Share

Amatiran!

last update Terakhir Diperbarui: 2024-03-09 12:44:18

Mereka semua benar-benar mencari Baron di semua jalanan, bahkan mereka tidak melewatkan tempat-tempat kecil yang memungkinkan untuk Baron bersembunyi.

“Di mana dia?! Bisa gawat kalau Bos tahu kita tidak bisa menemukan dia!”

Saat Baron melihat sebuah kesempatan dengan menemukan seseorang yang datang sendiri ke tempatnya, Baron langsung menyergap orang itu dari belakang dan melakukan Rear naked choke dan membuat orang itu pingsan dengan seketika.

Baron membawa orang itu dan menyembunyikan dia di tong sampah, setelahnya Baron memperhatikan semua kondisi di lingkungan itu, yang dimana tidak memungkinkan untuk Baron menghindari pertarungan. Sebuah jalan yang sempit dan juga padat.

Saat Baron sedang memperhatikan, tiba-tiba seseorang dengan pisau lipat menemukan Baron dan menodong Baron dengan pisau kecil itu.

“Ketemu juga!”

Sebuah tindakan konyol ketika menodong seorang Jendral besar hanya dengan bermodalkan pisau lipat kecil yang tidak ada artinya bagi Baron Vasilias yang sudah menghadapi gempuran senjata.

Baron hanya tersenyum saja seraya berkata, “Pisau kecil itu, hal yang sepele bagiku!” dengan wajahnya yang tidak menampilkan perasaan takut maupun cemas, “Kamu tahu sendiri kan? Orang yang paling berbahaya itu apa? Yaitu, orang yang bisa menggunakan semua barang menjadi senjatanya!”

Tanpa disadari orang tersebut, Baron sudah melepaskan ikat pinggangnya dan kepala ikat pinggang kulit itu Baron hantamkan dengan kuat hingga orang tersebut sedikit terjatuh, Baron juga melanjutkannya dengan membantingnya ke tanah lalu kembali melakukan RNC.

“To….tolong…”

Suara orang tersebut mengundang banyak perhatian dari beberapa rekannya.

Mereka semua melihat ke arah Baron Vasilias yang kini sudah berdiri menatap mereka dan kembali menggunakan ikat pinggangnya.

“Mencariku?” tanya Baron yang diselingi dengan senyuman.

Mereka melihat rekan mereka yang sudah pingsan dibuat oleh Baron, tapi itu tidak membuat mereka takut karena di pikiran mereka itu semua hanyalah kebetulan, tidak mungkin juga Baron akan melawan mereka semua secara bersama.

“Kamu, Baron kan?” tanya seseorang yang bertubuh besar dan cukup tinggi, serta berambut gondrong.

“Sepertinya, memang mereka mencariku dan dia adalah ketuanya,” batin Baron.

“Untuk apa mencariku?”

Mereka tanpa banyak bicara mengeluarkan senjata mereka, ada yang menggunakan pisau lipat dan juga stick baton.

“Lebih baik kamu menyerah, daripada harus melawan kami semua!”

“Menyerah? Dalam hidupku, aku hanya satu kali menyerah tapi untuk diriku yang sekarang menyerah hanyalah omong kosong!” ujar Baron.

“Kalian berdua, maju!”

Dua orang dengan membawa stick baton menyerang, tapi serangan itu terlihat seperti serangan amatir di mata Baron Vasilias.

“Dasar amatiran!”

Baron tidak perlu mengeluarkan tenaga lebih untuk menyerang mereka, hanya dengan satu pukulan bisa menumbangkan mereka.

Buaghh!

“Yah, sepertinya memang benar aku harus menahan diri. Tapi, jika aku menggunakan tangan kosong saja rasanya ada yang kurang.”

Baron mengambil stick baton dari salah satu orang yang telah ia tumbangkan.

Baron mengarahkan stick itu dan menyuruh mereka untuk maju, “Nah, majulah!”

Mereka maju satu persatu, satu orang pertama maju dan langsung mencoba untuk menusuk Baron, tapi Baron dengan mudah menghindar dan memukul kaki orang itu.

Orang tersebut pun jatuh, lalu disusul yang kedua dan ketiga, mereka berencana untuk menyerang Baron secara bersama-sama tapi itu bukanlah hal yang rumit. Baron hanya cukup mundur satu langkah dan memukul punggung mereka.

Melihat itu, ketua dari kelompok tersebut berniat menyerang Baron dengan mengerumuninya. Tapi, Baron mencegah itu dan melakukan tackle kepada pemimpin tersebut.

“Dasar b*d*h! Daritadi dong kalau kau menyerang bersama!” ujar Baron yang langsung disusul dengan hantaman ke wajah ketua kelompok tersebut.

Tiba-tiba ada suara datang dari arah belakang, dan itu adalah Nolan serta beberapa pasukan yang ia bawa.

“Itu dia! Tangkap mereka semua!” ujar Nolan.

Nolan hanya membawa 5 orang, tapi mereka semua dengan mudahnya mengalahkan anak buah dari pria tersebut.

Pria tersebut melihat itu dan ketakutan, tubuhnya gemetar tidak karuan. Baron mengangkatnya dan melemparnya ke arah Nolan.

Nolan langsung mengarahkan pria itu ke suatu dinding, dan ia melihat ke arah Baron.

“Jendral! Apa Jendral tidak apa-apa?!” tanya Nolan.

Pria tersebut semakin ketakutan, karena Baron memiliki banyak orang yang siap menjaganya, meskipun pria tersebut tidak bisa memahami ucapan Nolan tetapi pria itu memiliki insting bahwa Baron adalah orang yang berbahaya.

“Aku tidak apa-apa, lagian mereka hanya seperti preman kecil bagiku,” ucap Baron dengan berjalan ke arah Nolan. “Tapi, siapa yang menyuruhmu!” tanya Baron kepada pria itu.

“Sial! Dia ternyata orang yang berbahaya! Kenapa dia berbeda dengan yang diberitahu, katanya dia orang lemah tapi apa ini?!” batinnya.

Baron melihat tangan pria itu dan terlihat ada sebuah tato, maka Baron membuka baju pria tersebut dan terlihat sebuah tato kalajengking di tangan kanan.

“Periksa mereka semua! Apa mereka punya tato yang sama!” perintah Baron.

Para ajudan Baron Vasilias membuka pakaian mereka semua, dan ditemukan tato yang sama bergambar kalajengking. Baron hanya bisa memastikan bahwa mereka adalah sekelompok geng yang disuruh oleh seseorang untuk menyerang Baron.

“Tato kalajengking? Tapi, ukurannya berbeda. Berarti, ada Hierarki tersendiri.”

Nolan yang melihat itu seakan mengetahui siapa mereka, Nolan memberitahukan hal tersebut kepada Baron.

“Jendral, mereka adalah Geng Scorpion West, mereka adalah kelompok yang biasa melakukan kekerasan kepada target dan perlindungan kepada sang klien!” ujar Nolan.

Baron tersenyum tipis dan melihat ke arah pria tersebut.

“Ho, menarik. Siapa yang menyuruhmu? Kurasa, dia adalah orang terdekatku!”

“Kami…kami tidak bisa menyebutkan siapa klien kami!”

Nolan memang tidak paham dengan ucapannya, tapi ia mengerti akan kondisinya. Nolan sempat akan mengeluarkan senjata api yang ia bawa bersamaan dengan ajudannya yang lain. Tapi, Baron melirik memberi tanda bahwa Nolan tidak perlu melakukan itu.

Pria tersebut sempat melihat ke arah Nolan dan ia melihat senjata yang dibawa oleh Nolan, tapi Nolan mengurungkan niatnya setelah dilirik oleh Baron.

“Hanya dengan lirikan! Dia takut dengan target?!”

Baron mengangkat tangannya dan memperlihatkan ke arah pria tersebut, lalu Baron meninju dinding hingga retak.

“Aku masih harus menahan diri, karena aku masih tergabung dengan satuan! Tapi, itu semua bisa berbalik jika kamu tidak menjawab. Jadi, siapa yang menyuruhmu?”

Pria tersebut gemetar semakin kuat hingga ia terkencing di celananya.

“I-ivan!”

Baron hanya tersenyum tipis mendengar nama Ivan disebutkan oleh pria tersebut.

“Ivan, ya? Yah, si b*d*h itu memang tidak belajar dari kesalahan, kira-kira harus ku apakan dia ya?”

“Klien kami mengenal dengan pemimpin kami, tapi…kami sungguh tidak tahu alasannya, kamu hanya disuruh membawa target ke suatu tempat!”

Pria tersebut tiba-tiba membeberkan rencana yang akan dilakukan oleh gengnya, dan diketahui Ivan mengenal dengan baik pria yang memimpin geng Scorpion West.

“Nolan, lepaskan dia!” ujar Baron, Baron memegang pundak pria itu.

“Siapa namamu?”

“M-marco!”

“Nah, Marco. Sampaikan pada pemimpin geng mu untuk tidak mengganggu Baron Vasilias atau, Baron akan datang menghabisinya! Paham?”

Pria tersebut mengangguk dan terjatuh ke tanah.

“Nolan, lepaskan mereka semua!”

“Baik, Jendral! Jendral, kami harus melakukan protokol keamanan kepada Jendral!”

“Protokol keamanan? Protokol keamanan untuk Baron? Kau bercanda ya?”

Nolan bergidik merinding merasakan aura Baron yang mengancam.

“Tapi, itu memang sudah sewajarnya sih? Yah, kirimkan saja 2 orang dan melamar menjadi security di perusahaan ini. Dan untuk di kediaman istriku, itu hal yang mudah!”

“Baik!”

Baron berjalan ke arah mobil dan Nolan berlari mengikuti dan langsung membukakan mobil.

“Nah, Ivan. Kira-kira apa yang akan terjadi denganmu?!”

Bersambung…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu sang Dewa Perang   Eksekutor!

    Suara tembakan yang menggelegar di seluruh Tarot Palace Auction menghentikan ucapan sang Juru Lelang. Teriakan histeris para miliarder yang kehilangan martabatnya memenuhi ruangan Tarot Palace Auction. Mereka yang tadinya merasa di atas angin, kini merangkak di lantai seperti tikus yang terjebak di lubang gelap, semuanya berhamburan karena takut akan menjadi sasaran. Semua menuju pintu keluar, namun pintu tersebut tertutup dan terkunci seperti sudah disabotase oleh pihak luar.“Pintunya! Buka pintunya!” Semua mencoba menggedor-gedor pintu dan berteriak berharap ada yang membuka pintu dari luar."Baron! Ayo cepat kita keluar!" teriak Praja sembari menarik bahu Baron. Namun, Baron tetap berdiri tegak. Pupil matanya melebar, mencoba menangkap sisa cahaya atau gerakan di tengah kegelapan total ini."Praja, diam. Jangan nyalakan lampu ponselmu kalau kau tidak ingin kepalamu menjadi sasaran empuk," desis Baron dengan nada dingin yang belum pernah didengar Praja sebelumnya.“Tempat in

  • Menantu sang Dewa Perang   Hawa Kematian

    Banyak orang yang berbondong-bondong untuk menawar perahiasan tersebut dengan harga yang tinggi. Namun, disisi lain Baron Vasilias memperhatikan dengan seksama Surya Vigo yang terlihat dengan sangat jelas begitu menginginkan berlian tersebut. Dari harga pembukaan yang lelang dengan nilai yang fantastis tentunya hanya orang-orang yang memiliki kekayaan tak berseri yang berani menawar perhiasan tersebut, di sisi lain Baron tampak bimbang karena berlian tersebut sangat ingin ia miliki untuk hadiah bagi Aghnia. Praja melihat Baron yang begitu terfokus pada berlian tersebut meskipun seluruh ruangan gelap gulita tapi Praja bisa merasakan aura yang dipancarkan oleh Baron."Baron ini, dia terlihat sekali menginginkan berlian itu, tapi dibuka dari 50 miliar? ditambah dengan orang-orang itu yang sedang menghubungi pihak bank," batin Praja sembari melihat para peserta lelang."Berlian Cullinan itu, kalau aku dapat memilikinya lalu apa yang harus aku katakan pada Aghnia, ya? terlebih lagi berl

  • Menantu sang Dewa Perang   Termakan Oleh Ego!

    Dandy sudah termakan oleh egonya, ia benar-benar tidak peduli dengan uang yang ia keluarkan hanya gengsi yang ia miliki.“12 miliar! Aku tawar itu, anak-anak seperti kalian tidak cocok dengan giok!” Surya yang kini menunjukkan aura yang ia miliki adalah keangkuhan yang absolut.Baron tersenyum sinis. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Dandy, dengan egonya yang tinggi, pasti akan terus menaikkan harga sampai titik di mana dia tidak mampu lagi, “Surya, dia benar-benar ingin menunjukkan semuanya, ya?” gumam Baron. Baron sebenarnya sudah tidak begitu tertarik kepada giok itu dan dia memilih untuk mundur terlebih dahulu, “Praja, aku rasa aku akan mundur kali ini. Aku ingin melihat sejauh mana ego Dandy akan mengelabuinya,” bisik Baron yang disetujui oleh Praja.“Bagus Baron, tidak ada gunanya jika kamu hanya terus memberi makan ego Dandy!” balas Praja. Dandy semakin frustasi karena ia harus kembali merogoh kocek dengan harga yang fantastis. Tapi, ketika ia melirik ke Baro

  • Menantu sang Dewa Perang   Permainan Anak-anak?

    Seorang pria tua usianya namun tidak dengan fisiknya yang seperti pria berusia 30 tahun, pria itu menawar dengan jumlah yang lebih tinggi dari yang ditawar oleh Dandy. 3 miliar adalah jumlah yang cukup banyak untuk sebuah kalung giok, terutama itu merupakan giok yang memiliki kualitas tinggi. Namun, dibalik itu Baron seperti cukup familiar dengan pria tua tersebut terutama orang-orang dibelakangnya.“Pria itu, apa mungkin dia—”“Baron, dia Surya Vigo pemimpin keluarga Vigo. Dia, adalah harimau yang sudah tua namun harimau tetaplah harimau,” bisik Praja. Baron pun tertawa kecil, “Baru saja aku atasi anaknya, apa kini aku harus bersinggungan dengannya?” kata Baron. Praja menasehati Baron dengan kata-kata yang sedikit menyindir Baron, “Baron, aku tidak tahu kamu tinggal di negara mana yang bisa bebas memukul orang. Tapi, jangan gegabah melawan Surya Vigo, dia salah satu orang yang berpengaruh di negeri ini. Dan, dia juga pernah masuk jajaran orang terkaya di dunia, kamu pasti tahu F

  • Menantu sang Dewa Perang   Pelelangan!

    “Selamat malam, para kolektor sejati! Malam ini, kita menghadirkan banyak sekali barang-barang yang berkualitas tinggi serta langka! Dan, hasil dari lelang ini semuanya akan diserahkan ke panti asuhan!”Ruang lelang yang mewah itu dipenuhi oleh para kolektor kaya raya dan pengusaha sukses. Mata mereka berbinar-binar penuh ambisi, siap untuk saling sikut demi mendapatkan harta yang mereka inginkan Biasanya, orang-orang yang menghadiri lelang hanyalah perwakilan saja. Dan, orang kaya yang sesungguhnya tidak perlu repot-repot pergi ke tempat lelang. Namun, beda halnya dengan Tarot Palace Auction, tidak boleh ada perwakilan sama sekali, hanya orang-orang yang memiliki kekayaan yang cukup untuk ikut salan lelang tersebut . Praja berbisik pada Baron, “Baron lihat semua orang-orang ini. Mereka, bukan hanya dari negara Asia saja. Bahkan, orang Eropa pun ada!” Baron melihat semua orang dan memang benar, mereka semua adalah orang yang cukup berpengaruh. Terutama, ada seseorang yang menjadi

  • Menantu sang Dewa Perang   Dipeluk Kematian?

    Di tengah ketegangan antara Baron, Dandy, dan Elina, Louis muncul dengan ide baru untuk meredakan situasi dan sekaligus membuat Baron semakin dihormati.Louis mengumumkan diadakannya lelang amal di Tarot Palace Auction, sebuah tempat lelang ternama yang hanya dihadiri oleh para elit dan orang-orang kaya. Lelang ini akan menjadi kesempatan bagi para tamu untuk menunjukkan kekayaan mereka dan saling memperkuat posisi dan juga kehormatan mereka. Dandy dan Elina, yang terobsesi dengan kekayaan dan status, langsung tertarik dengan ide lelang ini. Mereka berdua bertekad untuk menjadi pemenang lelang dan menunjukkan kepada Baron siapa yang lebih kaya dan berkuasa.“Bagaimana? Tarot Palace Auction sangat terkenal melelang banyak sekali barang-barang berharga. Bahkan, tidak jarang para Raja-raja di Timur Tengah datang untuk mendapatkan permata,” jelas Louis. Dandy tersenyum sinis, “Untuk apa melakukan lelang? Bukannya sudah jelas, bahwa aku adalah yang paling kaya?” Elina melirik Baron ya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status