LOGINArdika melihat mobil sudah berhenti. Di hadapannya, adalah sebuah kelab mewah, juga dibangun di area paling ramai di pusat kota."Ini adalah Kelab Hemos, ini adalah kelab khusus anggota, hanya anggota yang bisa mengundang teman masuk. Kalau ingin mengunjungi tempat ini, harus mendaftarkan keanggotaan. Setiap kali isi saldo paling nggak harus 1 miliar.""Tapi, hampir semua orang yang mengunjungi tempat ini akan menghabiskan 1 miliar ke atas dalam setiap kali kunjungan."Saat membicarakan soal ini, Lucas tetap merasa agak bangga.Kelab-kelab privat seperti ini umumnya diperuntukkan bagi orang-orang kaya.Ada berbagai macam hiburan dan fasilitas yang tersedia di dalam, inilah yang membuat orang-orang kaya itu bersedia untuk menghabiskan uang di sini.Pintu masuk kelab tidak terlalu menonjol. Bagi yang belum pernah mengunjungi tempat ini, mungkin akan sering melewatkannya.Lucas langsung membawa Ardika masuk ke dalam.Kalau ingin memasuki kelab, perlu menggesek kartu terlebih dulu.Setelah
Ardika seolah-olah memenuhi janji temu hanya demi makan.Lucas juga tidak berani mengatakan apa pun, dia hanya mempersilakan Ardika masuk ke dalam mobil, lalu langsung mengendarai mobil meninggalkan Hotel Biston.Begitu Ardika pergi, Chalis sudah pasti diam-diam mengikutinya.Hanya saja, hari ini agak berbeda. Dia bahkan secara khusus membawa beberapa orang anggota Organisasi Snakei."Paman Chalis, apa perlu sampai sebegitunya?"Ada anggota yang agak kebingungan.Selama beberapa waktu ini, Ardika juga tidak melakukan apa-apa, mereka juga tidak tahu identitas Ardika, hanya mendengarkan instruksi Chalis saja."Tujuan kita adalah melindungi Ardika. Alendo traktir makan, nggak ada bedanya dengan perjamuan berbahaya. Kalau kita nggak ikut dan sampai terjadi sesuatu, kita yang akan kena masalah."Melihat anak-anak muda yang masih belum mengerti apa-apa itu, Chalis secara khusus mengingatkan.Para anak muda itu juga tidak mengatakan apa pun lagi, hanya mengikuti dalam diam.Namun, karena mere
"Aku benar-benar berharap Alendo nggak mengecewakanku."Boleh dibilang sejak tiba di Provinsi Aste, semuanya berjalan terlalu mulus, juga tidak ada hal yang menarik.Sekarang akhirnya dia akan pergi menemui Alendo itu, juga tidak tahu apa yang akan terjadi.Alendo sudah mencurigai Ardika, maka sudah pasti akan menyerangnya.Lucas berdiri di samping untuk menunggu instruksi bosnya."Dia bilang atur saja sesuka hati kita besok pagi.""Benar-benar berpikiran terbuka, ya. Sama sekali nggak takut padaku."Alendo tertawa. Bagaimanapun juga, asalkan orang itu berani muncul, maka dia pasti bisa mencari tahu semua identitas pria tersebut. Tidak ada rahasia yang bisa disembunyikan."Pesan sebuah ruang pribadi di Kelab Hemos, barang yang perlu disiapkan, siapkan dengan baik."Alendo sudah mulai menantikan pertemuan mereka.Dia juga ingin tahu sebenarnya rahasia apa yang disimpan oleh orang itu.Seseorang yang bahkan tidak takut pada Andelin, seharusnya memiliki latar belakang yang besar.Namun, o
"Lucas, asistennya Alendo, terus menunggu di lobi. Pak Ardika, kalau kamu nggak ingin bertemu dengannya, aku akan membersihkan lokasi."Chalis tetap menanyakan pendapat Ardika."Pada akhirnya juga akan bertemu, hanya saja nggak tahu identitasku yang seperti apa yang sudah tertebak."Terakhir kali di pesta ulang tahun Kesya, Ardika memang agak menonjol.Mungkin saat itulah dia dilirik oleh Alendo."Kalau kamu nggak bersedia, aku bisa melakukan pembersihan kapan saja, dan soal pihak Alendo juga bisa langsung bergerak."Chalis tidak ingin merugikan Ardika."Nggak perlu begitu khawatir, tetap saja perlu pergi lihat."Ardika menyunggingkan seulas senyum tipis. Yang akan datang, tetap akan datang. Lagi pula, ini juga yang ingin dilihatnya.Alendo sudah kehilangan begitu banyak bisnis, juga tidak tahu apakah pria itu sudah belajar untuk menjadi lebih patuh.Kalau pria itu tidak belajar untuk menjadi lebih patuh, dia bisa membuat pria itu mengalami apa yang dialaminya sekali lagi."Perlukah ak
Wesanto makin penasaran akan hal ini. Dia hanya murni penasaran, bukannya ada orang yang ingin membeli informasi ini."Sebaiknya jangan coba-coba mencari tahu hal-hal yang tidak seharusnya kamu cari tahu. Intinya, bantu aku selidiki apakah Ardika itu berada di Hotel Biston."Lucas juga sudah merasakan adanya bahaya.Hanya saja, mau tak mau dia tetap harus melakukan hal ini. Terlebih lagi, sebagai asisten Alendo, dia sama sekali tidak punya ruang untuk memilih."Oke, aku mengerti. Sepertinya dia masih belum kembali, kamu hanya bisa menunggu di sana lebih awal."Wesanto yang berada di depan komputer, mengetik komputernya sejenak, sudah memperoleh informasi."Aku sudah mengerti."Lucas merasa agak tidak senang, tetapi dia juga tidak mengatakan apa pun."Dan, tolong bayar dulu jasaku. Aku sudah sibuk selama berhari-hari, tapi kalian sama sekali nggak menyebutkan soal itu."Wesanto memanfaatkan kesempatan untuk mendesak agar mereka segera membayar."Jangan khawatir, jasamu itu sudah pasti a
Alendo memanggil Lucas."Apa sudah ada informasi soal Ardika?"Alendo bertanya dengan tidak sabar, dia selalu merasa ada hal-hal yang sudah terlewatkan.Namun, Lucas malah merasa agak keheranan. Walaupun bosnya memperhatikan hal ini, tetapi juga tidak perlu sampai begitu panik."Aku meminta Wesanto untuk terus mengamati hal ini, tapi sampai sekarang belum ada kabar baru darinya, seharusnya masih belum ada informasi apa pun.""Bos, apa terjadi sesuatu?"Lucas menanyakan satu kalimat itu."Kemarin Tuan Besar Keluarga Jamando pergi ke luar negeri pada malam itu juga."Satu kalimat yang diucapkan oleh Alendo itu membuat Lucas tersentak.Lucas tahu demi menemukan orang di balik layar itu, Alendo benar-benar sudah menguras pikiran.Dia langsung membeli vas bunga antik dengan mengeluarkan uang banyak untuk menyenangkan hati Tuan Besar Keluarga Jamando. Alhasil, yang diperoleh hanyalah jawaban yang ambigu.Awalnya hari ini masih berencana untuk mengunjungi Tuan Besar Keluarga Jamando itu, teta
"Kendy, Ridwan sialan itu nggak berada di pihak yang sama dengan kita. Sekarang kita ingin memasuki pasar Kota Banyuli, kalau tanpa adanya jaminan di aspek pemerintahan, akan sedikit merepotkan," kata Gilang.Kendy melirik lawan bicaranya dan berkata, "Apa kamu punya ide?""Wali Kota Banyuli perlu dig
Seluruh ruang interogasi dipenuhi dengan suara tawa keras Ardika.Suara tawanya ini sangat menusuk indra pendengaran.Namun, yang jauh lebih menusuk indra pendengaran adalah nada bicaranya yang santai.Sontak saja reaksi Ardika langsung membuat ekspresi Dedi, Derril dan Ferdinan berubah drastis."Apa ya
'Apa? Aku dicopot dari jabatanku, lalu Dedi yang menjadi wali kota baru Kota Banyuli?'Begitu mendengar ucapan Derril, Ridwan langsung tercengang."Hahaha. Ridwan, kamu nggak menyangka, 'kan? Suatu hari nanti aku akan kembali ke Kediaman Wali Kota dan menggantikan posisimu?"Dedi berjalan menghampiri R
"Jangan! Kalian jangan mendekat!" teriak Elsy dengan histeris. Dia benar-benar ketakutan setengah mati."Ayah! Aku ingin bertemu Ayah! Huu ... huu ...."Livy berteriak dan menangis sejadi-jadinya, suara tangisnya bisa membuat hati orang yang mendengarnya hancur berkeping-keping.Namun, dua ekor binatan







