Share

Bab 269

Penulis: Naiynana
last update Tanggal publikasi: 2026-04-21 17:25:10

“Mati?” Pria tua itu mengerutkan alisnya.

“Ya. Saya ingin dia mati.” Gwen berkata mantap, menatap sungguh-sungguh pria tua yang biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Ageng.

Dulu, ia memang memuja dan begitu mencintai Hamish. Tapi kini, yang tersisa hanya dendam dan ketakutan yang tak berkesudahan.

Gwen ingin mengakhiri segalanya. Ingin terbebas dari kungkungan kecemasan akan kehadiran Hamish. Ia ingin Merdeka. Lepas seutuhnya. Dan baginya, untuk mereguk kebebasan itu adalah dengan tidak ada Hamis
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
Susan Juwita
ayoo nek ling2 kasian kang hamish jangan sampai gwen ritual..
goodnovel comment avatar
Mamta Orrii
ye kan, jgn ambil keputusan saat emosi melanda. pasti ada hal buruk berikutnya yg terjadi
goodnovel comment avatar
Asell asella
semoga nanti ritualnya digagalin sama oma2 ini, trus setannya marah karna ga jd dpt persembahan. akhirnya Gwen yg kena balik tuh santet
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 309

    “Kamu, pindah hotel saja,” ucap Hamish. Intruksi pertamanya pada William setelah diberi tanggung jawab oleh Ling Ling untuk mengurus pemuda itu.“Pindah ke tempatku dan Nala menginap. Nanti aku akan pesankan kamar untukmu.”William langsung tersenyum lebar. Itu dia yang ditunggu-tunggu.“Baik, Pi,” jawabnya sembari mengangguk semangat.“Nanti aku temani kamu bawa barang-barangmu yang ada di hotel sebelumnya. Tapi nanti. Sekarang, aku harus ke rumah sakit dulu. Shaynala wajib melakukan pemeriksaan menyeluruh pasca tanding. Takut ada luka-luka dan cedera yang tak terdeteksi.”William mengangguk lagi.“Kalau begitu kamu beres-beres saja dulu. Nanti pulang dari rumah sakit langsung dijemput,” sambung Hamish.“Sen, kamu temani Willy sana!”“Aku? Tapi aku mau temani Nala ke rumah sakit juga.” Arsen menolak.“Nala ke rumah sakit harus dengan pendampingan pelatih dan orang medis tim. Aku hanya menemani saja. Jadi lebih baik kamu temani Willy saja. Bantu dia siap-siap.” Hamish menepuk pundak

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 308

    Hamish mengendap. Menghampiri dengan langkah tanpa suara.Hamish menelengkan kepala. Menatap bokong yang menyembul dari balik bangku panjang. Alisnya mengerut, melirik William dan pemuda itu malah menyuruhnya mendatangi si pemilik bokong tersebut.Hamish mengendap. Menghampiri dengan langkah tanpa suara. Ia mengulurkan tangannya yang kekar, lalu menepuk pundak yang tertutup blus sutra mahal itu dengan ragu. "Maaf, Nyonya ... sedang cari barang hilang?""Aiyaaa! Kecoak terbang!"Ling Ling melonjak kaget sampai kepalanya membentur sandaran bangku. Martha yang bersembunyi di sebelahnya spontan ikut berteriak dan menjatuhkan tas jinjing Dior-nya ke lantai semen dengan keras. Sementara Donna dan yang lainnya langsung menegakkan tubuh dan buru-buru memasang tampang tak berdosa.Hamish berkedip beberapa kali, mundur selangkah karena syok. "Lho? Kok? Tante Ling Ling? Tante Martha? Sedang apa kalian tiarap di sini?"Ling Ling buru-buru membenarkan letak blusnya, mencoba tersenyum seanggun mung

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 307

    Lampu sorot arena yang tadinya berputar liar kini mengerucut, menyatu dalam satu berkas cahaya emas yang benderang tepat di tengah ring. Musik kemenangan beritme megah menggema dari pelantang suara raksasa, menggetarkan lantai semen dan dada setiap orang yang hadir. Di atas kanvas, sebuah podium portabel tiga tingkat telah digeser masuk oleh para petugas.Shaynala melangkah naik ke puncak podium tertinggi dengan langkah yang masih agak kaku menahan nyeri. Wajahnya tak baik-baik saja. Penuh dengan sisa-sisa pertempuran brutal.Pelipis kirinya dibalut plaster medis tebal, sudut bibirnya sedikit bengkak, dan hidungnya yang sempat berdarah kini telah dibersihkan, menyisakan rona merah yang kontras dengan senyum lebarnya. Jubah tandingnya yang basah oleh keringat berkilau di bawah siraman lampu teater.Gegap gempita di dalam gedung olahraga itu mencapai puncaknya saat Presiden Federasi Tinju Junior melangkah maju membawa nampan beludru merah. Ketika medali emas bermotif ukiran khas Thailan

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 306

    William menganga tanpa sadar, lalu buru-buru mengucek matanya. Tak percaya.“Shaynala senyum padaku, kah?” gumamnya. Masih saja sangsi. Sejak tadi, ia yang tak percaya diri itu terus menerus mengira bahwa Shaynala akan ilfil melihatnya yang kuning, botak, buruk rupa itu.Dan itulah salah satu alasannya mengapa tadi ia buru-buru balik badan dan berniat kabur. Ia tak sanggup mendapat tatapan geli dan jijik dari Shaynala. Tak disangka, gadis itu malah memberikannya senyuman.Katakanlah ia kegeeran, kepedean. Tetapi ia yakin seratus persen jika senyum itu memang ditujukan khusus untuknya. Ya, untuknya seorang.Livia tak seramah itu pada sembarang orang. Tak mudah memberi senyum pada orang yang tak dikenalnya dengan baik.William perlahan tersenyum. Bahunya yang terkulai lesu mendadak terangkat kembali. Duduknya tegap, tak lagi gelisah.Senyum Shaynala bagaikan suntikan vitamin dan obat dari segala keresahannya sejak dari salon sialan itu.Pemuda itu kemudian melepas topinya, lalu mulai me

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 305

    Dulu, William tak pernah absen menemani Shaynala berlatih tinju. Dia pun sering ikut ketika ada turnamen. Dan melihat ekpresi wajah Shaynala yang seperti sekarang, ia tahu. Gadis itu tak baik-baik saja. Shaynala kelelahan. Tak hanya fisik, tetapi juga mentalnya. Gadis itu tengah kewalahan.“Kamu pasti bisa, Nala,” ucap William. Pemuda itu merasa cemas hingga tanpa sadar malah membuka topinya. Tangannya sibuk meremas-remas topi dengan mata tak pernah berpaling dari gadis itu.“Ahh! Sial!” William seketika merunduk saat lampu sorot mengarah ke tribun. Pemuda itu lega karena rupanya ia masih terhalang oleh posisi seorang fotografer yang kini berdiri di depannya.Namun kemudian, baru saja ia menghela napas seraya melonggarkan resleting jaket yang ia tarik sampai dagu, lampu sorot malah menyasar area VIP. Tepat ke deretan kursinya. Kepalanya yang botak terasa mendadak seperti menyala, tersorot cahaya terang benderang.William terkesiap.“Mati aku!”Tak sampai di sana, fotograger yang sejak

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 304

    William berdecak. Tiket yang dibeli olek neneknya rupanya tiket kelas VIP. Itu artinya, ia akan cukup dekat dengan ring. Itu artinya pula bahwa ia akan sangat mudah terlihat oleh Shaynala seandainya gadis itu cukup jeli memperhatikan sekitar.“Kalau tak botak dan tak sekuning kartun The Simpson mungkin aku akan senang. Tapi sekarang … arrghhh!” William menggeram kesal. Jengkel luar biasa. Hanya saja, mau marah pun percuma. Tak akan bisa mengubah apa pun.Dengan dada berdebar, William melangkah turun menyusuri tangga tribun, mendekati area ringside. “Mati aku!” gumamnya. Posisinya ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tali ring, tepat di barisan kursi empuk terdepan. Di satu sisi, ia bisa melihat arena dengan sangat jelas. Di sisi lain, posisinya ini sangat rawan tersorot lampu.Dengan panik, William merapatkan topi beanie-nya hingga sebatas alis dan menaikkan kerah jaketnya setinggi mungkin, berdoa agar tidak ada satu pun kamera yang menyorot wajah "ayam ungkep kuning berjalan"-

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 222

    “Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 230

    “Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 21

    Kalea menoleh pada Hamish. Tepat seperti yang diperkirakan pria itu, Kalea menatapnya dengan mata berkaca-kaca—hampir menangis.Hamish merundukkan kepala dan wajahnya hingga sejajar dengan gadis itu. Menunjuk ke tiga orang desainer yang sedang sibuk dengan komputernya masing-masing.“Kurang lebih,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 16

    Kalea mau tak mau datang mendekat. Kepalanya menunduk dengan jari jemari saling bertaut.“Angkat wajahmu!” perintah Hamish.Kalea mendongak, tetapi tak berani menatap mata pria itu. Apalagi dalam jarak sedekat itu.“Apa kamu selalu seperti itu jika sedang marah?” tanya Hamish.“Seperti apa?” tanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status