Share

Sixteen

Author: Kara
last update Last Updated: 2022-11-09 12:35:26

"Gue kan udah bilang. Jangan cari pemicu yang bisa buat loe sakit kepala Luna. Ini bahkan belum sehari!"

Aku melirik Lisa yang berdiri di samping ranjangku dengan tangan yang bersedekap. Penampilannya bahkan terlihat sangat berantakan dengan rambut yang kusut karena tertiup angin serta pakaian yang kelihatan lusuh. Dia tidak mengenakan jas labnya.

Tama meminta Lisa untuk segera datang karena kondisiku yang sempat pingsan. Dan dia tidak mentoleransi bentuk terlambat meski pun ini pada Lisa sahabatnya.

Aku menggigit bibirku merasa bersalah. Karena aku semua orang jadi terkena imbasnya, "Maaf. Gue nggak tahu kalau itu bisa mancing ingatan gue."

Dia menggelengkan kepalanya sebelum ikut menjatuhkan dirinya di sisi tempat tidurku yang kosong. Aku dan Lisa sama-sama menyenderkan kepala kami di dashboard tempat tidur dan dia memutar kepalanya agar dapat melihatku.

"Jadi gimana? Mau cerita?" tanyanya.

Dia menatapku intens dan aku hanya dapat melihat ke bawah. Ke arah tanganku yang menempel pad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Pagi yang Tak Cerah

    Malam datang lebih cepat dari yang Aluna sadari.Setelah mandi dan makan malam, triplets kembali menjadi diri mereka yang biasa. Mereka bercanda kecil, saling menyela, lalu mengantuk hampir bersamaan. Rutinitas malam berjalan seperti biasa tanpa hambatan yang berarti. Seolah kejadian sore itu tidak pernah ada.Aluna membantu mereka naik ke tempat tidur. Ia membacakan cerita singkat, dongeng malam yang menjadi rutinitas. Suaranya pelan dan sedikit serak. Tapi tidak membuat triplets protes, bahkan mereka masih mendengarkan dengan tenang. Tidak berselang lama, mata mereka setengah terpejam dengan tangan kecil mereka yang masih menggenggam erat ujung selimut.“Besok boleh main lagi?” tanya Rama memastikan, suaranya hampir tertelan kantuk.“Kita lihat besok, ya,” jawab Aluna lembut.Ia mematikan lampu kamar anak-anak, menutup pintu perlahan, lalu berdiri sebentar di lorong. Rumah terasa tenang, tapi kepalanya masih ramai. Ia mendengar suara Tama di ruang kerja. Pria i

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Main yang Tak Selalu Menyenangkan

    Sore itu datang dengan cuaca yang nyaris sempurna. Langit tidak terlalu terik, angin bergerak pelan di antara pepohonan kecil di pinggir jalan, dan halaman rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Tawa anak-anak menggema, ringan dan jujur, memantul dari pagar ke pagar seolah sore memang diciptakan untuk mereka. Triplets bermain dengan anak tetangga. Aluna duduk di teras, secangkir teh hangat di tangannya. Ia mengawasi mereka dari kejauhan. Tidak terlalu dekat, tidak juga benar-benar lepas. Posisi yang selama ini ia anggap paling aman. Anak-anaknya tertawa keras, berlarian, sesekali jatuh lalu bangkit lagi tanpa drama. Ada satu anak dari rumah sebelah, sedikit lebih besar, geraknya lebih yakin, suaranya lebih dominan. Untuk sesaat, pemandangan itu terasa… indah. Aluna tersenyum kecil. Pemandangan seperti ini jarang ia nikmati tanpa rasa khawatir. Dunia anak

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru (bag 2)

    Siang datang tanpa banyak perubahan, tapi kejadian pagi itu tidak benar-benar pergi dari benak Aluna. Wanita itu sudah berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, menyiapkan makan siang. Gerakannya rapi, teratur, seperti orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan agar hari tidak berantakan. Namun sesekali, pikirannya melompat kembali ke halaman sebelah, ke kardus yang oleng, ke suara jatuh yang keras, ke tangis singkat yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang.Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.Tapi tetap saja, rasa itu masih tinggal.Triplets kini sudah bermain di ruang tengah. Sesekali mereka melirik ke jendela, memastikan truk pindahan masih ada. Kadang mereka bertanya, “Mama, Tante Mira lagi ngapain?” atau “Mama, nanti boleh main ke sana?” Aluna menjawab singkat, mencoba menjaga antusiasme mereka tetap terkendali.“Nanti, ya," selalu menjadi jawabannya.

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru

    Pagi itu, rumah sebelah tidak seperti biasanya.Sejak matahari belum sepenuhnya naik, suara mesin sudah terdengar. Truk besar berhenti tepat di depan pagar, menutup sebagian jalan kecil yang biasanya lengang. Kardus-kardus diturunkan satu per satu, disusun asal di teras. Ada suara orang berbicara cepat, saling memanggil nama, dan bunyi pintu dibuka-tutup berulang kali.Triplets sudah berdiri di balik pagar sejak suara pertama terdengar.Mereka belum mandi. Rambut masih acak, kaus tidur kusut, tapi mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Tangan kecil mencengkeram besi pagar, wajah mereka menempel terlalu dekat, seolah jarak beberapa meter itu masih kurang.“Mama, itu siapa?”“Mama, rumahnya sekarang ada orang ya?”“Mama, mereka pindah beneran?”Sejak mulai masuk sekolah dan mendengar teman-teman memanggil ibu mereka dengan sebutan mama, triplets pun sempat protes dan ingin mengganti panggilannya.Awalnya Aluna menolak keras, karena dia sudah nyaman

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Kejutan Kecil (bag 2)

    Setelah makan malam, rumah perlahan berubah. Riuh yang tadi memenuhi ruang mulai mengendap dan menyisakan suara-suara kecil yang akrab. Triplets duduk di lantai ruang tengah, mainan mereka kini tersusun setengah rapi, setengah ditinggalkan. Energi mereka belum habis sepenuhnya, tapi lelah yang mendera mulai mengalahkan antusiasme.Tama membantu membereskan meja makan. Gerakannya sedikit kikuk, seperti seseorang yang masih mencari posisi di ruang yang seharusnya miliknya. Aluna mencuci piring di wastafel, air mengalir stabil, menciptakan irama lembut yang menenangkan.Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara.Biasanya, Tama akan kembali ke ponselnya. Membalas pesan. Mengecek surel. Menyusun ulang jadwal esok hari. Tapi malam itu, ponsel tetap di saku jaketnya. Diam. Seolah dunia luar bisa menunggu.Ia melirik Aluna dari sudut mata. Wajah itu terlihat tenang, tapi terlalu teratur untuk benar-benar santai. Setiap gerakan seperti sudah dihafal amat sangat efisien,

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Kejutan Kecil

    Sore itu, Tama langsung buru-buru menutup laptopnya sebelum matahari benar-benar turun.Bukan karena pekerjaannya selesai. Justru karena masih ada terlalu banyak yang belum beres dan itu menjadi penyebab ia memilih untuk berhenti.Layar hitam di depannya memantulkan wajahnya sendiri. Mata yang lelah, rahang yang tegang serta garis halus di dahi yang semakin sulit disamarkan. Ia duduk diam beberapa detik, mendengarkan suara pendingin ruangan yang berdengung konstan, seolah kantor ini bernapas sendiri tanpa perlu kehadirannya.Ponselnya bergetar di meja.Satu panggilan masuk.Tama melirik layar sekilas. Nomor yang sangat ia kenal. Biasanya, ia akan langsung mengangkat. Biasanya, ia juga tidak pernah membiarkan satu panggilan pun terlewat. CEO tidak punya kemewahan untuk menghilang, begitu prinsip yang selama ini ia pegang, bahkan ketika tubuhnya sudah meminta jeda.Hanya saja sore itu, ia memutuskan untuk membalikkan ponsel. Memilih untuk tidak mau peduli.Layar padam.Getaran berhenti.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status