로그인Keesokan hari, usai salat subuh, Marco bersiap pergi.“Bang, di luar masih gelap. Mau ke mana?” tanya Maryam.Marco menatap istrinya yang masih pakai mukena, duduk di sajadah, menekuni Alquran. Itulah aktivitas Maryam usai salat subuh. Sering kali Marco melihat mata Maryam yang basah setelah zikir panjang dan membaca Alquran. Mata seorang istri yang merasa dirinya tidak berguna, karena tidak bisa melahirkan bayi yang hidup. Seperti itulah runtuhnya mental Maryam, terpuruk, dan sedang berusaha dibangkitkan lagi semangatnya.Sementara di sana, ada seorang bayi, yang berusaha disembunyikan oleh kakaknya, oleh mamanya. Bayi yang masih dipertanyakan siapa ibu kandungnya. “Aku mau ke vila, kamu mau ikut? Kamu belum pernah diajak ke vila milik keluargaku.” Ingin rasanya Marco mengatakan hal itu, tapi dia berpikir ulang.“Ada keluargaku di vila, mungkin mereka akan membahas tentang bayi itu. Lantas apa yang akan kulakukan ketika aku datang ke hadapan mereka? Aku akan membeberkan semua yang a
Pak Ardi tidak mengerti, kenapa cucunya tidak boleh dibawa ke rumah.Bu Marianne menjelaskan, “Sekarang sudah malam, Pa. Masak mau membawa bayi ini malam-malam? Biarlah Calvin tinggal di vila ini bersama Maisaroh. Biar bagaimana pun, kita ini kan, orang lain buat Maisaroh. Ibu yang lagi menyusui itu mesti dibuat tenang hatinya, supaya lancar ASI. Vila ini cocok untuk tempat tinggal sementara buat Maisaroh. Di sini sepi, Maisaroh bisa lebih bebas tinggal di sini, lebih tenang. Penjaga vila kan, tinggalnya di paviliun bagian belakang, terpisah dari bangunan yang ditempati oleh Maisaroh. Coba kalau Maisaroh tinggal di rumah kita, dia pasti merasa canggung karena banyak orang.”“Di rumah kita juga ada paviliun yang terpisah dari rumah utama, Maisaroh bisa tinggal di paviliun rumah kita, seolah tinggal di rumah pribadi, enggak campur baur dengan yang lain. Kenapa dia mesti tinggal di vila?”“Udara di sini juga lebih segar dan sehat buat bayi.”“Memangnya udara di rumah kita penuh polusi? T
Mobil Marco tiba di jalan menuju vila. Dari kejauhan Marco sudah melihat mobil milik mamanya yang terparkir di halaman depan vila. Marco tidak lanjut melajukan mobilnya memasuki jalan kecil menuju vila milik keluarganya itu, dia malah mengendarai mobilnya menjauhi area tersebut. Marco tiba di jalan desa, lantas dia memilih parkir mobil itu di depan sebuah bengkel kecil yang sudah tutup. Ada orang yang tinggal di bangunan kecil yang jadi tempat menyimpan peralatan bengkel. Marco kenal dengan orang itu. Dia mengetuk pintu.“Eh, ada Den Marco. Ada apa, malam-malam ke sini?”“Kang, mau titip mobil ya.” bisik Marco, “saya mau ke vila, di sana lagi ada keluarga saya. Mereka enggak tahu saya mau datang. Saya mau bikin kejutan, surprise gitu lah.”“Oh, begitu. Ya sudah, taruh saja mobilnya di belakang bengkel ini. Di sini masih lahan punya saya.”Setelah memarkir mobilnya di belakang bengkel itu, Marco kembali menemui pemilik bengkel. “Nuhun atuh Kang, ini ada sedikit buat ngopi malam-malam.”
Zakki yang sedang berada di rumah barunya, di Serang, Banten, menerima chat dari mamanya.Mama: (Papa sudah tahu soal Humaira yang bukan istri sirimu.)Zakki: (Bagaimana Papa bisa tahu?)Mama: (Mungkin Papa menyuruh orang untuk menyelidiki.)Zakki: (Sebatas apa yang diketahui Papa?)Mama: (Sebatas Humaira bukan istri sirimu. Papa marah sekali, mengira bayi itu hanya fiktif. Sekarang Mama sedang dalam perjalanan ke vila Cihideung, karena Papa mau melihat cucunya.)Zakki: (Kalau Papa tahunya sebatas itu, gak apa-apa, aman Ma.)Mama: (Papa tanya siapa ibu dari bayi itu? Mama mesti jawab apa?)Zakki: (Bilang aja gak kenal. Biar nanti aku yang jelaskan sama Papa.)Mama: (Kamu mau datang ke Bandung?)Zakki: (Ya Ma, biar Papa mendengar penjelasan dari mulutku.)Mama: (Mau kamu jawab apa, kalau Papa tanya siapa ibu bayi itu?)Zakki: (Nanti aku pikirkan lagi.)Mama: (Zakki, kalau kamu membuat kebohongan baru, lama-lama bakal ketahuan juga. Papa bisa makin marah.)Zakki termenung setelah menjaw
Pak Ardi makan malam sembari menunggu istrinya pulang. Ketika Bu Marianne tiba di rumah pada pukul 19:40, dia agak kaget melihat suaminya ada di ruang makan. Biasanya Pak Ardi pulang kerja di atas pukul delapan malam, dan sering makan malam di luar rumah.Bu Marianne mencuci tangan di wastafel, lantas duduk di dekat suaminya. Seorang ART datang, menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Bu Marianne, tapi Bu Marianne menggeleng karena dia sudah makan di sore hari bersama staf butiknya.“Maryam ke mana? Dia enggak makan malam?” Bu Marianne menanyakan menantunya.“Jam segini biasanya Neng Maryam lagi baca Alquran di kamarnya. Neng Maryam biasa makan sore jam lima, setelah itu enggak makan lagi sampai besok pagi sarapan. Kecuali kalau Den Marco lagi libur, barulah makan malamnya menyesuaikan dengan kebiasaan Den Marco.” Demikian jawab ART.Selesai makan, Pak Ardi bicara pada istrinya, “Ayo ke ruangan kerja, ada yang mau saya bicarakan!”Dalam ruangan kerja Pak Ardi, yang dihiasi maket gedung
“Apakah santunan dari bos bengkel sudah cukup untuk anak dan cucu Bapak?” tanya Pak Ardi lagi.“Sudah cukup Pak. Saya sekeluarga sebenarnya lebih senang kalau Didin menantu saya masih ada, walau kerja dia hanya jadi ojol dengan motor butut, tapi dia sayang sama istri dan anak-anaknya. Sudah takdir Pak, menantu saya meninggal. Untung masih ada yang mau menyantuni istri dan anak-anak Didin.”“Sampai sekarang bos bengkel masih ngasi uang?”Humaira yang menjawab, “Iya Pak, ditransfer ke rekening saya.”“Berapa yang ditransfer oleh bos bengkel itu?”“Tiga juta, Pak.”Pak Ardi mengerutkan alis. “Tiga juta sebulan?”“Iya Pak.”“Apakah uang tiga juta itu cukup untuk biaya hidupmu dengan tiga anak yang masih kecil?”“Cukup, Pak.” Suara Humaira pelan. “Orang tua saya jualan sayur di pasar. Jadi kalau sayur mah selalu ada, enggak perlu belanja. Di pasar itu, tahu dan tempe harganya diobral kalau sudah siang.”Bapaknya Humaira bicara lagi, “Pak Zakki bilang, enggak akan selamanya ngasi uang, kare
Di rumah sakit, Maryam dibawa ke bangsal IGD. Dokter bertanya, sejak kapan pasien tidak sadarkan diri? Apa yang baru saja dimakannya? Apakah pasien punya penyakit? Apakah dia berada di tempat terbuka yang bersuhu rendah? Dan beberapa pertanyaan lain, yang sulit dijawab oleh para pengantar, karena t
Marco menelepon Hanif untuk mencari tahu tentang keberadaan Maryam.“Aku pengin ketemu Maryam, aku mau minta maaf….”“Sudahlah Marco, nggak perlu lagi mencarinya. Aku yakin dia sudah memaafkan orang yang pernah menyakiti hatinya, menghinanya, memfitnahnya, menuduhnya dengan sangkaan keji…. Dia wani
Ipda. Binsar masih mengobrol dengan Rio. Bahan obrolan adalah tentang Zakki.“Apakah Pak Zakki keluar dari perguruan tinggi kedinasan itu atas kehendak sendiri? Atau dikeluarkan oleh pihak kampus?” tanya Binsar.“Mengundurkan diri.” jawab Rio.“Kenapa?”“Entahlah … mungkin dia merasa tidak cocok de
Inspektur Ekky Wahyudi sedang melihat lagi CCTV TKIT Bunga Bangsa, siapa tahu ada sesuatu hal yang luput dari pengamatannya. Setelah menonton dua kali, sebetulnya dia masih belum menemukan sesuatu yang mencurigakan, kecuali sikap berlebihan orang tua murid yang bernama Dita.Inspektur Ekky bergumam







