LOGINTiba di butiknya, Bu Marianne tidak segera masuk ke ruang kerja, dia menuju sebuah bangunan rumah di belakang butiknya. Rumah itu adalah property miliknya, biasa dijadikan tempat menginap para penjahit jika mereka harus lembur. Sekarang di rumah itu tidak ada penjahit ataupun pegawai butik yang sedang menginap, hanya ada seorang wanita separuh baya yang biasa beres-beres rumah itu. Wanita itu biasa dipanggil Bi Sumi.“Bi, kalau nanti ada wanita menginap di sini, dengan dua bayi, tolong bantu siapkan kamarnya, ya?”“Memangnya siapa, Bu?”“Ada kerabat jauh dari kampung, mau nginap di sini.”Pada awalnya, pengasuhan Calvin diserahkan kepada seorang wanita bernama Sinta, yang merupakan adik kandung Ridan. Sinta juga punya bayi yang usianya sudah 6 bulan. Baru sehari Sinta mengasuh Calvin, Zakki menjenguk ke rumahnya. Zakki merasa perlu untuk melihat kondisi rumah Sinta. Ternyata suami Sinta perokok berat, sering merokok di dalam rumahnya, tanpa memikirkan bayi yang ada di dalam rumah. Zak
Keesokan pagi, selesai mandi, Marco melihat Maryam masih duduk di sajadah, sedang baca kitab suci.“Ayo sarapan!”“Nanti saja, mau selesaikan satu juz lagi.” jawab Maryam.Biasanya Maryam tidak menolak jika diajak sarapan. Kalaupun dia sedang mual dan belum mau makan, dia akan tetap duduk di ruang makan, menemani suami yang sarapan. Namun pagi ini pikiran Maryam digelayuti prasangka buruk terhadap suami, membuatnya malas menemani suaminya sarapan.Pikir Maryam, “Dia pasti hanya basa-basi mengajak sarapan, padahal mungkin sebenarnya dia sudah bosan melihat aku. Buktinya tadi malam dia memilih tidur di sofa. Mungkin dia sudah mati rasa sama aku? Karena dia kecewa, aku tidak bisa melahirkan bayi yang hidup.” Air matanya mengalir lagi.Di ruang makan, Marco melihat mamanya sedang melihat sesuatu pada tab. Marco berdiri di belakang mamanya, penasaran dengan hal yang lagi dilihat oleh mamanya. Ternyata acara peragaan busana.“Ma, peragaan busananya sudah kelar?”“Sudah.” gumam Bu Marianne s
Isi pesan dari kuncen makam:(Anak saya kecelakaan, saya ke RSUD. Mungkin hari lain saja Den Marco ke rumah saya.)Marco teringat bahwa sore itu dia akan datang ke rumah kuncen, untuk membicarakan sesuatu. Sekarang kuncen itu sedang mengurus anaknya yang dirawat di RSUD karena kecelakaan lalu lintas. Marco membalas SMS itu, menanyakan lokasi RSUD. Telah lama kuncen itu bekerja untuk keluarga besarnya, jadi akan lebih baik jika ada keluarga Wiratama yang bergegas menjenguk ketika kuncen itu sedang mendapat musibah.Bengkel tutup pukul delapan malam. Marco segera memacu motornya menuju RSUD. Dia sudah mengirim chat kepada Maryam, bilang akan pulang telat karena menjenguk pegawai yang masuk IGD di RSUD.Di rumah sakit itu Marco bertemu dengan kuncen beserta istrinya. Anak mereka sudah ditangani oleh dokter jaga di bangsal IGD. Kuncen bertutur bahwa anaknya baru mulai kuliah. Dia dalam perjalanan pulang dari kampusnya dengan mengendarai motor. Di sebuah ruas jalan, ada mobil berhenti di t
Marco masih duduk di kursi tamu kantornya, menghadapi Maisaroh, wanita muda yang mengaku sebagai ibu susu untuk bayinya Zakki.Maisaroh berujar, “Saya enggak punya rekening. Tapi setelah melihat kelakuan mertua dan ipar-ipar yang tega mengambil sembako dari rumah saya, akhirnya saya kepikiran untuk menaruh uang di bank. Uang itu pemberian dari ibunya Pak Zakki, saya takut suatu saat ipar datang lagi dan merampas uang saya. Makanya saya bawa uang itu, mau pergi ke bank. Tapi di bus, dompet saya hilang, mungkin dicopet, karena tas saya robek kayak yang kena sayat cutter.”“Teteh datang ke sini niatnya ingin minta ganti rugi?”“Bukan begitu Pak ... tadinya saya kira, bakal ketemu dengan Pak Zakki.”“Kalau ketemu Pak Zakki, memangnya Teteh mau apa?”“Saya mau tanya sama Pak Zakki, apakah Calvin mau lanjut dirawat sama saya? Kalau masih lanjut, saya butuh biaya, karena bahan makanan tidak ada, uang juga hilang.”“Nama bayi itu Calvin?”Maisaroh mengangguk. Marco menatap wanita muda itu, be
Marco didatangi seorang wanita yang menggendong bayi. Wanita itu mengaku bernama Maisaroh, ibu susu untuk bayinya Zakki. Marco mengajak Maisaroh masuk ke dalam ruang kerjanya.Setelah Maisaroh duduk di kursi tamu, bayi usia delapan bulan dalam gendongannya tampak gelisah. Maisaroh segera membuka tasnya, mengeluarkan sepotong biskuit khusus bayi supaya bisa mengalihkan perhatian anaknya. Bayi itu memegang biskuit, dan mulai mengemutnya.Marco memperkirakan usia Maisaroh tidak lebih tua dari dirinya, makanya dia menyebut Teteh kepada wanita itu.“Saya pengin tahu, bagaimana mulanya Teteh bisa mengasuh anaknya Pak Zakki?”Maisaroh menceritakan, bahwa pada mulanya suaminya yang bernama Ridan bekerja sebagai tukang bangunan yang turut merenovasi salah satu kantor bengkel Black Falcon. Waktu renovasi hampir selesai, Ridan lagi mengecat ruangan, Zakki masuk ke ruangan itu untuk melihat hasil kerja tukang. Lalu Zakki menerima telepon. Ridan mendengar ucapan Zakki yang mengatakan bahwa dirinya
“Kemarin dulu kan, waktu saya datang ke rumah kamu, saya sudah kasi uang buatmu. Jumlahnya cukup besar, lho, saya kira cukup untuk biaya hidupmu selama sebulan.”Demikian suara Ibu Marianne yang sempat terdengar oleh Marco. Kemudian ada lanjutannya.“Apa? Kamu kecopetan? Memangnya kamu mau pergi ke mana, sampai kecopetan? Kamu naik angkot? Oh, naik bus kota. Mestinya kamu naik taksi, duit dari saya kan, cukup banyak! Kamu bawa semua uang saat naik bus kota? Ya ampun!”Ada suara notifikasi ke ponsel Ibu Marianne.“Maisaroh, saya ada calling yang urgent, nanti kita bahas lagi masalahmu.”Marco lekas turun dari tangga, berjalan beberapa langkah hingga tiba di ambang pintu ruang setrika. Bu Marianne menuruni tangga dengan perlahan, lantas dia berjalan di teras. Tentu saja dia melihat Marco yang berdiri di depan ruang cuci dan setrika.“Marco, kamu sudah pulang. Kok, Mama enggak dengar suara mobilmu masuk garasi?”“Aku naik motor, Ma. Ehm, Mama ngapain naik ke tempat jemuran, malam-malam b







