MasukMendengar keributan itu, Revan perlahan membuka matanya.
Tak lama berselang, suara Nayara terdengar dari luar. "Kakak, tenangkan dirimu dulu. Kondisinya belum benar-benar pulih."
"Aku tidak peduli!"
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat.
"Keluarga Cakrawala telah mempermalukan seluruh Keluarga Draksa! Mereka mengirim orang yang nyaris mati, tetapi tetap memaksa kita memenuhi semua isi perjanjian. Sekarang seluruh Kota Jayagiri menjadikan keluarga kita bahan tertawaan!"
Nayara tetap berdiri menghadang di depan pintu. "Itu bukan salahnya."
"Bukan salahnya?"
Pria itu terkekeh sinis.
"Kalau bukan karena dia, apakah Keluarga Draksa harus menanggung penghinaan sebesar ini?"
Revan perlahan turun dari ranjang. Hanya dari percakapan singkat itu, ia sudah mengetahui identitas tamu yang datang.
Evan Draksa, Kakak kedua Nayara.
Revan tidak menyalahkan kemarahan pria itu. Apa yang dilakukan Arya memang keterlaluan. Keluarga Draksa dipaksa menerima mempelai yang nyaris kehilangan nyawa, sementara seluruh kesepakatan, termasuk penyerahan sumber daya, tetap harus dipenuhi.
Siapa pun yang berada di posisi mereka pasti akan merasa dipermainkan. Namun, bukan berarti Nayara pantas dijadikan pelampiasan.
"Silahkan pulang dulu." Suara Nayara tetap terdengar lembut. "Nanti akan kujelaskan semuanya."
"Cukup!"
Brak!
Pintu halaman didorong hingga terbuka dengan keras.
Evan melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi amarah. Begitu melihat Revan berdiri di dalam kamar, tatapannya langsung berubah semakin tajam. "Jadi kau akhirnya sadar juga."
Revan tetap diam tanpa memberikan jawaban.
Evan mendengus penuh penghinaan. "Dasar pembawa sial! Gara-garamu, nama Keluarga Draksa menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jayagiri!"
Ia terus melangkah mendekat. "Hari ini kau akan membayar semua penghinaan itu!"
Nayara segera berdiri menghadang di depan Revan. "Kakak, jangan!"
"Minggir!" Evan mengayunkan lengannya dengan kasar.
Tubuh Nayara langsung kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke lantai.
Namun amarah Evan belum juga mereda.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayara.
Ruangan seketika diselimuti keheningan.
Nayara hanya menundukkan kepala sambil memegang pipinya yang mulai memerah.
Revan yang sejak tadi memilih menahan diri, perlahan mengangkat wajah. Sorot matanya berubah sedingin embun musim dingin. "Kau..."
Suaranya terdengar begitu pelan. "Berani menampar istriku?!"
Evan mendengus sambil menatapnya dengan penuh ejekan. "Istri? Apa menurutmu sampah sepertimu masih pantas memiliki harga diri?"
Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk Nayara. "Kalau aku ingin memukulnya, memangnya kenapa?"
SWOOSSHH!
Belum sempat kata-kata itu selesai terucap, sosok Revan lenyap dari tempatnya berdiri.
Mata Evan langsung membelalak. "Cepat—"
BUG!
Kepalan tangan Revan menghantam pipi Evan tanpa ampun hingga tubuh pria itu terangkat, berputar di udara, lalu terhempas beberapa meter sebelum berguling di atas lantai. Darah langsung mengalir dari sudut bibirnya, bahkan beberapa giginya ikut terlempar akibat pukulan tersebut.
Evan hanya terduduk mematung dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dipandang rendah oleh seluruh Kota Jayagiri baru saja menjatuhkannya hanya dengan satu serangan.
Nayara pun tak kalah terkejut. Tatapannya bergantian mengarah kepada Revan dan kakaknya, karena ia sama sekali tidak menyangka pria yang beberapa hari lalu masih terbaring di ambang kematian, kini mampu merobohkan Evan dalam sekali pukul.
Revan berdiri tegak tanpa sedikit pun menunjukkan kelemahan seperti sebelumnya. Sorot matanya tenang, tetapi tekanan yang dipancarkannya jauh berbeda hingga membuat suasana di dalam ruangan berubah mencekam.
"Aku hanya akan mengatakannya sekali," ucapnya datar sambil menatap Evan tanpa berkedip. "Mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh Nayara... harus melewatiku lebih dulu."
Evan mengusap darah di bibirnya, lalu bangkit dengan wajah yang dipenuhi amarah. "Tadi itu hanya kebetulan!" raungnya sambil mengedarkan energi spiritual ke seluruh tubuh. "Sekarang akan kuhancurkan kau!"
Dengan langkah berat, Evan kembali menerjang tanpa lagi menahan kekuatannya.
"Halilintar!" Evan langsung mengerahkan Halilintar, teknik pukulan andalan Keluarga Draksa.
Energi spiritual berkumpul di kepalan tangannya hingga memunculkan letupan yang memekakkan telinga, lalu serangan itu melesat lurus mengarah ke dada Revan.
Revan tetap berdiri tenang sambil mengaktifkan Raga Adiwira, membiarkan energi spiritual yang jauh lebih padat mengalir memenuhi lengannya. Tanpa berniat menghindar, ia justru melayangkan satu pukulan sederhana untuk menyambut serangan tersebut hingga kedua kepalan bertabrakan secara frontal.
BANG!
Gelombang kejut seketika menyapu seluruh ruangan hingga Nayara refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
KRAAAK!
Sesaat kemudian, suara retakan tulang yang nyaring terdengar bersamaan dengan jeritan Evan saat lengannya tertekuk ke arah yang tidak wajar, sementara tubuhnya kembali terpental hingga menghantam kusen pintu.
Wajah Evan seketika memucat. Ia tak pernah membayangkan kekuatan Revan justru berada jauh di atasnya hingga rasa takut perlahan mengikis seluruh amarah yang sebelumnya membara.
Tanpa berpikir panjang, Evan segera berbalik untuk melarikan diri. Namun baru beberapa langkah, suara Revan yang dingin menghentikannya hingga tubuhnya membeku di tempat.
"Berhenti!"
Revan melangkah perlahan menghampirinya dengan tatapan setajam bilah pedang. "Aku belum mengatakan kau boleh pergi."
Begitu Revan berdiri di arena, Arvin juga segera melompat naik. Keduanya mengambil posisi di sisi berlawanan. Tidak ada yang langsung bergerak. Mereka hanya saling memandang, seolah sedang mencoba membaca kekuatan lawan masing-masing sebelum pertarungan benar-benar dimulai.Beberapa saat berlalu sebelum Arvin membuka suara. "Kau memang sangat kuat. Tingkat kultivasiku berada di atasmu, tetapi kalau kita benar-benar bertarung, aku tidak yakin peluangku untuk menang akan besar."Itu merupakan kali pertama Arvin berbicara langsung kepada Revan.Revan menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Aku juga bisa merasakan kalau kau bukan lawan biasa."Sejak awal, Arvin memberinya kesan yang berbeda. Pria itu terlihat tenang, lembut, bahkan nyaris tidak menunjukkan keberadaan yang mencolok di antara para peserta. Namun justru itulah yang membuat Revan semakin waspada.Tanpa diketahui siapa pun, kultivasi Arvin ternyata sudah mencapai tingkat kedelapan Fase Roh. Fluktuasi energi spiritua
Revan turun dari arena dengan langkah santai. Pertarungan barusan bahkan tidak cukup untuk membuat napasnya berubah, apalagi menimbulkan tekanan berarti baginya. Dengan kekuatan yang sekarang dimilikinya, meskipun kultivasinya belum mencapai tingkat kesembilan Fase Roh, Naren sama sekali tidak mampu menjadi ancaman.Begitu Revan menginjakkan kaki di luar arena, Bram langsung menghampirinya. Wajahnya dipenuhi senyum lebar, bahkan nada suaranya terdengar jauh lebih antusias daripada biasanya. "Revan, tadi itu hebat sekali. Kau bahkan berhasil mengalahkan Naren! Kalau begini, posisi tiga besar sudah pasti menjadi milikmu."Bram benar-benar gembira. Dia memang tahu Revan sangat kuat, tetapi kemampuan yang baru saja diperlihatkan pria itu tetap membuatnya terkejut. Naren yang selama ini dikenal sebagai salah satu kandidat terkuat ternyata bahkan tidak mampu bertahan lama di hadapan Revan.Masuk tiga besar berarti mendapatkan hak atas sebuah gua kultivasi pribadi. Bagi para murid junior, ha
Ketika perbedaan tingkat kultivasi saja tidak mampu membuat Revan berada dalam posisi tertekan, kekuatan tempur pria itu jelas sudah melampaui apa yang seharusnya dimiliki seorang kultivator tingkat ketujuh Fase Roh."Hehe, keduanya memang luar biasa. Sayangnya, kalau berbicara soal bakat, Revan masih berada di atas Naren." Bayu tersenyum sambil mengamati pertarungan dari kejauhan. Kekaguman terlihat jelas dalam tatapannya.Naren mampu melawan kultivator yang tingkat kultivasinya lebih tinggi. Namun Revan justru berhasil menekan Naren yang berada satu tingkat di atasnya, bahkan membuat lawannya tidak mampu melakukan perlawanan berarti.Perbedaan itulah yang menjadi bukti paling jelas.Dwiki tidak ikut berkomentar. Dia hanya berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, wajahnya tenang seperti tidak ada sesuatu yang mampu menggoyahkan perhatiannya.Harsa juga tetap diam. Seperti biasa, wajahnya serius dan hampir tidak pernah memperlihatkan senyum.Di arena, Revan tidak memberi Nare
"Apa yang dia lakukan?"Salah seorang murid di luar arena mengernyit kebingungan.Bukan hanya dia. Sebagian besar penonton juga tidak memahami alasan Naren terus berlari mengitari arena tanpa melancarkan serangan.Di antara kerumunan, Livia dan Arvin turut mengamati pertandingan tersebut dengan saksama.Sebelum Revan muncul, Naren dikenal sebagai kandidat terkuat kedua dalam seleksi murid. Karena itu, keduanya selalu menganggap Naren sebagai pesaing utama mereka.Kemunculan Revan mengubah keadaan. Kini, selain Naren, muncul satu pesaing baru yang menurut mereka jauh lebih berbahaya."Jadi kau berniat melakukan serangan mendadak?" Revan mengikuti pergerakan Naren dengan tatapan tenang. Setelah memahami pola gerak lawannya, sudut bibirnya terangkat tipis. "Kalau memang itu rencanamu, sebaiknya kau urungkan."Naren sama sekali tidak terpengaruh. Beberapa tarikan napas kemudian, kecepatannya mencapai batas maksimal. Dari posisi berbeda, lima belati tiba-tiba melesat menuju Revan.Kelima b
Revan mengangguk pelan. Menurutnya, lelaki tua berambut putih itu memang cukup pandai memenangkan hati para murid.Harsa kemudian maju untuk mengambil alih jalannya kompetisi. "Berikutnya, kita akan melakukan pengundian untuk menentukan pasangan pada babak ketiga. Kalian bebas memilih apakah ingin terus bertanding atau berhenti setelah menerima hadiah 100 besar."Bagi banyak murid, keputusan itu sebenarnya cukup mudah.Setelah mendapatkan hadiah 100 besar, mereka tidak melihat alasan untuk terus mempertaruhkan diri. Sebagian besar sadar bahwa kemampuan mereka terbatas dan peluang untuk mendapatkan peringkat lebih tinggi sangat kecil.Pada akhirnya, hanya 80 orang yang memilih tetap bertarung dalam kompetisi peringkat.Pengundian kembali berlangsung.Seperti babak-babak sebelumnya, nama yang terpilih akan dipanggil untuk memasuki arena dan menentukan pemenangnya melalui pertarungan.Setengah jam berlalu sebelum nama Revan akhirnya terdengar. Entah ini kebetulan atau memang sudah menjad
Bayu, Harsa, Dwiki, Viona, dan yang lainnya saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Di atas arena, kondisi Dito sudah semakin buruk. Tubuhnya hampir kehilangan tenaga dan kedua kakinya bahkan tidak mampu menopang tubuh dengan baik. Dia ingin menjatuhkan diri dan langsung mengakui kekalahan. Namun,Revan tetap tidak memberinya kesempatan. Satu tangan mencengkeram leher Dito, mengangkat tubuhnya sedikit dari tanah. Tangan lainnya kembali bergerak.Plak!Tamparan keras menghantam wajah Dito.“ARGH!” Dito menjerit kesakitan.Pertarungan terus berlanjut. Namun, sejak awal sampai saat itu, Dito tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Dia hanya mampu bertahan sambil menerima pukulan demi pukulan dari Revan.Bayu akhirnya terbatuk pelan. “Ehem... Bukankah anak ini agak terlalu kasar?”Dia melirik Harsa di sampingnya.Harsa mengangguk dengan wajah serius. “Memang agak berlebihan.”Menurutnya, Revan sudah kelewat jauh. Dito yang menjadi lawannya b







