Share

8

last update publish date: 2026-09-08 20:40:58

Satu bulan sejak pengakuan dramatis di pinggir danau itu, kehidupan Jihan dan Marvin tidak lantas berubah menjadi adegan kejar-kejaran ala film laga. Kenyataannya, menjadi kekasih seorang mantan peretas sekaligus pewaris takhta mafia ternyata jauh lebih... konyol dari yang Jihan bayangkan.

​Pagi itu, sinar matahari Jakarta menerobos hangat melalui jendela kaca besar Galeri & Kafe Serambi Pulang milik Jihan di kawasan Kemang. Aroma biji kopi robusta berpadu dengan wangi butter croiss
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   21

    ​Waktu bergulir tanpa ampun. Aria Vance kini telah menginjak usia lima tahun, dan hari ini adalah salah satu tonggak sejarah paling krusial dalam kalender keluarga mereka: Hari pertama Aria masuk Taman Kanak-Kanak.​Bagi Jihan dan Marvin, menyekolahkan Aria di sekolah swasta biasa yang mengedepankan alam dan kreativitas adalah pilihan mutlak. Namun, bagi dua kakek yang tingkat kewarasannya selalu dipertanyakan, membiarkan cucu mereka membaur dengan "rakyat jelata" tanpa pengamanan ekstra adalah sebuah bencana nasional.​Kekacauan pagi itu sudah dimulai sejak pukul enam pagi di ruang makan townhouse mereka.​Jihan, yang mengenakan apron pastel, sedang sibuk menata nasi kepal berbentuk kelinci ke dalam kotak bekal mungil. Di seberangnya, Marvin yang sudah rapi dengan kemeja flanel dan celana jeans sedang berdebat sengit dengan Marx Vance dan Pak Darmawan melalui panggilan video grup di tablet.​"Pa, Om, tolong dengar baik-baik," desis Marvin dengan urat leher yang mula

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   20

    ​Tiga tahun berlalu bagai kedipan mata. Aria Vance kini telah tumbuh menjadi balita berusia tiga tahun yang luar biasa aktif, cerdas, dan tentu saja—mewarisi kombinasi genetik yang sangat mematikan dari kedua orang tuanya. Ia memiliki mata elang setajam milik Marvin, namun dibingkai dengan senyum semanis Jihan.​Satu hal yang paling membuat kedua kakeknya pusing tujuh keliling: Aria ternyata sama sekali tidak tertarik pada kemewahan.​Siang itu, Pak Darmawan tiba di townhouse Jihan dengan kening berkerut. Di belakangnya, dua asisten membawakan tutu balet berbahan sutra asli dari Paris dan sepatu balet custom-made. Hari ini adalah jadwal Aria memulai kelas balet perdananya di studio eksklusif yang—tentu saja—sudah dibeli lunas oleh Pak Darmawan.​"Jihan! Di mana cucu Papa?" panggil Pak Darmawan saat melangkah masuk ke ruang tengah.​Jihan, yang sedang melukis di sudut ruangan dengan celemek penuh noda cat, menoleh dan tersenyum kikuk. "Eh, Papa... Aria lagi... um... m

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   19

    ​Aria Vance baru berusia dua minggu, tetapi bayi mungil itu sudah berhasil melumpuhkan dua pria paling berbahaya dan paling kaku di Jakarta tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.​Kamar bayi di townhouse Jihan dan Marvin kini terlihat seperti gabungan antara galeri kemewahan kerajaan dan markas komando taktis. Di satu sudut, Pak Darmawan sibuk mengawasi pemasangan sistem filtrasi udara tingkat medis dan meletakkan miniatur gedung pencakar langit bertuliskan nama cucunya. Di sudut lain, Marx Vance sedang berdebat serius dengan Carlo tentang jenis bahan kain paling aman dan lembut yang cocok dijadikan selimut sang cucu.​"Dia cucuku, Vance! Dia harus belajar tentang analisis pasar dan strategi investasi sejak dini!" seru Pak Darmawan seraya menata buku-buku dongeng berbahasa Prancis di rak kayu mahal.​"Cucuku akan belajar cara memegang kemudi helikopter sebelum dia bisa berjalan!" balas Marx tak mau kalah, memoles sepatu bayi edisi terbatas buatan perajin Italia.​

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   18

    Kehamilan Jihan kini telah memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang semakin membesar berbanding lurus dengan tingkat kepanikan eksponensial dari dua keluarga raksasa yang menaungi mereka. Di rumah townhouse kecil mereka, Marvin harus bekerja keras menerapkan aturan ketat untuk membendung arus "bantuan" berlebihan dari luar.​Tabel Persaingan Para Calon Kakek​Demi menyambut sang cucu pertama, kedua ayah mereka seolah berlomba memecahkan rekor pengeluaran yang tidak masuk akal:Sosok KakekPersiapan Paling AbsurdReaksi MarvinMarx VanceMembeli peternakan sapi perah di Selandia Baru hanya agar asupan susu Jihan selalu segar.Mematikan ponselnya selama dua hari.Pak DarmawanMembeli rumah tetangga sebelah, merobohkannya, lalu membangun taman bermain indoor yang diklaim 100% steril.Memijat pelipis menahan sakit kepala.Protokol Keamanan Tingkat Dewa​Tingkah laku para pengawal bayangan juga tidak kalah luar biasa. Tanpa sepengetahuan Jihan, rutinitas mereka telah diubah

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   17

    Bulan madu eksotis di Karibia telah usai, digantikan oleh realitas aspal panas Jalan Sudirman dan deru klakson ibu kota. Membawa status baru sebagai sepasang suami istri—dan pewaris sah kerajaan bisnis raksasa serta dunia bawah—Jihan dan Marvin memilih rutinitas yang jauh dari ekspektasi publik.​Dinamika Nyonya Bos di Serambi Pulang​Kafe milik Jihan kini semakin ramai. Gadis itu tetap sibuk di balik mesin espresso dan oven pastry, namun ada beberapa perubahan "kecil" sejak ia resmi menyandang nama belakang Vance:​Pemasok Misterius: Biji kopi langka kualitas grand cru dari Kolombia tiba-tiba dikirim rutin setiap minggu. Pengirimnya? Tulisan di boks hanya menyebutkan "Kolega Ayah Mertua".​Penjagaan Tak Kasat Mata: Tiga pria berjas rapi pimpinan Carlo selalu duduk di sudut kafe setiap hari. Mereka hanya memesan satu espresso selama delapan jam penuh demi memastikan tidak ada pelanggan yang berani komplain dengan nada tinggi kepada Jihan.​Fasilitas Ekstra: Selur

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   16

    ​Gemerincing lampu kristal Swarovski asli—yang diimpor langsung atas titah Marx Vance—memantulkan ribuan bianglala kecil di seluruh penjuru ballroom VVIP hotel bintang enam tersebut. Malam itu, Jakarta seolah berhenti berputar, memusatkan seluruh poros kemewahannya pada satu titik altar pualam putih.​Penyatuan dua kerajaan ini menciptakan pemandangan tamu undangan yang luar biasa absurd namun megah:​Sektor Kiri: Menteri Perekonomian, para duta besar, dan deretan konglomerat yang sibuk memuji dekorasi ribuan mawar putih dari Ekuador.​Sektor Kanan: Bos-bos kartel, petinggi La Cosa Nostra dari Sisilia, dan Carlo sang bodyguard yang menahan tangis haru di balik kacamata hitamnya.​Di ujung altar, Marvin Alexander berdiri dengan napas tertahan. Ia tampak mematikan sekaligus menawan dalam balutan tuksedo Tom Ford hitam pekat. Tidak ada lagi sisa-sisa montir berjaket kulit; malam itu, sang Pangeran Kegelapan akhirnya menerima mahkotanya. Marx Vance, yang duduk di baris t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status