LOGINWilliam berdecak. Tiket yang dibeli olek neneknya rupanya tiket kelas VIP. Itu artinya, ia akan cukup dekat dengan ring. Itu artinya pula bahwa ia akan sangat mudah terlihat oleh Shaynala seandainya gadis itu cukup jeli memperhatikan sekitar.“Kalau tak botak dan tak sekuning kartun The Simpson mungkin aku akan senang. Tapi sekarang … arrghhh!” William menggeram kesal. Jengkel luar biasa. Hanya saja, mau marah pun percuma. Tak akan bisa mengubah apa pun.Dengan dada berdebar, William melangkah turun menyusuri tangga tribun, mendekati area ringside. “Mati aku!” gumamnya. Posisinya ternyata hanya berjarak beberapa meter dari tali ring, tepat di barisan kursi empuk terdepan. Di satu sisi, ia bisa melihat arena dengan sangat jelas. Di sisi lain, posisinya ini sangat rawan tersorot lampu.Dengan panik, William merapatkan topi beanie-nya hingga sebatas alis dan menaikkan kerah jaketnya setinggi mungkin, berdoa agar tidak ada satu pun kamera yang menyorot wajah "ayam ungkep kuning berjalan"-
Ling Ling dan kawan-kawannya benar-benar merasa bersalah pada William. Apalagi saat melihat pemuda itu akhirnya meminta dihabiskan semua sisa rambut yang ada di kepalanya.William memilih plontos dibanding harus menanggung rambut dengan model aneh. Paling tidak, rambutnya nanti akan tumbuh kembali.“Aiyaa, Willy. Seumur hidup nenek berdosa padamu.” Ling Ling meraih tangan William yang kuning sesaat setelah rambut cucunya itu dicukur habis.“Iya. Oma juga berdosa padamu. Oma kurang teliti.” Martha ikut mendekat dan meminta maaf.William menatap neneknya juga Martha dan teman-teman mereka yang turut mendekat dari pantulan cermin salon. Jujur, ia masih sangat jengkel. Hatinya sedih sekali dengan kondisinya sekarang, tetapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.Nasi telah jadi bubur. Semua telah terjadi. Tak ada yang bisa merubah apa pun. Tak peduli sekeras apa penyesalan atau menangis darah sekalipun.William menghela napas panjang dan berat, lalu mengangguk pelan.“Sudahlah. Ini bukan salah
“Aaaargghh!” “Aarrggghh!” “Wait! Wait! Arrgghhhh!” “Noooo! Aaarrgggh!”Ling Ling menengok ke arah ruang perawatan tubuh, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Di luar jendela salon, suara klakson tuk-tuk dan hiruk-pikuk Jalan Sukhumvit terdengar bersahut-sahutan, tapi suara teriakan William dari dalam ruangan masih kalah nyaring. Pemuda itu berteriak seolah-olah sedang diinterogasi agen rahasia.“Itu si Willy gak apa-apa, kah?” tanya Donna, cemas.“Lagi diapain dia di dalam? Mana terapisnya dari tadi ngomong Khab-khab terus, jangan-jangan Willy di-SmackDown?” Ling Ling ikut bertanya-tanya, lehernya memanjang berusaha mengintip dari balik tirai sutra khas Thai.“Tenang saja, paling dia lagi dipijat dan dilulur,” jawab Martha menenangkan. “Ini salon tradisional paling populer di Bangkok. Semua lulur, spa, semua racikan sendiri dengan resep-resep kecantikan khas Kerajaan Thailand kuno. Lihat saja review di internet. Ratingnya bagus-bagus.”Para wanita menuju lansia yang sedang menikmati
Sepasang mata berkacamata mengintip dari balik kerumunan orang-orang yang berteduh dari derasnya hujan. Mata itu milik William. Pemuda yang diam-diam tengah mengamati ke arah toko bunga.Shaynala ada di sana. Berdiri bingung menatap bunga dan payung di tangannya.Gadis itu berkali-kali melirik arlojinya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dengan menggunakan payung tersebut.William tersenyum. Setelahnya, pemuda itu pun turut pergi, berlawanan arah. Berjalan menembus hujan. Basah-basahan dengan hati yang begitu ringan.Tak masalah meski payung satu-satunya ia berikan. Jangankan hanya payung, apa pun ia akan usahakan untuk Shaynala.Sampai di hotel tempatnya menginap bersama sang nenek, William langsung kena omel. Ling Ling marah-marah karena cucu kesayangannya malah hujan-hujanan.“Terus roti pesenan nenek mana?” tanya Ling Ling.“Hah? Astaga! Lupaaa!”Ling Ling berdecak, tetapi tak lanjut marah.“Ya sudah. Mandi sana. Jangan kemana-mana lagi. Harus tidur cepat. Besok kamu harus be
Shaynala meeting bersama timnya di venue pertandingan akan dilaksanan. Selain untuk mengecek tempat dan segala macamnya, ia juga membahas pertandingan yang sudah di depan mata. Johan berkali-kali memberi catatan-catatan penting tentang kelemahan dan kelebihan Shaynala sepanjang latihan. Pria itu juga tak lupa membahas Tingkat kesulitan dari lawan yang akan dihadapi.“Ivana Frederick. Dia juara bertahan. Dia terkenal dengan pukulan mautnya. Hati-hati. tapi setelah kuamati, dia selalu menyasar bagian kiri. Jadi, kamu harus lebih perhatian ke sana. Jangan sampai memberi celah buat si Ivana mukul bagian kirimu.” Johan menejelaskan.Shaynala manggut-manggut, sambil sesekali mencatat. Rapat pun masih berlangsung hingga setengah jam kemudian.Di luar venue, Arsen sudah pegal menunggu. Ia memang menemani Shaynala, menggantikan Hamish yang sedang ada rapat darurat secara daring.“Ah, lama sekali. Kalian ini sekalian bahas dollar yang makin naik itukah? Pantatku sudah tepos tahu gak?” tanya Ars
William berlari dan hampir tersandung trotoar gara-gara mukanya terhalang penuh oleh kibar-kibar daun topi milik Martha yang selebar tempayan. Untung saja di sisinya, dua kawan Ling Ling begitu sigap menariknya agar terus berlari.Beberapa orang menoleh. Terheran-heran melihat gerombolan wanita dengan dress bunga-bunga berlarian seperti tengah dikejar hantu. Ling Ling bahkan sampai mengangkat dressnya hingga selutut agar memudahkannya bergerak.“Haaahhh! Hah! Hah! Hampir sajaaa!” Ling Ling terengah-engah, mengatur napas. Ia dan kawanannya akhirnya bisa menjauh dari restoran tempat Hamish dan Shaynala makan.“Kamu ini bagaimana? Kenapa pilih restoran itu?” Martha protes seraya melepas topinya dari kepala William.“Mana aku tahu kalau Hamish makan di sana. Sepertinya dia mengingap di hotel dekat situ,” jawab Ling Ling.“Di hotel mana kira-kira mereka tinggal. Takut kalau ternyata tahu-tahu satu hotel. Eh, kamu coba tanyakan anakmu. Suruh tanya Hamish dia nginap di hotel mana.” Donna yan
Pernikahan Ginna dan Stephen berlangsung begitu meriah. Sebuah ballroom hotel bintang lima yang disulap tema glamorous. Semua tentang kemewahan, keanggunan, dan eksklusif dengan dominasi warna-warna bold.Ling Ling tak henti menangis karena tak menyangka jika putranya akhirnya bisa kembali menikah.
Kalea mengantar Ginna untuk fitting baju pengantin ke Lunare dan setelahnya, mereka pergi untuk berjalan-jalan keliling mall.Hamish senang mendengarnya karena ini adalah kali pertama sang istri mau pergi bersosialisasi ke dunia luar sejak dari rumah sakit. Berharap, Kalea semakin membaik setiap ha
“Dokter sudah meresepkan bermacam-macam buat booster berat badan Eldan. Susu juga yang sekaleng kecilnya hampir setengah gaji saya. Tapi tubuh Eldan tetep saja kecil. Tetep rewel.” Suster bernama Nina itu menjelaskan.“Ini kalau di kampung saya pasti sudah dibully,” sahut Diana. “Pasti ibunya disan
Ginna berdiri di depan pintu rumah Kalea. Gadis itu ingin menjenguk sekaligus memberikan kabar bahagia. Ia datang diantar oleh Ling Ling.Dan saat bertemu, Kalea serta Ginna langsung berpelukan. Keduanya menangis. Lama.“Maaf aku baru datang, Lea. Aku kemarin ingin datang menjengukmu. Tapi Stephen







