LOGINEvan menghentikan langkahnya. Amarah yang semula membakar sorot matanya perlahan digantikan kewaspadaan setelah menyadari bahwa Revan bukan lagi sosok lemah yang selama ini mereka hina.
"Apa lagi maumu?" geramnya sambil mencengkram lengan yang masih berdenyut akibat benturan tadi.
Revan menatapnya tanpa sedikit pun menunjukkan emosi. "Orang yang pantas menerima permintaan maafmu bukan aku."
Pandangan Evan mengikuti arah tatapan Revan hingga berhenti pada Nayara yang masih berdiri di dekat pintu. Bekas tamparan di pipinya masih tampak jelas, membuat sorot mata Revan semakin dingin.
"Minta maaf."
Nada suaranya tetap tenang, tetapi tekanan yang terkandung di balik setiap katanya membuat udara di halaman seolah ikut membeku.
Evan langsung mendengus sinis. "Aku harus meminta maaf kepada perempuan itu?" Ia terkekeh pendek sebelum meludah ke lantai. "Dia hanyalah aib Keluarga Draksa. Sejak lahir, separuh wajahnya sudah dirusak tanda lahir. Semua orang juga tahu itu."
Sorot mata Nayara seketika meredup. Meski hinaan seperti itu telah menemaninya sejak kecil, mendengarnya keluar dari mulut kakaknya sendiri tetap meninggalkan luka yang sulit diabaikan.
Melihat perubahan raut wajah istrinya, Revan tak lagi berniat menahan diri.
DUAGG! BRAKK!
Dalam sekejap, tubuhnya telah muncul di hadapan Evan. Sebuah pukulan telak menghantam perut pria itu, disusul hentakan siku ke dada dan tendangan keras yang kembali melemparkannya hingga menghantam dinding halaman.
"Ugh—!"
Darah segar menyembur dari mulut Evan. Ia bahkan belum sempat menstabilkan napas ketika Revan sudah kembali berdiri tepat di depannya dengan tatapan yang tetap dingin.
"Kau..." Evan berusaha menopang tubuhnya untuk bangkit, tetapi tendangan Revan lebih dulu menghantam lututnya hingga ia kembali berlutut di tanah.
"Aku masih menunggu permintaan maafmu," suara Revan terdengar datar dan dingin.
"Jangan pernah bermimpi!" jawab Evan.
Ia menggeram marah sambil memaksa mengedarkan seluruh energi spiritual di dalam tubuhnya. Serangan demi serangan ia lepaskan tanpa henti, tetapi semuanya dipatahkan Revan dengan mudah seolah tak memberi ancaman sedikit pun.
Sejak memperoleh warisan Raga Adiwira, kekuatan fisik Revan telah melampaui lawan seusianya. Mendengar jawaban dari pria di hadapannya, ia menyerang terus menerus tanpa henti.
Setiap benturan justru memperparah luka yang diderita Evan hingga tak sampai sepuluh serangan berlalu, pria itu kembali tersungkur dengan tubuh penuh memar, salah satu lengannya terus bergetar hebat akibat benturan yang diterimanya.
Revan mencengkram kerah baju Evan, lalu mengangkat tubuh pria itu hingga tatapan mereka sejajar. "Kau masih ingin melanjutkan?" tanyanya datar.
Hal itu membuat Evan hanya mampu menggertakkan gigi hingga rahangnya menegang. Meski kebencian masih membara di matanya, ia tak lagi memiliki keberanian untuk menyerang.
"Revan... sudah cukup." Nayara akhirnya melangkah mendekat dan menggenggam lengan Revan dengan lembut. "Biarkan dia pergi," pintanya pelan.
Revan menoleh, lalu amarah yang semula memenuhi sorot matanya perlahan mereda begitu melihat wajah Nayara yang dipenuhi kekhawatiran.
Tanpa berkata apa-apa, Revan langsung melepaskan cengkeramannya.
“Uhuk! Argh…!”
Evan terbatuk keras sambil terhuyung-huyung menjauh, kemudian menatap Revan dengan kebencian yang nyaris meluap. "Aku akan membuatmu menyesal," desisnya sebelum berbalik meninggalkan halaman dengan tubuh penuh luka.
Setelah kepergian Evan, keheningan kembali menyelimuti kediaman kecil itu. Alih-alih merasa lega, Nayara justru tampak semakin gelisah hingga tanpa sadar meremas ujung pakaiannya sendiri. "Seharusnya kau tidak melakukan itu."
"Mengapa?" tanya Revan sambil memandangnya.
"Karena dia tidak akan berhenti sampai di sini." Nayara menghembuskan napas pelan sebelum melanjutkan, "Ayah sangat menyayanginya. Begitu mengetahui Evan dipukuli, beliau pasti akan bertindak."
Revan tetap tenang mendengar penjelasan itu. "Bukankah para tetua dilarang menyerang junior?" tanyanya.
Nayara mengangguk pelan. "Aturan keluarga memang melarang hal itu, tetapi..." ucapnya sambil menggigit bibir bawah, seolah ragu untuk melanjutkan. Setelah menarik napas pelan, ia akhirnya berkata, "Ada seseorang yang tidak terikat oleh aturan tersebut."
Revan sedikit mengernyit. "Siapa?" tanyanya singkat sambil menatap Nayara tanpa mengalihkan pandangan.
Nayara menundukkan kepala sesaat sebelum mengangkat wajahnya kembali. Sorot matanya dipenuhi kekhawatiran ketika menjawab, "Kakak tertuaku... Naraka Draksa."
Naraka Draksa, jauh sebelum Arya dikenal sebagai jenius Kota Jayagiri, Naraka lebih dulu disebut sebagai kultivator paling berbakat di generasinya. Revan pernah mendengar tentang sosok jenius muda Kota Jayagiri tersebut.
"Saat ini dia sedang berlatih di luar," ujar Nayara, jemarinya tanpa sadar saling menggenggam erat ketika ia melanjutkan, "Sebelum berangkat, kultivasinya sudah mencapai puncak Fase Raga. Kalau dia berhasil menembus Fase Roh saat kembali..."
Kalimat itu terhenti di bibirnya, tetapi kecemasan yang terpancar dari wajahnya sudah cukup membuat Revan memahami maksudnya. Ia sudah memahami maksud di balik ucapan Nayara. Sebelum Naraka Draksa kembali, ia harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menjadi jauh lebih kuat.
"Berapa lama lagi?" tanyanya.
"Kurang lebih setengah bulan," jawab Nayara.
Revan mengangguk pelan. Tatapannya tetap tenang, tetapi keyakinan di matanya tak sedikit pun goyah. "Itu sudah lebih dari cukup."
Nayara mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
"Aku membutuhkan tempat yang tenang," jawab Revan. "Selama setengah bulan ke depan, aku akan berkultivasi."
Di jalan setapak yang tak jauh dari sana, Gilang dan Elang masih berusaha menjauh. Ketika jeritan Jovian terdengar dari belakang, langkah keduanya sontak terhenti. Wajah mereka seketika pucat.Mereka mengenali suara itu. Jovianlah yang menjerit.Sejujurnya, keduanya sangat membenci orang yang telah menyeret mereka ke dalam masalah ini. Jika bukan karena hasutan Jovian, mereka tidak akan berakhir dengan luka separah itu. Namun, mendengar jeritan kesakitan yang begitu memilukan, secercah rasa iba tetap muncul di hati mereka.Mereka saling pandang, lalu segera mempercepat langkah. Tak satu pun berani kembali untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.Sementara itu, Revan akhirnya berhenti setelah memastikan anggota tubuh Jovian telah hancur. Pemuda itu tergeletak di tanah, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya dipenuhi ketakutan hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Revan menarik belati yang menancap di kaki Jovian, lalu membungkuk untuk mengambil tas penyimpanannya. Setelah memasuk
“Tidak masalah! Kami setuju!”“Terima kasih, Tuan Revan! Terima kasih sudah mengampuni kami!”Gilang dan Elang segera menyanggupi permintaan itu. Tidak ada sedikit pun rasa keberatan di hati mereka. Dibandingkan kehilangan nyawa, menyerahkan harta benda bukanlah masalah besar. Selama masih bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup, mereka sudah merasa sangat beruntung.Revan tersenyum tipis, lalu menyimpan kedua tas penyimpanan itu ke dalam jubahnya. Setelah urusan selesai, ekspresinya kembali santai. Pemuda yang tadi bertarung dengan kekuatan mengerikan itu kini terlihat seperti orang biasa, seakan tidak pernah terjadi pertempuran sengit di depan kediamannya.Gilang dan Elang saling pandang sebelum perlahan mengangkat kepala. Meski Revan sudah menerima harta mereka, keduanya masih khawatir pemuda itu akan berubah pikiran dan menyerang mereka lagi.“Kenapa masih berdiri di sini?” Revan melirik mereka. “Apa kalian ingin tinggal untuk makan malam?”Mendengar ucapan itu, Gilang da
Jovian bangkit dengan susah payah, lalu berbalik dan melesat pergi secepat mungkin. Dia tidak berani menoleh sedikit pun. Dalam pikirannya, selama bisa menjauh dari Revan, masih ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan nyawa.Sayangnya, dia baru berlari sekitar sepuluh meter ketika suara desingan tajam membelah udara. Sebuah belati melesat dari belakang, membawa tekanan yang membuat bulu kuduknya berdiri.Jleb!Belati itu menghantam kaki kanan Jovian dan menancap kuat ke tanah, memaksanya terjerembap. Darah langsung mengucur deras dari lukanya, membasahi bagian bawah pakaiannya.“Aaah!”Wajah Jovian pucat pasi. Rasa sakit menjalar dari kakinya, membuat tubuhnya gemetar hebat. Baru sekarang dia benar-benar memahami betapa bodohnya keputusan untuk memprovokasi Revan.Kenapa dia harus mencari masalah dengan orang seperti ini?“Coba lari sekali lagi, dan serangan berikutnya akan menembus jantungmu.” Suara Revan terdengar dingin.Dia bahkan tidak melirik Jovian setelah melumpuhkannya. Ba
Revan menatapnya dingin. “Kau yang seharusnya mati!”Dia menarik kembali Pedang Bara Emas, lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh. Serangan itu menghantam perut Elang.BRAKKK!Tubuh Elang langsung terlempar seperti layang-layang yang talinya putus. Dia menghantam tanah dengan keras, lalu berguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Darah kembali keluar dari mulutnya, sedangkan wajahnya berubah pucat.“Elang!” Gilang yang masih menahan rasa sakit pada lengannya langsung berteriak.Dia bahkan tidak sempat memedulikan lukanya sendiri. Dengan satu tangan yang masih bisa digunakan, dia menyeret tubuhnya mendekati Elang dengan wajah penuh kepanikan.Di sisi lain, Jovian benar-benar kehilangan ketenangannya. Tubuhnya gemetar tanpa kendali. Dia menatap Revan dengan mata dipenuhi ketakutan, bahkan kedua kakinya terasa lemas hingga hampir tidak mampu menopang tubuhnya.Dua kultivator yang sudah mencapai akhir Fase Roh dan menuju Fase Surga telah dikalahkan secara berurutan. Yang lebih
“Sialan...” gumam Elang.Dia dan Gilang telah berteman selama bertahun-tahun. Melihat sahabatnya terluka separah itu membuat wajah Elang berubah dingin.Elang mengangkat kepala dan menatap Revan. “Bocah, sepertinya kau memang ingin mati.”Tangannya bergerak ke pinggang. Dalam sekejap, sebuah pedang panjang muncul di genggamannya. Senjata itu merupakan senjata sihir tingkat Luhur kelas menengah. Begitu energi spiritual dialirkan ke dalamnya, aura Elang langsung melonjak dan tekanan khas kultivator puncak Fase Roh menyebar ke seluruh area.Tanpa memberi Revan kesempatan berbicara, Elang langsung menerjang. Menurutnya, Gilang pasti kalah karena terlalu meremehkan lawan. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.Sejak serangan pertama, Elang akan mengerahkan seluruh kekuatannya. Dia harus membunuh Revan di sini.Bagaimanapun juga, jika dia dan Gilang sampai dikalahkan oleh seorang murid baru yang hanya berada di Fase Roh tingkat ketujuh, bagaimana mereka masih bisa mengangkat kepala
“Bocah sialan!” Amarah Gilang langsung meledak. Dia tidak pernah menyangka seorang murid baru berani mempermalukannya seperti ini di depan orang lain.Dia adalah seorang jenius yang telah berkultivasi hingga ambang Fase Surga. Selama bertahun-tahun menjadi murid resmi, kapan ada orang yang berani menyuruhnya pergi dengan cara seperti ini?Ledakan aura tiba-tiba mengguncang area sekitar.Kekuatan yang jauh melampaui Puncak Fase Roh menyembur dari tubuh Gilang. Otot-otot di lengannya menegang, tubuhnya mengembang dengan cepat hingga jubah biru yang dikenakannya tertarik kencang. Setiap gerakannya memancarkan tekanan fisik yang luar biasa.Mata Jovian langsung berbinar.Gilang terkenal karena mengolah tubuh. Kekuatan fisiknya jauh melampaui kultivator biasa. Bahkan di antara para kultivator yang baru menyentuh Fase Surga, tidak banyak yang mampu menandingi kekuatan tubuhnya.Jovian segera mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin terkena dampak pertarungan secara tidak sengaja.Elang send







