Share

Kehilangan Kontrol

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2025-11-23 14:35:47

Siang hari yang biasanya tenang di kediaman keluarga Darmawan Mahendra berubah menjadi badai tanpa peringatan.

Darmawan baru saja selesai melakukan panggilan bisnis ketika notifikasi email memenuhi tablet kerjanya. Biasanya, ia tidak pernah terganggu oleh dering-dering itu. Namun kali ini, ikon berwarna merah bertumpuk-tumpuk di layar—puluhan, bahkan ratusan email dengan subjek sama:

“URGENT: Identitas Istri Presdir MHN Group Terungkap.”

Darah Darmawan mendadak panas dingin.

Ia membuka email paling atas.

Begitu foto-foto dan dokumen itu muncul di layar—

Darahnya berhenti mengalir.

Wajah Nadya saat usia dua puluhan.

Nama “Nadya Prameswari”

Nama bayi: Keinarra

Tanggal pernikahan Nadya–Doni.

Tanggal Nadya meninggalkan Doni.

Tanggal Nadya menikah dengan dia, Darmawan.

Semuanya… lengkap.

Transparan.

Tanpa ampun.

Darmawan meraih tepi meja, tubuhnya goyah.

“Tidak… siapa yang melakukan ini…?”

Namun ia tahu jawabannya sebelum sempat berpikir panjang.

Clarissa.

Hanya perempu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Gita
Ya masa orang jahat menang trus. Nikmatin yah nadya dan darmawan. Dapet Bales lah yg seharusnya. Reyhan andini sm kei udah menderita banget.
goodnovel comment avatar
Astariii_
Up lagi thorrrr. Duh ga sabar pengen liat darmawan & nadya hancurrrr. Eh tambah clarissa & gadinglestari family tuh ancurin aja sekalian wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
lullaby dreamy
Darmawan emg definisi pria brengsek !! demi selengki rela nyakitin istri sah demi bsa brsatu sm kekasih masa lalu . pdhl harta yg dia nikmati dr bayi sampe besar, itu smua milik istrinya seharusnya . trus udh kejadian kaya bgni masi ga sadar jg kalo Nadya cm cinta harta bkn dirimu Darmawan ?!!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   TAMAT

    Hari terakhir di Maldives terasa seperti puncak dari sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah Keinarra rencanakan untuk ia menangkan — tapi nyatanya, di sinilah ia berdiri sebagai pemenang.Langit sore berwarna keemasan, laut tenang, dan vila kayu itu diterpa cahaya lembut yang melapisi segala hal dengan estetika yang terlalu indah untuk kenyataan. Ada angin asin, ada aroma kelapa muda, dan ada suara ombak yang membisik sesuatu yang hanya bisa dipahami hati yang telah berdamai.Reyhan duduk di hammock besar, Arelio tidur tengkurap di dada ayahnya — satu tangan Reyhan menahan tubuh mungil itu, satu lagi mengusap punggungnya perlahan, seolah dunia hanya terdiri dari laki-laki itu dan dua hal yang paling ia cintai.Keinarra mendekat, melipat kain pantai di lututnya dan duduk pelan di samping mereka.“Mas,” panggilnya lembut.Reyhan menoleh, tersenyum — senyum yang dulu sangat sulit ia dapatkan dari Reyhan yang penuh dendam dan trauma. Kini senyum itu datang tanpa syarat.“Kamu b

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Cukup

    Malam tiba tanpa upacara.Tidak ada lampu kota. Tidak ada klakson. Tidak ada manusia lain dalam jarak pendengaran.Hanya ombak yang memukul pelan dinding kayu vila, dan angin asin yang merayap masuk dari celah tirai linen.Arelio sudah tidur lebih awal.Nanny menutup pintu kamar bayi kecil di dalam vila, lalu menurunkan suara, seolah seluruh bangunan ini sedang menidurkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada seorang bayi enam bulan.Keinarra berdiri di depan cermin panjang, membuka ikatan rambutnya pelan.Rambutnya jatuh ke punggung, bergelombang ringan oleh cuaca tropis. Gaun linen putih yang ia pakai sejak sore kini berganti camisole tipis satin warna nude yang mengikuti bentuk tubuhnya tanpa berusaha terlihat seksi—justru kesederhanaan itu yang membuatnya berbahaya.Reyhan keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit pinggang, tetesan air menggelinding di punggung dan dada.Ia bukan lelaki yang suka memamerkan tubuhnya, tapi dunia sepertinya selalu lupa bahwa este

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Babby Moon

    Maldives tidak pernah benar-benar sunyi.Pulau itu memiliki suara sendiri—laut yang mengelus bibir pasir, kain payung pantai yang berkibar, tawa turis yang mencair dalam udara asin.Namun, bagi Keinarra, suara paling indah pagi itu bukan berasal dari langit atau laut.Melainkan dari tawa Arelio.Bayi enam bulan lebih itu duduk di kursi plastik kecil dengan kaki menggantung dan pipi merah yang memantul sinar matahari. Di depannya, Reyhan mengangkat sendok kecil berisi puree mangga.“Ayo buka mulutnya…” Reyhan menggoda, suaranya lebih lembut dari angin laut. “Satu… dua…”Arelio tertawa dulu, baru membuka mulutnya.“Sukses,” Reyhan mengangguk seolah baru memenangkan tender miliaran.Keinarra duduk di kursi pantai, rambutnya diikat longgar, memakai gaun linen putih yang membuat kulitnya tampak karamel kecoklatan. Punggungnya disangga bantal karena dokter melarangnya duduk lama tanpa support punggung sejak tahu ia mengandung 8 minggu.Kehamilan kedua.Informasi yang disampaikan d

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memaafkan Masa Lalu yang Pahit

    Rumah sakit memiliki cara sendiri untuk membuat orang memahami batas tubuhnya.Yaitu dengan pemeriksaan yang tak berkesudahan.Pagi itu Darmawan sudah menjalani tiga tes yang terdiri dari EKG, USG abdomen, dan panel darah lanjutan.Tekanan darahnya masih tinggi. Ginjalnya masih lemah. Tapi bukan itu yang membuatnya tampak kecut—melainkan biaya meski sudah ditanggung oleh anak yang pernah dia kecewakan, sakiti dan hancurkan mentalnya.“Tes lagi, Pak,” kata perawat.Nada suaranya profesional.Nadya menahan map kecil berisi struk-struk sementara yang mereka terima sejak masuk rumah sakit. Setelah biaya ditanggung, rumah sakit memberi dua versi struk: satu untuk dokumentasi pasien, satu untuk penanggung.Totalnya tidak besar untuk kelas mereka dulu.Tidak besar juga untuk orang-orang yang pernah hidup di dunia yang deras dengan champagne dan gala dinner.Namun untuk Nadya dan Darmawan yang kini menghitung harga mie instan per bungkus, angka itu terasa seperti hukuman moral.Pera

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Rumah Baru

    Tidak ada perubahan drastis ataupun keajaiban medis yang membuatnya bangun dengan wajah segar dan pipi terisi. Namun ada sesuatu yang pelan-pelan kembali, ketenangan. Ketenangan karena tubuhnya tidak lagi bergantung pada air panas dari dispenser hotel, atau obat warung yang dibeli Nadya setelah bertengkar dengan kasir karena uang recehnya kurang dua ribu rupiah.Perawat masuk membawa troli kecil.“Selamat pagi, Pak Darmawan. Kita cek tekanan darahnya dulu ya.”Darmawan mengangguk kecil, gerakannya lambat. Nadya duduk di sofa ruang rawat eksekutif itu, jarinya menekan gawai tua yang layarnya sudah retak. Ia sedang membuka lalu menutup kertas catatan pengeluaran yang ia bawa sejak MHN Group menendang mereka keluar dari kehidupan kelas atas.Ada sesuatu yang ironis dalam kehidupan Nadya. Dulu ia meninggalkan Keinarra dalam kemiskinan lalu berusaha menendangnya ke jalanan dari posisi istri Reyhan yang saat itu masih menjadi Mahendra dan Presdir MHN Group. Kini justru Nadya yang mencat

  • Menantu Bayangan : Istri Simpanan Pewaris Tersembunyi   Memilih Menyembuhkan Luka

    Pagi membuat rumah sakit itu tampak lebih ramah daripada kenyataannya. Fasad kaca memantulkan langit biru, perawat berlalu lalang dengan langkah cepat, dan aroma antiseptik memenuhi udara seperti bagian dari protokol yang tidak pernah berubah.Namun, bagi Darmawan dan Nadya, pagi itu bukan tentang pemulihan atau kesempatan. Melainkan tentang antrian, formulir, dan penolakan.“Bu, saya sudah jelaskan, untuk masuk ruang rawat kami butuh deposit minimal.” Petugas administrasi kembali membuka laptopnya, sikapnya bosan, matanya tidak peduli.“Pak, saya mohon .…” Suara Nadya pelan, tapi serak oleh malam tanpa tidur. “Suami saya tidak bisa pulang dalam kondisi begini. Dia bisa mati.”Suara itu tercekat pada kata terakhir.Darmawan duduk di kursi roda, tubuhnya rapuh, napasnya pendek-pendek, seperti setiap helaan adalah batu yang harus didorong.Petugas mendengus. “Kami tidak menolak pasien, Bu. Tapi ada prosedur yang harus dipatuhi.”“Kalau ada uang, saya bayar!” Nadya membalas cepat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status