Share

Bab 39

Author: Falisha Ashia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-09 21:37:16

Menyadari tatapan tajam istrinya yang mengawasi dari balik kegelapan jok belakang, Arya mengambil langkah manipulasi tingkat tinggi.

​Pria itu menahan pergelangan tangan Manda di atas pahanya dengan sangat kuat.

​Arya menekan persendian wanita itu menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Dia memberikan tekanan yang cukup menyakitkan ke saraf lengan Manda.

​Rasa ngilu tiba-tiba menyerang urat saraf pergelangan tangan perawat muda tersebut.

​Rasa sakit fisik itu secara paksa menarik kewarasan Manda
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 68

    Suara ketukan sepatu hak tinggi beradu keras dengan anak tangga kayu dari arah lantai bawah.​Langkah kaki yang tergesa-gesa itu menggema memecah kesunyian rumah besar tersebut.​Arya menoleh menatap wajah Linda yang kini berubah menjadi sepucat kertas putih. Pria itu sedikit merunduk agar suaranya tidak terdengar hingga ke bawah.​"Masuk ke kamarmu sekarang, Ma," bisik Arya cepat dengan nada datar. "Kecuali Mama mau semuanya hancur berantakan di sini."​Linda mengangguk panik berulang kali tanpa bisa menjawab. Wanita paruh baya itu segera memutar tubuhnya.​Dia berlari kecil dengan lutut gemetar menyusuri lorong gelap menuju kamar utamanya di ujung ruangan.​Linda masuk ke dalam kamarnya dan mendorong daun pintu dari kayu jati tersebut secara terburu-buru.​Namun, sisa gairah dan rasa cemburu di dadanya membuat akal sehat direktur klinik itu tidak berfungsi maksimal.​Wanita itu tidak mengunci rapat pintunya. Dia sengaja menyisakan celah kecil seukuran tiga jari di engsel pintu untuk

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 67

    "Kakak mau ke mana?" tanya Manda dengan suara serak dari atas kasur kamar tamu tersebut.​Gadis itu masih terbaring lemas tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.​Dadanya naik turun dengan cepat mengambil pasokan oksigen setelah guncangan panjang barusan.​Rambut Manda berantakan menempel pada permukaan bantal yang basah oleh keringat.​Arya membelakangi ranjang sambil menarik celana panjangnya dari atas karpet.​"Tenggorokanku kering," jawab pria itu tenang tanpa menoleh ke belakang.​Kedua tangannya bergerak cepat memasang kancing dan menaikkan resleting celana.​"Aku mau turun sebentar ke dapur untuk ambil air dingin."​Manda memutar posisi tidurnya menjadi menyamping menghadap punggung kakak iparnya.​"Jangan lama-lama, Kak," sungut gadis itu merengek manja.​"Tunggu saja di situ," balas Arya datar.​Pria itu melangkah tegap mendekati pintu kamar tamu.​Dia memutar tuas kunci pengaman dari dalam, lalu menarik daun pintu kayu tersebut hingga terbuka lebar.​Tepat di balik celah

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 66

    ​Linda memutar gagang pintu kamar utamanya secara perlahan agar engselnya tidak berdecit sedikit pun.​Dia melangkah keluar menyusuri lorong lantai dua yang gelap gulita.​Langkah kakinya berjalan tanpa suara di atas karpet tebal tanpa memakai alas kaki.​Wanita itu berhenti tepat di depan pintu kamar tamu yang tertutup rapat.​Linda menempelkan telinga kanannya ke permukaan daun pintu berbahan kayu jati tersebut.​Di atas ranjang kamar tamu, Manda merangkak naik menindih perut Arya.​Gadis itu mencoba mengambil kendali permainan dari posisi atas.​"Biar aku tunjukkan staminaku jauh lebih kuat dari Mama," tantang Manda percaya diri.​Kedua tangannya menekan bahu Arya agar pria itu tetap telentang di kasur.​"Aku bisa membuat Kakak lebih puas dari perempuan mana pun di rumah ini," tambahnya lagi.​Namun, Arya sama sekali tidak membiarkan Manda memimpin malam ini.​Kedua tangan pria itu melesat mencengkeram pinggul gadis tersebut.​Arya membalikkan posisi mereka berdua dalam satu entaka

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 65

    ​Arya dengan sangat jelas menangkap sebuah siluet bayangan sepasang kaki menutupi sumber cahaya tersebut.​Seseorang sedang berdiri mematung menempel di luar pintu kamarnya.​Otak Arya langsung tahu persis siapa pemilik bayangan kaki itu.​Satu-satunya penghuni lain yang masih terbangun di lantai dua rumah ini hanyalah ibu mertuanya.​Sudut bibir pria itu terangkat membentuk seringai dingin yang penuh perhitungan.​Bukannya memelankan gerakan pinggulnya, Arya justru melepaskan telapak tangannya dari mulut Manda.​Pria itu sengaja membebaskan bibir adik iparnya untuk bersuara lepas.​Dia menghujamkan tubuhnya berkali-kali lipat lebih keras menumbuk gadis itu tanpa sisa.​Brak! Brak! Brak!​Kepala ranjang berbahan kayu solid itu berderit sangat nyaring dan berirama cepat.​Ujung kayunya beradu keras membentur dinding kamar setiap kali Arya mengentak tubuhnya ke depan.​Kehilangan tangan yang membekap mulutnya, pertahanan vokal Manda langsung jebol berantakan.​Gadis itu tidak sanggup la

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 64

    Tangan Manda langsung menarik turun tali tipis gaun tidur satin merahnya.​Kain licin itu merosot cepat melewati lekuk pinggulnya tanpa halangan.​Pakaian terakhir itu jatuh menumpuk ke atas karpet lantai kamar tamu.​Gadis itu berdiri tegak memamerkan tubuh mudanya tanpa sehelai benang pun di hadapan Arya.​"Kamu lambat, Kak," desak Manda dengan nada tidak sabar.​Dia melangkah maju merapatkan tubuhnya ke depan.​Kulit dadanya yang panas menempel langsung pada permukaan kemeja pria itu.​"Biar aku yang bantu buka bajumu," bisik gadis itu menuntut.​Jari-jarinya bergerak tergesa-gesa membuka satu per satu kancing kemeja Arya dari kerah atas.​Namun, gerakan tangan gadis itu tiba-tiba melambat saat mencapai kancing ketiga.​Kening Manda berkerut samar menatap kain di depannya.​Telapak tangannya menyentuh dada bidang Arya, lalu meraba menyamping hingga ke bagian punggung kakak iparnya.​Ada sesuatu yang terasa sangat tidak beres dari fisik pria di depannya ini.​"Kok punggung Kakak aga

  • Menantu Kesayangan Ibu Mertua dan Adik Ipar   Bab 63

    Tubuh Linda menegang kaku mendengar suara ketukan keras dari balik pintu berbahan kayu jati tersebut.​Kepanikan luar biasa langsung menyergap dada wanita paruh baya itu.​Dia meronta menggerakkan pinggulnya ke depan secara refleks.​Kedua tangan Linda bertumpu pada kasur, lalu berusaha mendorong perut Arya ke belakang agar menantunya itu segera berhenti bergerak.​"Lepas, Arya," bisik Linda panik.​Keringat dingin mulai bercampur dengan keringat gairahnya.​"Manda ada di luar, dia bisa dengar suara ranjang ini."​Arya sama sekali tidak membiarkan mertuanya mundur satu inci pun dari posisinya semula.​Tangan kanan pria itu melesat cepat membekap mulut Linda rapat-rapat.​"Mmphh!"​Linda memberontak tertahan di bawah telapak tangan yang menutupi separuh wajahnya.​Tangan kiri Arya mengunci erat pinggang wanita itu dari belakang agar tidak bisa menghindar ke mana pun.​Dia justru memacu pinggulnya semakin dalam menembus pertahanan mertuanya tanpa ampun.​Tumbukan terakhir itu terjadi sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status