Beranda / Romansa / Menantu Pengganti / Bab 4:Taman Belakang yang Sunyi

Share

Bab 4:Taman Belakang yang Sunyi

Penulis: SolaceReina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 00:51:02

Jam di dinding kamar menunjuk pukul delapan lima puluh.

Sepuluh menit lagi.

Duduk di tepi ranjang, menatap ponsel di tangan. Pesan itu masih terbuka di layar, huruf-huruf yang seperti mengundang ke dalam sesuatu yang tidak bisa diputar balik.

"Aku tunggu kamu di taman belakang. Jam 9 malam. Sendirian."

Jantung berdegup tidak karuan. Tangan dingin meski udara di kamar ini hangat. Sudah berganti pakaian, kemeja lengan panjang berwarna gelap dan celana panjang. Biar tidak terlalu mencolok kalau harus berjalan di malam.

Tapi satu pertanyaan terus berputar di kepala: Apa benar harus pergi?

Tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Tidak tahu apa maksudnya. Yang tahu hanya satu, orang itu tahu sesuatu tentang kematian Dimas, adik Revan. Sesuatu yang mungkin tidak pernah diceritakan siapa pun.

Menarik napas panjang, berdiri pelan, lalu melangkah ke arah pintu.

---

Rumah besar keluarga Aditya terasa berbeda di malam hari.

Lorong-lorong panjang diterangi lampu temaram yang membuat bayangan terlihat lebih gelap. Tidak ada suara selain detak jam dinding dan sesekali angin yang bertiup dari ventilasi udara.

Berjalan pelan, sangat pelan, menuruni tangga dengan langkah hati-hati agar tidak ada suara yang terdengar. Sepatu dilepas, dibawa di tangan agar tidak berbunyi di lantai marmer.

Begitu sampai di lantai bawah, berhenti sebentar.

Dari ruang keluarga, terdengar samar suara televisi. Seseorang masih terjaga.

Mengintip dari balik dinding, Nyonya Ratna duduk di sofa, membaca buku dengan kacamata baca bertengger di hidungnya. Secangkir teh masih mengepul di meja samping.

Menahan napas, lalu berjalan memutar, mengambil jalur dari dapur belakang agar tidak ketahuan.

Pintu belakang dapur tidak terkunci. Membukanya perlahan, sedikit demi sedikit, sampai celahnya cukup untuk tubuh lewat.

Udara malam menyapa wajah, dingin, basah, membawa aroma tanah setelah hujan sore tadi.

---

Taman belakang rumah Aditya luas.

Lebih luas dari yang dibayangkan.

Ada deretan pohon-pohon tinggi di pinggir pagar, semak-semak yang rapi, dan lampu taman kecil yang menyala redup di beberapa titik. Di tengahnya ada gazebo kayu dengan atap genteng, tempat yang mungkin dipakai untuk santai di siang hari.

Tapi malam ini, tempat itu terasa seperti panggung kosong yang menunggu sesuatu terjadi.

Melangkah pelan, kaki telanjang menyentuh rumput basah yang dingin. Setiap langkah terasa berat. Setiap hembusan angin terasa seperti bisikan.

Tidak ada siapa-siapa.

Melirik ponsel, pukul sembilan lewat dua menit.

Apa salah tempat? Atau... sudah dijebak?

---

Tiba-tiba, suara langkah terdengar dari arah belakang.

Menoleh cepat, jantung nyaris melompat keluar.

Sosok seseorang muncul dari balik pohon besar. Tinggi, berpakaian gelap, wajahnya tertutup bayangan.

Pria itu melangkah perlahan ke arah cahaya lampu taman. Dan saat wajahnya terlihat, sedikit tersentak.

Pria paruh baya, sekitar empat puluhan. Wajahnya lelah, berjanggut tipis, dengan tatapan mata tajam yang menatap seolah sedang menilai.

"Kamu Aruna?" tanyanya pelan.

Mengangguk, meski tubuh masih tegang.

"Siapa kamu?" tanya balik, berusaha terdengar tenang meski suara gemetar.

Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatap lama, lalu menghela napas pelan.

"Namaku Wiranto. Aku dulu... supir pribadi Dimas Aditya."

Dunia seperti berhenti sebentar.

Supir Dimas?

Menelan ludah. "Kenapa kamu menghubungiku? Kenapa sekarang?"

Wiranto melangkah lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak. Tangannya masuk ke saku jaket, mengeluarkan amplop cokelat tipis.

"Karena kamu satu-satunya orang di rumah ini yang... belum terlibat terlalu dalam," katanya pelan. "Dan karena kamu punya hak tahu."

"Hak tahu apa?"

Dia menyerahkan amplop itu. Menerimanya dengan tangan gemetar.

"Dimas tidak bunuh diri," katanya, suaranya berat, penuh luka lama. "Dia dibunuh. Dan orang yang membunuhnya... masih hidup. Masih bebas. Bahkan masih tinggal di rumah ini."

Napas tercekat di tenggorokan.

"Siapa?" bisik hampir tanpa suara.

Wiranto menatap dalam. "Itu yang harus kamu cari tahu sendiri. Kalau aku bilang sekarang, kamu tidak akan percaya. Tapi kalau kamu buka amplop itu... kamu akan mulai melihat kebenarannya."

Menatap amplop di tangan, tebal, berat, seperti menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya dibuka.

"Kenapa kamu tidak langsung lapor polisi?" tanya.

Dia tersenyum pahit. "Karena keluarga Aditya punya uang. Punya kuasa. Polisi tidak akan percaya supir seperti aku. Tapi kamu..." dia menatap tajam. "Kamu sekarang bagian dari keluarga itu. Kamu punya akses. Kamu bisa mencari bukti yang tidak bisa aku dapat."

Menggeleng pelan. "Aku bukan detektif. Aku cuma—"

"Kamu istri Revan," potongnya. "Mau tidak mau, kamu sudah masuk ke dalam permainan ini."

---

Sebelum sempat bertanya lagi, terdengar suara pintu terbuka dari arah rumah.

Langsung berbalik, Wiranto melangkah mundur cepat, masuk kembali ke bayangan.

"Jangan buka amplop itu di rumah," bisiknya cepat. "Simpan di tempat aman. Dan jangan percaya siapa pun, bahkan tidak pada Revan."

Lalu dia menghilang di balik pepohonan, langkahnya cepat tapi nyaris tanpa suara.

Berdiri kaku, memegang amplop itu dengan erat, saat suara langkah kaki semakin dekat dari arah rumah.

---

"Aruna?"

Suara itu... Revan.

Menoleh cepat, dia berdiri di pintu belakang, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, tatapannya tajam menatap ke arah.

"Apa yang kamu lakukan di luar?" tanyanya, nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di baliknya. Curiga.

Cepat-cepat menyembunyikan amplop di balik punggung, mencoba tersenyum, meski yakin senyum terlihat kaku.

"Aku... cuma mau cari udara segar. Di kamar tadi pengap."

Revan tidak langsung menjawab. Dia melangkah turun dari tangga belakang, berjalan perlahan ke arah. Matanya menyapu taman, seolah mencari sesuatu.

"Udara segar?" ulangnya pelan. "Jam sembilan malam? Sendirian?"

Jantung berdegup keras. Mengangguk cepat. "Iya. Aku... aku nggak bisa tidur."

Dia berhenti tepat di depan. Jarak hanya satu langkah. Tatapannya menusuk, seperti sedang membaca pikiran.

"Kamu yakin cuma itu?"

Menelan ludah. "Iya. Kenapa?"

Revan diam lama. Terlalu lama. Lalu perlahan, tatapannya turun, ke tangan yang disembunyikan di belakang punggung.

"Apa yang kamu pegang?"

Tubuh menegang.

"Tidak ada."

"Aruna." Suaranya lebih rendah sekarang, pelan, tapi tegas. "Tunjukkan tanganmu."

Tidak bergerak.

Revan melangkah lebih dekat lagi, sekarang jarak hanya sejengkal. Bisa merasakan napasnya, bisa melihat tatapan tajam di matanya yang tidak memberi ruang untuk bohong.

"Kalau kamu menyembunyikan sesuatu dariku," bisiknya pelan, tapi menusuk, "itu berarti kamu sudah mulai tidak percaya padaku. Dan kalau kamu tidak percaya padaku... aku tidak bisa melindungimu."

Kata-kata itu membuat berhenti.

Melindungi? Dari apa?

Sebelum sempat menjawab, terdengar suara dari arah rumah lagi, kali ini lebih keras.

"Revan!" suara Nyonya Ratna terdengar dari dalam. "Kamu di mana?"

Revan menatap sebentar lagi, lalu melangkah mundur.

"Masuklah," katanya datar. "Sekarang."

Dia berbalik dan berjalan kembali ke rumah.

Berdiri di sana, memegang amplop dengan tangan gemetar, menatap punggungnya yang menjauh.

Dan untuk pertama kalinya, merasa...

Tidak tahu lagi siapa yang harus dipercaya.

---

Kembali ke kamar dengan amplop tersembunyi di balik baju. Begitu pintu tertutup, duduk di lantai, membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya, foto.

Foto Dimas Aditya bersama seorang perempuan muda.

Dan perempuan itu...

Kirana.

Kakak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Pengganti   💥 BAB 61: Umpan di Selat Malaka

    Perahu penyelamat kecil itu melaju kencang, membelah ombak Selat Malaka yang mulai bergejolak. Aruna mengarahkan perahu itu menjauh dari rute Night Rider menuju Batam, bergerak ke arah utara, menuju lautan terbuka.Dia sendirian. Hanya dirinya, ombak yang berderu, dan flash drive Kirana yang dipegangnya erat-erat.Aruna menatap arlojinya. Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan sinyal flash drive untuk menarik perhatian Revan dan meyakinkannya bahwa ini adalah target utama.Air laut memercik ke wajahnya, terasa pedih di luka bahunya. Aruna harus tetap fokus. Dia menatap cakrawala di belakangnya, mencari tanda-tanda pengejaran.Lima belas menit berlalu. Tidak ada.Aruna mulai ragu. Apakah rencananya gagal? Apakah Revan tidak lagi tertarik pada data A-17?Tiba-tiba, dia mendengar suara yang dia kenali dan benci—suara mesin kapal cepat yang membelah air, semakin dekat dari kejauhan. Bukan kapal patroli militer.Kapal pemburu cepat milik Ares. Dua titik hitam muncul di cakrawala.

  • Menantu Pengganti   ⏳ BAB 60: Taruhan pada Seorang Jurnalis

    Aruna berhasil menarik dirinya kembali ke dek kapal Night Rider. Bahunya berdarah lagi, dan lututnya sakit luar biasa setelah melompat. Nadira segera memeluknya, wajahnya lega sekaligus panik."Kau berhasil!" desis Nadira. "Kau memberikannya pada Dian?"Aruna mengangguk, terengah-engah. Dia merasakan perahu mulai melaju kencang lagi, meninggalkan Kapal Vigilance di kejauhan."Ya. Hard drive Johan ada di tangannya," kata Aruna. "Sekarang, nasib kita ada di tangan Dian. Dia harus menerbitkannya."Tono, yang berada di ruang kemudi, berteriak melalui intercom. "Kita sudah aman! Mereka sudah melewati perairan batas! Tujuan selanjutnya Singapura!"Aruna berjalan pincang menuju ruang kargo, diikuti Nadira. Johan masih terbaring lemah.Aruna segera menuju Bima. Kondisinya memburuk dengan cepat. Wajahnya semakin cekung, dan napasnya dangkal.Paramedis Kiara tampak putus asa. "Waktunya habis, Nyonya Aruna. Paling lama tiga jam. Kita harus mendarat di fasilitas medis berskala besar, atau dia tid

  • Menantu Pengganti   🌊 BAB 59: Pertukaran di Tengah Laut

    Kapal Vigilance milik Dian melaju mendekat, membelah ombak dengan elegan. Sementara itu, jet tempur militer itu memutar, bersiap untuk penerbangan pengintaian kedua di atas perairan perbatasan.Aruna menatap hard drive Johan. Ini adalah momen kebenaran, hasil dari semua penderitaan dan pelarian."Tono! Bagaimana respons Dian?" tanya Aruna, mencengkeram pegangan dek kapal.Tono memegang ponsel satelit, wajahnya pucat. "Dia setuju. Lima menit, di samping kapal. Tapi dia menuntut agar kita hanya mengirim satu orang untuk melakukan transfer."Aruna mengangguk. "Aku yang akan pergi.""Tidak, Aruna! Kau terluka parah!" seru Nadira. "Biarkan aku yang pergi!""Tidak," potong Aruna. "Dian harus melihat bukti itu di tanganku. Dia harus melihat siapa yang melawannya. Dan hard drive ini sangat sensitif. Hanya aku yang tahu cara kerjanya jika Revan memasang jebakan."Kapal Night Rider dan Vigilance bergerak sejajar di laut terbuka. Jarak mereka hanya beberapa meter, terpisah oleh ombak yang ganas.

  • Menantu Pengganti   🚢 BAB 58: Malam di Atas Night Rider

    Kapal kargo cepat Night Rider membelah ombak Laut Jawa. Kecepatan kapal membuat guncangan terasa di ruang kargo yang sempit dan berisik. Di luar, langit sudah benar-benar gelap.Aruna bersandar di dinding baja, bahunya yang terluka berdenyut nyeri. Dia menyentuh hard drive Johan yang ia sembunyikan di dalam lipatan jaketnya. Bukti itu kini aman, tapi Bima tidak.Tim medis Kiara bekerja di bawah cahaya redup. Mereka memberikan cairan infus dan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk Bima."Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di laut," kata salah satu paramedis kepada Aruna. "Jika dia tidak dioperasi dalam dua belas jam ke depan, kami harus bersiap untuk yang terburuk."Johan, yang kini sudah diberikan pertolongan pertama oleh Nadira, duduk di sudut ruangan, wajahnya masih memar."Terima kasih, Nyonya Aruna," kata Johan, suaranya lemah. "Saya pikir saya sudah mati di tangan Revan.""Kenapa kau merekamnya, Johan?" tanya Aruna, mendekati Johan. "Kau tahu risikonya."Johan mena

  • Menantu Pengganti   🛳️ BAB 57: Pintu Keluar Kiara

    Perahu nelayan itu mendarat kasar di Pulau Ketapang. Aruna, Nadira, dan Johan yang kesakitan melompat ke dermaga yang sama tempat mereka meninggalkan Bima.Di gudang tua, lampu remang-remang menyala. Tono berdiri di pintu, wajahnya tegang. Dia melihat kondisi Aruna—berlumuran darah kering dan lumpur—dan hard drive di tangannya.Dia tidak perlu bertanya. Hasilnya jelas."Revan lepas," kata Aruna, suaranya serak. "Dan dia tahu kita di sini."Tono mengangguk. Dia mengabaikan Johan, fokus pada Aruna."Aku menerima sinyal satelit. Helikopter militer Revan diperkirakan tiba dalam satu jam," kata Tono. "Tapi itu masalah kecil. Sinyal dari Pulau Naga menunjukkan perahu cepat Sersan Leo akan tiba dalam lima belas menit."Lima belas menit. Aruna tidak punya waktu untuk bernapas."Bima?" tanya Aruna, pincang menuju gudang."Stabil. Tapi dia tetap butuh operasi," jawab Tono. "Lukanya sudah dibersihkan, tapi tim medis tidak bisa melakukan lebih dari ini."Aruna masuk ke gudang. Dia melihat Bima, y

  • Menantu Pengganti   🏃 BAB 56: Bukti Berlumuran Darah

    Aruna memutar kunci darurat pintu baja Koridor Isolasi, mengunci Revan di dalam. Di telinganya, dia mendengar benturan keras dari tinju Revan yang menghantam baja. Teriakan yang teredam, penuh amarah murni.Dia berhasil. Tapi dia tidak aman.Aruna membalikkan badannya. Dia kini harus merangkak kembali melalui lorong pipa yang sempit. Bahunya berdarah, kakinya berdenyut-denyut.Dia harus cepat. Revan adalah ahli teknik. Dia pasti memiliki cara darurat untuk membuka atau meledakkan pintu itu.Aruna mencengkeram hard drive kecil itu dengan tangan kirinya. Setiap kali dia menyentuh lantai beton basah, rasa dinginnya menusuk. Dia mendorong tubuhnya maju, mengabaikan rasa sakit.Lorong pipa itu terasa lebih panjang saat Aruna melarikan diri. Bau uap dan karat semakin menyesakkan. Aruna menggunakan sisa-sisa tenaganya, mendorong siku-sikunya ke depan.Akhirnya, dia mencapai lubang saluran ventilasi yang dia gunakan untuk masuk. Dia harus mendorong tubuhnya ke atas.Dia menghela napas panjang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status