Beranda / Romansa / Menantu Pengganti / Bab 5:Foto yang Tidak Seharusnya Ada

Share

Bab 5:Foto yang Tidak Seharusnya Ada

Penulis: SolaceReina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 00:51:09

Duduk di lantai kamar, punggung bersandar pada pintu yang baru saja dikunci dari dalam. Napas masih tersengal, bukan karena lelah, tapi karena jantung yang belum bisa tenang.

Amplop cokelat itu tergeletak di pangkuan.

Tangan gemetar saat membukanya. Kertas di dalamnya agak kusut, seperti sudah lama disimpan. Mengeluarkannya perlahan, satu per satu.

Yang pertama keluar adalah foto.

Foto berwarna, sedikit pudar di pinggirnya. Diambil di sebuah kafe, bisa dilihat dari latar belakang yang ada logo kopi di dinding. Dua orang duduk berhadapan di meja kecil, cangkir di depan mereka, senyum tipis di wajah mereka.

Satu orang pria muda. Tampan. Senyumnya hangat. Tidak mengenalinya, tapi entah kenapa... wajahnya terasa familiar. Seperti pernah dilihat di suatu tempat.

Dan perempuan di seberangnya...

Kirana.

Kakak.

---

Napas berhenti sebentar.

Menatap foto itu lebih lama. Mencoba memastikan mata tidak salah lihat. Tapi tidak, itu benar-benar Kirana. Rambutnya lebih pendek, gaya pakaiannya lebih sederhana, tapi itu jelas dia.

Dan cara dia tersenyum di foto itu...

Bukan senyum biasa. Bukan senyum sopan. Itu senyum seseorang yang... nyaman. Bahagia. Seperti sedang bersama orang yang disayang.

Siapa pria ini?

Membalik foto itu, di belakangnya ada tulisan tangan dengan tinta biru yang mulai pudar:

*"Dimas & Kirana — April 2018"*

Jantung seperti dijatuhkan dari ketinggian.

Dimas.

Adik Revan.

Kirana... kenal Dimas?

---

Mengeluarkan kertas berikutnya dari amplop, selembar artikel koran yang sudah menguning. Judulnya dicetak tebal:

*"Pemuda Pengusaha Ditemukan Tewas di Apartemen Pribadi — Diduga Bunuh Diri"*

Di bawahnya ada foto hitam putih, wajah yang sama dengan pria di foto tadi. Dimas Aditya. Usia dua puluh empat tahun. Ditemukan tewas di apartemennya, dengan botol obat tidur kosong di samping tubuhnya.

Polisi menyimpulkan bunuh diri.

Keluarga menolak autopsi lebih lanjut.

Kasus ditutup.

Membaca artikel itu dua kali. Tiga kali. Mencoba memahami, tapi semakin dibaca, semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Kenapa Kirana tidak pernah cerita kalau dia kenal Dimas?

Kenapa dia kabur tepat sebelum menikah dengan Revan, kakak dari pria yang pernah dekat dengannya?

Dan yang paling mengganggu...

Apa yang sebenarnya terjadi pada Dimas?

---

Mengeluarkan kertas terakhir, secarik catatan tulisan tangan, hurufnya terburu-buru, tidak rapi.

*"Dimas tidak minum obat itu sendiri. Aku tahu. Aku ada di sana malam itu. Tapi aku tidak bisa buktikan apa-apa. Mereka terlalu kuat. Kalau kamu baca ini, tolong... jangan biarkan kebohongan ini terus hidup."*

Tidak ada tanda tangan. Hanya inisial di pojok bawah: W.

Wiranto.

---

Meletakkan semua kertas itu di lantai, menatapnya lama seperti sedang menyusun puzzle yang potongannya masih hilang.

Pikiran berputar cepat.

Kalau Dimas dan Kirana pernah dekat... kenapa Kirana mau dijodohkan dengan Revan? Kenapa dia diam saja?

Atau jangan-jangan...

Dia tidak diam. Dia kabur.

Karena dia tidak sanggup menikah dengan kakak dari orang yang...

Ketukan keras di pintu membuat terlonjak.

Cepat-cepat mengumpulkan semua kertas, memasukkannya kembali ke amplop, lalu berdiri dan menyembunyikannya di bawah kasur.

"Aruna?" suara Revan terdengar dari luar. "Buka pintunya."

Jantung berdegup keras. Menarik napas, mencoba tenang, lalu membuka pintu perlahan.

Revan berdiri di sana, wajahnya masih datar, tapi matanya... ada sesuatu. Seperti sedang menahan sesuatu.

"Kenapa kamu kunci pintu?" tanyanya pelan.

"Aku... aku mau ganti baju," jawab cepat. "Jadi kukunci biar nggak ada yang masuk tiba-tiba."

Dia menatap lama. Terlalu lama. Lalu melangkah masuk, tanpa izin.

Refleks mundur sedikit.

Revan berjalan pelan, matanya menyapu seluruh kamar. Ke arah meja rias. Ke arah lemari. Ke arah... kasur.

"Kamu yakin cuma itu?" tanyanya tanpa menoleh.

"Iya," jawab, berusaha terdengar meyakinkan. "Kenapa?"

Dia berhenti di depan kasur. Menatap tempat tidur itu sebentar, lalu menoleh.

"Karena aku tahu kamu bohong."

Napas tercekat di tenggorokan.

"Aku nggak—"

"Kamu bertemu seseorang di taman tadi," potongnya. "Aku tahu. Aku lihat bayangannya."

Diam. Tidak tahu harus bilang apa.

Revan melangkah mendekat, perlahan, tapi pasti. Setiap langkah membuat jantung semakin cepat.

"Siapa dia?" tanyanya, suaranya rendah, tapi tajam.

"Aku nggak tahu," jawab pelan. "Dia cuma... orang asing yang—"

"Jangan bohong lagi, Aruna."

Kali ini suaranya lebih keras. Tidak berteriak, tapi cukup untuk membuat terdiam.

Dia berhenti tepat di depan. Jarak hanya sejengkal. Bisa melihat rahangnya yang tegang, bisa merasakan amarah yang ditahan di balik tatapan tajamnya.

"Apa yang dia berikan padamu?"

Menggeleng cepat. "Tidak ada."

"Aruna—"

"Aku bilang tidak ada!" kali ini yang memotong, suara naik tanpa disadari.

Saling menatap. Hening. Tegang.

Lalu perlahan, ekspresi Revan berubah. Bukan marah lagi. Tapi... kecewa.

Dia melangkah mundur, menghela napas panjang.

"Aku nggak tahu apa yang kamu cari, Aruna," katanya pelan. "Tapi kalau kamu terus menggali masa lalu keluarga ini... kamu akan menemukan sesuatu yang nggak bisa kamu tanggung."

Dia berbalik, berjalan ke arah pintu, lalu berhenti sebentar.

"Dan kalau itu terjadi," lanjutnya tanpa menoleh, "aku nggak bisa melindungimu."

Pintu tertutup pelan.

---

Berdiri di sana, sendirian, dengan gemetar yang tidak bisa dihentikan.

Perlahan berlutut, menarik amplop dari bawah kasur. Menatapnya lama.

Revan bilang akan menemukan sesuatu yang tidak bisa ditanggung.

Tapi sudah terlanjur masuk terlalu dalam.

Dan sekarang... harus tahu.

Meski itu berarti menghancurkan segalanya.

---

Hampir tidak tidur semalaman, hanya terjaga, menatap langit-langit, memikirkan wajah Dimas di foto itu.

Begitu cahaya mulai masuk lewat jendela, tahu apa yang harus dilakukan.

Harus bicara dengan Kirana.

---

Menemukannya di taman depan, duduk di kursi kayu di bawah pohon mangga, membaca buku dengan santai. Seperti tidak ada beban apa pun di pundaknya.

Berjalan pelan, berhenti beberapa langkah darinya.

"Kakak," panggil pelan.

Dia mengangkat kepala, sedikit terkejut melihat. Tapi kemudian tersenyum, senyum yang terasa... dipaksakan.

"Aruna. Pagi-pagi banget. Ada apa?"

Menarik napas panjang, lalu duduk di sebelahnya tanpa diundang.

"Aku mau tanya sesuatu," kata pelan. "Dan aku harap Kakak jujur."

Senyumnya memudar sedikit. "Tanya apa?"

Menatapnya dalam, mencoba membaca matanya.

"Kakak kenal Dimas Aditya, kan?"

Tubuh Kirana menegang. Buku di tangannya hampir terjatuh.

Dia tidak langsung menjawab. Hanya menatap, matanya melebar, wajahnya pucat.

"Siapa yang bilang begitu?" bisiknya pelan.

"Itu nggak penting," jawab. "Yang penting... itu benar, kan?"

Kirana menutup bukunya perlahan. Tangannya gemetar.

"Aruna... jangan bahas ini."

"Kenapa?" suara mulai naik. "Kenapa Kakak nggak pernah cerita? Kenapa Kakak diam saja waktu dijodohkan sama Revan, kakak dari orang yang—"

"Karena aku nggak punya pilihan!" potongnya keras, suaranya pecah.

Berdua terdiam.

Kirana menunduk, tangannya menutupi wajahnya. Bahunya bergetar.

"Aku mencintai Dimas," bisiknya pelan, suaranya hancur. "Tapi dia... dia pergi. Dan aku nggak bisa ngapa-ngapain."

Menatapnya, hati terasa sesak.

"Dia bunuh diri, Kak?" tanya hati-hati.

Kirana menggeleng pelan, masih menutupi wajahnya.

"Aku nggak tahu, Aruna," bisiknya. "Aku nggak tahu."

---

Dari balik jendela lantai dua, Nyonya Ratna berdiri, menatap ke bawah dengan tatapan dingin.

Di tangannya, sebuah ponsel.

Dia mengetik pesan cepat, lalu mengirimnya.

"Dia sudah tahu. Kita harus bertindak sekarang."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Pengganti   💥 BAB 61: Umpan di Selat Malaka

    Perahu penyelamat kecil itu melaju kencang, membelah ombak Selat Malaka yang mulai bergejolak. Aruna mengarahkan perahu itu menjauh dari rute Night Rider menuju Batam, bergerak ke arah utara, menuju lautan terbuka.Dia sendirian. Hanya dirinya, ombak yang berderu, dan flash drive Kirana yang dipegangnya erat-erat.Aruna menatap arlojinya. Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan sinyal flash drive untuk menarik perhatian Revan dan meyakinkannya bahwa ini adalah target utama.Air laut memercik ke wajahnya, terasa pedih di luka bahunya. Aruna harus tetap fokus. Dia menatap cakrawala di belakangnya, mencari tanda-tanda pengejaran.Lima belas menit berlalu. Tidak ada.Aruna mulai ragu. Apakah rencananya gagal? Apakah Revan tidak lagi tertarik pada data A-17?Tiba-tiba, dia mendengar suara yang dia kenali dan benci—suara mesin kapal cepat yang membelah air, semakin dekat dari kejauhan. Bukan kapal patroli militer.Kapal pemburu cepat milik Ares. Dua titik hitam muncul di cakrawala.

  • Menantu Pengganti   ⏳ BAB 60: Taruhan pada Seorang Jurnalis

    Aruna berhasil menarik dirinya kembali ke dek kapal Night Rider. Bahunya berdarah lagi, dan lututnya sakit luar biasa setelah melompat. Nadira segera memeluknya, wajahnya lega sekaligus panik."Kau berhasil!" desis Nadira. "Kau memberikannya pada Dian?"Aruna mengangguk, terengah-engah. Dia merasakan perahu mulai melaju kencang lagi, meninggalkan Kapal Vigilance di kejauhan."Ya. Hard drive Johan ada di tangannya," kata Aruna. "Sekarang, nasib kita ada di tangan Dian. Dia harus menerbitkannya."Tono, yang berada di ruang kemudi, berteriak melalui intercom. "Kita sudah aman! Mereka sudah melewati perairan batas! Tujuan selanjutnya Singapura!"Aruna berjalan pincang menuju ruang kargo, diikuti Nadira. Johan masih terbaring lemah.Aruna segera menuju Bima. Kondisinya memburuk dengan cepat. Wajahnya semakin cekung, dan napasnya dangkal.Paramedis Kiara tampak putus asa. "Waktunya habis, Nyonya Aruna. Paling lama tiga jam. Kita harus mendarat di fasilitas medis berskala besar, atau dia tid

  • Menantu Pengganti   🌊 BAB 59: Pertukaran di Tengah Laut

    Kapal Vigilance milik Dian melaju mendekat, membelah ombak dengan elegan. Sementara itu, jet tempur militer itu memutar, bersiap untuk penerbangan pengintaian kedua di atas perairan perbatasan.Aruna menatap hard drive Johan. Ini adalah momen kebenaran, hasil dari semua penderitaan dan pelarian."Tono! Bagaimana respons Dian?" tanya Aruna, mencengkeram pegangan dek kapal.Tono memegang ponsel satelit, wajahnya pucat. "Dia setuju. Lima menit, di samping kapal. Tapi dia menuntut agar kita hanya mengirim satu orang untuk melakukan transfer."Aruna mengangguk. "Aku yang akan pergi.""Tidak, Aruna! Kau terluka parah!" seru Nadira. "Biarkan aku yang pergi!""Tidak," potong Aruna. "Dian harus melihat bukti itu di tanganku. Dia harus melihat siapa yang melawannya. Dan hard drive ini sangat sensitif. Hanya aku yang tahu cara kerjanya jika Revan memasang jebakan."Kapal Night Rider dan Vigilance bergerak sejajar di laut terbuka. Jarak mereka hanya beberapa meter, terpisah oleh ombak yang ganas.

  • Menantu Pengganti   🚢 BAB 58: Malam di Atas Night Rider

    Kapal kargo cepat Night Rider membelah ombak Laut Jawa. Kecepatan kapal membuat guncangan terasa di ruang kargo yang sempit dan berisik. Di luar, langit sudah benar-benar gelap.Aruna bersandar di dinding baja, bahunya yang terluka berdenyut nyeri. Dia menyentuh hard drive Johan yang ia sembunyikan di dalam lipatan jaketnya. Bukti itu kini aman, tapi Bima tidak.Tim medis Kiara bekerja di bawah cahaya redup. Mereka memberikan cairan infus dan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk Bima."Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di laut," kata salah satu paramedis kepada Aruna. "Jika dia tidak dioperasi dalam dua belas jam ke depan, kami harus bersiap untuk yang terburuk."Johan, yang kini sudah diberikan pertolongan pertama oleh Nadira, duduk di sudut ruangan, wajahnya masih memar."Terima kasih, Nyonya Aruna," kata Johan, suaranya lemah. "Saya pikir saya sudah mati di tangan Revan.""Kenapa kau merekamnya, Johan?" tanya Aruna, mendekati Johan. "Kau tahu risikonya."Johan mena

  • Menantu Pengganti   🛳️ BAB 57: Pintu Keluar Kiara

    Perahu nelayan itu mendarat kasar di Pulau Ketapang. Aruna, Nadira, dan Johan yang kesakitan melompat ke dermaga yang sama tempat mereka meninggalkan Bima.Di gudang tua, lampu remang-remang menyala. Tono berdiri di pintu, wajahnya tegang. Dia melihat kondisi Aruna—berlumuran darah kering dan lumpur—dan hard drive di tangannya.Dia tidak perlu bertanya. Hasilnya jelas."Revan lepas," kata Aruna, suaranya serak. "Dan dia tahu kita di sini."Tono mengangguk. Dia mengabaikan Johan, fokus pada Aruna."Aku menerima sinyal satelit. Helikopter militer Revan diperkirakan tiba dalam satu jam," kata Tono. "Tapi itu masalah kecil. Sinyal dari Pulau Naga menunjukkan perahu cepat Sersan Leo akan tiba dalam lima belas menit."Lima belas menit. Aruna tidak punya waktu untuk bernapas."Bima?" tanya Aruna, pincang menuju gudang."Stabil. Tapi dia tetap butuh operasi," jawab Tono. "Lukanya sudah dibersihkan, tapi tim medis tidak bisa melakukan lebih dari ini."Aruna masuk ke gudang. Dia melihat Bima, y

  • Menantu Pengganti   🏃 BAB 56: Bukti Berlumuran Darah

    Aruna memutar kunci darurat pintu baja Koridor Isolasi, mengunci Revan di dalam. Di telinganya, dia mendengar benturan keras dari tinju Revan yang menghantam baja. Teriakan yang teredam, penuh amarah murni.Dia berhasil. Tapi dia tidak aman.Aruna membalikkan badannya. Dia kini harus merangkak kembali melalui lorong pipa yang sempit. Bahunya berdarah, kakinya berdenyut-denyut.Dia harus cepat. Revan adalah ahli teknik. Dia pasti memiliki cara darurat untuk membuka atau meledakkan pintu itu.Aruna mencengkeram hard drive kecil itu dengan tangan kirinya. Setiap kali dia menyentuh lantai beton basah, rasa dinginnya menusuk. Dia mendorong tubuhnya maju, mengabaikan rasa sakit.Lorong pipa itu terasa lebih panjang saat Aruna melarikan diri. Bau uap dan karat semakin menyesakkan. Aruna menggunakan sisa-sisa tenaganya, mendorong siku-sikunya ke depan.Akhirnya, dia mencapai lubang saluran ventilasi yang dia gunakan untuk masuk. Dia harus mendorong tubuhnya ke atas.Dia menghela napas panjang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status