Masuk“Kei, kamu harus traktiran!” seru Naya begitu mereka keluar dari ruang rapat.
Nada suaranya setengah berbisik, setengah memaksa.Keinarra tertawa kecil sambil merapikan map presentasinya. “Traktir? Aku bahkan masih intern, Kak Nay.”“Justru itu! Intern paling keren di MHN Group. Presentasimu tadi bikin semua orang diem. Bahkan pak Adrian sampai senyum terus dari awal sampai akhir.”Keinarra menggeleng, menatap layar ponselnya sekilas.Entah pesan dari siapa yang dia tunggu.Tidak ada pesan baru dari siapapun, dan juga kenapa justru itu yang membuat hatinya mencelos seketika.Mungkin Keinarra berharap Reyhan mengirimnya pesan, memberinya selamat dan semangat seperti tadi di ruangan rapat tapi lebih personal.“Ya udah deh, aku traktir tapi jangan resto yang mahal ya,” kata Keinarra. Meski di tabungannya masih bermilyar-milyar—karena Reyhan menepati janji dengan mentransfer jumlah yang tertera di kontrak setelah memutuskan untuk membatalkan kontrHari terakhir di Maldives terasa seperti puncak dari sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah Keinarra rencanakan untuk ia menangkan — tapi nyatanya, di sinilah ia berdiri sebagai pemenang.Langit sore berwarna keemasan, laut tenang, dan vila kayu itu diterpa cahaya lembut yang melapisi segala hal dengan estetika yang terlalu indah untuk kenyataan. Ada angin asin, ada aroma kelapa muda, dan ada suara ombak yang membisik sesuatu yang hanya bisa dipahami hati yang telah berdamai.Reyhan duduk di hammock besar, Arelio tidur tengkurap di dada ayahnya — satu tangan Reyhan menahan tubuh mungil itu, satu lagi mengusap punggungnya perlahan, seolah dunia hanya terdiri dari laki-laki itu dan dua hal yang paling ia cintai.Keinarra mendekat, melipat kain pantai di lututnya dan duduk pelan di samping mereka.“Mas,” panggilnya lembut.Reyhan menoleh, tersenyum — senyum yang dulu sangat sulit ia dapatkan dari Reyhan yang penuh dendam dan trauma. Kini senyum itu datang tanpa syarat.“Kamu b
Malam tiba tanpa upacara.Tidak ada lampu kota. Tidak ada klakson. Tidak ada manusia lain dalam jarak pendengaran.Hanya ombak yang memukul pelan dinding kayu vila, dan angin asin yang merayap masuk dari celah tirai linen.Arelio sudah tidur lebih awal.Nanny menutup pintu kamar bayi kecil di dalam vila, lalu menurunkan suara, seolah seluruh bangunan ini sedang menidurkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada seorang bayi enam bulan.Keinarra berdiri di depan cermin panjang, membuka ikatan rambutnya pelan.Rambutnya jatuh ke punggung, bergelombang ringan oleh cuaca tropis. Gaun linen putih yang ia pakai sejak sore kini berganti camisole tipis satin warna nude yang mengikuti bentuk tubuhnya tanpa berusaha terlihat seksi—justru kesederhanaan itu yang membuatnya berbahaya.Reyhan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit pinggang, tetesan air menggelinding di punggung dan dada.Ia bukan lelaki yang suka memamerkan tubuhnya, tapi dunia sepertinya selalu lupa bahwa este
Maldives tidak pernah benar-benar sunyi.Pulau itu memiliki suara sendiri—laut yang mengelus bibir pasir, kain payung pantai yang berkibar, tawa turis yang mencair dalam udara asin.Namun, bagi Keinarra, suara paling indah pagi itu bukan berasal dari langit atau laut.Melainkan dari tawa Arelio.Bayi enam bulan lebih itu duduk di kursi plastik kecil dengan kaki menggantung dan pipi merah yang memantul sinar matahari. Di depannya, Reyhan mengangkat sendok kecil berisi puree mangga.“Ayo buka mulutnya…” Reyhan menggoda, suaranya lebih lembut dari angin laut. “Satu… dua…”Arelio tertawa dulu, baru membuka mulutnya.“Sukses,” Reyhan mengangguk seolah baru memenangkan tender miliaran.Keinarra duduk di kursi pantai, rambutnya diikat longgar, memakai gaun linen putih yang membuat kulitnya tampak karamel kecoklatan. Punggungnya disangga bantal karena dokter melarangnya duduk lama tanpa support punggung sejak tahu ia mengandung 8 minggu.Kehamilan kedua.Informasi yang disampaikan d
Rumah sakit memiliki cara sendiri untuk membuat orang memahami batas tubuhnya.Yaitu dengan pemeriksaan yang tak berkesudahan.Pagi itu Darmawan sudah menjalani tiga tes yang terdiri dari EKG, USG abdomen, dan panel darah lanjutan.Tekanan darahnya masih tinggi. Ginjalnya masih lemah. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak kecut—melainkan biaya meski sudah ditanggung oleh anak yang pernah dia kecewakan, sakiti dan hancurkan mentalnya.“Tes lagi, Pak,” kata perawat.Nada suaranya profesional.Nadya menahan map kecil berisi struk-struk sementara yang mereka terima sejak masuk rumah sakit. Setelah biaya ditanggung, rumah sakit memberi dua versi struk: satu untuk dokumentasi pasien, satu untuk penanggung.Totalnya tidak besar untuk kelas mereka dulu.Tidak besar juga untuk orang-orang yang pernah hidup di dunia yang deras dengan champagne dan gala dinner.Namun untuk Nadya dan Darmawan yang kini menghitung harga mie instan per bungkus, angka itu terasa seperti hukuman moral.Pera
Tidak ada perubahan drastis ataupun keajaiban medis yang membuatnya bangun dengan wajah segar dan pipi terisi. Namun ada sesuatu yang pelan-pelan kembali, ketenangan. Ketenangan karena tubuhnya tidak lagi bergantung pada air panas dari dispenser hotel, atau obat warung yang dibeli Nadya setelah bertengkar dengan kasir karena uang recehnya kurang dua ribu rupiah.Perawat masuk membawa troli kecil.“Selamat pagi, Pak Darmawan. Kita cek tekanan darahnya dulu ya.”Darmawan mengangguk kecil, gerakannya lambat. Nadya duduk di sofa ruang rawat eksekutif itu, jarinya menekan gawai tua yang layarnya sudah retak. Ia sedang membuka lalu menutup kertas catatan pengeluaran yang ia bawa sejak MHN Group menendang mereka keluar dari kehidupan kelas atas.Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan Nadya. Dulu ia meninggalkan Keinarra dalam kemiskinan lalu berusaha menendangnya ke jalanan dari posisi istri Reyhan yang saat itu masih menjadi Mahendra dan Presdir MHN Group. Kini justru Nadya yang mencat
Pagi membuat rumah sakit itu tampak lebih ramah daripada kenyataannya. Fasad kaca memantulkan langit biru, perawat berlalu lalang dengan langkah cepat, dan aroma antiseptik memenuhi udara seperti bagian dari protokol yang tidak pernah berubah.Namun, bagi Darmawan dan Nadya, pagi itu bukan tentang pemulihan atau kesempatan. Melainkan tentang antrian, formulir, dan penolakan.“Bu, saya sudah jelaskan, untuk masuk ruang rawat kami butuh deposit minimal.” Petugas administrasi kembali membuka laptopnya, sikapnya bosan, matanya tidak peduli.“Pak, saya mohon .…” Suara Nadya pelan, tapi serak oleh malam tanpa tidur. “Suami saya tidak bisa pulang dalam kondisi begini. Dia bisa mati.”Suara itu tercekat pada kata terakhir.Darmawan duduk di kursi roda, tubuhnya rapuh, napasnya pendek-pendek, seperti setiap helaan adalah batu yang harus didorong.Petugas mendengus. “Kami tidak menolak pasien, Bu. Tapi ada prosedur yang harus dipatuhi.”“Kalau ada uang, saya bayar!” Nadya membalas cepat.







