Share

Hamil?

Author: Shinee
last update publish date: 2026-09-29 08:46:11

"Pintu rumahmu bahkan belum terkunci sepenuhnya, dan kau sudah berani mengusir suamimu sendiri?" sindir sebuah suara tajam nan familier dari arah pintu kamar yang masih sedikit terbuka.

Aurelia tersentak kaget, menoleh cepat dan mendapati Barbara berdiri bersandar di bingkai pintu dengan pakaian santai, sebuah kacamata hitam bertengger di atas kepalanya, dan tas tangan branded tergantung santai di siku tangannya.

"Barbara?" pekik Aurelia membelalak kaget. "Bagaimana bisa kau masuk ke sini tanpa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Jangan Rewel

    Maxi kembali melangkah dari arah dapur membawa segelas air hangat yang dipegangnya dengan kedua tangan secara amat berhati-hati. Langkah kaki kecilnya menapak perlahan di atas lantai marmer, memastikan tidak ada satu tetes pun air yang tumpah sebelum sampai di sofa tempat ibunya berbaring."Minum ini dulu, Bu," ujar Maxi menyodorkan gelas tersebut dengan raut wajah seserius seorang dokter senior. "Noer bilang air hangat bisa meredakan mual di perut Ibu."Aurelia membetulkan posisi duduknya, menyandarkan punggung pada bantal sofa seraya menerima gelas itu dari tangan putranya. "Terima kasih, Jagoan Ibu. Kau sungguh memperhatikan Ibu dengan sangat baik."Maxi membusungkan dadanya bangga, mendudukkan tubuhnya di karpet bulu tepat di samping sofa, menyandarkan kepalanya pada paha Aurelia. "Tentu saja. Ayah bilang sebelum pergi, aku adalah pria paling bertanggung jawab di rumah ini sekarang. Jadi aku harus memastikan Ibu dan adik bayi aman."Aurelia menyesap air hangat itu perlahan, merasa

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Aku Jadi Pelindung

    "Jadi, aku sungguh punya adik di dalam sini, Ibu?" tanya Maxi seraya menempelkan telapak tangan mungilnya tepat di atas perut rata Aurelia, menatap ibunya dengan binar mata yang teramat polos dan penuh keajaiban.Aurelia menyunggingkan senyum lembut, mengusap punggung tangan putranya. "Iya, Sayang. Ada calon adikmu yang masih sangat kecil di dalam sana.""Kecil sekali? Sebesar biji buah apel?" cecar Maxi menantikan jawaban, menaikkan sebelah alisnya mirip persis seperti kebiasaan Caleb."Lebih kecil dari itu," pangkas Aurelia terkekeh renyah. "Makanya kau harus membantu Ibu menjaganya baik-baik. Jangan sampai Ibu kelelahan selama Ayah tidak ada di rumah."Maxi menarik tangannya, membusungkan dada tegapnya penuh percaya diri. "Tenang saja, Bu! Mulai sekarang aku akan melarang Ibu mengangkat benda berat dan melarang Ibu makan sembarangan!""Dasar Caleb kecil," gumam Aurelia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah posesif sang putra yang mendadak bangkit seketika.Tiba-tiba, aroma

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Aku Punya Adik?

    "Kenapa kau menangis seolah aku akan pergi untuk selamanya?" bisik Caleb lembut, mendekap erat tubuh ramping Aurelia yang berguncang hebat di dalam pelukannya.Aurelia menyembunyikan wajah sembabnya di ceruk leher Caleb, meremas kain kemeja suaminya tanpa niat melepaskan. "Aku hanya tidak ingin berpisah darimu, Caleb."Caleb mengusap punggung istrinya perlahan, menghirup aroma manis rambut Aurelia. "Apa sebaiknya aku tidak usah pergi saja?"Aurelia menggeleng cepat, namun makin mempererat lingkaran tangannya di pinggang kekar Caleb. "Kau harus pergi. Ini sangat penting, kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Julian sampai tuntas.""Tetapi kau menangis sesenggukan seperti ini," sergah Caleb cemas, merenggangkan pelukan untuk menatap mata sembab istrinya. "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit? Harusnya kita pergi ke dokter sekarang."Aurelia kembali menggelengkan kepalanya pelan, menyapu sisa air mata di pipinya. "Tidak, tidak ada yang sakit. Aku hanya merasa sedikit pusing dan mual."Ca

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Mood Yang Berubah

    "Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," ucap Aurelia dan Caleb secara bersamaan begitu tubuh mereka mendarat di sofa ruang tamu usai mengantar Roland dan Barbara pergi.Caleb terkekeh pelan, menatap istrinya lekat-lekat. "Apa yang ingin kau katakan? Kau dulu yang bicara."Aurelia menggeleng cepat, menyunggingkan senyum lebar yang merekah indah di bibirnya. "Tidak, sebaiknya kau dulu yang mengatakannya."Caleb menarik napas panjang. Pria itu meraih jemari lembut Aurelia, menggenggamnya erat seraya mengusapnya penuh kehati-hatian.Aurelia mendadak merasakan kejanggalan dari perubahan sikap suaminya. Senyum lebar di wajah cantiknya perlahan memudar, berganti raut kewaspadaan yang amat pekat. "Ada apa, Caleb? Apa sesuatu yang buruk terjadi?""Tidak," sahut Caleb kaku, membasahi bibirnya sejenak. "Tidak bisa dikatakan buruk, tetapi juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja.""Apa sebenarnya yang terjadi?" desak Aurelia menatap lurus manik mata suaminya tanpa kedipan."Waktu perjalan

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kekalahan Alex

    "Kau di sini?" tegur Roland menyapa Barbara yang sedang duduk santai di sofa area lounge luar kamar, lengkap dengan cangkir kopi di tangannya.Barbara mengangguk santai, memasang senyum miring yang terpoles tipis di bibirnya. "Memangnya apalagi yang bisa dilakukan wanita pengangguran selain pergi mengunjungi sahabatnya yang kaya raya?"Roland melepaskan tawa renyah mendengar jawaban menohok itu, mendaratkan tubuh tegapnya di kursi tunggal berseberangan dengan Barbara. "Jadi kau benar-benar memutuskan untuk hengkang dari perusahaan Alex?"Barbara menarik napas panjang, meniup uap panas dari cangkir kopinya seraya menatap lurus mata Roland. "Ya, kurasa memang sebaiknya aku keluar dari sana, bukan? Aku takut jika terus bertahan di sana, aku justru mempermalukan diriku sendiri dengan terus mengharapkan cinta darinya."Roland menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, menatap Barbara penuh keheranan. "Kau tidak meluruskan kenyataan yang sebenarnya terjadi padanya?""Untuk apa aku meluruskan ha

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Fix, Hamil

    "Jadi menurutmu aku sungguh hamil, Barbara?" pekik Aurelia nyaring dengan mata berbinar-binar penuh lelehan rasa haru yang tak terbendung."Kurasa memang seperti itu, Aurel," sahut Barbara mantap seraya menyunggingkan senyum lebar.Aurelia memekik kegirangan, melompat-lompat kecil di atas karpet tebal tanpa mampu menahan letupan kebahagiaan di dadanya."Hentikan gerakan konyolmu itu! Bagaimana jika kau benar-benar sedang hamil?" tegur Barbara panik, menarik pelan lengan sahabatnya."Oh, iya! Kau benar!" Aurelia mendadak menghentikan lompatannya. "Bagaimana kalau aku melakukan tes mandiri dulu sekarang untuk membuktikannya? Oh, Barbara!"Aurelia langsung merengkuh tubuh Barbara, memeluknya erat-erat dengan napas memburu kencang. "Caleb pasti akan sangat senang jika aku sungguh hamil. Pria itu sudah sangat berharap kami bisa memberikan adik untuk Maxi!""Pergilah ke toilet sekarang dan gunakan alat tes kehamilan itu," desak Barbara menunjuk ke arah pintu kamar mandi.Aurelia melangkah c

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Kebohongan Kecil

    “Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Aureli

    Tubuh Clarissa tiba-tiba limbung.Cangkir di tangannya terlepas, jatuh ke lantai, pecah dengan suara nyaring yang membuat jantung Aurelia seperti berhenti berdetak sesaat.“Clarissa!”Aurelia berlari, menangkap tubuh kakaknya sebelum benar-benar jatuh. Ia terduduk di lantai ruang keluarga, memangku

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Berhenti Berulah, Aureli

    Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me

  • Mencuri Malam Pertama Kakak Ipar   Bip Panjang

    “Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status