LOGIN"Aku benar-benar berharap Alendo nggak mengecewakanku."Boleh dibilang sejak tiba di Provinsi Aste, semuanya berjalan terlalu mulus, juga tidak ada hal yang menarik.Sekarang akhirnya dia akan pergi menemui Alendo itu, juga tidak tahu apa yang akan terjadi.Alendo sudah mencurigai Ardika, maka sudah pasti akan menyerangnya.Lucas berdiri di samping untuk menunggu instruksi bosnya."Dia bilang atur saja sesuka hati kita besok pagi.""Benar-benar berpikiran terbuka, ya. Sama sekali nggak takut padaku."Alendo tertawa. Bagaimanapun juga, asalkan orang itu berani muncul, maka dia pasti bisa mencari tahu semua identitas pria tersebut. Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan."Pesan sebuah ruang pribadi di Kelab Hemos, barang yang perlu disiapkan, siapkan dengan baik."Alendo sudah mulai menantikan pertemuan mereka.Dia juga ingin tahu sebenarnya rahasia apa yang disimpan oleh orang itu.Seseorang yang bahkan tidak takut pada Andelin, seharusnya memiliki latar belakang yang besar.Namun, o
"Lucas, asistennya Alendo, terus menunggu di lobi. Pak Ardika, kalau kamu nggak ingin bertemu dengannya, aku akan membersihkan lokasi."Chalis tetap menanyakan pendapat Ardika."Pada akhirnya juga akan bertemu, hanya saja nggak tahu identitasku yang seperti apa yang sudah tertebak."Terakhir kali di pesta ulang tahun Kesya, Ardika memang agak menonjol.Mungkin saat itulah dia dilirik oleh Alendo."Kalau kamu nggak bersedia, aku bisa melakukan pembersihan kapan saja, dan soal pihak Alendo juga bisa langsung bergerak."Chalis tidak ingin merugikan Ardika."Nggak perlu begitu khawatir, tetap saja perlu pergi lihat."Ardika menyunggingkan seulas senyum tipis. Yang akan datang, tetap akan datang. Lagi pula, ini juga yang ingin dilihatnya.Alendo sudah kehilangan begitu banyak bisnis, juga tidak tahu apakah pria itu sudah belajar untuk menjadi lebih patuh.Kalau pria itu tidak belajar untuk menjadi lebih patuh, dia bisa membuat pria itu mengalami apa yang dialaminya sekali lagi."Perlukah ak
Wesanto makin penasaran akan hal ini. Dia hanya murni penasaran, bukannya ada orang yang ingin membeli informasi ini."Sebaiknya jangan coba-coba mencari tahu hal-hal yang tidak seharusnya kamu cari tahu. Intinya, bantu aku selidiki apakah Ardika itu berada di Hotel Biston."Lucas juga sudah merasakan adanya bahaya.Hanya saja, mau tak mau dia tetap harus melakukan hal ini. Terlebih lagi, sebagai asisten Alendo, dia sama sekali tidak punya ruang untuk memilih."Oke, aku mengerti. Sepertinya dia masih belum kembali, kamu hanya bisa menunggu di sana lebih awal."Wesanto yang berada di depan komputer, mengetik komputernya sejenak, sudah memperoleh informasi."Aku sudah mengerti."Lucas merasa agak tidak senang, tetapi dia juga tidak mengatakan apa pun."Dan, tolong bayar dulu jasaku. Aku sudah sibuk selama berhari-hari, tapi kalian sama sekali nggak menyebutkan soal itu."Wesanto memanfaatkan kesempatan untuk mendesak agar mereka segera membayar."Jangan khawatir, jasamu itu sudah pasti a
Alendo memanggil Lucas."Apa sudah ada informasi soal Ardika?"Alendo bertanya dengan tidak sabar, dia selalu merasa ada hal-hal yang sudah terlewatkan.Namun, Lucas malah merasa agak keheranan. Walaupun bosnya memperhatikan hal ini, tetapi juga tidak perlu sampai begitu panik."Aku meminta Wesanto untuk terus mengamati hal ini, tapi sampai sekarang belum ada kabar baru darinya, seharusnya masih belum ada informasi apa pun.""Bos, apa terjadi sesuatu?"Lucas menanyakan satu kalimat itu."Kemarin Tuan Besar Keluarga Jamando pergi ke luar negeri pada malam itu juga."Satu kalimat yang diucapkan oleh Alendo itu membuat Lucas tersentak.Lucas tahu demi menemukan orang di balik layar itu, Alendo benar-benar sudah menguras pikiran.Dia langsung membeli vas bunga antik dengan mengeluarkan uang banyak untuk menyenangkan hati Tuan Besar Keluarga Jamando. Alhasil, yang diperoleh hanyalah jawaban yang ambigu.Awalnya hari ini masih berencana untuk mengunjungi Tuan Besar Keluarga Jamando itu, teta
Alendo datang kemari juga karena Keluarga Jamando menjalani bisnis baik legal mau ilegal, jadi dia ingin melihat apakah bisa memperoleh informasi dari keluarga mereka.Namun, siapa sangka informasi yang diperolehnya tetap membuatnya menelan kekecewaan besar."Kamu juga jangan berpikir terlalu banyak. Intinya, hal yang seharusnya kamu lakukan sekarang adalah menjual asetmu. Dengan memiliki sejumlah uang, kamu bisa bangkit lagi di kemudian hari."Alfian mengingatkan dengan tulus."Aku sangat menyukai vas bunga pemberianmu ini. Kalau ke depannya kamu benar-benar butuh bantuan, baru hubungi aku."Boleh dibilang Alfian juga memberikan sebuah janji.Hanya saja, dia benar-benar tidak bisa membantu soal ini.Alendo benar-benar sangat kecewa. Dia kira dengan mengeluarkan uang dalam jumlah besar, setidaknya dia bisa memperoleh sedikit informasi.Namun, dia tidak menyangka yang diperolehnya tetap saja informasi yang ambigu. Namun, yang bisa dipastikan adalah dia benar-benar sudah menyinggung sese
"Keluarga Siantar agak kacau, tapi seseorang ingin menduduki posisi sebagai kepala keluarga dengan mengandalkan kemampuan, tentu saja harus menguasai sedikit taktik.""Itulah dia. Kalau kalian berani melakukan hal seperti itu, akan kupatahkan kaki kalian."Alfian tidak menyukai karakter orang itu, itulah sebabnya dia bersikap seperti ini.Namun, saat ini vas bunga kesayangannya sudah berada tepat di depan matanya, dia mau atau tidak, benar-benar sulit untuk dia putuskan."Hei, kenapa kamu ini bisa pecundang begitu? Hanya selisih sekitar 20 miliar saja, apa kamu nggak bisa mengeluarkan sedikit uang untuk membelinya, harus membuatku terjebak dalam situasi ragu begini. Kamu memang sengaja."Hanya dengan sekali lihat saja, Alfian sudah tahu apa pemikiran cucunya. Walaupun dia merasa agak enggan, tetapi dia juga tahu ada hal-hal yang tidak bisa dihindari.Hari ini Alendo mengeluarkan uang demi bertemu dengannya. Ada hal-hal yang memang bisa dia ingatkan, tetapi dia juga takut membawa masala
"Oh? Bahkan Airin masuk ke mulut buaya saja, Pak Virgoun mengetahuinya dengan sangat jelas. Sepertinya hal yang kamu ketahui cukup banyak, ya."Ardika melirik Virgoun sambil tersenyum tipis, sampai-sampai membuat tubuh Virgoun gemetar sejenak.Tidak tahu mengapa, dia seolah-olah merasa telah terjadi s
"Oke, aku sudah mengerti, Ayah! Ayah tunggu saja kabar baik dariku!"Firza menanggapi ayahnya dengan tidak serius.Sebelum meninggalkan ruangan, dia menoleh dan berkata, "Oh ya, Ayah, hubunganku dengan Teodor cukup baik. Sebelumnya, saat dia dan si Ardika sialan itu terlibat konflik, si Ardika sialan
Setelah berlangsung selama setengah jam, akhirnya wawancara eksklusif itu pun usai.Setelah memperoleh bahan yang diinginkannya, Julia beranjak bangkit dari sofa dengan perasaan puas, lalu merenggangkan pinggangnya.Mata staf-staf pria yang berada di sekelilingnya langsung bersinar, sorot mata mereka
"Ya, benar, kemarin rekamannya."Ardika menganggukkan kepalanya. Kalau Luna tidak membicarakan hal ini, dia sudah hampir melupakannya.Saat itu juga, seulas senyum cerah mengembang di wajah Desi. "Ya ampun, Ardika, ternyata kamu sudah masuk TV, ya? Kenapa kamu nggak memberitahuku?""Handoko, cepat nyal







