แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Skyy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-05 12:09:35

Di sudut paling terpencil kediaman Draksa terdapat sebuah ruangan yang telah lama terbengkalai. Meski terlihat sederhana, tempat itu justru menjadi lokasi yang sempurna bagi Revan untuk menutup diri dari dunia luar dan berkultivasi tanpa gangguan.

Begitu pintu ruang batu tertutup rapat, kesadaran Revan kembali memasuki Cincin Langit. Ia terus menyerap energi spiritual dari Kristal Langit yang mengalir tanpa henti ke dalam tubuhnya, sementara waktu berlalu tanpa lagi menjadi sesuatu yang ia pedulikan.

Selama Revan tenggelam dalam kultivasinya, kabar tentang Evan yang dipukul hingga babak belur telah menyebar ke seluruh penjuru Keluarga Draksa.

Mandra Draksa, kepala keluarga sekaligus ayah Evan, murka setelah mendengar kabar tersebut. Ia beberapa kali mendatangi kediaman Nayara, tetapi Revan tak pernah sekali pun keluar dari ruang kultivasinya. Terhalang aturan keluarga yang melarang para tetua menyerang generasi muda tanpa alasan yang sah, Mandra hanya bisa menahan amarah sambil menunggu kesempatan untuk membalas.

Namun ia tidak berniat membiarkan masalah itu berlalu begitu saja. Diam-diam, ia mengirim orang untuk mencari keberadaan Naraka karena yakin semua persoalan akan berakhir begitu putra sulungnya kembali ke Kota Jayagiri.

Sementara itu, waktu terus berlalu. Persediaan Kristal Langit di sekitar Revan semakin menipis, tetapi aura yang memancar dari tubuhnya justru bertambah kuat seiring energi spiritual yang terus berputar di dalam meridiannya.

KRAAAK—!

Penghalang yang selama ini membatasi kultivasinya akhirnya pecah hingga Revan berhasil menembus tingkat keenam Fase Raga. Tak lama berselang, kultivasinya kembali meningkat ke tingkat ketujuh, kemudian terus melesat hingga mencapai tingkat kedelapan tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.

Hari demi hari berlalu di tengah aliran energi spiritual yang tak pernah terputus. Tepat saat pertengahan bulan, gelombang kekuatan tiba-tiba meledak memenuhi seluruh ruang batu.

BANG!

Revan perlahan membuka matanya. Kilatan tajam melintas di kedua pupilnya saat ia merasakan perubahan besar yang terjadi di dalam tubuhnya.

"Puncak Fase Raga..."

Ia mengepalkan tangan perlahan sambil merasakan kekuatan yang kini mengalir di setiap bagian tubuhnya. Dibandingkan pertama kali ia membuka mata di kediaman Draksa, dirinya telah berubah jauh lebih kuat.

Meski demikian, Revan tidak larut dalam rasa puas. Ia masih dapat merasakan adanya penghalang tak kasatmata yang membentang di antara Fase Raga dan Fase Roh, dan ia tahu batas itu tidak mungkin ditembus hanya dengan mengandalkan Kristal Langit.

Ia membutuhkan sebuah kesempatan, atau pertarungan hidup dan mati.

Revan menghembuskan napas panjang sebelum melangkah keluar dari ruangan. Setelah setengah bulan menutup diri, sinar matahari kembali menyinari wajahnya begitu pintu perlahan terbuka.

Nayara telah menunggu dengan tenang di depan pintu.

Melihat Revan akhirnya muncul, wajah Nayara seketika dipenuhi senyum lega. "Kau akhirnya selesai berkultivasi," ucapnya pelan sambil menghembuskan napas yang sedari tadi seolah tertahan.

Begitu keluar dari ruang kultivasi, Revan menghirup udara pagi yang terasa jauh lebih segar dibanding sebelumnya.

Selama  mengasingkan diri membuat tubuhnya mengalami perubahan besar. Luka-luka yang dulu nyaris merenggut nyawanya telah menghilang tanpa bekas, dan aliran energi spiritual di dalam tubuhnya menjadi jauh lebih kuat dan stabil.

Namun, ada satu hal yang lebih membuatnya terkejut. Nayara masih berdiri di depan pintu ruangan itu. Di sampingnya terdapat sebuah meja kecil berisi mangkuk kosong, teko teh, dan beberapa buku yang tampak sudah dibaca berulang kali.

"Kau... tidak pernah pergi?" tanya Revan.

Nayara tersenyum kecil. "Aku hanya kembali ke kamar saat malam tiba. Setiap pagi aku mengantarkan makanan ke sini. Kalau ada orang yang berniat mengganggumu, setidaknya aku bisa mengetahuinya lebih dulu."

Mendengar jawaban itu, Revan terdiam beberapa saat. Selama hidupnya, belum pernah ada seseorang yang menjaga dirinya seperti ini.

"Terima kasih."

Nayara hanya menggeleng pelan. "Aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa."

Revan ikut tersenyum. "Mungkin menurutmu begitu."

Mereka kemudian duduk di halaman kecil sambil menikmati sarapan sederhana.

Barulah Nayara menceritakan apa saja yang terjadi selama Revan berkultivasi. "Evan sudah pulih, dia pulih lebih cepat dari dugaanku. Tabib keluarga menggunakan banyak obat berharga."

Revan mengangguk pelan, ia memang tidak berniat membunuh Evan saat itu.

"Selain itu..." Ekspresi Nayara berubah sedikit serius. "Ayah beberapa kali datang mencarimu."

Revan sedikit mengernyit. "Mencariku?"

Nayara mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya tampak semakin khawatir. "Beliau ingin memberimu pelajaran," ujarnya lirih sambil meremas ujung lengan bajunya. "Hanya saja, aturan keluarga membuat beliau tidak bisa bertindak langsung."

Revan tidak tampak terkejut, semua itu sudah berada dalam perkiraannya.

"Masih ada satu kabar lagi." Nayara menarik napas. "Orang-orang dari Perguruan Nirakasa telah tiba di Kota Jayagiri."

Tatapan Revan sedikit berubah. "Lebih cepat dari perkiraan," gumamnya pelan.

Nayara mengangguk pelan. "Mereka datang khusus untuk menjemput Arya," jelasnya sambil memperhatikan perubahan ekspresi Revan. Ia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan, "Bahkan kabarnya, salah seorang tetua Perguruan Nirakasa sudah lebih dulu tertarik pada bakatnya."

Seluruh Kota Jayagiri sedang membicarakan hal tersebut. Bagi kota kecil seperti mereka, kehadiran utusan dari Perguruan Nirakasa merupakan peristiwa yang mungkin hanya terjadi sekali dalam puluhan tahun.

Bahkan keluarga-keluarga besar berlomba-lomba menunjukkan rasa hormat.

"Upacaranya berlangsung hari ini," lanjut Nayara sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Revan.

Revan terdiam sejenak sebelum meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja. "Kalau begitu, ayo kita lihat."

Nayara menatapnya dengan mata sedikit membesar. "Kau benar-benar ingin datang?"

"Mengapa tidak?" Revan bangkit sambil merapikan pakaiannya, lalu tersenyum tipis. "Aku hanya ingin melihat sejauh mana mereka merayakan kepergian adikku."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 316

    Bukan hanya para penonton di sekitar gerbang yang mendengarnya dengan jelas. Mandra yang berada di dalam kediaman pun mendengar penghinaan tersebut.Sebagai kepala keluarga terbesar di Kota Jayagiri, kapan Mandra pernah dipermalukan sedemikian rupa di depan rumahnya sendiri?Dengan marah, ia membanting meja dan langsung bergegas keluar. Niat membunuh terpancar jelas dari tubuhnya."Jayendra! Rupanya kau sudah bosan hidup!" Raungan Mandra mengguncang udara. Kemarahannya terdengar jelas dalam setiap kata.Di belakangnya, sekelompok anggota Keluarga Draksa ikut bergegas keluar. Para tetua dan pelayan keluarga pun memenuhi halaman kediaman.Kepala keluarga dihina tepat di depan gerbang rumahnya sendiri!Ini bukan sekadar penghinaan terhadap Mandra, melainkan juga penghinaan terhadap seluruh Keluarga Draksa!Namun, begitu Mandra melihat rombongan Keluarga Cakrawala di gerbang utama, dia langsung terkejut.Selain Jayendra dan Almira, Arya ternyata juga telah kembali. Yang paling menarik per

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 315

    Kota Jayagiri, Keluarga Cakrawala.Arya dan Wangsa akhirnya tiba di Kota Jayagiri.Dengan kultivasi Wangsa, membawa Arya dan kepala pelayan terbang melintasi udara bukanlah perkara sulit. Mereka pun tiba dalam waktu singkat.Selama berada di perjalanan, Jayendra dan istrinya telah melayani kedua tamu tersebut dengan sangat baik. Bagaimanapun, Wangsa adalah sosok legendaris dengan kekuatan luar biasa yang telah mencapai Fase Inti Roh.Di kota kecil seperti Jayagiri, kebanyakan orang mungkin tak akan pernah berkesempatan bertemu seorang ahli Fase Inti Roh sepanjang hidup mereka.Kini, Wangsa duduk di kursi utama aula besar Kediaman Keluarga Cakrawala. Sebagai anggota Perguruan Nirakasa, salah satu kekuatan terbesar di Nusaraya, wajar jika ia menerima penghormatan istimewa ke mana pun pergi.Sementara itu, Arya berdiri di sampingnya dengan wajah muram. Awalnya, ia berencana mematahkan seluruh anggota tubuh Revan begitu tiba di Kota Jayagiri, lalu menyeret pemuda itu pergi seperti anjing

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 314

    Saat ini, lebih dari selusin murid berjubah biru sedang berjaga di depan gerbang Perguruan Sangkara. Mereka membungkuk hormat ketika melihat Harsa dan Kirana melintas. Setelah kedua tetua itu pergi, mereka kembali menjalankan tugas seperti biasa.Tatapan beberapa murid sempat tertuju kepada Revan dan Livia dengan penuh rasa ingin tahu, namun tak seorang pun mengajukan pertanyaan.Revan dan Livia saling berpandangan. Keduanya tampak sangat kelelahan setelah melalui kejadian tadi."Aku ingin beristirahat. Bagaimana denganmu?" tanya Revan.Ia memang sudah kehabisan tenaga. Sebelum menjalankan misi, ia telah memurnikan banyak pil di dalam Cincin Langit karena mengira pil-pil tersebut akan sangat berguna dalam keadaan darurat.Namun, ketika berhadapan dengan seorang ahli Fase Inti Roh, ia bahkan tak sempat memanfaatkan semua persiapannya. Jika sedikit saja terlambat, nyawanya mungkin sudah melayang."Aku juga akan kembali ke Paviliun Khusus untuk beristirahat." Livia kembali menunjukkan si

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 313

    Revan dan kedua rekannya mengikuti arah yang ditunjukkan Harsa. Mereka mencari selama tiga jam penuh, namun tidak menemukan jejak Arvin.Akhirnya, Harsa memutuskan, "Kita kembali ke perguruan terlebih dahulu. Masalah Kultivator Iblis jauh lebih mendesak."Revan dan Livia sama-sama penasaran."Apa sebenarnya Kultivator Iblis itu?"Revan menatap Harsa dengan bingung. Sebelumnya, ia telah beberapa kali mendengar pria itu menyebut istilah tersebut, tetapi belum benar-benar memahami artinya.Harsa pun menjelaskan, "Seorang manusia menerima pembaptisan menggunakan Esensi Darah dari Ras Iblis yang kuat. Dengan melakukan itu, ia secara sukarela meninggalkan identitasnya sebagai manusia dan berubah menjadi makhluk setengah manusia, setengah iblis.""Manusia bisa berubah menjadi Binatang Iblis?" Revan terkejut."Benar. Namun, mereka tidak bisa sepenuhnya berubah menjadi Binatang Iblis."Harsa melanjutkan penjelasannya, "Tubuh fisik mereka menjadi jauh lebih kuat, sementara umur mereka bisa menc

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 312

    Di bawah Kediaman Penguasa Kota Hangai, terdapat sebuah ruang rahasia yang sangat luas."Sialan! Perguruan Sangkara..."Raungan rendah terdengar dari sosok mengerikan yang tubuhnya ditutupi bulu merah. Kedua matanya merah menyala, taring-taring tajam menyembul dari mulutnya, dan aroma darah yang pekat terus memancar dari tubuhnya. Bau amis itu begitu menyengat hingga memenuhi seluruh ruangan.Ruang rahasia tersebut sangat luas, cukup untuk menampung seribu orang. Dinding-dindingnya dilindungi Formasi yang kuat, sehingga orang luar tak akan bisa mendeteksi keberadaannya kecuali mereka memiliki kekuatan yang luar biasa.Namun, pemandangan di dalamnya sungguh mengerikan. Separuh ruangan dipenuhi tumpukan mayat manusia yang menjulang membentuk bukit kecil.Ada laki-laki dan perempuan, orang tua maupun anak muda. Tubuh mereka telah mengering tanpa menyisakan setetes darah pun, dua lubang kecil yang mengerikan terlihat di leher masing-masing.Mereka semua telah kehilangan nyawa setelah dara

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 311

    Kemunculan seorang Kultivator Iblis bukanlah perkara sepele. Terlebih lagi, kejadian ini berlangsung di wilayah yang sangat dekat dengan Perguruan Sangkara.Kultivator Iblis adalah manusia yang telah mengubah garis keturunannya sendiri dan mengubah Roh Spiritualnya menjadi Inti Iblis. Sejak saat itu, keberadaan mereka tak lagi sepenuhnya manusia, tetapi juga bukan Binatang Iblis.Menjadi Kultivator Iblis memang menawarkan sejumlah keuntungan, seperti peningkatan kekuatan fisik yang signifikan dan umur yang lebih panjang.Namun, proses untuk menjadi Kultivator Iblis sama sekali tidak mudah. Seseorang membutuhkan Binatang Iblis yang sangat kuat untuk membaptis tubuhnya menggunakan Esensi Darah binatang tersebut. Dan jika makhluk itu mampu mengubah seorang ahli Fase Inti Roh menjadi Kultivator Iblis, kekuatannya pasti luar biasa.Sayangnya, mereka belum mengetahui seberapa kuat Binatang Iblis yang berada di balik Jeremy.Kirana kemudian melangkah maju. Sebuah kompas emas muncul di tangan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status