Mag-log in"Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," ucap Aurelia dan Caleb secara bersamaan begitu tubuh mereka mendarat di sofa ruang tamu usai mengantar Roland dan Barbara pergi.Caleb terkekeh pelan, menatap istrinya lekat-lekat. "Apa yang ingin kau katakan? Kau dulu yang bicara."Aurelia menggeleng cepat, menyunggingkan senyum lebar yang merekah indah di bibirnya. "Tidak, sebaiknya kau dulu yang mengatakannya."Caleb menarik napas panjang. Pria itu meraih jemari lembut Aurelia, menggenggamnya erat seraya mengusapnya penuh kehati-hatian.Aurelia mendadak merasakan kejanggalan dari perubahan sikap suaminya. Senyum lebar di wajah cantiknya perlahan memudar, berganti raut kewaspadaan yang amat pekat. "Ada apa, Caleb? Apa sesuatu yang buruk terjadi?""Tidak," sahut Caleb kaku, membasahi bibirnya sejenak. "Tidak bisa dikatakan buruk, tetapi juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.""Apa sebenarnya yang terjadi?" desak Aurelia menatap lurus manik mata suaminya tanpa kedipan."Waktu perjalan
"Kau di sini?" tegur Roland menyapa Barbara yang sedang duduk santai di sofa area lounge luar kamar, lengkap dengan cangkir kopi di tangannya.Barbara mengangguk santai, memasang senyum miring yang terpoles tipis di bibirnya. "Memangnya apalagi yang bisa dilakukan wanita pengangguran selain pergi mengunjungi sahabatnya yang kaya raya?"Roland melepaskan tawa renyah mendengar jawaban menohok itu, mendaratkan tubuh tegapnya di kursi tunggal berseberangan dengan Barbara. "Jadi kau benar-benar memutuskan untuk hengkang dari perusahaan Alex?"Barbara menarik napas panjang, meniup uap panas dari cangkir kopinya seraya menatap lurus mata Roland. "Ya, kurasa memang sebaiknya aku keluar dari sana, bukan? Aku takut jika terus bertahan di sana, aku justru mempermalukan diriku sendiri dengan terus mengharapkan cinta darinya."Roland menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, menatap Barbara penuh keheranan. "Kau tidak meluruskan kenyataan yang sebenarnya terjadi padanya?""Untuk apa aku meluruskan ha
"Jadi menurutmu aku sungguh hamil, Barbara?" pekik Aurelia nyaring dengan mata berbinar-binar penuh lelehan rasa haru yang tak terbendung."Kurasa memang seperti itu, Aurel," sahut Barbara mantap seraya menyunggingkan senyum lebar.Aurelia memekik kegirangan, melompat-lompat kecil di atas karpet tebal tanpa mampu menahan letupan kebahagiaan di dadanya."Hentikan gerakan konyolmu itu! Bagaimana jika kau benar-benar sedang hamil?" tegur Barbara panik, menarik pelan lengan sahabatnya."Oh, iya! Kau benar!" Aurelia mendadak menghentikan lompatannya. "Bagaimana kalau aku melakukan tes mandiri dulu sekarang untuk membuktikannya? Oh, Barbara!"Aurelia langsung merengkuh tubuh Barbara, memeluknya erat-erat dengan napas memburu kencang. "Caleb pasti akan sangat senang jika aku sungguh hamil. Pria itu sudah sangat berharap kami bisa memberikan adik untuk Maxi!""Pergilah ke toilet sekarang dan gunakan alat tes kehamilan itu," desak Barbara menunjuk ke arah pintu kamar mandi.Aurelia melangkah c
"Pintu rumahmu bahkan belum terkunci sepenuhnya, dan kau sudah berani mengusir suamimu sendiri?" sindir sebuah suara tajam nan familier dari arah pintu kamar yang masih sedikit terbuka.Aurelia tersentak kaget, menoleh cepat dan mendapati Barbara berdiri bersandar di bingkai pintu dengan pakaian santai, sebuah kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, dan tas tangan branded tergantung santai di siku tangannya."Barbara?" pekik Aurelia membelalak kaget. "Bagaimana bisa kau masuk ke sini tanpa ketukan pintu sama sekali?""Noer yang membukakan pintu depan," sahut Barbara santai, melangkah lebar memasuki kamar dan mendaratkan tubuhnya tanpa permisi di tepi ranjang besar Aurelia. "Dia bilang kau masih berbaring di kamar karena sakit, dan berhubung aku sekarang adalah seorang pengangguran resmi berkelas tinggi, aku memutuskan untuk menghabiskan hariku di rumah mewahmu.""Kau benar-benar sudah mengajukan surat pengunduran diri itu ke kantor Alex?" cecar Aurelia menegakkan posisi duduknya,
"Jangan mendekat! Pergi jauh-jauh dariku!" jerit Aurelia histris seraya mendorong dada tegap Caleb sejauh mungkin hingga pria itu tersungkur jatuh dari atas ranjang.Bugh!Caleb terhenyak kaku di atas karpet, menatap istrinya dengan pandangan membelalak tak percaya. "Ada apa, Aureli? Apa kau baru saja mengalami mimpi buruk?"Aurelia seketika membeku, rasa bersalah mendadak mematuk dadanya saat melihat raut kebingungan di wajah tampan suaminya. Wanita itu menelan ludah kepayahan, lalu berbohong seraya menganggukkan kepalanya cepat. "I-ya, aku merasa seperti baru saja diterkam oleh seekor singa galak."Caleb beranjak naik dari lantai, mendaratkan kembali tubuhnya di samping Aurelia. Pria itu merengkuh bahu halus istrinya, membawanya ke dalam pelukan hangat. "Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya mimpi buruk, kau sudah aman bersamaku."Sensasi mual yang teramat dahsyat mendadak bergejolak hebat di pangkal tenggorokan Aurelia begitu hidungnya menghirup aroma tubuh Caleb. Tanpa ampun, wanita it
"Noer berkata kau memuntahkan sarapanmu lagi tadi pagi," ujar Caleb dengan nada rendah yang dipenuhi kecemasan, mendudukkan tubuhnya di samping Aurelia.Pria itu melingkarkan lengan kekarnya, merangkul pundak halus istrinya seraya mendaratkan pijatan-pijatan lembut yang penuh kehangatan di sana."Kau tahu aku tidak suka bubur, Caleb," sahut Aurelia merengek manja, menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat di dada bidang suaminya. "Makanan lembek itu justru membuat perutku semakin mual dan mulas."Caleb terkekeh halus. Pria itu menyingsingkan kedua lengan kemeja putihnya hingga ke batas siku, memperlihatkan urat-urat tegas di lengan bawahnya."Katakan kau ingin makan apa sekarang," tutur Caleb menatap manik mata istrinya intens. "Aku akan memasakkannya khusus untukmu."Manik mata Aurelia seketika berbinar terang, binar lemas di wajah pucatnya terkikis habis. "Benarkah kau akan memasak untukku hari ini?"Caleb mengangguk mantap seraya bangkit berdiri. Pria itu mengulurkan telapak ta
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku
"Gantikan aku. Untuk malam ini saja." "Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga







