Share

4. GUGUP

Penulis: Jinggaaa_
last update Tanggal publikasi: 2024-09-27 00:36:06

“Sepertinya aku sudah mengganggumu pagi ini, tidak biasanya wajahmu terlihat sangat kusut seperti ini ketika aku datang kesini sepagi ini.” Tebak Erik.

“Memang!” Jawab Sagala ketus, “Sekarang cepatlah! Mau apa kau kesini sepagi ini? Jika bukan hal yang penting‒ aku akan memotong gaji mu bulan ini.” Sambungnya lagi.

“Cih! Ancamanmu selalu saja seperti itu.” Ucap Erik Mahendra.

“Cepatlah, Erik Mahendra! Aku belum mandi sekarang, kau jangan membuang-buang waktuku.” Ucap pria itu dan kali ini nada bicara nya penuh dengan penekanan dan ekspresi wajahnya sangat serius.

“Oke-oke. Jadi aku sudah mencari tahu tentang pria itu, yang merupakan mantan kekasih perempuan itu‒ ternyata dia adalah seorang photografer perusahaan kita, dia juga photografer terbaik di kota ini.” Ujar Erik.

“Sementara wanita yang bersama nya di hotel itu, dia adalah saudara tiri perempuan itu dan dia juga salah satu model di perusahaan kita‒ dia baru bergabung di perusahaan kita sekitar tiga bulan yang lalu atas rekomendasi dari pria itu.” Sambungnya lagi.

Tatapannya yang tajam dan dingin membuat paras tampan Sagala semakin terlihat berwibawa, tetapi karena sebuah smirk yang tiba-tiba tercetak di bibirnya saat ini membuat semuanya menjadi terkesan sangat menakutkan.

Beberapa detik kemudian, padangan pria itu beralih pada Erik, “Tahu kan apa yang harus kau lakukan setelah ini?!” tanya Sagala.

“Tenang. Semuanya pasti beres hari ini juga.” Jawab Erik.

Setelah mengatakan itu, Erik segera beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Sagala sebelum dia di usir sang tuan rumah, dan dia juga akan segera melaksanakan perintah dari atasannya itu.

**

Kalula sudah berpenampilan rapi, gadis itu berinisiatif untuk membantu Tika di dapur meskipun maid itu sudah berulang kali melarangnya karena takut jika tuannya sampai melihat, pria itu akan marah.

“Nona Kalula lebih baik duduk saja di sana, biar ini saya yang selesaikan.” Ucap Tika.

“Iya sebentar lagi, aku selesaikan dulu satu masakan ini. Setelah itu aku akan menuruti keinginanmu untuk duduk manis di sana.” Jawab Kalula. Gadis itu sedari tadi terus menerus di usir oleh maid itu, sehingga membuatnya sedikit kesal.

“Ekhem!”

“Apa yang sedang kau lakukan di dapur?”

Terdengar suara deheman dari belakang Kalula dan juga Tika. Seketika mereka langsung berbalik badan. Melihat kedatangan Sagala, membuat Tika langsung menunduk ketakutan. Bagaimana dia tidak takut, karena bisa saja setelah ini dia mungkin akan kehilangan pekerjaan.

“Kemarilah! Dan bantu aku!” ucap Sagala pada Kalula, “Dan kau‒ lanjutkan pekerjaanmu!” titah nya pada Tika.

Setelah itu Kalula bergegas melangkahkan kakinya pada Sagala yang sedang berdiri di dekat meja makan.

“Pasangkan dasiku sekarang.” Titah nya seraya mengulurkan sebuah dasi berwarna hitam pada Kalula dengan ekspresi wajah datar.

Sementara Kalula menatap ke arah dasi itu dan juga Sagala secara bergantian, kenapa tiba-tiba pria itu memintanya untuk memasangkan dasinya.

“Kenapa malah bengong? Cepatlah, aku harus segera pergi ke kantor sekarang.” Ucap pria itu dengan enteng seraya melihat jam di pergelangan tangan.

“Kenapa harus aku? Memangnya kau tidak bisa memasangnya sendiri apa?!” ketus Kalula.

“Aku tidak mau!” sambungnya lagi seraya menarik kursi dan duduk.

Gadis itu tidak menyadari jika Sagala sedang menatapnya dengan tatapan sangat tajam.

“Mulai saat ini, kau harus belajar menjadi kekasih yang baik dan perhatian. Termasuk memakaikan dasi ku setiap pagi.” Ujar Sagala bernada tegas.

“Ck! Memangnya orang yang selama ini membantumu untuk memakai dasi kemana? Kenapa harus aku?!” tanya Kalula.

Padahal Sagala sebenarnya tidak memerlukan bantuan siapapun untuk sekedar memakai dasi miliknya, tetapi entah kenapa pria itu ingin sekali rasanya selalu berdekatan dengan gadis itu. Dia mencoba untuk mencari berbagai cara agar bisa dekat dengannya.

Tanpa berkata lagi Sagala meletakkan kedua tangannya pada bahu Kalula. Kemudian menarik tubuh gadis itu hingga posisi mereka saat ini sangatlah dekat, lalu dia melepaskan satu tangannya dan memberikan dasi yang ada di tangannya itu pada Kalula.

“Sudah jangan banyak protes.” Ucapnya.

Kalula berusaha untuk tetap tenang. Kemudian tangannya terulur dan mulai sibuk membetulkan dasi milik Sagala. Karena sangking gugupnya, gadis itu sedari tadi belum juga selesai, karena tiba-tiba saja dia lupa caranya.

“Astaga! Kenapa aku jadi lupa caranya begini?” lirih Kalula tanpa sadar. Tiba-tiba gadis itu mendongakkan wajahnya karena tangan Sagala memegang kedua tangannya dan membantunya untuk memasang.

Pandangan kedua mata mereka saling bertemu. Terlihat seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya jika orang lain melihatnya. Tiba-tiba ponsel Sagala berdering dengan sangat keras. Tentu dia dan Kalula cukup terkejut. Gadis itu reflak menjauhkan diri dari Sagala. Kemudian dengan gerakan cepat Kalula pergi ke dapur untuk membantu maid membawa sarapan ke meja makan.

Kalula mengusap dadanya beberapa kali. Kini dia bisa bernapas lega.

“Wahh.. sepertinya tuan Sagala diam-diam menyukai anda, nona.” Seru Tika tiba-tiba.

Reflek gadis itu menoleh dan mengerutkan dahinya, apa yang di pikirkan maid itu sehingga dia bisa berpikir seperti itu.

“Kau ini bicara apa? Mana mungkin pria seperti itu bisa menyukai perempuan sepertiku ini.” Ucap Kalula.

“Tidak ada yang tidak mungkin, nona.” Balas maid itu, “Selama saya bekerja di rumah ini, tidak pernah melihat tuan membawa seorang perempuan dan juga bersikap seperti tadi itu.” Sambungnya lagi.

“Ah.. sudahlah. Kau ini bicara apa! Lebih baik sekarang kita cepat bawa ini ke meja makan, sebelum pria itu nanti marah.” Ucap Kalula seraya menoleh ke arah Sagala yang tengah berbicara di telfon.

Setelah menata semuanya di meja makan. Kalula langsung saja mengambil nasi ke atas piring nya dan beberapa lauk tanpa menunggu Sagala terlebih dulu, karena dia sudah tidak ada waktu lain.

Baru saja akan menyuapkan makanan ke dalam mulut, seketika berhenti saat mendengar suara Sagala, “Siapa yang menyuruhmu untuk sarapan lebih dulu, hmm?!” tanya Sagala.

“Ambilkan dulu sarapan untukku, baru kau boleh sarapan.” Titahnya seraya mendudukkan diri tepat di samping kursi milik Kalula.

Meskipun merasa kesal, gadis itu tetap saja menuruti perintah dari pria itu.

“Pria ini kenapa ribet sekali hidupnya! Ngambil tinggal ngambil aja pakai segala acara minta di ambilin, lama-lama yang ada aku ini jadi babu nya.” Gerutu Kalula lirih.

“Tidak usah mengomel!” Seru pria itu.

***

Tepat pukul delapan pagi, Kalula telah sampai di tempat kerjanya. Hari ini dia tidak telat, dan pastinya dia tidak akan mendapat amukan dari atasannya lagi seperti kemarin. Gadis itu segera berganti dengan pakaian kerjanya dan membantu yang lain untuk bersih-bersih sebelum membuka toko.

Namun, beberapa saat kemudian sang menejer pun datang memanggilnya. Pria itu berkacak pinggang dengan tatapan sangat serius.

“Ada apa bapak memanggil saya? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Kalula dengan sopan.

“Hari ini terakhir kamu masuk kerja di toko ini! Mulai besok, kamu gak perlu datang kesini lagi, Kalula.” ucap sang menejer.

Semua karyawan yang mendengar itu pun kaget dan mulai saling bisik-bisik, mereka semua bertanya-tanya mengapa Kalula tiba-tiba di pecat, padahal gadis itu tidak pernah berbuat salah yang sangat fatal selama bekerja di toko itu termasuk juga Kalula.

“Loh! Memangnya saya salah apa ya, pak? Kok tiba-tiba banget?” tanya Kalula.

“Pokoknya kamu di pecat! Ini udah perintah dari pemilik toko ini!” ujar sang menejer, “Sekarang kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu!” sambungnya lagi.

“B-baik, pak.” Balas Kalula. Kemudian gadis itu kembali bekerja, meskipun tidak sesemangat seperti tadi.

Semua rekan kerja nya termasuk Nimas juga langsung menghampiri gadis itu, “Eh.. Kenapa tuh si pak bos kok tiba-tiba banget pecat kamu? Emangnya kamu ada buat kesalahan lagi selain kemarin?” tanya Nimas.

Kalula menggeleng. Bagaimana mau menjawab, dia sendiri saja juga tidak tahu apa alasannya di pecat.

“Ya sudah.. Kamu yang sabar ya, gak usah terlalu di pikirin. Sebentar lagi kamu pasti bakalan dapat ganti pekerjaan yang lebih baik.” Nimas memberikan semangat untuk sahabatnya itu.

“Iya. Benar apa yang di omongin sama si Nimas, kamu gak usah terlalu mikir.” Sahut salah satu rekan kerja nya, “Lebih baik sekarang kita lanjutin aja pekerjaannya, biar pak bos gak marah.” Sambungnya lagi.

****

Jam menunjukkan pukul sembilan malam, dan toko sudah waktunya tutup. Itu artinya, Kalula waktunya pulang. Dia menyelesaikan pekerjaan di hari terakhirnya bekerja di toko itu dengan baik, meskipun dengan wajah lesu.

Semuanya sudah tertata rapi dan gadis itu juga sudah berganti baju nya sendiri, yang lainnya sudah pulang lebih dulu kini tinggal dia seorang diri. Setalah mengunci pintu dan membalikkan badan, gadis itu tersentak karena Kiara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.

“Mau apa lagi kamu menemuiku?” tanya Kalula sinis, “Masih belum puas kamu merebut semuanya?” sambungnya lagi.

“Ha ha ha... Gue puas banget ngeliat lo menderita kaya sekarang!” tawa Kiara seolah mengejek gadis itu.

“Tapi, semuanya belum cukup sebelum lo baca ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 72 - TUDUHAN YANG MENGHANCURKAN

    Kalula semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap sepasang mata Sagala yang kini menyala merah oleh amarah dan tuntutan penjelasan. Air matanya menetes satu per satu, membasahi kain sprei tempatnya duduk. Kamar tidur yang megah itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakka, seolah seluruh pasokan udara telah lenyap.“Jawab aku, Kalula! Jangan cuma menangis!” Bentak Sagala lagi. langkah kakinya yang berat maju satu langkah, membuat ranjang sedikit bergetar ketika ia menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Kalula‒ mengurung wanita itu dalam intimidasi fisiknya.Dengan bibir yang gemetar hebat, Kalula akhirnya memberanikan diri untuk mendongak, “I-iya, Mas... Aku‒ aku memang sedang hamil.”Mendengar pengakuan itu secara langsung, tubuh Sagala mendadak kaku. Amarah yang tadinya meluap-luap seperti hendak membakar seisi ruangan, seketika keterkejutan yang luar biasa. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya.“Hamil?” bisik Sagala, suaranya mendadak

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 71 - PENGAKUAN DI TENGAH AMARAH

    Kalula semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap sepasang mata Sagala yang kini menyala merah oleh amarah dan tuntutan penjelasan. Air matanya menetes satu per satu, membasahi kain sprei tempatnya duduk. Kamar tidur yang megah itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakka, seolah seluruh pasokan udara telah lenyap.“Jawab aku, Kalula! Jangan cuma menangis!” Bentak Sagala lagi. langkah kakinya yang berat maju satu langkah, membuat ranjang sedikit bergetar ketika ia menumpukan kedua tangannya di sisi tubuh Kalula‒ mengurung wanita itu dalam intimidasi fisiknya.Dengan bibir yang gemetar hebat, Kalula akhirnya memberanikan diri untuk mendongak, “I-iya, Mas... Aku‒ aku memang sedang hamil.”Mendengar pengakuan itu secara langsung, tubuh Sagala mendadak kaku. Amarah yang tadinya meluap-luap seperti hendak membakar seisi ruangan, seketika keterkejutan yang luar biasa. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dadanya.“Hamil?” bisik Sagala, suaranya mendadak

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 70 - RAHASIA YANG TERBONGKAR

    Suara teriakan itu seketika merobek tid”ur nyenyak Sagala. Pria itu langsung terduduk di ranjang, matanya terbelalak lebar dengan waspada. Detik berikutnya, ia melihat sang istri sudah tergeletak di dekat gorden balkon sambil menangis histeris.“Kal! Ada apa?!” Sagala melompat dari tempat tidur. Tanpa memperdulikan tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek, yang ia pikirkan saat itu hanyalah langsung menghampiri Kalula dan mendekapnya erat.“D-di luar, Mas... ada orang di luar!” Tunjuk Kalula dengan jari yang gemetar hebat ke arah jendela, “Dia bawa pisau‒ dia mengancam mau membunuhku!”Mendengar hal itu, rahang Sagala mengeras. Amarahnya langsung menyala, “Bajingan!”Sagala bangkit berdiri, hendak menerjang ke arah pintu balkon. Namun, Kalula menahan lengan suaminya dengan kuat‒ wajahnya dipenuhi kepanikan, “Jangan, Mas! Jangan keluar! Dia bawa senjata, aku takut kalau kamu sampai terluka!” Tangis Kalula pecah, meremas lengan kekar Sagala.“Lepas, Kal! Aku harus menangkap bajingan

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 69 - JEJAK DI BALIK JENDELA

    Ketegangan di taman belakang malam itu tidak juga menyurut. Angin malam yang mendadak mati, membuat suasana terasa kian mencekam‒ seolah-olah ada sepasang mata yang benar-benar sedang mengawasi setiap gerak gerik mereka dari balik kegelapan semak-semak taman keluarga Bagaskara. Sagala mempererat pelukannya pada tubuh Kalula yang masih gemetar hebat. Tangan kokohnya mengusap punggung sang istri, mencoba menyalurkan kehangatan serta rasa aman yang saat ini sangat dibutuhkan oleh wanita itu. “Kita masuk sekarang. Di luar sudah tidak aman,” bisik Sagala dengan suara rendah namun penuh penekanan. Kalula hanya bisa mengangguk pasrah. Kakinya terasa lemas seperti jeli, membuat Sagala harus setengah memapah tubuhnya untuk melangkah kembali ke dalam rumah utama. Sesampainya di dalam kamar, Sagala langsung mengunci rapat pintu balkon dan menarik gorden tebal hingga tidak ada sedikit pun celah yang tersisa dari luar. Pria itu berbalik, menatap istrinya yang duduk di tepi ranjang dengan waj

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 68 - SIAPA ORANG MISTERIUS ITU?

    Langit malam yang bertabur bintang menjadi saksi perjalanan mereka menuju rumah. Suara canda tawa Sagala, Mama Elena, dan Kakek Arya memenuhi kabin mobil, menciptakan kehangatan di tengah dinginnya malam. Kalula meski tersenyum sesekali, lebih banyak tenggelam dalam pikirannya sendiri.Pesan misterius yang diterimanya tadi siang terus menghantui, membuat suasana hatinya tak sepenuhnya terhubung dengan keceriaan di sekitarnya.“Kamu baik-baik saja, Nak?” suara berat namun lembut Kakek Arya memecah lamunannya. Tatapan penuh perhatian pria tua itu langsung tertuju ke arah Kalula.“Ah... iya, Kek. Aku baik-baik saja.” Jawab Kalula tergesa, mencoba menutupi kegelisahannya dengan senyum, “Cuma sedikit lelah setelah seharian di kafe.”Elena yang duduk di samping Kalula, menyentuh lembut tangan menantunya, “Kalau kamu lelah‒ istirahat saja, Sayang. Besok biar Mama ya

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 67 - CEMAS DAN GELISAH

    Setelah percakapan telepon dengan Mama mertuanya, Kalula bergegas untuk bersiap berangkat ke kafe milik Mama mertuanya seperti biasa. Dia memilih setelan kasual berupa blus putih sederhana dan celana panjang krem, lalu mengambil tas slempangnya.Sebelum keluar rumah, Kalula menghela napas panjang, “Lupakan dulu, Kal. Sekarang kamu harus fokus dulu di kafe,” gumamnya pada diri sendiri.Setelah itu dia segera keluar dari rumah dan langsung menaiki taksi yang sudah menunggunya di depan pagar. Sopir taksi menyapanya dengan ramah, tapi Kalula hanya menjawab dengan senyuman singkat sembari tenggelam dalam pikirannya sendiri.“Ke Kafe Romania, Pak.” Ucapnya pelan.Sepanjang perjalanan, Kalula memandang keluar jendela‒ menyaksikan keramaian kota yang terasa seperti latar belakang tanpa suara. Suasana hatinya pagi ini terasa berat, tapi dia terus mengingatkan diri untuk tetap tenang.

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 54 - CINTA MENGALIR DI SETIAP RASA

    Keesokan paginya, sinar matahari perlahan merayap masuk melalui celah-celah rumah kayu peninggalan mendiang nenek Rini. Kalula kembali sibuk di dapur, menyiapkan sarapan sederhana untuk suaminya, Sagala, dan Erik. Hari ini dia memutuskan untuk membuat nasi goreng dan telur mata sapi.

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    BAB 53 - HANGATNYA RUMAH

    Matahari semakin tinggi, menandakan waktu istirahat siang bagi para pekerja proyek. Erik memperhatikan sebagian besar dari mereka tampak lelah, dengan keringat membasahi seragam mereka. Ia melambaikan tangan dan memberi isyarat."Kalian istirahat dulu," katanya dengan nada tega

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    7. MILIKKU!

    Pintu ruang aula terbuka. Kalula merasa gugup karena banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, kemudian berjalan masuk menuju pada keluarganya, di depan sudah ada papa, mama dan juga kedua calon mempelai.Mereka semua tengah meatap Kalula dengan tatapan tidak

  • Mendadak Jadi Istri Kesayangan    6. PERNIKAHAN MANTAN

    “Kamu kelihatan tambah cantik, Kalula.” Bisik Mario tepat di samping telinga Kalula seraya meletakkan dagu nya di pundak sebelah kanan gadis itu.“Mario!” sentak Kalula. Gadis itu terkejut, cepat-cepat dia melepaskan kedua lengan Mario yang melingkar di perutnya, “Mario, lepasin!” ujarnya.“Enggak.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status