Beranda / Romansa / Menantu Pengganti / BAB 3 :Pesan dari Bayangan

Share

BAB 3 :Pesan dari Bayangan

Penulis: SolaceReina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-11 00:51:00

Menatap layar ponsel dengan tangan gemetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal masih menyala di layar, huruf-huruf putih di atas latar gelap yang terasa seperti ancaman.

"Jangan percaya siapa pun di rumah itu. Bahkan tidak pada kakakmu. Dia bukan yang kamu kira."

Jantung berdetak keras. Siapa yang mengirim ini? Dan kenapa sekarang, tepat di malam pertama sebagai... istri Revan?

Ingin membalas pesan itu, tapi jemari berhenti di atas keyboard. Apa yang harus ditulis? Apa yang harus ditanyakan?

Sebelum sempat memutuskan, ponsel bergetar lagi.

Pesan kedua masuk.

"Kalau kamu ingin tahu kebenaran, temui aku di taman belakang rumah Aditya besok malam. Jam 9. Sendirian. Jangan beri tahu siapa pun."

Menelan ludah. Taman belakang rumah Aditya? Bahkan belum pernah ke sana. Belum tahu seperti apa rumah tempat tinggal mulai besok.

Tapi yang lebih membuat takut adalah kalimat terakhir:

*"Kalau kamu membawa orang lain, kamu tidak akan pernah tahu siapa yang membunuh adik Revan."*

Napas tercekat di tenggorokan.

Membunuh?

Revan bilang adiknya bunuh diri. Tapi pesan ini bilang... dibunuh?

---

Hampir tidak tidur semalaman. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Revan dan kata-katanya terus berputar di kepala.

*"Kamu ada di sini karena aku ingin keluargamu merasakan apa yang kami rasakan."*

Masih duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin kusut saat pintu kamar diketuk pelan.

"Nona Aruna?" suara perempuan paruh baya terdengar dari luar. "Sarapan sudah siap. Tuan Revan dan keluarga sudah menunggu di bawah."

Tersentak. Keluarga?

Dengan tergesa, mengganti pakaian—kemeja putih sederhana dan celana panjang hitam yang dibawa dari rumah. Belum sempat membawa banyak barang. Semuanya terjadi terlalu cepat.

Begitu membuka pintu, seorang pelayan perempuan tersenyum ramah.

"Selamat pagi, Nyonya. Saya Sumi, pelayan di rumah ini. Kalau Nyonya butuh apa-apa, tinggal panggil saya."

Nyonya.

Kata itu terasa asing di telinga.

"Terima kasih, Mbak Sumi," jawab pelan. "Ruang makannya... di mana?"

Dia menunjuk ke arah tangga. "Lantai bawah, Nyonya. Langsung ke kiri setelah tangga."

---

Ruang makan itu besar. Meja panjang dari kayu jati dengan delapan kursi. Piring-piring putih sudah tersusun rapi, dilengkapi gelas kristal dan sendok garpu perak.

Di ujung meja, Revan duduk sambil membaca koran. Jasnya rapi, rambutnya tersisir sempurna. Seperti tidak ada yang terjadi semalam.

Di sebelah kanannya, duduk seorang perempuan paruh baya dengan postur tegap dan wajah anggun—terlalu anggun, sampai terasa dingin. Rambutnya diikat rapi, pakaiannya elegan. Dia menyeruput teh dengan gerakan lambat, mata tajamnya sesekali melirik ke arah.

Itu pasti... Nyonya Ratna. Ibu Revan.

Dan di seberangnya—Kirana.

Kakak duduk dengan tenang, memegang cangkir kopi, menatap ke arah jendela seolah tidak ada orang lain.

Berhenti sebentar di ambang pintu. Tiba-tiba merasa seperti orang asing yang masuk ke wilayah orang lain.

Nyonya Ratna yang pertama kali angkat bicara, tanpa menoleh.

"Duduklah. Jangan berdiri seperti patung."

Suaranya lembut, tapi terasa tajam.

---

Duduk perlahan di kursi paling ujung, paling jauh dari mereka semua. Sumi segera menuangkan teh hangat ke cangkir, lalu meletakkan piring dengan roti panggang dan selai.

Tidak ada yang bicara. Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh piring. Hening yang menekan.

Sampai akhirnya Nyonya Ratna menaruh cangkirnya pelan, terlalu pelan, seperti disengaja untuk menarik perhatian.

"Jadi..." katanya sambil menatap untuk pertama kali. "Kamu Aruna."

Mengangguk. "Ya, Bu."

Dia tersenyum tipis, senyum yang tidak hangat.

"Aku dengar kamu yang menggantikan Kirana di altar kemarin."

Jantung berdegup lebih cepat. Melirik Revan, tapi dia tidak bereaksi. Masih fokus pada korannya.

"Iya, Bu. Karena Kirana—"

"Kabur," potong Nyonya Ratna. Nadanya datar, tapi matanya tajam. "Dia kabur seperti pengecut. Dan kamu... kamu yang harus menanggung akibatnya."

Tidak tahu harus menjawab apa.

Kirana, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara, suaranya pelan tapi cukup terdengar.

"Aku nggak kabur, Bu. Aku cuma butuh waktu."

Nyonya Ratna menoleh ke arah Kirana dengan tatapan menghakimi.

"Butuh waktu?" ulangnya, seolah kata itu adalah lelucon. "Kamu tahu apa artinya pernikahan ini bagi keluarga Aditya? Ini bukan soal cinta, Nak. Ini soal nama baik."

Kirana menunduk. Tangannya menggenggam cangkir kopi lebih erat.

Nyonya Ratna kembali menatap. "Dan sekarang, kamu yang ada di sini. Menggantikan dia. Apa kamu pikir itu mudah?"

Menelan ludah. "Saya nggak pikir ini mudah, Bu. Tapi saya—"

"Kamu melakukannya karena keluargamu terdesak," potongnya lagi. "Karena kalian punya utang. Karena kalian butuh perlindungan kami."

Kata-katanya seperti pisau, tajam, tepat sasaran.

Mengepalkan tangan di atas pangkuan. "Iya, Bu. Itu benar."

Dia tersenyum lagi, kali ini lebih lebar, tapi tetap dingin.

"Bagus. Setidaknya kamu jujur." Dia berdiri, mengambil tasnya dari sandaran kursi. "Tapi ingat satu hal, Aruna. Kamu bisa tinggal di rumah ini, memakai nama keluarga kami, bahkan tidur di kamar yang sama dengan Revan. Tapi itu tidak membuatmu jadi bagian dari kami."

Dia berjalan melewati tanpa menoleh lagi.

"Kamu hanya... pengganti sementara."

Pintu ruang makan tertutup pelan.

---

Duduk membeku. Tidak berani mengangkat kepala. Tidak berani menatap siapa pun.

Kirana akhirnya berdiri, meletakkan cangkirnya dengan suara pelan.

"Aruna..." suaranya lirih. "Aku nggak bermaksud membuatmu seperti ini."

Mengangkat kepala, menatapnya. "Tapi Kakak tetap kabur, kan?"

Dia terdiam. Matanya berkaca-kaca.

"Aku... aku punya alasan."

"Alasan apa?" suara mulai bergetar. "Alasan yang lebih penting dari keluarga kita? Dari Ayah yang hampir masuk penjara?"

Kirana menggeleng pelan. "Kamu nggak ngerti, Aruna. Kalau kamu tahu apa yang aku tahu—"

"Kalau aku tahu apa?" memotong. "Kenapa Kakak nggak cerita dari awal?"

Dia menatap lama. Ada sesuatu di matanya, takut, bersalah, atau mungkin... rahasia.

"Karena aku nggak mau kamu terlibat," bisiknya pelan. "Tapi sekarang... kamu sudah terlibat."

Sebelum sempat bertanya lagi, dia berbalik dan keluar dari ruang makan.

---

Tinggal dengan Revan.

Dia menutup korannya perlahan, lalu menatap dengan tatapan datar.

"Jangan dengarkan ibuku," katanya pelan. "Dia hanya... protektif."

Menatapnya, mencoba membaca wajahnya. Tapi seperti biasa, tidak ada yang bisa dibaca.

"Revan..." menarik napas. "Adikmu... dia benar-benar bunuh diri?"

Revan terdiam. Rahangnya mengeras.

"Kenapa kamu tanya?"

"Karena ada yang bilang... dia dibunuh."

Hening.

Revan berdiri perlahan, menatap dengan tatapan yang berubah, lebih gelap, lebih tajam.

"Siapa yang bilang begitu?"

Menggeleng cepat. "Aku... aku cuma dengar—"

"Dari siapa, Aruna?"

Suaranya rendah, tapi penuh tekanan.

Tidak menjawab. Takut. Karena tidak tahu apakah bisa percaya padanya.

Revan melangkah mendekat, berhenti tepat di depan. Jarak hanya sejengkal.

"Kalau ada orang yang menghubungimu," katanya pelan, tapi jelas. "Kalau ada yang bilang sesuatu tentang keluargaku, kamu harus bilang padaku. Sekarang."

Jantung berdegup keras. Tapi tetap diam.

Dia menatap lama, lalu akhirnya melangkah mundur.

"Hati-hati, Aruna. Di rumah ini, tidak semua orang ingin kamu selamat."

Dia berbalik dan keluar.

---

Ponsel bergetar lagi.

Pesan baru.

"Aku tunggu kamu di taman belakang. Jam 9 malam. Jangan lupa, sendirian. Kalau kamu tidak datang, kamu tidak akan pernah tahu... siapa yang sebenarnya membunuh Dimas Aditya."

Menatap layar itu lama.

Lalu perlahan, berdiri.

Harus tahu kebenaran.

Meski itu berarti... masuk lebih dalam ke dalam jebakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Pengganti   💥 BAB 61: Umpan di Selat Malaka

    Perahu penyelamat kecil itu melaju kencang, membelah ombak Selat Malaka yang mulai bergejolak. Aruna mengarahkan perahu itu menjauh dari rute Night Rider menuju Batam, bergerak ke arah utara, menuju lautan terbuka.Dia sendirian. Hanya dirinya, ombak yang berderu, dan flash drive Kirana yang dipegangnya erat-erat.Aruna menatap arlojinya. Sepuluh menit. Itu adalah waktu yang dibutuhkan sinyal flash drive untuk menarik perhatian Revan dan meyakinkannya bahwa ini adalah target utama.Air laut memercik ke wajahnya, terasa pedih di luka bahunya. Aruna harus tetap fokus. Dia menatap cakrawala di belakangnya, mencari tanda-tanda pengejaran.Lima belas menit berlalu. Tidak ada.Aruna mulai ragu. Apakah rencananya gagal? Apakah Revan tidak lagi tertarik pada data A-17?Tiba-tiba, dia mendengar suara yang dia kenali dan benci—suara mesin kapal cepat yang membelah air, semakin dekat dari kejauhan. Bukan kapal patroli militer.Kapal pemburu cepat milik Ares. Dua titik hitam muncul di cakrawala.

  • Menantu Pengganti   ⏳ BAB 60: Taruhan pada Seorang Jurnalis

    Aruna berhasil menarik dirinya kembali ke dek kapal Night Rider. Bahunya berdarah lagi, dan lututnya sakit luar biasa setelah melompat. Nadira segera memeluknya, wajahnya lega sekaligus panik."Kau berhasil!" desis Nadira. "Kau memberikannya pada Dian?"Aruna mengangguk, terengah-engah. Dia merasakan perahu mulai melaju kencang lagi, meninggalkan Kapal Vigilance di kejauhan."Ya. Hard drive Johan ada di tangannya," kata Aruna. "Sekarang, nasib kita ada di tangan Dian. Dia harus menerbitkannya."Tono, yang berada di ruang kemudi, berteriak melalui intercom. "Kita sudah aman! Mereka sudah melewati perairan batas! Tujuan selanjutnya Singapura!"Aruna berjalan pincang menuju ruang kargo, diikuti Nadira. Johan masih terbaring lemah.Aruna segera menuju Bima. Kondisinya memburuk dengan cepat. Wajahnya semakin cekung, dan napasnya dangkal.Paramedis Kiara tampak putus asa. "Waktunya habis, Nyonya Aruna. Paling lama tiga jam. Kita harus mendarat di fasilitas medis berskala besar, atau dia tid

  • Menantu Pengganti   🌊 BAB 59: Pertukaran di Tengah Laut

    Kapal Vigilance milik Dian melaju mendekat, membelah ombak dengan elegan. Sementara itu, jet tempur militer itu memutar, bersiap untuk penerbangan pengintaian kedua di atas perairan perbatasan.Aruna menatap hard drive Johan. Ini adalah momen kebenaran, hasil dari semua penderitaan dan pelarian."Tono! Bagaimana respons Dian?" tanya Aruna, mencengkeram pegangan dek kapal.Tono memegang ponsel satelit, wajahnya pucat. "Dia setuju. Lima menit, di samping kapal. Tapi dia menuntut agar kita hanya mengirim satu orang untuk melakukan transfer."Aruna mengangguk. "Aku yang akan pergi.""Tidak, Aruna! Kau terluka parah!" seru Nadira. "Biarkan aku yang pergi!""Tidak," potong Aruna. "Dian harus melihat bukti itu di tanganku. Dia harus melihat siapa yang melawannya. Dan hard drive ini sangat sensitif. Hanya aku yang tahu cara kerjanya jika Revan memasang jebakan."Kapal Night Rider dan Vigilance bergerak sejajar di laut terbuka. Jarak mereka hanya beberapa meter, terpisah oleh ombak yang ganas.

  • Menantu Pengganti   🚢 BAB 58: Malam di Atas Night Rider

    Kapal kargo cepat Night Rider membelah ombak Laut Jawa. Kecepatan kapal membuat guncangan terasa di ruang kargo yang sempit dan berisik. Di luar, langit sudah benar-benar gelap.Aruna bersandar di dinding baja, bahunya yang terluka berdenyut nyeri. Dia menyentuh hard drive Johan yang ia sembunyikan di dalam lipatan jaketnya. Bukti itu kini aman, tapi Bima tidak.Tim medis Kiara bekerja di bawah cahaya redup. Mereka memberikan cairan infus dan obat penghilang rasa sakit dosis tinggi untuk Bima."Kami sudah melakukan semua yang kami bisa di laut," kata salah satu paramedis kepada Aruna. "Jika dia tidak dioperasi dalam dua belas jam ke depan, kami harus bersiap untuk yang terburuk."Johan, yang kini sudah diberikan pertolongan pertama oleh Nadira, duduk di sudut ruangan, wajahnya masih memar."Terima kasih, Nyonya Aruna," kata Johan, suaranya lemah. "Saya pikir saya sudah mati di tangan Revan.""Kenapa kau merekamnya, Johan?" tanya Aruna, mendekati Johan. "Kau tahu risikonya."Johan mena

  • Menantu Pengganti   🛳️ BAB 57: Pintu Keluar Kiara

    Perahu nelayan itu mendarat kasar di Pulau Ketapang. Aruna, Nadira, dan Johan yang kesakitan melompat ke dermaga yang sama tempat mereka meninggalkan Bima.Di gudang tua, lampu remang-remang menyala. Tono berdiri di pintu, wajahnya tegang. Dia melihat kondisi Aruna—berlumuran darah kering dan lumpur—dan hard drive di tangannya.Dia tidak perlu bertanya. Hasilnya jelas."Revan lepas," kata Aruna, suaranya serak. "Dan dia tahu kita di sini."Tono mengangguk. Dia mengabaikan Johan, fokus pada Aruna."Aku menerima sinyal satelit. Helikopter militer Revan diperkirakan tiba dalam satu jam," kata Tono. "Tapi itu masalah kecil. Sinyal dari Pulau Naga menunjukkan perahu cepat Sersan Leo akan tiba dalam lima belas menit."Lima belas menit. Aruna tidak punya waktu untuk bernapas."Bima?" tanya Aruna, pincang menuju gudang."Stabil. Tapi dia tetap butuh operasi," jawab Tono. "Lukanya sudah dibersihkan, tapi tim medis tidak bisa melakukan lebih dari ini."Aruna masuk ke gudang. Dia melihat Bima, y

  • Menantu Pengganti   🏃 BAB 56: Bukti Berlumuran Darah

    Aruna memutar kunci darurat pintu baja Koridor Isolasi, mengunci Revan di dalam. Di telinganya, dia mendengar benturan keras dari tinju Revan yang menghantam baja. Teriakan yang teredam, penuh amarah murni.Dia berhasil. Tapi dia tidak aman.Aruna membalikkan badannya. Dia kini harus merangkak kembali melalui lorong pipa yang sempit. Bahunya berdarah, kakinya berdenyut-denyut.Dia harus cepat. Revan adalah ahli teknik. Dia pasti memiliki cara darurat untuk membuka atau meledakkan pintu itu.Aruna mencengkeram hard drive kecil itu dengan tangan kirinya. Setiap kali dia menyentuh lantai beton basah, rasa dinginnya menusuk. Dia mendorong tubuhnya maju, mengabaikan rasa sakit.Lorong pipa itu terasa lebih panjang saat Aruna melarikan diri. Bau uap dan karat semakin menyesakkan. Aruna menggunakan sisa-sisa tenaganya, mendorong siku-sikunya ke depan.Akhirnya, dia mencapai lubang saluran ventilasi yang dia gunakan untuk masuk. Dia harus mendorong tubuhnya ke atas.Dia menghela napas panjang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status