分享

MJM 182

last update publish date: 2026-07-28 13:15:36

MARIA

- 68 Welcome Baby

[Mbak Maria hendak melahirkan, Pak Rangga. Sekarang sudah di rumah sakit ditemani Mak Menik. Saya di rumah jagain A'im.]

Dada Rangga bergemuruh hebat. Pesan singkat dari Siti itu terpampang jelas di layar ponsel. Rangga membaca ulang deretan kalimat tersebut dengan tatapan tajam. Di sana tertera waktu pengiriman satu jam yang lalu.

"Sudah satu jam yang lalu?" gumam Rangga dengan panik. Tangannya yang gemetar segera menekan nomor ponsel istrinya. Pria itu merutuki kebodo
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (9)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
ayo dedek papah dah Dateng sekrng cepetan keluar ya...
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
sepertinya begitu ...
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
hu um sepertinya, Mbak ...
查看全部評論

最新章節

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 232

    Dan yang paling menusuk indra penciuman Zahra adalah aroma tubuhnya. Saat pria itu bergeser mendekat, ia mencium wangi parfum mahal yang sangat berkelas. Postur tubuh Zein yang tegap kini terlihat sangat dominan tanpa balutan pakaian lusuh yang biasa ia kenakan untuk menyamar. Dada Zahra mendadak berdesir hebat. Rasa panas dingin yang aneh mendadak menjalar ke seluruh permukaan kulitnya. Duh, ada apa dengan jantungku?"Bang Zein? Masya Allah, saya hampir nggak mengenali Abang," ujar Zahra ramah. Berusaha mengendalikan diri demi menutupi rasa gugup yang luar biasa.Zein terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat maskulin di telinga Zahra. "Kenapa, Mbak? Apa penampilan saya hari ini terlihat aneh?""Eh, bukan! Sama sekali nggak aneh, Bang. Hanya berbeda sekali. Saya pikir Abang belum sampai.""Saya sudah sampai sini sejak setengah jam yang lalu, Mbak," jawab Zein, matanya menatap Zahra dengan binar lembut yang meneduhkan. Zahra melihat jam tangannya. "Hmm, saya juga nggak telat d

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 231

    Aurel memang tidak akan menghina status sosial seseorang, tapi sifat cerewet dan kejahilannya yang tingkat tinggi dipastikan akan membuat telinga Zahra tergelitik.🖤LS🖤"Zahra, aku pergi dulu, ya," pamit Aurel mengintip sedikit dari pintu."Sudah dijemput?" Zahra menghampiri."Sudah, itu." Aurel memandang mobil yang berhenti di luar pagar kosan. Pemiliknya seorang teman mereka yang asli Surabaya. Zahra dan Aurel sebenarnya juga sudah bisa nyetir mobil. Tapi di Surabaya, mereka berdua berlaku seperti anak kosan pada umumnya."Ya, sudah. Hati-hati di jalan.""Oke." Aurel melangkah pergi. Salah seorang teman di mobil berteriak, kenapa Zahra tidak ikut. Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.Setelah mereka pergi, Zahra langsung beranjak untuk bersiap-siap. Ia membuka lemari pakaian lebar-lebar.Sepasang matanya bergerak memperhatikan tumpukan bajunya. Gaun terusan floral? Terlalu mencolok. Gamis? Eh, jangan. Kemeja formal putih? Seperti mau sidang skripsi. Mengapa mendadak me

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 230

    Zein - 4 Penampilan Berbeda [Mbak Zahra, besok saya tunggu di Foodcourt Galaxy Mall lantai 3, ya. Jam 12.]Layar ponsel di atas meja belajar menyala, menampilkan sebaris pesan singkat yang dikirimkan oleh kontak bernama "Bang Zein" tepat pukul tujuh malam. Zahra menatap pendar cahaya itu sesaat setelah ia selesai melipat mukena pasca menunaikan salat isya. Kamar kosnya yang hening mendadak terasa sedikit berbeda, ada desir aneh yang menggelitik dadanya. Dengan cekatan, Zahra mengetik jawaban singkat.[Oke, Bang.]Kemudian Zein membalasnya dengan emoticon jempol.Setelah termangu beberapa saat memandangi layar yang kembali gelap, Zahra menghela napas pelan. Ia melangkah menuju meja belajar, menarik kursi kayu lalu duduk menghadap sebungkus nasi Padang dengan lauk rendang yang tadi sore ia beli bersama Aurel. Harum pekat gulai dan sambal ijo seolah menguap, kalah telak oleh isi kepalanya yang mendadak riuh.Zahra dan Aurel memang tidak berbagi satu kamar yang sama. Sejak awal menginj

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 229

    Tidak lama lagi ia harus meninggalkan trotoar depan kampus selamanya. Setelah operasi penindakan pecah, identitas 'Abang Donat' akan terkubur. Sebab ia harus kembali ke markas pusat di Jakarta untuk tugas rahasia baru yang telah menantinya.Namun hati kecilnya memberontak. Zein sadar, ia tidak ingin kehilangan Zahra. Kali ini ia harus mencari cara agar tetap bisa terhubung dengan gadis itu pasca-operasi selesai. Sebuah rencana baru mulai ia susun di kepala.Zein akan melempar alibi bahwa ia mendapatkan panggilan kerja kantoran di Jakarta. Mau tidak mau, ia harus menampilkan sisi dirinya yang rapi. Zein berpikir secara logis dan realistis, di zaman sekarang mana ada gadis muda berpendidikan yang mau berkomitmen jangka panjang dengan pria berpenampilan miskin seperti tukang donat jalanan seperti dirinya. Itu adalah realitas yang lumrah.Wanita menginginkan pasangan yang mapan adalah hal yang normal. Dan orang tua mana pun pasti mendambakan menantu yang memiliki masa depan setara untuk a

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 228

    Namun Zahra dengan cepat mengulas senyum. "Tapi alhamdulillah, saya beruntung sekali, Bang. Papa sambung saya, papanya Aurel itu orangnya luar biasa baik. Beliau memperlakukan saya persis seperti anak kandungnya sendiri. Nggak pernah membeda-bedakan saya dengan Aurel. Kasih sayangnya tulus."Zein manggut-manggut penuh perhatian. "Alhamdulillah kalau begitu. Mbak, memiliki keluarga yang harmonis.""Iya, Bang. Di Tulungagung dan daerah Papar sana, Bunda saya juga mengelola toko roti. Jualan donat juga, lho," cerita Zahra dengan binar bangga di matanya.Mendengar kata 'donat', jiwa Zein yang menyamar mendadak terusik secara jenaka. Ia menunjuk gerobak putihnya sendiri dengan jempol tangan. "Wah, menarik ini. Kalau boleh jujur, donat di toko Bundanya Mbak Zahra, kalau dibanding dengan donat dagangan saya ini, enak mana?"Zahra tertegun sejenak. Ia menatap Zein, lalu menatap kotak donat di tangannya. Dengan wajah tanpa dosa dan kejujuran yang biasa ia terapkan. Zahra menjawab, "Hmm, kalau

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 227

    Zein- 3 PDKTPagi itu udara Surabaya terasa sedikit lebih ramah. Semburat sinar matahari yang hangat menyentuh pucuk-pucuk pohon Sonokembang yang tumbuh berjajar di sepanjang trotoar.Dari balik topi, sepasang mata Zein memperhatikan sosok yang melangkah sekitar seratus meter di ujung sana.Dada sang intelejen berdesir. Gadis berhijab navy itu berjalan sendirian pagi ini. Tidak ada sosok teman yang biasa berangkat bersamanya. Langkah Zahra tampak lebih santai, dengan sebuah buku tebal yang didekap erat di depan dada.Begitu jarak kian mendekat, sepasang mata jernih itu bertatapan langsung dengan matanya. Ada binar kelegaan yang tidak bisa disembunyikan dari wajah Zahra saat melihat gerobak "Donat Kampung Maknyus" kembali bertengger di posisi seperti biasanya."Assalamu'alaikum, Bang, saya pikir hari ini nggak jualan lagi," sapa Zahra. Suaranya selembut desau angin pagi yang menyegarkan dada Zein."Wa'alaikumsalam, Mbak Zahra," Zein membalas dengan senyuman wajar. Ia menekan rapat-rap

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

  • Mencari Jejak Maria   MJM 2

    MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status