Home / Rumah Tangga / Mendadak Dinikahi Mas Nevan / 6. Tidak mau kehilangan

Share

6. Tidak mau kehilangan

Author: Laradin
last update Last Updated: 2024-08-25 22:44:29

Sudah satu Minggu Nevan ditinggalkan Ivy setelah istrinya itu mengetahui tujuan Nevan menikahinya. Karena singkatnya perkenalan mereka, Nevan juga jadi tidak tahu harus mencari Ivy kemana, ia juga tidak mengenal satu pun teman Ivy yang bisa ia tanyai. Beberapa hari ini Nevan hanya datang ke rumah sakit menjenguk mertuanya berharap Ivy ada di sana. Namun sepertinya Ivy tahu hal itu, maka Nevan tidak pernah bertemu dalam ketidakbetulan itu. Nevan juga tidak bisa cerita ke papanya Ivy soal rumah tangganya khawatir akan memperburuk kondisi beliau.

Di ruang kerjanya yang luas dan sunyi Nevan hanya bisa melamun. Mengingat bayang-bayang wajah Ivy dalam otaknya. Ia tahu ini mungkin terdengar keterlaluan setelah semuanya terjadi, tapi ia benar-benar tidak ingin Ivy pergi dari hidupnya.

"Woy!!! Ada berita bagus! Bukan bagus lagi ini si tapi berita luar biasa!"

Jantung Nevan hampir merosot ke lambungnya mendengar suara pemuda bergaya selenge yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Wajah nya nampak cerah dan bersemangat. Memancarkan aura kegembiraan yang tiada tara. "Keputusan lo buat nikahin si Ivy emang the best, Van. Baru seminggu kalian nikah perusahaan Joshua udah oleng," katanya heboh.

"Jangan berlebihan. Perusahaan Joshua itu perusahaan besar. Gak mungkin langsung oleng cuma karena hal sepele. Ngomong yang bener," tegur Nevan.

Unmesh berdecak seraya menyandarkan punggungnya di tempok. Menatap Nevan heran. "Kenapa gak mungkin? Gini, mungkin karena Joshua lagi galau jadi dia grasak-grusuk ambil keputusan. Takut keduluan sama orang. Terutama lo, jadilah perusahaan nya rugi besar." Entah mengapa pemuda itu tersenyum sombong seolah dirinya lah penyebab masalah perusahaan Joshua.

"Rugi kenapa?" tanya Nevan penasaran. Ia tahu tidak mungkin Joshua dibiarkan mengambil keputusan sendiri. Biasanya dia akan bertanya kepada penasehat bisnisnya. Meski Joshua orangnya tidak sabaran, untuk beberapa hal termasuk masalah soal perusahaan ia akan melibatkan orang lain untuk mengambil langkahnya agar tidak salah jalan.

"Lo udah tau kan pembangunan hotel yang di Bali itu belum dapet izin dari menteri?"

"Setau gue gitu, karena sebelum gue di pecat gue yang ngurusin. Tapi gak tau sekarang."

"Sampe sekarang belum ada izin tapi dia maksain. Pembangunan nya udah di mulai. Dan karena itu, perusahaan Joshua dapet somasi. Bukan cuma menteri si yang gak setuju warga sekitar juga pada gak setuju. Karena menurut analisis tata letak wilayah, kalau nantinya hotel itu benar-benar berdiri, akan ada masalah soal lingkungan. Di tempat itu kan merupakan tempat wisata alam yang harus dijaga keasriannya. Dikhawatirkan kalau hotel itu benar didirikan tidak hanya keasrian wilayah itu yang akan berlahan hilang tapi juga pembangunan hotel juga akan berdampak buruk terhadap lingkungan merambat ke masyarakat dalam jangka waktu panjang."

Nevan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar menjelaskan Unmesh. "Maka dari itu gue milih bikin penginapan sederhana, yang lebih ramah lingkungan dan tidak akan terlalu memakan tempat. Meski kita harus lebih cerdas dalam mencari investor sebab mungkin para investor kurang tertarik, tapi itu cukup menjanjikan. Orang-orang yang datang ke sana kan untuk mencari hiburan sekalian refreshing. Dan mereka pasti akan mencari suasana baru. Hotel memang bisa menyediakan fasilitas mewah dan servis yang bagus. Tapi dengan kita menjaga kelestarian budaya di sana dan tentu kenyamanan pengunjung, orang-orang akan lebih memilih tempat penginapan kita," timpal Nevan.

"Iya, dan ini kesempatan lo buat tarik investor yang mundur dari perusahaan Joshua," kata Unmesh tersenyum penuh makna.

"Ya, pasti."

"Gue si percaya sama lo hahaha. Tapi gue liat-liat beberapa hari ini lo keliatan murung. Kenapa?"

Ditanya begitu Nevan menghela nafas, melepaskan kaca mata anti radiasi nya. "Udah satu Minggu Ivy gak pulang. Menurut lo gue harus gimana?"

"Ya lo cari lah kocak. Cuma dia yang bisa bantu lo buat rebut investor Joshua."

Nevan tercenung.

****

"Gue nginep sehari lagi ya di sini, Is?"

Qaiz Drew, atau yang lebih akrab di panggil Is itu memutar bola matanya malas. Sahabat perempuannya ini sudah seperti gelandangan yang mengemis tempat tinggal. Masalahnya Ivy sudah tinggal di apartemennya selama satu Minggu. Ini bukan soal Qaiz yang tidak mau uang belanjanya bertambah menjadi tiga kali lipat karena Ivy banyak makan. Namun Qaiz khawatir jika Ivy akan di cap sebagai perempuan tidak baik karena menginap di apartemen seorang bujang yang tinggal seorang diri. Apalagi Ivy kini sudah memiliki suami. Apa tidak di tinju nanti jika suami Ivy tahu jika istinya kabur ke apartemen nya?

"Yaudah cere-in si Nevan. Kawin dah sama gue biar lu bisa tinggal di sini semau lu!" Qaiz berkacak pinggang. Menatap jengah sahabat perempuannya itu.

Ivy bangkit dari rebahannya. Memasang wajah malas. "Halah, pake segala ngajak gue kawin. Diajak serius sama pacar sendiri aja ketar-ketir lu!"

"Ya itu mah beda. Gue belum siap jadi suami. Kan kalo gua kawin sama lu gak perlu nunggu siap dulu. Gua gak perlu mempersiapkan banyak uang, karena gua yakin lu bisa cari uang sendiri."

"Yeu itu mah lo gak mau bertanggung jawab."

"Gue kan mau jadi bapak rumah tangga."

"Jidat lo sini gue jadiin tangga," cibir Ivy. "Omong-omong boleh ya gue nginep di sini sehari... Lagi aja. Sebelum gue dapet kontrakan." Dua telapak tangan Ivy menempel memperlihatkan wajah melasnya berharap Qaiz memberi izin.

"Vy, gue bukan gak suka lo tinggal di sini. Gue malah seneng bisa hemat biaya nyuci sama beresin rumah gue karena lo selalu bersih-bersih. Tapi gue gak bisa terus-terusan liat orang yang ngeliatin lo dengan tatapan merendahkan pas tau kalau lo tinggal sama gue. Dan gue juga gak enak sama suami lo, Vy. Kayaknya lo harus pulang dan selesain masalah kalian. Dengan cara lo terus menghindar semuanya bakalan nambah buruk."

Ivy memainkan ujung selimutnya. "Dari awal juga udah buruk, Is. Gue juga gak tau kenapa gue bisa berpikir kalau gue bisa nerima Nevan waktu itu. Padahal dia gak jauh beda sama Joshua. Seumur hidup itu lama, Is." Ivy menunduk merasakan sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya.

"Iya, seumur hidup itu lama maka dari itu lo harus dari sekarang memperbaiki nya. Kalau lo terus menghindar kaya gini gimana ada kemajuan?" sahut Qaiz.

Didalam diamnya Ivy tercenung. Mengatuptukan bibirnya rapat-rapat karena tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Qaiz.

"Masalah itu ibarat tsunami yang gak bisa lo hindarin kedatangannya. Lo cuma punya dua pilihan buat ngehadapinnya. Satu lo harus bertahan dengan berusaha berenang agar lo bisa selamat walaupun gak ada jaminan lo bisa selamat. Kedua lo bisa diem aja dan berakhir akan tenggelam."

"Ya kalau gitu gue mending tenggelam, gue juga gak tau kan akan selamat atau engga saat gue berusaha bertahan? Ngapain cape-capek!"

Qaiz menghela napas panjang. "Lo bener. Secara logika memang manusia akan memilih sesuatu yang pasti daripada memperjuangkan yang gak pasti."

Ivy saat itu setuju, selaras dengan angukan kepalanya yang semangat.

"Tapi dengan lo pasrah dan memilih tenggelam lo gak akan pernah merasa berharga dan berterima kasih kepada diri lo, Vy karena berarti lo udah nyerah. Maksud gue, misal lo liat orang-orang ikut lomba panjat pinang. Mungkin kalau dilihat hadiahnya gak seberapa. Atau lo bisa beli sendiri. Tapi di sisi lain lo juga mau hadiahnya. Sayangnya lo memilih gak ikutan lomba itu. Pasrah, toh lo mikir gak akan bisa manjatin tiang itu. Dan ternyata orang-orang itu bisa naik ke tiang itu berhasil ngambil hadiah itu seraya tersenyum bangga disitu orang-orang itu mendapatkan kebahagiannya. Bukan soal barangnya yang gak seberapa, tapi soal perjuangannya untuk mendapatkan itu. Dan dengan cara itu manusia bisa menghargai apa yang dia sekarang miliki."

"Mengambil tindakan sesuatu memang tidak menjanjikan hasil yang lo inginkan, Vy. Tapi dengan tidak berbuat apa-apa juga masalah tidak akan pergi dengan sendirinya. Berusaha itu tidak melulu soal keberhasilan. Namun proses yang lo lalui, setidaknya lo gak akan nyesel dikemudian hari karena lo gak berbuat apa-apa," imbuh Qaiz.

"Jadi gue harus ngapain?"

"Nanem cabe! Males gue ah." Qaiz berdecak sebal lantas keluar begitu saja dari kamarnya meninggalkan Ivy yang masih mencerna ucapannya.

"JADI GUE HARUS TEMUIN NEVAN, IS?" teriak Ivy berharap Qaiz mendengar ucapannya.

"LEMOT BANGET OTAK LO BUSET! TEMUIN DIA MANFAATIN BALIK!" Rupanya Qaiz masih ada di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   38. Kecelakaan

    “Nevan?”Kerumunan orang-orang itu menatap Ivy iba. Sementara Ivy merasa hidupnya terasa runtuh seketika. Air matanya terurai, kerongkongannya terasa tercekat. Kakinya terasa berat hanya untuk menggapai pintu mobil Nevan.Sore itu hujan semakin deras, sama derasnya dengan tangis Ivy. Perempuan berkemeja putih sudah yang basah kuyup itu mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap Nevan masih dalam keadaan sadar dan segera membukakan pintunya. Orang-orang yang menyaksikan seolah tidak memiliki empati, hanya meluangkan waktu untuk menonton “adegan” dramatis di tengah hujan.Ivy memanggil-manggil nama Nevan. Berulang kali, hingga rasanya suaranya akan habis. Di sela kepanikannya ia menelepon ambulan.“Nevan? Kamu di dalem? Buka pintunya sayang. Ini aku.” Isak tangis Ivy akhirnya membuah kan hasil. Pintu mobil mendadak bisa di buka. Ia yakin ini bukan suatu keajaiban seperti di dongeng-dongeng, Nevan pasti baik-baik saja sehingga ia masih bisa membuka kan pintu mobil untuknya.Ivy segera masuk. Wa

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   37. Hal yang tidak diduga

    “Selamat pagi Bu Ivy.”“Selamat pagi.”Sial, pagi pagi begini Ivy sudah harus bertemu dengan Manda. Apakah ini kualat dari Nevan karena ia tidak menuruti perintah suaminya untuk tidak bekerja? Kedua wanita itu di dalam lift yang sama. Hening, tidak ada yang mulai bicara lagi. Lagi pula mereka tidak begitu akrab untuk sekedar basa-basi. Pun dengan Ivy yang berdoa agar Manda tetap diam dan jangan mengajaknya bicara.Lift terbuka, Ivy keluar lebih dulu. Tapi baru satu langkah ia keluar dari lift ia kembali berbalik, berkata,”Nevan hari ini gak masuk.”Manda tidak bereaksi, tapi setelahnya ia membalas,”Pak Nevan punya nomor saya. Kenapa lewat kamu?”Ivy mengangkat bahunya. “Menurut kamu saya tau jawabannya?”Mereka saling tatap beberapa saat. Seolah saling mengintimidasi satu sama lain. Ivy kembali berbalik, meninggalkan Manda yang dalam bersamaan pintu liftnya tertutup.**Baru pukul sepuluh pagi, ponsel Ivy sudah mendapatkan panggilan teror dari Nevan. Ivy sengaja tidak mengangkat telep

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   36. Demam

    “Menurut lo gue harus gimana sekarang?” Unmesh menoleh. Laju mobilnya praktis melambat ketika Manda menanyakan pertanyaan itu. Tangannya yang terbebas menopang pelipisnya dengan telunjuk, bersandar pada jendela mobil.“Lo mau tau kenapa selama ini gue gak ngasih tau kalau Nevan ada hubungan sama Ivy?”Tidak ada jababan tapi mata Ivy tidak berpaling dari Unmesh, hanya dengan begitu pria itu paham. Dan melanjutkan perkataannya, “mereka udah nikah.” Ia menoleh hanya ingin melihat reaksi Manda akan seperti apa. Tapi sepertinya dugaanya salah, Manda seolah sudah tahu dan hanya tersenyum simetris.“Gue juga gak sebodoh itu. Gue yakin Nevan sama Ivy punya hubungan. Tapi gue masih belum nemu jawaban kenapa mereka rahasiain hubungan mereka?”Mobil mengkilap Unmesh berbelok, jalanan sore ini tidak terlalu padat. Mungkin karena sebentar lagi akan hujan sehingga orang-orang berantisipasi untuk tetep tinggal di rumah daripada harus bergelut dengan dinginnya udara saat hujan.“Mereka gak pernah sal

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   35. Orang jahat

    Wajah Nevan berseri-seri, ia tidak ragu menggenggam tangan Ivy setelah mereka turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam. Namun, Ivy bukan orang yang seperti Nevan, mudah terbiasa dengan suatu perubahan. Ia akan memikirkan banyak kemungkinan dalam kepalanya. Lain kali Ivy harus belajar kepada Nevan soal jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain selama kita nyaman menjalaninya.Nanti malam, mungkin.“Pagi-pagi udah senyum-senyum gitu, abis ngapain lo.” Unmesh menyamakan langkah Nevan dan Ivy, seolah paham Ivy memberi ruang untuk dua pria yang sudah sahabatan bertahun-tahun itu. Perempuan itu melambatkan langkahnya agar berada di belakang Nevan dan Unmesh. Tapi Nevan tidak membiarkannya, tangannya menelusup ke pinggang Ivy supaya istrinya itu tetap berada di sampingnya.“Kalo gue cemberut, berarti kerja lo gak becus,” seloroh Nevan. Unmesh tertawa.“Gila, gue shok waktu lo tiba-tiba marah sama gue. Gue nyadar si kerja gue agak kurang di proyek ini. Tapi denger lo

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   34. Tidak mau hari esok

    “Ivy!”“Apa?”Nevan menyusul istrinya dengan amarah yang sudah memuncak. Tapi melihat wajah Ivy yang lelah dan matanya yang sudah sembab amarahnya langsung redam berganti dengan rasa kasihan. Nevan menghela napas panjang. Ia mengelus puncak kepala Ivy.“Kamu bersih-bersih dulu, terus kita makan, setelah itu kita lanjutin ngobrol lagi,” kata Nevan.Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ivy masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Sembari menunggu Ivy selesai mandi, Nevan merebahkan tubuhnya di sofa. Menyugar rambutnya frustrasi.Pukul satu malam Ivy keluar dari kamar membawa selimut dan satu bantal. Nevan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk mendadak menghentikan aktivitasnya itu. Mereka tidak jadi makan, sebab Ivy mengatakan jika dirinya sudah makan. Pun Nevan yang sudah tidak bisa lama-lama perang dingin dengan istrinya.Ivy duduk di sofa single, mengabaikan Nevan seolah pria itu tidak ada di sana. Rambutnya bahkan belum dia keringkan. Nevan jadi heran, kenapa Iv

  • Mendadak Dinikahi Mas Nevan   33. Pertengkaran hebat

    Sudah pukul 11 malam Ivy baru keluar dari kantor. Lagi-lagi ia harus beralasan lembur untuk menghindari Nevan. Sepertinya kali ini Nevan sudah pulang. Tadi Ivy sempat pura-pura menemui Unmesh yang kebetulan ruangannya dekat dengan ruangan Nevan. Unmesh juga menyinggung soal Nevan yang pulang lebih dulu dan membahas mengenai suasana hatinya yang kurang baik hari ini.Sepertinya Nevan betulan marah. Malam ini Ivy berencana akan tidur di sofa saja. Tidak mungkin kan setelah perang dingin tadi, Ivy tiba-tiba tidur di sampinya. Ia turun menuju lobi. Ia sengaja belum memesan taksi online, agar ia bisa terus mengulur waktu. Kantor sudah sepi, Ivy hanya melihat beberapa sekuriti yang sedang jaga. Ia keluar dari lobi sembari memesan taksi online.Ivy terhenyak saat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya. Ia mematung cukup lama hingga kaca mobil itu diturunkan dan memperlihatkan wajah dingin Nevan yang sialannya terlihat lebih menawan terkena lampu kemuning dari luar. Ivy

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status