Home / Romansa Dewasa / Menantang Kasta / Sang Sekretaris Andal

Share

Sang Sekretaris Andal

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2026-02-22 13:42:19

“Pagi Pak….” Satria membukakan pintu mobil untuk sang pemegang posisi tertinggi di perusahaan tempat dia bekerja.

“Pagi,” balas Kama singkat, lalu masuk dan duduk di kabin belakang.

Pria paruh baya itu langsung membuka iPad-nya, membaca beberapa surel yang masuk sejak subuh.

Mobil melaju mulus meninggalkan halaman kediaman keluarga Gunadhya menuju gedung pusat AG Group yang menjulang gagah di tengah kota.

“Pak, izin saya bacakan profil klien dan perusahaan yang akan ditemui nanti siang,” ucap Satria setelah duduk di kursi depan samping kemudi, tubuhnya sedikit menoleh ke belakang namun tetap menjaga profesionalitas.

Kama tidak mengalihkan pandangan dari layar. “Silakan.”

Satria membuka tablet tipis di atas pangkuannya.

“Klien hari ini adalah Tuan Benjamin Halberg, CEO Halberg Infrastructure International, perusahaan berbasis di Stockholm dengan cabang di enam negara Asia. Fokus utama mereka adalah pembangunan smart port dan sistem logistik digital terintegrasi.”

Ia berhenti sepersekian detik.

“Perusahaan ini berdiri sejak 1978. Tahun lalu mereka mencatatkan revenue sebesar 4,8 miliar dolar Amerika. Mereka ingin menggandeng AG Group untuk proyek pengembangan pelabuhan terpadu di Kalimantan Timur. Estimasi nilai proyek tahap awal mencapai 1,2 miliar dolar.”

Kama mengangkat wajahnya sedikit.

“Detail risiko?”

“Regulasi lingkungan cukup ketat, Pak. Tapi tim legal kita sudah memetakan celah yang bisa dinegosiasikan tanpa melanggar hukum. Selain itu, mereka memiliki reputasi baik dalam transparansi pajak dan tidak pernah tersandung kasus korupsi.”

Satria menutup dengan kalimat tenang.

“Secara strategis, kerja sama ini akan memperkuat positioning AG Group di sektor logistik global.”

Hening sejenak memenuhi kabin.

Kama tidak mengatakan apa pun, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

“Baik.” Beliau mengangguk-anggukan kepalanya pelan.

***

Ruang meeting utama AG Group dipenuhi aura formalitas yang nyaris kaku. Meja panjang dari kayu ebony mengilap, layar LED besar, serta jajaran direksi yang sudah duduk rapi.

Satria berdiri di samping Kama, bukan sebagai pusat perhatian—melainkan sebagai bayangan yang siap bergerak kapan saja.

Meeting berlangsung hampir empat jam tanpa jeda.

Saat Tuan Halberg mengajukan pertanyaan mendadak tentang feasibility study tahap dua—Kama belum sempat membuka berkasnya, Satria sudah lebih dulu menggeser map tipis ke hadapan atasannya.

“Halaman dua puluh tiga, Pak,” bisiknya pelan.

Kama membuka dan langsung menemukan data yang dibutuhkan.

Tatapan Tuan Halberg sempat beralih pada Satria.

Lalu saat terjadi sedikit ketegangan tentang pembagian saham operasional, Satria menyelipkan catatan kecil di samping iPad Kama yang berisi :

‘Opsi B – turunkan 3% di tahap awal, naikkan 5% di tahun ketiga melalui klausul performa.’

Kama membacanya sekilas.

Dan menggunakan strategi itu dalam negosiasi.

Tuan Halberg terdiam cukup lama … sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk.

“Impressive,” katanya dalam bahasa Inggris kental aksen Skandinavia.

Meeting berlanjut hingga sore hari.

Bahkan ketika makan siang bisnis digelar di ruang privat restoran bintang lima, Satria tetap berdiri satu langkah di belakang. Ia memastikan menu sesuai preferensi klien, memeriksa ulang jadwal penerbangan pribadi Halberg, bahkan mengganti presentasi cadangan ketika sistem utama sempat mengalami gangguan singkat.

Tidak ada yang panik.

Karena Satria sudah menyiapkan segalanya.

Menjelang petang, ketika klien akhirnya meninggalkan gedung dengan kesepakatan awal yang hampir pasti, para direksi mulai bubar.

Kama tetap duduk di kursinya.

Satria berdiri tegap, menunggu instruksi.

“Kamu sudah berapa tahun kerja di AG Group?” tanya Kama tiba-tiba.

“Lima tahun, Pak.”

“Baru lima?”

“Ya, Pak.”

Kama menutup iPad-nya perlahan.

“Kemampuanmu setara dengan Armand.”

Nama sekretaris utama yang telah bekerja lebih dari dua puluh lima tahun di AG Group itu bukan nama sembarangan.

Satria menunduk ringan. “Saya masih banyak belajar, Pak.”

“Rendah hati itu bagus,” ujar Kama. “Tapi jangan terlalu merendah. Kamu tahu kapasitasmu.”

Hening sesaat.

“Kamu tahu kenapa saya kirim Armand ke Vietnam?”

“Untuk menangani restrukturisasi cabang yang nyaris collaps, Pak.”

“Bukan hanya itu.” Kama menatap lurus ke arah Satria. “Saya ingin melihat siapa yang mampu menggantikan posisinya jika suatu hari dia pensiun.”

Satria tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tenang.

“Saya akan bekerja semaksimal mungkin, Pak.”

Kama mengangguk pelan.

Dalam hatinya, ia sudah memutuskan sesuatu.

Pria ini bukan sekadar sekretaris cadangan.

Pria ini aset.

Dan tanpa Kama sadari, takdir sedang mempersiapkan Satria untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ruang meeting dan dokumen kontrak.

***

“Malam Pak.” Armand menjawab panggilan telepon dari Kama.

“Malam Pak Armand, saya mau bertanya sesuatu.”

Armand mengernyit, semua laporan tentang cabang sudah dibahas tadi sore hingga tuntas.

Sekarang dia bingung kalau sampai ada yang tertinggal dan perlu ditanyakan mengingat Kama sangat detail.

“Siap Pak.” Dan seperti biasa, Armand akan menjawab template.

“Kamu dapat Satria dari mana?”

Kedua alis Armand terangkat, dia terpekur sesaat.

“Maaf Pak, apa yang telah dia lakukan?” Armand bertanya demikian karena berpikir Satria telah berbuat kesalahan mengingat Satria adalah tanggung jawabnya.

“Kerja dia bagus banget, terlalu bagus untuk sekretaris yang baru kerja di kita selama lima tahun.”

Armand pun bernafas lega, pundaknya mengendur.

“Dia lulusan Universitas terbaik di Bandung, Pak … dia masuk dari jalur rekruitment biasa … sebelumnya sempat bekerja di GeoDinamic Industry sebagai sekretaris juga sebelum perusahaan itu akhirnya selesai masa kontraknya di Indonesia.”

“Ooo ….” Kama bergumam.

“Baiklah, thanks informasinya Pak Armand … selamat malam.” Kama mengakhiri sambungan telepon.

“Selamat malam, Pak.” Armand menyahut.

Bersamaan dengan itu, Arshavina masuk ke dalam selimut lalu memeluk perut suaminya.

“Sayang …,” panggil Kama sembari mengusap punggung sang istri tercinta.

“Hem?” Arshavina mendongak.

“Kemarin malam Ayah mimpi enggak enak tentang Kaluna, tapi Ayah inget kalau Kaluna lagi liburan sama Kanaya jadi enggak Ayah telepon … Bunda udah teleponan sama Kanaya atau Kaluna?”

Arshavina menegakan punggungnya.

“Bunda udah teleponan sama Kanaya dan dua cucu kita … katanya mereka terpaksa pulang kemarin karena tiba-tiba Brian tantrum gara-gara Kaluna telat balas chat.” Arshavina menyampaikan informasi tersebut dengan nada sedikit kesal.

Kama mengembuskan nafas panjang. “Mau sampai kapan sih mereka pacaran? Kalau Brian serius, tinggal lamar Kaluna … seluruh keluarga juga udah setuju.” Kama terdengar menggerutu.

Arshavina mengangkat kedua bahu.

“Bunda enggak ngerti, Kalunanya juga kaya yang malas-malasan gitu mau nikah … malah ngambil S3.”

Kama terkekeh. “Enggak ada hubungannya, lagian dia ngambil S3 sih Ayah yakin biar bisa di NewYork terus dan kita enggak nyuruh-nyuruh dia pulang … kalau dia pulang nanti LDRan sama Brian.”

“Ya sih, tapi ya udah lah … itu mau dia, Bunda enggak akan ikut campur … lagian sedalam apapun bunda bonding sama anak-anak Bunda, nyatanya mereka memiliki rahasia sendiri yang kadang di luar nalar Bunda … jadi Bunda mah sekarang, sok … terserah.” Arshavina menarik selimut hingga pundak.

Kama kembali terkekeh, mengecup kening istrinya lama.

Ternyata Arshavina masih belum move on dari skandal hamil di luar nikah Kanaya dengan Ryley meskipun Ryley memang bertanggungjawab dan menikahi Kanaya dan kini pun Kanaya dan Ryley sudah dikaruniai anak kedua.

Kama menghentikan diskusi tersebut, memilih memeluk wanita yang dicintainya itu hingga pagi menjelang.

Author Note :

Teman-teman yang mau baca cerita Kanaya bisa baca novel Stay With You.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantang Kasta   Tidak Dengan Pria Manapun

    Arshavina gelisah semalaman setelah sang suami memberitahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan Kaluna, dia yakin kalau Kanaya-kakak kembar Kaluna belum tahu tentang ini.Jadi, keesokan harinya setelah sang suami tercinta pergi ke kantor.Ia duduk lama di paviliun sayap kanan Mansion dengan buku di pangkuan yang belum sedetik pun dia baca.Teh hangat tersaji bersama biskuit di meja kecil sampingnya.Arshavina masih memikirkan sang putri yang tengah patah hati.Lalu ia meraih ponsel.Menggulir layar mencari nama Kanaya.Panggilan tersambung setelah dua kali nada.“Bunda?” suara Kanaya terdengar santai, latar belakangnya adalah musik instrumental lembut khas ruang spa.“Kamu lagi di mana?”“Lagi Spa. Badan Nay pegel abis liburan kemarin. Kenapa Bun?”Arshavina terdiam sepersekian detik.“Luna sudah cerita sama Ayah.”Hening.“Cerita apa?” Nada Kanaya berubah.“Brian selingkuh. Dengan Amanda.”Sesi massage yang sedang berjalan langsung terhenti ketika Kanaya mendadak bang

  • Menantang Kasta   Perempuan Yang Sedang Berusaha Bangkit

    Kama tidak langsung kembali ke kamar utama setelah keluar dari kamar Kaluna.Ia berdiri beberapa detik di lorong lantai dua mansion itu, menatap pintu kamar putrinya yang kini tertutup.Rahangnya kembali mengeras.Sepuluh tahun.Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang perempuan dan kini kepedihan yang harus ditanggung putrinya.Kama berjalan turun ke ruang kerjanya yang terletak di sisi timur Mansion. Ruangan luas dengan rak kayu tinggi penuh dokumen dan penghargaan bisnis. Di balik meja besar dari kayu solid, ia duduk dan menekan tombol-tombol di pesawat telepon.“Sambungkan saya dengan Satria.”Tidak sampai satu menit, panggilan tersambung.“Malam, Pak.”Suara Satria terdengar stabil seperti biasa.“Kamu masih di kantor?”“Masih, Pak.”“Ke rumah sekarang.”“Baik, Pak.”Tidak ada pertanyaan. Tidak ada nada penasaran.Hanya kesiapan.Empat puluh menit kemudian, Satria sudah berdiri di hadapan Kama di ruang kerja pribadi sang pemimpin AG Group.Ia masih m

  • Menantang Kasta   Memiliki Arah

    Jet privat milik AG Group mendarat mulus di terminal eksklusif.“Nona … sudah sampai.”Entah sudah panggilan yang keberapa kali hingga akhirnya Kaluna terbangun.Setelah dua malam tidak bisa benar-benar terlelap, perjalanan NewYork-Jakarta justru mampu membuatnya deep sleep.Kaluna menegakan punggung, merapihkan pakaiannya.Dia hancur di dalam tapi penampilan nomor satu, harus tetap rapih dan elegan.Dia bangkit dari kursi kemudian berjalan menyusuri lorong.Langit Jakarta menyambut mereka dengan cahaya keemasan pagi yang hangat.Pintu kabin terbuka, udara tropis yang lembap langsung menyentuh kulit Kaluna. Berbeda jauh dari dinginnya New York, udara ini terasa… seperti pelukan lama yang tak pernah berubah.Satria turun lebih dulu, memastikan tangga terpasang sempurna sebelum berbalik.“Nona,” ucapnya singkat.Kaluna berdiri perlahan. Wajahnya sudah dirias tipis. Mata sembabnya tersamarkan, tapi tidak sepenuhnya hilang.Mobil hitam panjang sudah menunggu di apron privat.

  • Menantang Kasta   Menjemput Sang Nyonya

    Satria tidak pernah bertanya dua kali.Setelah panggilan itu terputus, ia sudah bergerak.Kaos polos diganti dengan setelan perjalanan berwarna charcoal. Paspor, dokumen penerbangan, dan tablet kerja masuk ke dalam tas kulit hitamnya. Dalam waktu tiga puluh menit, ia sudah berada di dalam mobil menuju bandara privat milik keluarga Gunadhya.Langit Jakarta masih menyisakan semburat malam ketika jet Gulfstream G700 dengan lambang AG Group terparkir anggun di apron khusus. Awak kabin berdiri rapi menyambut.“Selamat malam, Pak Satria.”“Malam,” jawabnya singkat namun sopan.Langkahnya mantap menaiki tangga jet. Interior kabin berlapis kulit krem dan panel kayu walnut mengilap, lampu temaram hangat, sofa lebar yang bisa direbahkan menjadi tempat tidur. Aroma khas kabin privat yang bersih dan mahal menyambutnya.Pramugari menyerahkan tablet berisi rute penerbangan.“Perkiraan tiba di New York pukul enam pagi waktu setempat.”Satria mengangguk.Sepanjang penerbangan, ia tidak tidu

  • Menantang Kasta   Berasal Dari Keluarga Sederhana

    Langit Jakarta sudah gelap ketika Satria memarkir mobilnya di basement sebuah apartemen kelas menengah yang terletak tidak terlalu jauh dari pusat bisnis.Tidak mewah.Tidak buruk.Bersih dan tenang.Ia keluar dari mobil dengan langkah tegap. Jas hitamnya masih rapi meski seharian mendampingi meeting kelas internasional. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, posturnya lurus seperti prajurit.Satria Wirakusuma tidak pernah terlihat lelah.Lift berhenti di lantai dua belas. Ia membuka pintu unitnya—apartemen satu kamar yang tertata presisi. Tidak ada barang berserakan. Sofa abu-abu minimalis, rak buku kayu gelap yang dipenuhi buku manajemen, ekonomi, dan beberapa novel klasik. Meja kerja kecil dengan laptop tertutup rapi. Sepatu disusun sejajar.Sederhana.Tapi terorganisir.Ia meletakkan jam tangan mahal pemberian bonus tahunan di atas meja, membuka kancing jas, lalu berjalan ke dapur kecil.Air putih.Satu gelas penuh.Kemudian ia menuju kamar.Beberapa menit kemudian, Satria k

  • Menantang Kasta   Terlalu Hancur

    Beberapa botol wine dan banyak botol minuman beralkohol tinggi lainnya berserakan di lantai berkarpet ruang televisi apartemen mewah di kawasan elit Manhattan. Tadinya botol-botol itu hanya pajangan—dipilih khusus oleh interior desainer agar terlihat berkelas.Kini semuanya kosong.Kaluna mencicipinya satu per satu tadi malam.Bukan mencicipi tapi menghabiskan.Dan sekarang, dia tersadar dengan kepala pening seperti dipukul benda tumpul. Matanya menyipit, berusaha fokus pada jam dinding yang tampak berbayang.Pukul empat sore.Sinar matahari musim dingin masuk melalui jendela tinggi, memantul pada lantai marmer putih yang kini berantakan.Kaluna mengulurkan tangan, meraba meja kecil di samping sofa, menemukan ponselnya.Layarnya kemudian menyala.Hening.Tidak ada nama Brian di sana.Tidak ada panggilan tak terjawab.Tidak ada pesan masuk.Tidak ada satu pun tanda bahwa pria itu mencarinya.Hanya notifikasi email promosi.Kaluna memandangi layar itu lama, ekspresinya da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status