แชร์

Terlalu Hancur

ผู้เขียน: Erna Azura
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-22 13:42:45

Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.

Kini semuanya kosong.

Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam.

Bukan mencicipi tapi menghabiskan.

Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang.

Pukul empat sore.

Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan.

Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya.

Layarnya kemudian menyala.

Hening.

Tidak ada nama Brian di sana.

Tidak ada panggilan tak terjawab.

Tidak ada pesan masuk.

Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya.

Hanya notifikasi email promosi.

Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya datar—terlalu datar untuk seseorang yang baru saja dikhianati hampir sepuluh tahun cintanya.

“Apakah tadi malam itu cuma mimpi?” gumamnya lirih.

Dia menutup mata, berusaha mengingat.

Lampu tidur.

Kuku merah Amanda.

Tangan Brian di tubuh perempuan itu.

Tatapan terkejut mereka.

Kaluna membuka mata cepat-cepat.

“Enggak… itu nyata.”

Tangannya gemetar ketika membuka ruang pesan dengan Brian.

Chat terakhirnya masih ada.

Kaluna : Brian, sorry aku telat balas. Aku lagi sama Nay, Arthur dan Davian. Jangan marah ya…

Pesan itu terkirim dengan tanda dua centang biru.

Tidak ada balasan setelahnya.

Kaluna mendengkus pelan, tapi air mata mulai berkumpul lagi.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.

Dia mengingat hari pertama bertemu Brian di kampus.

Menghabiskan musim panas bersama.

Liburan keluarga.

Rencana masa depan.

Rumah yang akan mereka beli.

Nama anak yang pernah mereka diskusikan.

Dan semua itu runtuh dalam satu malam.

Yang lebih menyakitkan dari pengkhianatan… adalah keheningan.

Brian tidak menghubunginya.

Tidak mengejar.

Tidak menjelaskan.

Tidak meminta maaf.

Seolah-olah Kaluna bukan siapa-siapa.

Kaluna menggigit bibirnya keras.

“Apa selama ini cuma aku yang serius?” bisiknya parau.

Bayangan percakapan mereka beberapa bulan terakhir melintas.

Brian yang makin posesif.

Brian yang sering mencari-cari kesalahan.

Brian yang marah hanya karena pesan tak dibalas cepat.

Kaluna selalu mengalah.

Karena dia pikir itu cinta.

Ternyata itu hanya ego.

Kaluna meraih salah satu botol kosong di lantai, memandangi sisa tetesan terakhir di dasarnya.

Dia, Kaluna Shaqeenarava Gunadhya, pewaris kerajaan bisnis, cucu aristokrat terpandang… duduk sendirian di lantai apartemen Manhattan, menunggu pria yang bahkan tidak peduli ia hidup atau mati.

Sungguh ironis.

Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Bagaimana nanti ia pulang ke Indonesia?

Semua sepupunya sudah menikah.

Kanaya sudah punya dua anak.

Zyandru-adik bungsunya akan segera dijodohkan setelah lulus S2.

Dan dia?

Perempuan hampir kepala tiga yang gagal mempertahankan hubungan sepuluh tahun.

Kaluna menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku enggak punya siapa-siapa di sini…”

Suara itu keluar begitu saja.

New York yang dulu terasa seperti rumah, mendadak menjadi kota asing.

Apartemen mewah ini terasa dingin.

Sunyi.

Kosong.

Kaluna menatap lagi ponselnya.

Masih tidak ada pesan.

Seketika harga dirinya runtuh sepenuhnya.

Kalau Brian masih peduli, seharusnya dia menghubungi.

Kalau Brian menyesal, seharusnya dia datang.

Tapi tidak.

Keheningan adalah jawaban.

Kaluna menarik napas panjang, mencoba berdiri. Tubuhnya masih lemas, tapi kepalanya mulai jernih oleh rasa sakit yang lebih tajam dari mabuk.

Ia membuka galeri foto.

Foto-foto mereka berdua memenuhi layar.

Senyum. Pelukan. Liburan. Perayaan ulang tahun.

Kaluna mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu tiba-tiba melempar ponsel itu ke sofa.

Tangisnya pecah.

Tangis yang tidak lagi tertahan.

Tangis kehilangan.

Tangis harga diri yang diinjak.

“Aku enggak akan hubungi kamu,” gumamnya di sela isak.

“Kalau kamu mau pergi… ya pergi.”

Tapi hatinya tetap berharap ponsel itu berdering.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Sunyi tetap sama.

Dan saat itulah Kaluna sadar, dia tidak bisa tinggal di sini lebih lama.

Ia butuh rumah.

Bukan apartemen ini.

Sebuah rumah yang nyata.

Dengan tangan gemetar, Kaluna membuka daftar kontak.

Jarinya berhenti di satu nama.

Ayah.

Beberapa detik ia hanya menatap nama itu.

Selama ini ia selalu terlihat kuat di depan keluarganya.

Mandiri. Percaya diri. Bahagia bersama Brian.

Sekarang?

Dia akan pulang sebagai perempuan yang gagal.

Kaluna menarik napas panjang, lalu menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar dua kali sebelum terangkat.

“Halo, Luna?” suara Kama terdengar berat namun hangat.

Dan hanya dengan mendengar suara itu saja, pertahanan Kaluna runtuh lagi.

“Ayah .…” Suaranya pecah.

Hening di seberang sana.

“Kamu kenapa?” Kama terdengar cemas.

Kaluna menutup mata.

“Ayah… jemput aku.”

Degup jantung Kama terdengar jelas melalui keheningan.

“Kapan kamu mau pulang?” Kama bertanya memastikan.

“Secepatnya.” Kaluna menjawab getir.

Hening kembali menjelma. Ingin sekali Kama bertanya apa yang terjadi tapi sepertinya Kaluna masih rentan.

Mungkin setelah sampai di rumah, baru akan Kama ajak bicara.

Dan menurut Kama, masalah yang Kaluna hadapi bukan masalah biasa pasti ada hubungannya dengan Brian karena dia memilih lari.

Pulang.

Ke rumah.

“Besok?” Kama bertanya lagi untuk memperpanjang percakapan.

Kaluna menggeleng, meski ayahnya tak bisa melihat.

“Hari ini, aku ingin pulang hari ini, Yah.” Suara Kaluna serak.

Tanpa menunggu detik berlalu, Kama menjawab tegas, “Privat jet akan berangkat malam ini.”

Air mata Kaluna kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena Brian.

Melainkan karena ia tahu bahwa di dunia ini, setidaknya masih ada satu tempat yang tidak akan pernah menolaknya.

Rumah.

Dan tanpa ia sadari, keputusan itu bukan hanya tentang pulang.

Itu adalah langkah pertama menuju takdir yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia bayangkan.

“Terimakasih Ayah ….” Suara Kaluna lebih tegas, karena merasa lega dan aman.

“Apapun buat kamu, sayang.”

Sambungan telepon diputus, Kaluna kembali menangis di atas kedua tangan yang ditumpuk dan kedua lutut yang ditekuk.

Dia tidak ingin makan, tidak ingin tidur, tidak ingin apa-apa sekarang.

Hanya ingin menangis, meratapi kisah cintanya dengan Brian.

Meratapi hati yang hancur lebur oleh Brian dan Amanda.

Kaluna tidak pernah menyangka, sahabat baiknya bisa berbuat seperti itu.

Amanda bukan orang baru, dia bahkan pernah Kaluna ajak ke Indonesia ketika libur musim panas.

Lalu bayangan ketika dia meminta Brian mengantar Amanda pulang sewaktu Amanda sedang tidak enak badan, melintas di benaknya.

“Ya Tuhan … aku yang bodoh.” Kaluna memukul-mukul kepalanya.

Kemudian momen ketika Kaluna menitipkan Brian yang sakit kepada Amanda karena ketika itu dia sedang berada di Indonesia untuk pesta pernikahan sepupu.

Dan banyak lagi momen di mana justru dia yang mendekatkan Brian dengan Amanda.

“Bodoh … bodoh … bodoh ….” Kaluna memukul kepalanya sambil berlinang air mata.

Dia menyesalinya.

Sungguh amat menyesalinya dan dia merasa sangat bodoh.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
rianur378
meski pun begitu,,, sebenarnya itu tergantung 2 2nya kalo emang cinta,,, mereka g akan menyakiti meski ada celah,,, dasar kedua nya aja yang memang sudah ada bibit berkhianat
goodnovel comment avatar
Ami tsamarat
ternyata kanaya sendiri yg menjembatani perselingkuhan si brian dengan amanda... kasihan kaluna
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menantang Kasta   Ekstra Chapter 3

    Seminggu setelah percakapan di ruang kerja itu, sebuah mobil hitam perlahan memasuki gerbang perkebunan teh yang selama bertahun-tahun dikenal warga sebagai milik keluarga Deni.Hamparan daun teh yang hijau mengilap membentang sejauh mata memandang, mengikuti lekuk bukit yang bergelombang. Para pemetik teh sudah mulai bekerja sejak matahari belum benar-benar tinggi. Keranjang rotan tergantung di punggung mereka, sementara jemari-jemari terampil memetik pucuk-pucuk muda yang nantinya akan menjadi teh berkualitas premium.Hari itu suasana terasa sedikit berbeda.Bukan karena panen.Melainkan karena sejak pagi seluruh mandor diminta berkumpul di halaman kantor lama.Mereka diberi tahu akan ada “pemilik” yang datang.***Mobil berhenti tepat di depan bangunan administrasi.Seorang sopir bergegas turun membukakan pintu belakang.Sepasang heels berwarna nude menyentuh tanah lebih dulu.Disusul sosok perempuan yang selama ini hanya dikenal

  • Menantang Kasta   Ekstra Chapter 2

    Siang itu, matahari Lembang bersinar sedikit lebih hangat.Kabut yang sejak pagi menyelimuti perbukitan perlahan menghilang, digantikan langit biru yang begitu jernih.Di halaman rumah, Arutala dan Arunika baru saja selesai bermain gelembung sabun bersama kedua nanny.Suara tawa mereka sesekali terdengar sampai ke dalam rumah.Kaluna yang sedang berada di dapur menoleh ke arah jam dinding.Pukul dua belas lewat lima menit.Sudah hampir waktunya Satria pulang.Sejak memiliki rumah yang tidak terlalu jauh dari kantor, Satria memang hampir selalu menyempatkan pulang untuk makan siang.Katanya, makanan rumah tidak pernah bisa dikalahkan restoran mana pun.Kaluna tersenyum sendiri mengingat ucapan suaminya.Tangannya kembali sibuk menyusun hidangan di atas meja makan.Hari ini tidak ada menu mewah.Hanya makanan kesukaan Satria.Nasi hangat.Sayur asem.Ayam goreng lengkuas.Tempe mendoan.Sambal dadak.Dan ikan nila goreng yang baru diangkat beberapa menit lalu.Kaluna

  • Menantang Kasta   Ekstra Chapter 1

    Waktu tidak pernah benar-benar berhenti.Ia terus berjalan, membawa manusia bertumbuh bersama segala cerita yang mereka miliki.Begitu pula dengan kehidupan Satria.Laki-laki yang dahulu hanya seorang mahasiswa sederhana dari desa, pernah ditolak, diremehkan, bahkan dijadikan bahan tertawaan karena dianggap tidak memiliki masa depan—kini justru menjadi salah satu pengusaha muda yang namanya mulai diperhitungkan di industri agribisnis Indonesia.Namun anehnya, ada satu hal yang tidak pernah berubah.Setiap pagi, sebelum memasuki ruang rapat ataupun menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, Satria selalu memulai harinya dengan berjalan menyusuri gudang dan menyapa para petani.Seolah-olah dia takut melupakan dari mana semuanya bermula.Karena bagi Satria, awal mula kesuksesannya bukan dari jabatan sebagai sekretaris dari AG Group namun sebagai petani.***Kabut Lembang pagi itu turun sedikit lebih tebal dibanding biasanya.Udara masih terasa dingin ketika sebuah mobil d

  • Menantang Kasta   Kenangan

    Pesta yang sejak pagi dipenuhi suara tawa perlahan kehilangan riuhnya. Anak-anak mulai kelelahan. Beberapa tertidur di stroller. Sebagian lagi masih bertahan bermain gelembung sabun sambil menggenggam balon hadiah. Para tamu satu per satu berpamitan. Jangan tanya apakah Ivander datang karena Noorin sudah tidak mau terlibat apapun dengan keluarga Satria Suara klakson mobil bergantian terdengar dari halaman depan. Band yang sejak siang memainkan lagu-lagu ceria kini beralih membawakan lagu akustik dengan tempo yang jauh lebih pelan. Matahari mulai turun di balik perbukitan Lembang. Langit berubah jingga. Semburat cahaya sore menyentuh kaca-kaca besar rumah Satria hingga bangunan itu terlihat hangat. Kaluna baru saja mengantar tamu terakhir ketika akhirnya mengembuskan napas panjang. “Akhirnya beres juga pestanya ….” Satria yang sedang menggendo

  • Menantang Kasta   Akhirnya Pulang

    Hari itu datang lebih cepat daripada yang pernah Satria bayangkan.Genap satu tahun sejak dua tangisan kecil memenuhi ruang operasi dan mengubah seluruh hidupnya.Satu tahun sejak Arutala dan Arunika hadir membawa kebahagiaan yang bahkan tidak pernah berani dia impikan.***Matahari bahkan belum benar-benar terbit ketika halaman rumah sudah dipenuhi aktivitas.Beberapa truk vendor memasuki gerbang secara bergantian.Petugas dekorasi mondar-mandir membawa rangka besi, rangkaian balon, papan kayu hingga pot-pot bunga.Kaluna berdiri di balkon kamar utama sambil memeluk secangkir cokelat hangat.Di sampingnya, Satria baru selesai mengenakan jam tangan.Tatapan mereka sama-sama tertuju ke halaman depan.“Ramai banget ya,” gumam Kaluna.Satria tersenyum kecil.“Kamu sendiri yang bilang ulang tahun pertama cuma sekali.”Kaluna mengangguk pelan. “Iya sih .…”Dia menoleh ke arah suaminya.“Aku ingin nanti kalau Tala

  • Menantang Kasta   Menjalani Kebahagiaan

    Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika rumah kembali hidup.Bukan karena alarm.Bukan pula karena suara telepon Satria dengan pihak Alterio Corp.Melainkan karena suara seseorang yang sedang mengoceh dari balik baby monitor.“Babababa…”Disusul suara lain yang tidak mau kalah.“Aaaa… daaa…”Kaluna yang masih memejamkan mata menarik selimut sampai ke dagu. “Sayaaang ….” Suara itu lirih. “Bentar lagi….”Satria yang sebenarnya yang sudah bangun sedari tadi hanya tersenyum kecil.Dia melirik jam digital di atas nakas.Pukul 05.12.Adzan Subuh baru saja selesai beberapa menit lalu.“Bangun yuk?” ajaknya pelan.Kaluna menggeleng tanpa membuka mata. “Enggak ah, masih ngantuk ….”Satria terkekeh.“Mereka udah manggilin kita?” Satria mengendik ke baby monitor.“Minta tolong Nanny saja ….” Kaluna malah memeluk Satria erat.Satria tertawa pelan, membalas pelukan itu.“Kasian mereka laper,” kata Satria.“Masih ada ASI cadangan di frezer … Nanny pasti sudah kas

  • Menantang Kasta   Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

    Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan da

  • Menantang Kasta   Memiliki Arah

    Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan pu

  • Menantang Kasta   Menjemput Sang Nyonya

    Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil m

  • Menantang Kasta   Berasal Dari Keluarga Sederhana

    Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status