Foto-foto mereka berdua memenuhi layar. Senyum. Pelukan. Liburan. Perayaan ulang tahun. Kaluna mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu tiba-tiba melempar ponsel itu ke sofa. Tangisnya pecah. Tangis yang tidak lagi tertahan. Tangis kehilangan. Tangis harga diri yang diinjak. “Aku enggak akan hubungi kamu,” gumamnya di sela isak. “Kalau kamu mau pergi… ya pergi.” Tapi hatinya tetap berharap ponsel itu berdering. Satu jam berlalu. Dua jam. Sunyi tetap sama. Dan saat itulah Kaluna sadar, dia tidak bisa tinggal di sini lebih lama. Ia butuh rumah. Bukan apartemen ini. Sebuah rumah yang nyata. Dengan tangan gemetar, Kaluna membuka daftar kontak. Jarinya berhenti di satu nama. Ayah. Beberapa detik ia hanya menatap nama itu. Selama ini ia selalu terlihat kuat di depan keluarganya. Mandiri. Percaya diri. Bahagia bersama Brian. Sekarang? Dia akan pulang sebagai perempuan yang gagal. Kaluna menarik napas panjang, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar dua kali sebelum terangkat. “Halo, Luna?” suara Kama terdengar berat namun hangat. Dan hanya dengan mendengar suara itu saja, pertahanan Kaluna runtuh lagi. “Ayah .…” Suaranya pecah. Hening di seberang sana. “Kamu kenapa?” Kama terdengar cemas. Kaluna menutup mata. “Ayah… jemput aku.” Degup jantung Kama terdengar jelas melalui keheningan. “Kapan kamu mau pulang?” Kama bertanya memastikan. “Secepatnya.” Kaluna menjawab getir. Hening kembali menjelma. Ingin sekali Kama bertanya apa yang terjadi tapi sepertinya Kaluna masih rentan. Mungkin setelah sampai di rumah, baru akan Kama ajak bicara. Dan menurut Kama, masalah yang Kaluna hadapi bukan masalah biasa pasti ada hubungannya dengan Brian karena dia memilih lari. Pulang. Ke rumah. “Besok?” Kama bertanya lagi untuk memperpanjang percakapan. Kaluna menggeleng, meski ayahnya tak bisa melihat. “Hari ini, aku ingin pulang hari ini, Yah.” Suara Kaluna serak. Tanpa menunggu detik berlalu, Kama menjawab tegas, “Privat jet akan berangkat malam ini.” Air mata Kaluna kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena Brian. Melainkan karena ia tahu bahwa di dunia ini, setidaknya masih ada satu tempat yang tidak akan pernah menolaknya. Rumah. Dan tanpa ia sadari, keputusan itu bukan hanya tentang pulang. Itu adalah langkah pertama menuju takdir yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia bayangkan. “Terimakasih Ayah ….” Suara Kaluna lebih tegas, karena merasa lega dan aman. “Apapun buat kamu, sayang.” Sambungan telepon diputus, Kaluna kembali menangis di atas kedua tangan yang ditumpuk dan kedua lutut yang ditekuk. Dia tidak ingin makan, tidak ingin tidur, tidak ingin apa-apa sekarang. Hanya ingin menangis, meratapi kisah cintanya dengan Brian. Meratapi hati yang hancur lebur oleh Brian dan Amanda. Kaluna tidak pernah menyangka, sahabat baiknya bisa berbuat seperti itu. Amanda bukan orang baru, dia bahkan pernah Kaluna ajak ke Indonesia ketika libur musim panas. Lalu bayangan ketika dia meminta Brian mengantar Amanda pulang sewaktu Amanda sedang tidak enak badan, melintas di benaknya. “Ya Tuhan … aku yang bodoh.” Kaluna memukul-mukul kepalanya. Kemudian momen ketika Kaluna menitipkan Brian yang sakit kepada Amanda karena ketika itu dia sedang berada di Indonesia untuk pesta pernikahan sepupu. Dan banyak lagi momen di mana justru dia yang mendekatkan Brian dengan Amanda. “Bodoh … bodoh … bodoh ….” Kaluna memukul kepalanya sambil berlinang air mata. Dia menyesalinya. Sungguh amat menyesalinya dan dia merasa sangat bodoh.Arshavina gelisah semalaman setelah sang suami memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kaluna, dia yakin kalau Kanaya-kakak kembar Kaluna belum tahu tentang ini.Jadi, keesokan harinya setelah sang suami tercinta pergi ke kantor.Ia duduk lama di paviliun sayap kanan Mansion dengan buku di pangkuan yang belum sedetik pun dia baca.Teh hangat tersaji bersama biskuit di meja kecil sampingnya.Arshavina masih memikirkan sang putri yang tengah patah hati.Lalu ia meraih ponsel.Menggulir layar mencari nama Kanaya.Panggilan tersambung setelah dua kali nada.“Bunda?” suara Kanaya terdengar santai, latar belakangnya adalah musik instrumental lembut khas ruang spa.“Kamu lagi di mana?”“Lagi Spa. Badan Nay pegel abis liburan kemarin. Kenapa Bun?”Arshavina terdiam sepersekian detik.“Luna sudah cerita sama Ayah.”Hening.“Cerita apa?” Nada Kanaya berubah.“Brian selingkuh. Dengan Amanda.”Sesi massage yang sedang berjalan langsung terhenti ketika Kanaya mendadak bang
Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan dan kini kepedihan yang harus ditanggung putrinya.Kama berjalan turun ke ruang kerjanya yang terletak di sisi timur Mansion. Ruangan luas dengan rak kayu tinggi penuh dokumen dan penghargaan bisnis. Di balik meja besar dari kayu solid, ia duduk dan menekan tombol-tombol di pesawat telepon.“Sambungkan saya dengan Satria.”Tidak sampai satu menit, panggilan tersambung.“Malam, Pak.”Suara Satria terdengar stabil seperti biasa.“Kamu masih di kantor?”“Masih, Pak.”“Ke rumah sekarang.”“Baik, Pak.”Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nada penasaran.Hanya kesiapan.Empat puluh menit kemudian, Satria sudah berdiri di hadapan Kama di ruang kerja pribadi sang pemimpin AG Group.Ia masih m
Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya.Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan.Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong.Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat.Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah.Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik.“Nona,” ucapnya singkat.Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang.Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat.
Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil menuju bandara privat milik keluarga Gunadhya.Langit Jakarta masih menyisakan semburat malam ketika jet Gulfstream G700 dengan lambang AG Group terparkir anggun di apron khusus. Awak kabin berdiri rapi menyambut.“Selamat malam, Pak Satria.”“Malam,” jawabnya singkat namun sopan.Langkahnya mantap menaiki tangga jet. Interior kabin berlapis kulit krem dan panel kayu walnut mengilap, lampu temaram hangat, sofa lebar yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur. Aroma khas kabin privat yang bersih dan mahal menyambutnya.Pramugari menyerahkan tablet berisi rute penerbangan.“Perkiraan tiba di New York pukul enam pagi waktu setempat.”Satria mengangguk.Sepanjang penerbangan, ia tidak tidu
Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi meeting kelas internasional. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, posturnya lurus seperti prajurit.Satria Wirakusuma tidak pernah terlihat lelah.Lift berhenti di lantai dua belas. Ia membuka pintu unitnya—apartemen satu kamar yang tertata presisi. Tidak ada barang berserakan. Sofa abu-abu minimalis, rak buku kayu gelap yang dipenuhi buku manajemen, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Meja kerja kecil dengan laptop tertutup rapi. Sepatu disusun sejajar.Sederhana.Tapi terorganisir.Ia meletakkan jam tangan mahal pemberian bonus tahunan di atas meja, membuka kancing jas, lalu berjalan ke dapur kecil.Air putih.Satu gelas penuh.Kemudian ia menuju kamar.Beberapa menit kemudian, Satria k
Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.Kini semuanya kosong.Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam.Bukan mencicipi tapi menghabiskan.Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang.Pukul empat sore.Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan.Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya.Layarnya kemudian menyala.Hening.Tidak ada nama Brian di sana.Tidak ada panggilan tak terjawab.Tidak ada pesan masuk.Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya.Hanya notifikasi email promosi.Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya da