Share

Bunda

Penulis: Kara
last update Terakhir Diperbarui: 2024-12-27 17:14:37

Luna menatap lekat ke arah ketiga anaknya dengan perasaan yang masih membuncah bahagia. Raka, Rama dan Rajen nampak tengah tertidur lelap, membuat siapa oun yang melihat adegan tersebut akan merasa jatuh hati. Luna memperbaiki letak selimut Rajen yang melorot. Dia juga ikut mengecup kening anak bungsunya dan dilanjutkan ke kening putra-putranya yang lain.

Jika memutar kembali ingatannya ke kejadian dua tahun yang lalu, Luna masih saja merasa takjub. Anak yang kini sudah tumbuh besar itu pernah tinggal di rahimnya. Rasanya apa yang sudah terjadi itu bagaikan ilusi. Hanya dalam sekejap mata ketiga buah hatinya sudah berusia tiga tahun saja. Apalagi Rajen, bayi yang dulunya terlahir paling kecil di antara kakak-kakaknya juga sudah terlihat bertumbuh dengan sehat.

Dulu Luna selalu merasa was-was karena saat itu Ranen harus di rawat di ruangan khusus bayi yang bermasalah. Tubuhnya yang ringkih juga sampai harus di pasangi berbagai macam kabel dan selang. Tiada hari tanpa air mata kala itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Terpisah di Mall

    Akhir pekan datang dengan cara yang tidak istimewa.Tidak ada rencana besar. Tidak ada janji yang jauh-jauh hari disusun. Pagi itu hanya dimulai dengan Tama yang menutup ponselnya sebentar dan berkata, “Kita ke mall saja, yuk.”Kalimatnya terdengar ringan. Hampir santai.Aluna menoleh dari dapur, sendok masih di tangannya. Ia ragu—bukan karena tidak ingin, tapi karena tubuhnya masih terbiasa dengan ritme rumah yang sunyi di siang hari. Namun ia melihat ke arah anak-anak. Triplets langsung bereaksi, mata mereka berbinar seolah pintu dunia baru baru saja dibuka.“Mall?”“Yang ada mainannya?”“Yang banyak lampu?”Aluna tersenyum kecil. Ia tahu, belakangan ini mereka jarang pergi bersama. Terlalu banyak hari yang lewat begitu saja, masing-masing sibuk dengan versinya sendiri. Mungkin ini memang perlu.“Boleh,” katanya akhirnya. “Tapi pegangan tangan, ya.”Mall menyambut mereka dengan cahaya.Lampu-lampu putih menggantung tinggi. Etalase toko meman

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Rumah yang Sunyi di Siang Hari

    Pagi itu sudah terasa berbeda bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Aluna menyadari saat suara rumah tidak langsung meledak seperti biasa. Tidak ada teriakan berebut kamar mandi. Tidak ada kaki kecil berlari tanpa arah. Suara-suara itu tetap ada tapi tidak terdengar bising. Raka memanggil adiknya, Rama tertawa terlalu keras, dan Rajen mengeluh soal sepatunya. Tapi semuanya terdengar lebih teratur, lebih hati-hati. Seperti anak-anak yang tahu hari ini bukan hari biasa. Seragam mereka sudah rapi sejak malam. Kemeja putih yang masih kaku, celana yang belum sepenuhnya mengikuti bentuk tubuh kecil mereka. Tas-tas yang tergantung di punggung, tampak terlalu besar untuk bahu yang masih sempit. Sepatu hitam mengkilap, solnya bersih, belum banyak mengenal jalan. Aluna berdiri di depan mereka satu per satu. Tangannya bergerak otomatis. Mengecek ke

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Pagi yang Tak Cerah

    Malam datang lebih cepat dari yang Aluna sadari.Setelah mandi dan makan malam, triplets kembali menjadi diri mereka yang biasa. Mereka bercanda kecil, saling menyela, lalu mengantuk hampir bersamaan. Rutinitas malam berjalan seperti biasa tanpa hambatan yang berarti. Seolah kejadian sore itu tidak pernah ada.Aluna membantu mereka naik ke tempat tidur. Ia membacakan cerita singkat, dongeng malam yang menjadi rutinitas. Suaranya pelan dan sedikit serak. Tapi tidak membuat triplets protes, bahkan mereka masih mendengarkan dengan tenang. Tidak berselang lama, mata mereka setengah terpejam dengan tangan kecil mereka yang masih menggenggam erat ujung selimut.“Besok boleh main lagi?” tanya Rama memastikan, suaranya hampir tertelan kantuk.“Kita lihat besok, ya,” jawab Aluna lembut.Ia mematikan lampu kamar anak-anak, menutup pintu perlahan, lalu berdiri sebentar di lorong. Rumah terasa tenang, tapi kepalanya masih ramai. Ia mendengar suara Tama di ruang kerja. Pria i

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Main yang Tak Selalu Menyenangkan

    Sore itu datang dengan cuaca yang nyaris sempurna. Langit tidak terlalu terik, angin bergerak pelan di antara pepohonan kecil di pinggir jalan, dan halaman rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Tawa anak-anak menggema, ringan dan jujur, memantul dari pagar ke pagar seolah sore memang diciptakan untuk mereka. Triplets bermain dengan anak tetangga. Aluna duduk di teras, secangkir teh hangat di tangannya. Ia mengawasi mereka dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tidak juga benar-benar lepas. Posisi yang selama ini ia anggap paling aman. Anak-anaknya tertawa keras, berlarian, sesekali jatuh lalu bangkit lagi tanpa drama. Ada satu anak dari rumah sebelah, sedikit lebih besar, geraknya lebih yakin, suaranya lebih dominan. Untuk sesaat, pemandangan itu terasa… indah. Aluna tersenyum kecil. Pemandangan seperti ini jarang ia nikmati tanpa rasa khawatir. Dunia anak

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru (bag 2)

    Siang datang tanpa banyak perubahan, tapi kejadian pagi itu tidak benar-benar pergi dari benak Aluna. Wanita itu sudah berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, menyiapkan makan siang. Gerakannya rapi, teratur, seperti orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan agar hari tidak berantakan. Namun sesekali, pikirannya melompat kembali ke halaman sebelah, ke kardus yang oleng, ke suara jatuh yang keras, ke tangis singkat yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang.Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.Tapi tetap saja, rasa itu masih tinggal.Triplets kini sudah bermain di ruang tengah. Sesekali mereka melirik ke jendela, memastikan truk pindahan masih ada. Kadang mereka bertanya, “Mama, Tante Mira lagi ngapain?” atau “Mama, nanti boleh main ke sana?” Aluna menjawab singkat, mencoba menjaga antusiasme mereka tetap terkendali.“Nanti, ya," selalu menjadi jawabannya.

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru

    Pagi itu, rumah sebelah tidak seperti biasanya.Sejak matahari belum sepenuhnya naik, suara mesin sudah terdengar. Truk besar berhenti tepat di depan pagar, menutup sebagian jalan kecil yang biasanya lengang. Kardus-kardus diturunkan satu per satu, disusun asal di teras. Ada suara orang berbicara cepat, saling memanggil nama, dan bunyi pintu dibuka-tutup berulang kali.Triplets sudah berdiri di balik pagar sejak suara pertama terdengar.Mereka belum mandi. Rambut masih acak, kaus tidur kusut, tapi mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Tangan kecil mencengkeram besi pagar, wajah mereka menempel terlalu dekat, seolah jarak beberapa meter itu masih kurang.“Mama, itu siapa?”“Mama, rumahnya sekarang ada orang ya?”“Mama, mereka pindah beneran?”Sejak mulai masuk sekolah dan mendengar teman-teman memanggil ibu mereka dengan sebutan mama, triplets pun sempat protes dan ingin mengganti panggilannya.Awalnya Aluna menolak keras, karena dia sudah nyaman

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status