Share

Bab 4

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-08-05 00:23:28

Mendengar keributan itu, Revan perlahan membuka matanya.

Tak lama berselang, suara Nayara terdengar dari luar. "Kakak, tenangkan dirimu dulu. Kondisinya belum benar-benar pulih."

"Aku tidak peduli!"

Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat.

"Keluarga Cakrawala telah mempermalukan seluruh Keluarga Draksa! Mereka mengirim orang yang nyaris mati, tetapi tetap memaksa kita memenuhi semua isi perjanjian. Sekarang seluruh Kota Jayagiri menjadikan keluarga kita bahan tertawaan!"

Nayara tetap berdiri menghadang di depan pintu. "Itu bukan salahnya."

"Bukan salahnya?"

Pria itu terkekeh sinis.

"Kalau bukan karena dia, apakah Keluarga Draksa harus menanggung penghinaan sebesar ini?"

Revan perlahan turun dari ranjang. Hanya dari percakapan singkat itu, ia sudah mengetahui identitas tamu yang datang.

Evan Draksa, Kakak kedua Nayara.

Revan tidak menyalahkan kemarahan pria itu. Apa yang dilakukan Arya memang keterlaluan. Keluarga Draksa dipaksa menerima mempelai yang nyaris kehilangan nyawa, sementara seluruh kesepakatan, termasuk penyerahan sumber daya, tetap harus dipenuhi.

Siapa pun yang berada di posisi mereka pasti akan merasa dipermainkan. Namun, bukan berarti Nayara pantas dijadikan pelampiasan.

"Silahkan pulang dulu." Suara Nayara tetap terdengar lembut. "Nanti akan kujelaskan semuanya."

"Cukup!"

Brak!

Pintu halaman didorong hingga terbuka dengan keras.

Evan melangkah masuk dengan wajah yang dipenuhi amarah. Begitu melihat Revan berdiri di dalam kamar, tatapannya langsung berubah semakin tajam. "Jadi kau akhirnya sadar juga."

Revan tetap diam tanpa memberikan jawaban.

Evan mendengus penuh penghinaan. "Dasar pembawa sial! Gara-garamu, nama Keluarga Draksa menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Jayagiri!"

Ia terus melangkah mendekat. "Hari ini kau akan membayar semua penghinaan itu!"

Nayara segera berdiri menghadang di depan Revan. "Kakak, jangan!"

"Minggir!" Evan mengayunkan lengannya dengan kasar.

Tubuh Nayara langsung kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke lantai.

Namun amarah Evan belum juga mereda.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayara.

Ruangan seketika diselimuti keheningan.

Nayara hanya menundukkan kepala sambil memegang pipinya yang mulai memerah.

Revan yang sejak tadi memilih menahan diri, perlahan mengangkat wajah. Sorot matanya berubah sedingin embun musim dingin. "Kau..."

Suaranya terdengar begitu pelan. "Berani menampar istriku?!"

Evan mendengus sambil menatapnya dengan penuh ejekan. "Istri? Apa menurutmu sampah sepertimu masih pantas memiliki harga diri?"

Ia mengangkat tangan, lalu menunjuk Nayara. "Kalau aku ingin memukulnya, memangnya kenapa?"

SWOOSSHH!

Belum sempat kata-kata itu selesai terucap, sosok Revan lenyap dari tempatnya berdiri.

Mata Evan langsung membelalak. "Cepat—"

BUG!

Kepalan tangan Revan menghantam pipi Evan tanpa ampun hingga tubuh pria itu terangkat, berputar di udara, lalu terhempas beberapa meter sebelum berguling di atas lantai. Darah langsung mengalir dari sudut bibirnya, bahkan beberapa giginya ikut terlempar akibat pukulan tersebut.

Evan hanya terduduk mematung dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dipandang rendah oleh seluruh Kota Jayagiri baru saja menjatuhkannya hanya dengan satu serangan.

Nayara pun tak kalah terkejut. Tatapannya bergantian mengarah kepada Revan dan kakaknya, karena ia sama sekali tidak menyangka pria yang beberapa hari lalu masih terbaring di ambang kematian, kini mampu merobohkan Evan dalam sekali pukul.

Revan berdiri tegak tanpa sedikit pun menunjukkan kelemahan seperti sebelumnya. Sorot matanya tenang, tetapi tekanan yang dipancarkannya jauh berbeda hingga membuat suasana di dalam ruangan berubah mencekam.

"Aku hanya akan mengatakannya sekali," ucapnya datar sambil menatap Evan tanpa berkedip. "Mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh Nayara... harus melewatiku lebih dulu."

Evan mengusap darah di bibirnya, lalu bangkit dengan wajah yang dipenuhi amarah. "Tadi itu hanya kebetulan!" raungnya sambil mengedarkan energi spiritual ke seluruh tubuh. "Sekarang akan kuhancurkan kau!"

Dengan langkah berat, Evan kembali menerjang tanpa lagi menahan kekuatannya.

"Halilintar!" Evan langsung mengerahkan Halilintar, teknik pukulan andalan Keluarga Draksa. 

Energi spiritual berkumpul di kepalan tangannya hingga memunculkan letupan yang memekakkan telinga, lalu serangan itu melesat lurus mengarah ke dada Revan.

Revan tetap berdiri tenang sambil mengaktifkan Raga Adiwira, membiarkan energi spiritual yang jauh lebih padat mengalir memenuhi lengannya. Tanpa berniat menghindar, ia justru melayangkan satu pukulan sederhana untuk menyambut serangan tersebut hingga kedua kepalan bertabrakan secara frontal.

BANG!

Gelombang kejut seketika menyapu seluruh ruangan hingga Nayara refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

KRAAAK!

Sesaat kemudian, suara retakan tulang yang nyaring terdengar bersamaan dengan jeritan Evan saat lengannya tertekuk ke arah yang tidak wajar, sementara tubuhnya kembali terpental hingga menghantam kusen pintu.

Wajah Evan seketika memucat. Ia tak pernah membayangkan kekuatan Revan justru berada jauh di atasnya hingga rasa takut perlahan mengikis seluruh amarah yang sebelumnya membara.

Tanpa berpikir panjang, Evan segera berbalik untuk melarikan diri. Namun baru beberapa langkah, suara Revan yang dingin menghentikannya hingga tubuhnya membeku di tempat.

"Berhenti!"

Revan melangkah perlahan menghampirinya dengan tatapan setajam bilah pedang. "Aku belum mengatakan kau boleh pergi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 235

    Setiap lantai Balai Kitab dilindungi oleh formasi pembatas. Hanya dua tetua yang berjaga di pintu masuk yang mengetahui cara melewatinya. Setiap kali seseorang hendak memasuki lantai tertentu, kedua tetua itu akan mengaktifkan token giok untuk membuka akses.Syarat memasuki setiap lantai juga sangat ketat. Lantai pertama menyimpan teknik kultivasi tingkat Dasar, dengan biaya penukaran dua puluh poin kontribusi.Lantai kedua diperuntukkan bagi teknik tingkat Luhur, dengan biaya yang berbeda sesuai kualitasnya. Seratus poin untuk tingkat rendah, seratus lima puluh poin untuk tingkat menengah, dan tiga ratus poin untuk tingkat tinggi.Adapun lantai tiga menyimpan teknik kultivasi tingkat Agung. Bahkan untuk memilih teknik dengan kualitas terendah sekalipun, seseorang harus memiliki lima ratus poin kontribusi. Persyaratan lantai-lantai berikutnya tentu jauh lebih berat.Karena itulah, melihat Revan naik ke lantai tiga tanpa kesulitan membuat para murid tercengang.“Dia benar-benar naik! A

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 234

    Livia mencibir. “Dasar mesum! Dulu kau juga berusaha menyangkalnya. Sekarang, apa alasanmu?”Revan memijat pelipisnya. Dia bahkan belum sempat memahami situasinya, tetapi sudah lebih dulu dijatuhi hukuman.Masalahnya, suara Livia cukup lantang hingga menarik perhatian seluruh murid di lantai dua. Mereka yang sebelumnya sibuk memilih teknik kultivasi kini menoleh ke arah Revan, termasuk para pria yang tadi diam-diam mengagumi Livia.Tatapan mereka seketika berubah. Bahkan para kultivator wanita di lantai dua ikut memandang Revan dengan tatapan jijik. Dalam sekejap, dia menjadi sasaran kecaman seluruh ruangan.“Aku....”Revan ingin membela diri, tetapi melihat ekspresi orang-orang di sekitarnya membuatnya merasa lebih baik menghilang saja. Dia benar-benar tidak melakukan apa-apa, tetapi kini semua orang menganggapnya pria mesum.“Padahal masih muda dan tampan. Sayang sekali, ternyata dia mesum.”“Pantas saja dia tertarik pada adik perempuan baru itu. Gadis secantik peri seperti dia mema

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 233

    “Masuklah. Kalau kau mencari teknik kultivasi tingkat rendah, langsung menuju lantai tiga dan pilih salah satunya. Cukup bawa token giokmu.” ujar Pria tua itu mengembalikan token tersebut. Setelah itu, dia kembali memusatkan perhatian pada papan catur di atas meja batu, begitu pula rekannya. Seolah urusan Revan sudah selesai, keduanya langsung melanjutkan permainan.Revan hanya bisa terdiam. Dia membungkuk hormat kepada kedua tetua sebelum melangkah masuk.Begitu sosoknya menghilang di balik pintu, kedua pria tua itu mulai berkomunikasi melalui transmisi suara.“Anak itu ternyata kandidat terbaik dalam seleksi murid baru tahun ini. Usianya masih muda, tetapi kultivasinya sudah mencapai tingkat ketujuh Fase Roh.”“Memang aneh. Aku ingat Bayu pernah mengatakan bahwa kultivasi anak itu baru berada di tahap awal tingkat ketujuh. Namun, pengamatanku barusan menunjukkan bahwa dia sudah mencapai tahap akhir.”“Mungkinkah dia kembali mengalami terobosan?”“Kalau begitu, julukan orang aneh it

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 232

    Setelah Bram pergi, Revan mengeluarkan seluruh daging kering dari tas penyimpanannya dan menyimpannya di tempat yang sesuai. Dia kemudian bersiap memasuki ruang rahasia untuk berkultivasi selama beberapa hari.Pertarungan yang dia hadapi belakangan ini telah memberinya banyak pengalaman. Revan bisa merasakan bahwa kekuatannya hampir mencapai batas berikutnya. Dia berpeluang menembus Fase Roh tingkat ketujuh dan naik ke tingkat kedelapan dalam waktu dekat.Meski begitu, dia tidak berniat terburu-buru. Revan ingin memantapkan penguasaannya di tingkat ketujuh terlebih dahulu sebelum mencoba menerobos ke tingkat berikutnya.Selain meningkatkan kultivasi, dia masih memiliki satu kesempatan untuk memilih teknik bela diri tingkat rendah. Setelah menyelesaikan pengasingan kali ini, dia berencana pergi ke Balai Kitab untuk menentukan teknik yang akan dipelajarinya.Sebelum mulai berkultivasi, Revan kembali memeriksa jadwal yang tercatat dalam slip giok. Ada satu informasi yang menarik perhatia

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 231

    Revan membawa Bram kembali ke kediamannya.Sepanjang perjalanan, Bram terus berceloteh, menceritakan berbagai hal yang terjadi setelah mereka berpisah.Setelah dibawa oleh para pengurus murid luar, masing-masing murid baru menerima jubah biru, token identitas, sebuah slip giok, serta tempat tinggal berupa Paviliun Kecil.Menurut Bram, tempat tinggal mereka sekarang jauh lebih baik daripada Paviliun Kecil Nomor 9 yang pernah mereka tempati bersama. Energi spiritual di kawasan baru itu juga lebih melimpah, sehingga jauh lebih mendukung latihan kultivasi.Karena masuk perguruan pada waktu yang sama, Bram mudah bergaul dengan para murid baru lainnya. Bahkan, Naren dan Dito juga tinggal di kawasan yang sama dengannya.Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kediaman Revan. Bram langsung memperlambat langkah dan menoleh ke sekeliling, merasakan energi spiritual yang begitu pekat hingga membuat tubuhnya terasa segar hanya dengan menarik napas.“Kak, ini benar-benar tempat tinggalmu?”“Memang

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 230

    Revan akhirnya menyadari betapa berharganya poin kontribusi yang selama ini dia anggap mudah diperoleh. Dia bahkan baru saja menghabiskan dua ratus poin untuk membeli Serat Tumbuhan 1000 Seribu Tahun. Jika dikonversikan berdasarkan harga daging kering, jumlah itu setara dengan seratus ribu kg makanan.Memikirkan hal tersebut membuat sudut mulutnya berkedut. Dua ratus poin kontribusi ternyata bernilai jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.Revan menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan penyesalan yang mulai muncul. Dia tidak menggunakan poin kontribusinya lagi untuk membeli makanan, melainkan membayar dengan Kristal Langit. Setelah membeli beberapa ribu kilogram daging kering sebagai persediaan, dia pun meninggalkan lapak tersebut.Untungnya, dia memiliki cukup banyak Kristal Langit. Seiring bertambahnya kekayaan, pola pikirnya perlahan berubah. Dia tidak lagi terlalu mengkhawatirkan pengeluaran kecil seperti dahulu.Lagi pula, di Perguruan Sangkara, Kristal Langit juga bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status