로그인MARIA
- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan kecupan di pipinya. "Mama ke Surabaya, Mas. Ada urusan butik. Kenapa sih, wajahnya ditekuk begitu? Loh, rahangmu kenapa lebam." Tamara menyentuh rahang suaminya yang membiru. Rangga melepaskan tangan istrinya lalu duduk di sofa. Tidak menjawab pertanyaan itu. "Kenapa Mama menemui Maria dan berani datang ke rumah orang tuaku?" tanya Rangga tajam. Senyum di wajah Tamara memudar, digantikan oleh gurat keterkejutan. "Mama menemui orang tuamu? Setahuku Mama hanya bilang ingin bicara dengan Maria untuk memberi sedikit pengertian." "Apa maksudnya? Kenapa sebelum pergi tidak mengajakku bicara lebih dulu. Bagaimana kalau bapak mendengar dan drop lagi? Kamu tahu kondisi bapakku, kan?" Rangga menatap istrinya. Apa mungkin Tamara tidak tahu kalau mamanya mendatangi rumah orang tuanya? Mata Tamara mulai berkaca-kaca sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan dramatis. "Mas, Mama hanya khawatir padaku. Pada bayi ini. Kami nggak mau anak ini lahir tanpa status yang jelas. Apa aku salah kalau ingin kepastian? Tiap kali Mas kami ajak bicara, nggak pernah ada keputusan." Biasanya isak tangis dan elusan di perut itu merupakan senjata pamungkas yang meluluhkan Rangga. Namun malam ini untuk pertama kalinya, Rangga merasakan jengah. Dia teringat tatap kecewa ibunya dan Maria yang terluka kemarin malam. Tamara ini sebenarnya sosok mandiri yang ia puja, wanita karir yang begitu pengertian dan lembut. Seorang kekasih yang dicintainya. Namun Tamara terlihat berbeda sekarang. Ada ambisi yang egois di balik air matanya. "Apakah selama ini aku salah menilainya?" batin Rangga. Mereka sudah kenal lama, kan? Mereka pasangan yang saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Meski dalam kondisi terpisah jarak saat kuliah dulu. "Aku harus pulang. Besok aku ke sini lagi untuk bertemu Mama," kata Rangga setelah setengah jam dalam diam. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada calon anaknya. "Mas, jangan!" Tamara merengek sambil memegang lengan Rangga. "Aku takut sendirian. Aku sudah muntah beberapa kali seharian ini." "Ada sepupumu di kamar sebelah, kan? Dia biasa menemanimu," potong Rangga. "Bayi ini ingin papanya ada di sini." Tamara terus merayu dengan air matanya. Rangga menarik napas berat. Ia mengalah dan menemani Tamara hingga wanita itu terlelap pada pukul sepuluh malam. Namun Rangga tetap gelisah. Kemudian ia bangkit dan pamitan pada adik sepupunya Tamara. Rangga memacu mobilnya membelah malam menuju Kediri. Jalanan yang lengang membuatnya sampai di rumah tepat pukul 23:05. Saat pintu rumah terbuka, Rangga langsung disambut seseorang yang tengah membaca Al Qur'an, terdengar dari satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala terang. Rangga mematung di balik tembok pembatas ruang tengah. Dari posisinya ia bisa melihat ke dalam ruang salat. Maria masih mengenakan mukena putih, duduk bersimpuh menghadap Al-Qur'an di atas rekal kayu. Beberapa kali Rangga mendengar satu ayat yang dibaca berulang-ulang. Itu sering dilakukan Maria untuk membenarkan bacaannya. Biasanya Rangga yang akan menyimak dan membenarkan. Lama Rangga berdiri di sana. Hatinya perih. Menyakitkan melihat wanita yang ia khianati justru sedang bercakap-cakap dengan Tuhannya disaat ia baru saja melarikan diri dari kerumitan yang ia ciptakan. Ada rasa berat yang mendadak menghimpit paru-parunya. Haruskah semua ini berakhir? Dengan langkah pelan Rangga masuk kamar. Segera berganti pakaian, mengambil wudhu, lalu kembali menghampiri Maria dan duduk di depan istrinya. Maria terkejut. Ia menutup mushafnya setelah membaca tashdiq. Shadaqallahul 'adzim. Tak mengira suaminya kembali ke rumah. Biasanya kalau sudah lewat jam sembilan malam tidak pulang, sudah jelas Rangga ke rumah istri mudanya. "Mas, pulang?" "Teruskan, Maria. Kenapa berhenti?" ucap Rangga pelan. "Biar kusimak." Maria menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dulu dia senang sekali mengaji bersama, tapi malam ini rasanya berbeda. "Sudah malam. Mas, butuh istirahat. Wajahmu terlihat lelah sekali." "Sudah lama kita tidak mengaji bersama," gumam Rangga, matanya menatap Al-Qur'an di depan Maria. "Nggak apa-apa. Lagipula nanti kegiatan mengaji bersama ini akan berhenti sama sekali setelah kita bercerai." Kalimat itu seperti hantaman godam di dada Rangga. Perih dan menusuk hingga ke ulu hatinya. "Maria, jangan bicara begitu," suara Rangga parau sambil memandang Maria. Wanita itu menarik napas panjang, menatap suaminya dengan mata yang menyimpan luka. "Ini yang akan kita hadapi. Selama ini hampir setiap hari aku selalu takut kehilanganmu. Setiap Mas nggak pulang, aku nggak bisa tidur. Bukan hanya karena Mas bersama Tamara, tapi aku khawatir terjadi apa-apa di perjalanan." Mendengar itu dada Rangga terhentak. Maria menarik napas panjang. "Aku selalu takut, kalau kamu nggak ada terus aku bagaimana. Tapi setelah aku rela melepaskanmu dan kita akan berpisah, aku nggak merasa takut lagi. Aku sudah merelakan semuanya. Setelah ini aku nggak punya hak untuk takut, karena Mas nggak punya kewajiban untuk pulang padaku lagi. "Kita akan berpisah baik-baik. Dan mungkin kita bisa bertemu lagi sebagai saudara di momen-momen tertentu. Pas ada acara di rumah ibu, di rumah Mas Radit, atau disaat lebaran." Maria berhenti sejenak. "Atau disaat aku nanti menikah lagi, entah dengan siapa." Senyum getir menghiasi wajah wanita itu. Rangga menelan saliva dengan susah payah. Dadanya terasa perih. Ia merasakan gerimis hebat di dadanya. Sesak itu kini benar-benar menghimpitnya. Ia memandang wajah Maria. Wajah yang menunjukkan ketenangan, tapi justru itu yang membuatnya resah. Ketenangan seorang wanita yang sudah berdamai dengan rasa sakitnya. "Maria, aku minta maaf. Hubungan ini tidak harus berakhir begini. Kita masih bisa membicarakannya," suara Rangga bergetar. "Apa lagi yang mau dibicarakan, Mas. Mamanya Tamara sudah menuntut hak anaknya. Mas Radit dan Ibu sudah memberiku restu untuk membuat pilihan. Dan aku sungguh merasa berat menjalani hubungan begini. Cukup dua tahun saja. Aku ingin mencari kebahagiaan lain. "Mari kita berpisah secara baik-baik. Kita ikuti prosesnya hingga orang lain dan kerabat tahunya kita sudah selesai. Setelah itu Mas Rangga bisa bebas mengenalkan Tamara dan anak kalian pada keluarga dan orang-orang. Lama kelamaan Bapak dan Ibu pasti luluh melihat cucunya." Maria bisa bicara dengan nada tenang dan stabil. Tapi yang sebenar hatinya berdarah-darah. Dia sedang menguatkan dirinya dengan susah payah. Rangga semakin gelisah. Di tengah kemelut ini, ia merasa takut kehilangan. Selama ini terlalu terlena dengan kesabaran Maria yang dianggapnya tak akan pernah berujung. Tamara juga tenang-tenang saja seperti yang disepakati selama ini. Tapi kabar kehamilan itu telah mengubah segalanya. "Mungkin ada yang salah dengan diriku, hingga di tahun ketiga pernikahan ini, aku nggak bisa memberimu anak. Tapi Tamara bisa. Selamat, kamu akan menjadi seorang ayah, Mas." Maria tersenyum getir sambil memandang suaminya. Hati Rangga rasanya kian tercabik-cabik. Padahal mereka sudah bersama semenjak masih kanak-kanak. Berpisah setelah dirinya kuliah di Malang. Itu pun tiap pulang bisa bertemu. Usia mereka terpaut jarak lima tahun. Namun kenapa baru sekarang matanya melihat betapa hebatnya seorang Maria. "Kita bisa periksa ke dokter. Aku akan mengantarmu." Maria menggeleng. "Nggak. Sudah terlambat. Sudah ada Tamara yang akan memberimu anak. Untuk kita, sebentar lagi akan berakhir. Siang tadi aku sudah menghubungi pengacara. Aku minta agar prosesnya dipercepat." Rangga terkejut. "Kamu serius?" "Ya, aku sudah bertemu pengacara." Maria mengangguk tanpa ragu. Rangga tertegun. Ia ingin marah, kenapa Maria tidak memberinya kesempatan seperti yang sudah-sudah. Tapi tidak bisa. Ia hanya bisa menatap Maria yang mulai menyimpan Al-Qur'annya. Dan menyadari bahwa sang istri sudah melangkah jauh di depannya. Meninggalkan Rangga yang kini justru membeku di persimpangan jalan dalam kekalutan yang dibangunnya sendiri. Next ....Rangga bahagia. Pria itu mencondongkan tubuhnya, menatap Maria dengan tatapan mata yang mendadak berubah intens, sarat akan percikan gairah yang mulai menyala di kamar mereka."Jadi apa hadiah untuk Mas dari istri yang cantik malam ini, hmm?" Rangga mengedipkan sebelah matanya penuh godaan, jemarinya mulai menelusuri raga Maria.Wanita itu merasakan pipinya menghangat. Ia tersenyum, lalu tangan mungilnya mendorong pelan dada bidang suaminya. "Mandi dulu. Setelah Mas bersih dan wangi, nanti hadiahnya menanti.""Siap, Nyonya Rangga," sahut Rangga jenaka. Pria itu langsung menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi dengan langkah panjangnya.Sambil menunggu Rangga, Maria melepas mukenana. Menyisakan gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna merah marun. Membungkus lekuk tubuhnya yang tengah berbadan dua. Memang semenjak kehamilan anak ketiga ini, Rangga sengaja membatasi dan mengurangi intensitas permintaan hubungan biologis mereka. Pria itu selalu diliputi rasa tidak teg
Empat bulan kemudian ...."Sayang, coba tebak kabar apa yang Mas bawa sekarang ini?" Suara berat Rangga memecah keheningan kamar utama. Pria itu menghampiri sang istri yang baru saja selesai menunaikan salat isya. Rangga memang pulang terlambat hari itu karena urusan pekerjaan yang menyita waktu. Maria yang masih berbalut mukena, menatap heran pada suaminya. Wajah Rangga terlihat sangat berseri-seri, gurat lelah seolah menguap begitu saja dari sepasang matanya, padahal pria itu sudah seharian penuh memeras pikiran di kantor."Apa, Mas?" tanya Maria. Ia tidak bisa menebak apa pun.Rangga tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengikis jarak dan duduk di depan Maria, lalu menggenggam kedua tangan istrinya erat-erat. "Minggu depan, surat keputusan resminya keluar. Mas resmi naik jabatan menjadi General Manager."Maria terkesiap. Napasnya tertahan sedetik di tenggorokan akibat rasa terkejut yang bercampur dengan luapan kebahagiaan yang membuncah. Matanya berbinar-binar indah di bawah lampu
MARIA- 79 General Manager Tamara melangkah dari dapur, membawa secangkir kopi hitam lalu meletakkannya di atas meja depan Nino. Pria itu baru saja sampai setengah jam yang lalu dari Malang. Wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa lelah setelah sibuk dengan pekerjaan."Mari makan, Mas." Maria menyodorkan piring pada Nino. Biar laki-laki itu mengambil makanannya sendiri."Makasih." Nino mengambil nasi, tumis brokoli, dan sepotong ayam goreng.Mereka kemudian menyantap makan malam berdua saja. Bu Arsi sengaja memilih beristirahat lebih awal di kamar, untuk memberikan ruang agar Tamara dan Nino bisa mengobrol dengan leluasa."Mas, aku sudah memikirkan semuanya beberapa hari ini. Dan aku sudah mengambil keputusan." Sambil makan Tamara memulai percakapan.Nino yang sedang mengunyah nasi terdiam sejenak. Ia memandang lurus pada perempuan yang statusnya masih menjadi istri sirinya tersebut. Ada kilat kecemasan sekaligus harapan di matanya. Sebenarnya ia juga sudah capek dengan hidup penuh petu
Namun rasa geram campur aduk, antara lelah mengurus dua balita dan kenyataan bahwa ucapan 'aman' suaminya ternyata zonk. Membuatnya ingin sekali menjewer telinga pria di hadapannya ini."Tapi tetap saja aku sebal sama kamu Mas. Mas, selalu bilang tenang saja, aman. Apanya yang aman!" ucap Maria ketus. "Yusuf belum genap dua tahun saat adiknya lahir nanti. Perhatian kita pasti terpecah."Rangga tersenyum hangat, mengecup kening Maria sekali lagi dengan penuh perasaan. "Dengar Mas, Sayang. Yusuf tidak akan kekurangan kasih sayang sedikit pun, Mas jamin itu. Nanti kita tambah pengasuh. Supaya setelah melahirkan, kamu juga punya waktu untuk dirimu sendiri. Mas janji."Maria masih menatap tajam suaminya. Janji mana yang tidak ditepati oleh Rangga semenjak mereka kembali bersama. Lelaki itu selalu memegang ucapannya. Selelah apapun dengan urusan kantor, ia tetap ikut menjaga dan mendidik anak-anaknya.Rasa kesal yang membakar dada Maria sejak pagi perlahan-lahan mulai padam, digantikan oleh
Maria berulang kali mengingatkan, meminta Rangga untuk menggunakan pengaman untuk jaga-jaga. Namun dengan senyum manis yang meruntuhkan pertahanan, Rangga selalu menjawab, "Tenang saja, Sayang. Tidak akan hamil dalam waktu dekat. Mas tahu cara mainnya."Main apa coba? Nyatanya hari ini dua garis merah itu terpampang nyata tanpa bisa dibantah.Saat Maria tengah berdiri melamun dengan dada yang bergemuruh menahan kesal, sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, disusul sebuah suara hangat yang seketika membuatnya menoleh."Ada apa, Sayang? Melamun di depan jendela pagi-pagi begini?" tanya Rangga yang sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tersenyum lebar, tampak segar dengan kaos polo kasualnya. Di lengan kanannya menggendong Yusuf yang sibuk makan biskuit, sementara Ibrahim terdengar bermain di halaman dengan kakak sepupunya.Melihat wajah tanpa dosa suaminya, rasa ingin marah di dada Maria mendadak memuncak ke ubun-ubun. Ia menatap tajam, setajam silet, tepat ke arah bola mata lelaki
MARIA - 78 Rezeki"Nggak apa-apa, Bu," jawab Maria dengan nada suara yang diusahakan sebiasa mungkin. Sementara jemarinya bergerak secepat kilat meraih benda pipih di atas wastafel dan memasukkannya ke dalam saku gamis. Jantungnya berdegup kencang. Ia belum ingin memberitahu yang sebenarnya."Ya sudah kalau nggak ada apa-apa. Ibu pikir kamu sakit. Wajahmu agak pucat," ujar Bu Hasna sembari memicingkan mata, memandang lekat wajah Maria yang saat itu tidak mengenakan cadar."Saya nggak apa-apa, Bu." Maria tersenyum. Entahlah kali ini ia malu kalau bilang sedang hamil lagi."Kalau gitu Ibu mau belanja dulu." Bu Hasna menepuk bahu Maria lantas melangkah keluar rumah.Maria masih mematung. Yusuf baru umur setahun. Bocah ganteng itu baru bisa berjalan beberapa langkah dengan tertatih-tatih. Dan sekarang di dalam saku gamisnya, sebatang testpack dengan dua garis merah pekat menyatakan bahwa ia sudah berbadan dua lagi. Kasihan Yusuf. Nanti belum genap usia dua tahun, adiknya sudah lahir.Kep
"Sebelum ke sini, A'im sudah pernah diajak pergi ke mana?" tanya Rangga menoleh pada Maria."Belum," jawab Maria singkat.Ini kali pertama dalam hidup Ibrahim, bocah itu menginjakkan kaki di sebuah tempat wisata megah seperti ini. Selama ini, Maria hanya mengajaknya berjalan-jalan di taman kota yan
MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur send
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg







