Mag-log inMalam merambat perlahan, menyisakan kesunyian yang menenangkan di dalam kamar utama yang temaram. Cahaya lampu tidur yang berwarna kuning hangat menciptakan atmosfer yang intim dan damai. Revan sudah meletakkan tablet dan urusan kantornya sejak satu jam yang lalu. Baginya, waktu sebelum tidur adalah momen sakral yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Vera berbaring setengah bersandar pada tumpukan bantal empuk, mengenakan daster satin yang nyaman. Perutnya yang sudah memasuki usia tujuh bulan tampak menonjol indah di balik kain tipis itu. Seperti ritual yang tidak pernah terlewatkan, Revan menggeser tubuhnya mendekat, lalu berlutut di sisi ranjang agar wajahnya sejajar dengan perut Vera. Dengan gerakan yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata paling berharga di dunia, Revan meletakkan telapak tangannya di atas perut Vera. Dinginnya telapak tangan Revan seketika disambut oleh kehangatan k
Mobil putih milik Wilona berhenti tepat di depan lobi apartemen mewah tempat Vera tinggal. Suasana di dalam kabin mobil itu terasa berat, sisa-sisa ketegangan dari mal tadi masih menggantung di udara. Wilona mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke arah Vera yang sejak tadi hanya menatap kosong ke arah luar jendela.Wilona menghela napas panjang, ia merasa sangat mengkhawatirkan kondisi mental sahabatnya itu. "Kamu beneran gapapa, Ver?" tanya Wilona pelan, suaranya melembut, sangat jauh berbeda dengan nada bicaranya yang meledak-ledak saat menghadapi Sari dan Jenny tadi.Vera mengerjapkan mata, mencoba kembali ke realitas. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang sangat dipaksakan. "Aku gapapa, Wil, beneran. Cuma capek sedikit."Wilona mendengus pelan, ia tidak mudah tertipu. "Sumpah Ver, senyum kamu jelek kalau gitu. Jangan dipaksa kalau emang lagi pengen nangis atau maki-maki orang."Vera menunduk, ia memainkan ujung bajunya dengan jemari
Mereka menoleh serempak. Jenny berjalan santai ke arah mereka, satu tangannya sengaja mengusap-usap perutnya yang mulai membuncit, seolah ingin memamerkan eksistensi nyawa di dalamnya. Kali ini ia sendirian, Sari tampaknya masih tertinggal di dalam toko untuk menyelesaikan sesuatu."Mau apa lagi kamu, hah?" seru Wilona dengan nada yang sudah siap untuk meledak. Ia melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya sebagai tameng hidup bagi Vera."Cih, nggak usah ikut campur. Urusan aku itu sama Vera, bukan sama asisten setianya," kata Jenny sinis, matanya menatap Wilona dengan jijik sebelum beralih ke arah Vera.Vera terdiam. Sejak memasuki trimester ketiga, hormon kehamilannya membuat suasana hatinya sangat mudah goyah. Ada rasa lelah yang luar biasa saat melihat wajah Jenny yang selalu penuh dengan tipu daya. Namun, Vera mencoba berdiri tegak, meski tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya."Kita sama-sama hamil, Ver. Tapi lihat kenyataannya
Vera dan Wilona menoleh serempak. Jantung Vera seolah berhenti berdetak sesaat ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Itu Jenny. Dan yang lebih menyakitkan, di belakang Jenny berdiri seorang wanita paruh baya yang sangat Vera kenali, Sari, ibu kandungnya."Mama, aku mau yang ini! Warnanya pas banget sama konsep kamar bayi aku nanti," kata Jenny dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil menggoyang-goyangkan lengan Sari.Pramuniaga itu tampak kebingungan dan serba salah. "Mohon maaf Kak, untuk tipe edisi terbatas ini hanya sisa satu unit ini saja. Dan kebetulan Ibu ini sudah memesannya lebih dulu.""Gak mau! Aku pokoknya mau yang ini, Ma! Masa aku pakai barang yang pasaran? Pokoknya ini harus buat aku!" Jenny merengek, matanya menatap Vera dengan tatapan menantang dan penuh kebencian yang masih sama seperti dulu.Vera masih bergeming. Ekspresi wajahnya mendadak datar, sedatar dinding beton. Ia menatap Sari, wanita yang seharusnya menjadi
Pagi itu, suasana rumah, sudah diwarnai dengan perdebatan kecil yang cukup alot. Revan berdiri di depan pintu kamar dengan wajah yang ditekuk, sementara Vera sedang sibuk merapikan penampilannya di depan cermin. Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nantikan Vera, jadwal belanja perlengkapan bayi bersama Wilona."Ver, kenapa aku nggak boleh ikut? Aku bisa bawakan belanjaannya, aku bisa setir mobilnya, aku bisa pastikan nggak ada orang yang menabrak kamu di mal," ujar Revan dengan nada protektif yang sudah mencapai level maksimal.Vera menghela napas, menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum sabar. "Van, aku cuma mau jalan-jalan santai sama Wilona. Kita mau *thrifting* barang lucu, mau pilih baju yang gemas, dan aku butuh waktu bebas walau sebentar.’’‘’Kalau kamu ikut, setiap lima menit kamu pasti tanya aku capek atau nggak, setiap sepuluh menit kamu suruh aku duduk. Aku malah nggak jadi belanja nanti.""Tapi Ver, kandungan kamu sudah tujuh bulan. Mal itu luas, orang-orang di san
Hari berganti minggu hingga bulan. Tanpa terasa kini usia kandungan Vera sudah hampir memasuki usia tujuh bulan.Sinar matahari sore menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang tamu kediaman mewah Revan dan Vera. Suasana rumah itu kini terasa jauh lebih hidup dibandingkan beberapa bulan lalu yang sempat beku oleh ketegangan. Di atas sofa beludru yang nyaman, Vera duduk bersandar dengan beberapa bantal menyangga punggungnya.Di hadapannya, Bunda Vita dan Wilona sedang asyik menyesap teh melati hangat. Kedatangan dua wanita paling berpengaruh dalam hidup Vera itu selalu berhasil menciptakan tawa dan obrolan yang tak ada habisnya. "Rasanya baru kemarin Bunda dengar kamu hamil, eh sekarang cucu Bunda sudah mau lahir saja," ujar Bunda Vita dengan mata berbinar penuh syukur. Ia mengusap lembut lutut menantunya. "Gimana, Sayang? Ada keluhan kaki bengkak atau susah tidur?"Vera tersenyum manis, wajahnya tampak sangat *glowing* dengan rona bahagia yang alami. "Alhamdulillah, Bun. Seja
Drrtt… Drrtt… Drrtt…Ponsel di atas meja kerja itu kembali bergetar tanpa henti. Getaran kecil itu terasa seperti mengetuk kesabaran Revan yang sejak pagi sudah terkuras oleh pekerjaan. Tumpukan berkas masih menggunung di depannya, proposal yang harus ia pelajari belum juga selesai, sementara emai
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
“Kalau kamu masih utamain dunia kamu,” potong Yudha tegas, “silakan. Biar aku yang mundur.”“Yudhaaa!” Evelyn memanggil, panik. Matanya mulai berkaca-kaca.Yudha bangkit dari kursinya, mengambil jaketnya tanpa menoleh. “Keputusan ada di kamu.”Tanpa menunggu jawaban, Yudha melangkah p
Siang harinya, Wilona terbangun dengan rambut acak-acakan dan mata masih sayu. Kepala terasa sedikit berat, tapi hidungnya menangkap sesuatu yang jauh lebih kuat daripada rasa malas yang menempel di tubuhnya, aroma masakan.Perutnya langsung keroncongan tanpa permisi.Dengan langkah gontai, tanpa







