LOGINMarco dan Maryam mendatangi rumah almarhum kakeknya. Rumah itu ditempati oleh salah seorang paman Marco beserta keluarganya. Jika ada keluarga besar Wiratama yang meninggal, biasanya akan dibawa dulu ke rumah tersebut. Kerabat yang mau melayat dan menghadiri pemakaman, akan diarahkan ke rumah kakeknya Marco. Karena rumah kakek cukup dekat dengan lokasi pemakaman keluarga.Ketika Marco tiba di rumah itu, pamannya sedang di kantor. Marco berbincang dengan istri pamannya. Marco menanyakan bagaimana kondisi bayinya menjelang dimakamkan, apakah sudah tampak kaku?Istri pamannya menjawab, “Biasanya kan, jenazah ditaruh di rumah ini sebentar, istilahnya disemayamkan, untuk memberi kesempatan pada keluarga yang melayat agar bisa melihat wajahnya yang terakhir kali. Tapi Kakakmu tidak begitu, dia langsung bawa bayinya ke makam, langsung dikubur.”“Kenapa begitu?” tanya Marco.“Waktu itu pamanmu juga menanyakan, kenapa seperti itu? Kakakmu malah menangis, bilang tidak tega kalau bayi yang baru
Pagi itu Marco mengantar Maryam ke rumah sakit, untuk periksa bekas operasi caesar. Sepanjang perjalanan, Maryam lebih banyak diam, merenung dengan wajah bingung. Dia seperti baru menyadari bahwa jarak yang ditempuh menuju rumah sakit tempatnya melahirkan, bisa dikatakan sangat jauh, untuk ukuran Kota Bandung di mana rumah sakit bertebaran di banyak lokasi. Marco juga tidak banyak bicara, karena khawatir salah ucap, membuat Maryam semakin merasa bersalah. Atau kalaupun rasa bersalah itu telah hilang, bisa saja berganti dengan perasaan bahwa dirinya sebagai seorang wanita belum pantas menjadi seorang ibu, sehingga bayi yang dilahirkannya tidak selamat. Intinya perasaan dan pikiran Maryam sedang ada di ambang yang paling sensitif, kesedihannya mulai mengarah pada penghakiman terhadap dirinya sendiri.Ketika hendak mendaftarkan Maryam di loket, Marco teringat tentang asuransi kesehatan swasta, yang pernah dikatakan oleh Maryam.“Mana kartu asuransi kesehatan itu?”Maryam menggeleng, “E
Dua hari kemudian, seluruh urusan Black Falcon Automotive sudah diserahkan kepada Marco. Zakki bilang melalui telepon kalau dirinya dan istri sudah berangkat ke Jakarta, mau mampir dulu ke rumah mertuanya, sebelum mendatangi lokasi kerjanya yang baru, di Serang, Banten.Pak Ardi sudah kembali bekerja di kantornya. Demikian juga Bu Marianne, kembali sibuk di dunia fashion. Bu Marianne sedang mempersiapkan acara peragaan busana. Bahkan dia menginap di butiknya, katanya untuk memeriksa hasil kerja para penjahit yang sedang membuat gaun-gaun eksklusif untuk peragaan busana.Pagi itu Bu Marianne tidak menemani sarapan, karena sejak kemarin dia ada di butiknya, belum pulang. Ada ART untuk menyiapkan makan. Marco dan Pak Ardi sarapan berdua.“Pa, Kang Zakki kan, sudah pergi. Apakah dia sempat menunjukkan bayinya ke hadapan Papa?”“Belum, katanya nanti saja kalau bayi itu sudah diambil dari ibunya, diberikan ke Anita. Barulah Zakki mau bikin acara syukuran bayi, mungkin di rumah barunya di Se
Marco mendengar papanya dan Zakki sedang membicarakan istri muda Zakki, yang baru melahirkan. Zakki bilang bayinya ada bersama istri mudanya itu. Marco merasa hal itu bukan urusannya, dan jika dirinya nimbrung, mungkin Zakki bakal merasa malu, atau kikuk. Marco memilih tidak segera masuk ke ruang kerja papanya, dia berdiri dekat pintu yang sedikit terbuka.Zakki bicara, “Dia janda, punya dua anak dari pernikahan pertamanya. Suaminya meninggal.”“Nah, sudah tahu dia janda dengan dua anak, terus kamu tambah anak dia jadi tiga. Dan sekarang malah kamu jandakan lagi! Kasihan atuh.”“Sudah perjanjian dari awal Pa, kalau anak sudah lahir, kami berpisah. Dia akan mendapat sejumlah materi.”“Tidak ada wanita yang mau menjadi janda, apalagi untuk kedua kalinya. Lagipula, kamu bilang dia tinggal di kampung. Status janda di kampung itu masih dianggap aib, bikin malu keluarga, dan wanita yang bersangkutan biasanya dipandang remeh banget sama banyak pria di kampung itu.”“Terus aku harus bagaimana
Marco dan Maryam sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung. Mobil yang mereka tumpangi melewati sebuah rumah sakit yang lokasinya berada di Kota Bandung, tapi dekat perbatasan dengan Kabupaten Bandung. Marco tidak percaya waktu Maryam mengatakan bahwa di rumah sakit itulah dia melahirkan.Marco menatap Maryam yang duduk bersamanya di jok tengah mobil. “Maryam, kamu yakin, melahirkan di rumah sakit itu?”“Iya, karena aku kontrol kehamilan juga di rumah sakit itu.”“What?!” Marco lebih kaget lagi, “siapa yang membawamu kontrol kehamilan di rumah sakit itu?”“Ehm ... setelah aku dijemput ke Bandung, mulanya mamamu yang bawa aku periksa kandungan, tapi di rumah sakit bersalin yang dekat kompleks perumahan Mama. Lalu bulan berikutnya, Teh Anita yang mengantar aku kontrol kehamilan, tapi ke rumah sakit yang tadi terlewati itu.”“Jadi Anita yang membawamu ke rumah sakit itu?”“Iya. Memangnya ada apa dengan rumah sakit itu, Bang? Kenapa Abang kayak yang kaget?”“Aku kaget karena rumah sakit
Anita menatap suaminya, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Apa iya, Maryam bisa menggeser posisiku sebagai menantu utama? Sedangkan untuk urusan anak saja, Mama bersedia sekongkol dengan kita untuk mengambil bayinya Maryam.”Zakki menjawab, “Ssst, sudahlah. Bayi itu milik kita, secara hukum dia punya akte kelahiran yang mengesahkan kita sebagai orang tuanya. Jangan lagi bicara kalau kita mengambil anaknya Maryam. Kalau kamu mau hidup tenang mengasuh Calvin, tanamkan dalam benakmu, bahwa Calvin adalah anak kandungku dari bini muda yang sudah dicerai. Sedangkan bayinya Maryam tidak selamat waktu lahir. Begitu saja!”*** Mobil Marco tiba di Kota Cirebon pada siang hari. Mobil itu tidak bisa masuk ke gang yang menuju rumah Maryam. Mobil parkir di tepi jalan, kemudian Marco bergegas masuk gang. Sebenarnya rumah Maryam tidak terlalu jauh dari mulut gang, bahkan dari jalan saja Marco sudah bisa melihat jika di depan warung nasi milik emaknya Maryam sedang ramai pembeli. Beberapa motor te







