Share

Bab 18: Pulang

Auteur: Bemine
last update Date de publication: 2021-10-02 11:35:46

Sejenak aku menimbang-nimbang pilihan berjalan melewati pasangan baru itu atau memilih jalan memutar lewat pintu belakang agar bisa menghindari Bang Hasan dan istri cantiknya. Namun tanpa sengaja, aku malah mendapat tatapan hangat dari Bang Hasan, yang seakan-akan sedang menyambutku pulang. Sebuah tatapan yang sedikit berbeda, dengan yang selama ini dia tunjukkan.

Terpaksa, agar Bang Hasan tidak menyadari jika aku menghindarinya, kedua kaki ini mulai berjalan melewati teras sederhana d

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Nurhayati Sugiharto
kok gemes ya sama Hasan,udah ga peka jadi laki, ga mau panggil Kaka,ikut campur urusan orang,nyesel kali ya,salah pilih
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 79: Di Ujung Kisah Ini

    Bab 79: Di Ujung Kisah IniTiga Bulan KemudianAku menarik napas lega setelah mendengar jawaban dari Bang Hasan di seberang sana. Sudah beberapa jam kami terpisah. Bang Hasan sejak subuh tiba sudah berada di bandara Sultan Iskandar Muda, dan akan terbang bersama teman-teman sekantornya menuju Jakarta. Lagi, Bang Hasan kembali bertugas, kali ini seminggu lamanya.“Abang baru sampai, Sayang?!” ujarnya renyah. Tidak terasa lelah dari lekuk suaranya yang dalam itu. Padahal, aku hampir tidak bisa bernapas, tidak bisa lepas dari gawai serta jam yang terpampang di layar. Setiap detiknya kuhabiskan dengan terus berdoa, agar Bang Hasan selamat dalam perjalanan, tidak kurang suatu apapun.“Alhamdulillah, Bang. Dijemput, ya?” balasku.Kuremas gorden kecoklatan yang menjuntai dari atas itu. Rumah yang sudah direnovasi oleh Bang Hasan lebih kokoh dan bagus, lengkap dengan beberapa perabotan yang dicicil oleh kami bersama. Ada sesuatu yang terasa hilang; kehadiran Bang Hasan di dalam keseharianku.

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 78: Arah Tujuan

    “Apa-apaan ini, Bang Hasan? Keterlaluan sekali kelakuanmu ternyata, pantas kamu pulang-pulang langsung ngawinin Kak Zahrah, ternyata kamu mencari ibu buat anakmu, hah?” tukas Anisya.Aku yang melihat responnya barusan tercengang luar biasa. Dia yang biasanya tidak peduli dengan urusanku, tiba-tiba saja menjadi begitu menggebu-gebu hingga berhasrat untuk mencaci serta memaki Bang Hasan. Bibirnya aktif bergerak, seiring dengan jemari yang terus menunjuk pada Bang Hasan.Walau perutnya bulat dan ketat, Anisya berdiri dengan tegak, memandangi Bang Hasan yang baru saja mengaku di depan kami semua. Anisya membelaku, menentang hal yang akan menyakitiku meski dirinya tidak tahu asal-muasal permasalahannya.“Bang, kamu nikahin Kak Zahrah karena ini, hah? Picik sekali kelakuanmu. Aku makin bersyukur kita bercerai dulu,” selorohnya lagi. “Bisa-bisanya kamu melakukan hal busuk begini untuk Kak Zahrah, Bang? Setelah dulu menyakitinya, dan membuatnya menangis siang dan malam, sekarang kamu menambah

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 77: Hal yang Ingin Kusampaikan

    Aku menarik napas dalam hingga dada ini membusung saat dua tapak kaki menapak di teras rumah yang beralaskan semen. Dingin terasa di ujung jemari, terlebih begitu menyadari jika pintu rumah terbuka lebar dan Si Kembar terlelap di atas sofa. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Anisya yang harusnya menjaga anak-anak menggemaskan itu. Pun Bang Burhan juga tidak terlihat rimbanya.Kuputuskan untuk segera masuk, tidak lupa tetap memberi salam. Bang Hasan menyusul dari arah belakang tanpa mengucapkan sepatah kata selain salam. Dia mengikutiku, memasang wajah bingung dengan kondisi rumah yang seperti kapal pecah. Mainan berhamburan, sepertinya baru dibelikan Bang Burhan untuk anak-anaknya. Sebab seingatku, saat mereka tiba kemarin, tidak ada satu mainan pun dibawanya pulang.Plastik yang membalut susunan pakaian juga tergeletak di lantai. Atasnya telah terbuka, dan sebagian isinya terburai keluar. Sepertinya, hasil dari laundry.“Nisya?” panggilku. Meradang hati ini membayangkan bagaimana dia me

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 76: Seseorang dari Masa Lalu

    “Lain kali jangan sembarangan memanggil nama istriku, Bang!” Bang Hasan menegur sepupunya dengan intonasi yang dalam. Pria itu berdiri tegak, menghalangi sepenuhnya pandanganku dari pria yang pernah singgah di dalam hidup kami berdua. Bang Hasan bahkan tidak bersedia membiarkanku menjawab sapaan Bang Zaky barusan.“Aku tidak suka mendengarnya, terlebih jika itu darimu!” sambung Bang Hasan.Terasa suasana di antara kami kian mencekam. Bang Hasan tersulut emosinya hanya dengan kehadiran Bang Zaky. Padahal pria itu hanya menegur, sebab tidak sengaja bertemu dengan kami di rumah sakit ini.“Santai, San! Santai ....” Dua tangan Bang Zaky terhampar di depan dada Bang Hasan. Sikapnya seolah ingin menegaskan bahwa niatnya tidak lebih dari menyapa. “Aku tidak tahu kalau kamu tidak menyukai saudaramu sendiri.”“Ya, aku memang tidak suka.” Bang Hasan menjawabnya dengan tegas.Kupandangi belakang kepala Bang Hasan. Pria itu tidak bergeming. Meski di antara kami, banyak keluarga pasien yang melint

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 75: Berdiri di Tengah

    “Kenapa diam? Ada apa dengan ekspresimu, Sayang?” tanya Bang Hasan.Dia mendekat padaku hingga jarak kami tidak lebih jauh dari sebilah penggaris. Dua tangannya yang besar dan hangat jatuh di pundakku, lalu sorot mata kami saling beradu. Dari pergerakan pupilnya aku segera tahu jika Bang Hasan sedang mencoba menerjemahkan perubahan dari raut wajah istrinya sendiri.“Mamak masih tidak setuju, Zahrah?” ucapnya.Aku terdiam, lidah ini kelu rasanya. Tidak mungkin kujelaskan bagaimana respon mamak mertua saat keinginan ini sampai padanya. Tapi diam terlalu lama hanya akan membuat Bang Hasan sibuk menduga-duga. Bagaimana solusinya? Apa yang harus kulakukan agar dua orang yang berbagi darah ini tidak saling salah paham nantinya?“Abang akan bicara dengan mamak sekarang!” tegasnya.Bang Hasan telah berdiri saat tangannya berhasil kucegat dengan cepat. Pria itu tidak peduli dengan responku dan terus berjalan sampai aku sedikit terseret olehnya. “Abang?”“Zahrah? Biarkan Abang bicara dengan mam

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 74: Obrolan Sore Itu

    Sore harinya, aku keluar dari kamar usai melaksanakan salat asar. Terdengar suara mamak mertua yang sedang bermain dengan Husein di ruang keluarga. Suaranya yang renyah dan dendang lagunya menandakan betapa senang hati wanita itu.Kuberanikan diri untuk mendekat, menuruni setiap anak tangga dari lantai dua menuju lantai pertama tanpa memindahkan pandangan dari dua insan itu. Guratan wajah mamak mertua begitu ceria, sedangkan si kecil Husein sibuk mendorong mobil-mobilannya dengan tangan gempalnya. Dia tidak rewel, tidak menuntut susu coklat seperti pagi tadi, atau meminta digendong sepanjang hari. Bagiku, Husein cukup mandiri dibanding anak-anak kebanyakan. Mungkin, hati kecilnya paham bahwa dunia yang dimasukinya saat ini bukanlah dunia yang sama dengan yang dihadirkan oleh kedua orang tuanya dulu.“Mau apa Adek?” Mamak mertua memanggil Husein. “Mau apa, Sayang?”Husein mengangkat wajah. Tidak ada jawaban apapun, dia hanya memperlihatkan mobilan truck warna kuningnya. Lalu, seolah me

  • Mencintai Suami Adikku   Bab 54: Akhir Kisah di Kalimantan

    Langit berarak saat kerabat, teman, atasan, mengantar kepergian Erga untuk selamanya. Pria ramah yang disebut-sebut akan naik jabatan lagi itu menghela napas untuk kali terakhir di depan sang istri sesaat sebelum Hasan tiba.Permintaan maaf meluncur dari bibirnya yang dipenuhi darah. Tangan

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
  • Mencintai Suami Adikku   Bab 53: Kisah di Kalimantan

    “Bapak sudah tahu jawabannya, karena itu, tidak seharusnya menawarkan pilihan memuakkan ini denganku. Sebaiknya, simpan sendiri tawaran itu dan kita bisa melanjutkan kehidupan masing-masing tanpa berurusan sama sekali. Soal istri bapak, atau Husein, itu tidak ada kaitannya denganku. Seharus

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-28
  • Mencintai Suami Adikku   Bab 51: Ledakan Emosi

    “Iya, Dek. Alhamdulillah-nya, anaknya beneran dikasih ke kita. Wanita yang tadi, datang-datang malah bikin ulah!” sahut suaminya.Suaranya yang ternyata kemayu membuatku merinding hebat. Keduanya terkikik setelah membocorkan niat hitam yang seharusnya mereka simpan send

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-27
  • Mencintai Suami Adikku   Bab 44: Husein Part II

    Manik mata Bang Hasan memendar mendengar tuduhanku barusan. Niat hati hanya ingin menjebaknya, namun suamiku malah bersikap di luar dugaan. Kami saling menatap dalam keheningan. Tidak ada yang berbicara untuk sesaat, yang menggema hanyalah tangisan tanpa henti dari Husein, dan bujuk rayu d

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-26
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status