LOGINSepasang mata berkacamata mengintip dari balik kerumunan orang-orang yang berteduh dari derasnya hujan. Mata itu milik William. Pemuda yang diam-diam tengah mengamati ke arah toko bunga.Shaynala ada di sana. Berdiri bingung menatap bunga dan payung di tangannya.Gadis itu berkali-kali melirik arlojinya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dengan menggunakan payung tersebut.William tersenyum. Setelahnya, pemuda itu pun turut pergi, berlawanan arah. Berjalan menembus hujan. Basah-basahan dengan hati yang begitu ringan.Tak masalah meski payung satu-satunya ia berikan. Jangankan hanya payung, apa pun ia akan usahakan untuk Shaynala.Sampai di hotel tempatnya menginap bersama sang nenek, William langsung kena omel. Ling Ling marah-marah karena cucu kesayangannya malah hujan-hujanan.“Terus roti pesenan nenek mana?” tanya Ling Ling.“Hah? Astaga! Lupaaa!”Ling Ling berdecak, tetapi tak lanjut marah.“Ya sudah. Mandi sana. Jangan kemana-mana lagi. Harus tidur cepat. Besok kamu harus be
Shaynala meeting bersama timnya di venue pertandingan akan dilaksanan. Selain untuk mengecek tempat dan segala macamnya, ia juga membahas pertandingan yang sudah di depan mata. Johan berkali-kali memberi catatan-catatan penting tentang kelemahan dan kelebihan Shaynala sepanjang latihan. Pria itu juga tak lupa membahas Tingkat kesulitan dari lawan yang akan dihadapi.“Ivana Frederick. Dia juara bertahan. Dia terkenal dengan pukulan mautnya. Hati-hati. tapi setelah kuamati, dia selalu menyasar bagian kiri. Jadi, kamu harus lebih perhatian ke sana. Jangan sampai memberi celah buat si Ivana mukul bagian kirimu.” Johan menejelaskan.Shaynala manggut-manggut, sambil sesekali mencatat. Rapat pun masih berlangsung hingga setengah jam kemudian.Di luar venue, Arsen sudah pegal menunggu. Ia memang menemani Shaynala, menggantikan Hamish yang sedang ada rapat darurat secara daring.“Ah, lama sekali. Kalian ini sekalian bahas dollar yang makin naik itukah? Pantatku sudah tepos tahu gak?” tanya Ars
William berlari dan hampir tersandung trotoar gara-gara mukanya terhalang penuh oleh kibar-kibar daun topi milik Martha yang selebar tempayan. Untung saja di sisinya, dua kawan Ling Ling begitu sigap menariknya agar terus berlari.Beberapa orang menoleh. Terheran-heran melihat gerombolan wanita dengan dress bunga-bunga berlarian seperti tengah dikejar hantu. Ling Ling bahkan sampai mengangkat dressnya hingga selutut agar memudahkannya bergerak.“Haaahhh! Hah! Hah! Hampir sajaaa!” Ling Ling terengah-engah, mengatur napas. Ia dan kawanannya akhirnya bisa menjauh dari restoran tempat Hamish dan Shaynala makan.“Kamu ini bagaimana? Kenapa pilih restoran itu?” Martha protes seraya melepas topinya dari kepala William.“Mana aku tahu kalau Hamish makan di sana. Sepertinya dia mengingap di hotel dekat situ,” jawab Ling Ling.“Di hotel mana kira-kira mereka tinggal. Takut kalau ternyata tahu-tahu satu hotel. Eh, kamu coba tanyakan anakmu. Suruh tanya Hamish dia nginap di hotel mana.” Donna yan
BUGGG!Sebuah pukulan keras mengenai samping kepala Johan yang tertutup pelindung. Pria berdarah Ambon itu terhuyung sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya.“Apa ada hal baik, Nala?” tanya Johan sambil kembali kuda-kuda.“Kenapa memang?” tanya Shaynala dengan mata tetap waspada, memindai gerak-gerik Johan.“Pukulan-pukulanmu hari ini mengerikan. Tapi meski begitu, energimu tak cepat habis. Pasti moodmu sedang baik sekali. Apa ada kabar bagus? Atau karena ini pertandingan resmi terakhirmu?”Shaynala terdiam sejenak. Pikirannya kembali dipenuhi sosok William. Ia senang karena di sesi les kemarin, ia beberapa kali berinteraksi. Tanya jawab dan sempat saling bertukar senyum beberapa kali.BUGGGG!“Hkkk!”Shaynala terpelanting. Ia baru saja kena pukulan Johan.“Sejak kapan di atas ring bisa melamun, Nala? Hah?” teriak Johan galak.Shaynala terengah, lalu kembali berusaha bangkit.“Sudah kukatakan beribu-ribu kali, jangan pernah membiarkan pikiranmu terpecah! Jangan pernah buat kepala
William menggeret kopernya memasuki bandara. Hari ini, ia akan terbang ke Thailand. Perasaannya membuncah-buncah membuatnya tubuhnya panas dingin. Gugup, tegang, senang, juga takut bercampur baur menyesaki dadanya.Ia kemudian berdiri mematung di tengah arus lalu Lalang calon penumpang. Jemarinya mencengkram erat genggaman koper kabin dan paspor yang mulai terasa lembab oleh keringat dingin.“Aku akan kembali bertemu Nala,” gumamnya seraya mendongak. Menatap lurus-lurus sebuah pengumuman jadwal penerbangan elektornik raksasa di hadapannya.Matanya gelisah, memindai baris demi baris teks digital yang terus berganti warna. Mencari satu kata kunci yang sedari tadi membuat jantungnya bertalu: BANGKOK.William mengembuskan napas panjang lewat mulut. Di Bangkok nanti, ia mungkin akan kembali merajut kisah yang sudah lama tersimpan rapi di dalam kotak yang dibiarkan berdebu. Dan ia berharap, perjalanan kali ini akan sukses. Berharap kisahnya bisa berjalan serta berakhir dengan baik.“Will, j
Les online kali itu ditutup dengan hati William yang gelisah. Sosok Arsen yang muncul di ambang pintu kamar Shaynala terus saja terbayang-bayang.“Sejak kapan berandal itu ada di sana?” gumam William. Dadanya terasa sesak dan panas. Iri karena ia tak bisa sedangkan Arsen bisa. Marah karena Arsen begitu leluasa sedangkan ia terpenjara sendiri.“Mereka tak pacaran, kan?” William mulai berpikir yang tidak-tidak. Meski setelahnya ia menggeleng. Yakin, hubungan Shaynala dan Arsen tak sejauh itu. Hamish tak akan sembarangan membiarkan putrinya berhubungan asmara. Apalagi usia mereka juga masih tergolong minor meski di mata hukum sudah termasuk legal.“Walaupun mereka pacaran, memangnya kenapa?” bisik William. Wajahnya mendadak serius. Ia lepas kacamatanya, lalu menatap lama figura foto ia bersama Shaynala.“She’s mine,” bisiknya.“Apa yang jadi milikku akan kembali padaku,” ucapnya. Terdengar begitu obsesif, tetapi memang ia sudah merasa Shaynala adalah bagian dari dalam dirinya.Pemuda i
Kalea menangis saking leganya. Ia berhasil mengirimkan karyanya di detik-detik terakhir.Setelah ketiduran semalam di gudang, ia melanjutkan menggambar di pagi buta dan baru rampung pada pukul sembilan.Masalah berikutnya muncul: pengiriman karya. Kalea tak punya gawai, sedangkan ponsel May dan Dia
“Pergi bersenang-senang saja sendiri! Aku tak mau! Tak perlu menjemputku! Aku akan pergi dengan Tuan Hamish. Dan jangan pernah menghubungiku lagi!”Kalea membaca pesan yang dikirim Hamish dari ponselnya dengan ngeri. “Apa Tuan sudah tak waras?” desisnya.Pesan balasan dari Bobby yang penuh kebingun
Kalea menoleh pada Hamish. Tepat seperti yang diperkirakan pria itu, Kalea menatapnya dengan mata berkaca-kaca—hampir menangis.Hamish merundukkan kepala dan wajahnya hingga sejajar dengan gadis itu. Menunjuk ke tiga orang desainer yang sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.“Kurang lebih,
Kalea mau tak mau datang mendekat. Kepalanya menunduk dengan jari jemari saling bertaut.“Angkat wajahmu!” perintah Hamish.Kalea mendongak, tetapi tak berani menatap mata pria itu. Apalagi dalam jarak sedekat itu.“Apa kamu selalu seperti itu jika sedang marah?” tanya Hamish.“Seperti apa?” tanya







