Share

Bab 2

Author: Sansan
Setelah tidur nyenyak semalaman, keesokan harinya aku bangun pagi-pagi untuk membereskan koper.

Lima tahun lalu, saat aku dan Henry resmi bersama, kami hanya mampu menyewa ruang bawah tanah. Luasnya bahkan tidak sampai 40 meter persegi.

Musim hujan, atap bocor. Musim dingin, angin masuk dari segala arah. Di masa paling sulit, bahkan saat tidur kami harus berpelukan erat. Karena tempat tidur terlalu kecil dan tidak ada pemanas, sedikit saja bergerak, angin dingin langsung menyusup masuk.

Belakangan, ayahku sudah tidak tega melihat kondisiku lagi, juga kasihan melihat tanganku yang radang karena kedinginan. Dia memohon bantuan rekan seperjuangannya, mengatur agar Henry masuk ke perusahaan, lalu perlahan naik sampai menjadi manajer pemasaran.

Dari ruang bawah tanah, kami pindah dan tinggal di kompleks perumahan kelas atas. Setelah membeli seprai sutra yang nyaman, kami tak perlu lagi khawatir menghadapi musim dingin.

Namun, saat tidur, Henry sudah tidak pernah memelukku lagi. Aku pernah diam-diam mengamati, saat dia membelakangiku sambil tersenyum sendiri, dia selalu sedang mengobrol dengan Lindy.

Mereka membahas tim NBA mana yang tampil lebih baik musim ini, membahas pemain bintang League of Legends mana yang performanya menurun. Kadang mereka juga membicarakan situasi dunia, negara mana yang masalah imigrasinya semakin parah, negara mana lagi yang terjadi aksi mogok dan demonstrasi.

Namun pada akhirnya, selalu ada satu topik yang tak pernah berubah.

[ Lagi ngapain? Lihat kakinya. ]

Saat pertama kali mengetahuinya, aku muntah parah dan menangis sambil minta putus. Namun, Henry malah mengirimkanku sebuah foto Lindy yang dirawat di rumah sakit karena patah tulang dan menyindirku.

[ Orang yang hatinya kotor, lihat apa pun pasti kotor. ]

Mengingat semua itu, aku tiba-tiba merinding dan mempercepat gerakan berkemas. Dulu berbuat bodoh masih bisa, tetapi sekarang sudah mau menikah, aku tidak boleh terus merendahkan diri.

Dari pintu terdengar suara kunci dibuka. Henry pulang, membawa satu kotak bakpao yang sudah dingin.

"Semalam ngobrol agak lama sama teman-teman, jadi nginap sembarangan di hotel dekat sana. Kamu tenang saja, aku nggak bareng Lindy." Dia meletakkan kotak makanan itu di atas meja sambil menjelaskannya padaku.

Aku tidak mengangkat kepala, hanya terus melipat pakaian, memasukkannya ke koper, sambil menjawab, "Mm, tahu."

Toh itu tidak berpengaruh padaku. Dia tidur di mana, dengan siapa, itu kebebasannya. Tidak perlu melapor padaku.

Henry tertegun, menatapku dengan wajah tak percaya. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya menahannya.

"Malam Rabu depan kita makan bareng ya? Ajak Om dan Tante juga. Seperti biasa, di Hotel Hugo saja. Bagaimanapun, tinggal dua bulan lagi kita menikah. Memang sudah saatnya bertemu orang tua."

Dia berhenti sejenak, melirikku, lalu melanjutkan, "Sekalian aku ajak Lindy juga. Kemarin aku temani dia bertemu orang tuanya sampai batalin janji dengan kalian. Setidaknya harus minta maaf."

Mendengar itu, tanganku yang menarik koper terhenti sejenak. Minta maaf? Apa masih kurang membuat masalah?

Bertemu orang tua pacar tetapi membawa sahabat perempuan? Aku benar-benar belum pernah dengar hal seperti ini.

Ponselku bergetar. Pesan dari Ibu masuk.

[ Pesawatmu jam berapa sampai? Paul khusus ambil cuti sebulan, nunggu kamu pulang buat coba gaun pengantin. ]

[ Terus soal hotel, semalam dia bergadang pilih beberapa yang bagus. Semuanya sudah dia kirim ke kamu, katanya biar kamu yang tentukan. ]

Aku dan Henry bersama lima tahun. Jangankan cuti demi urusanku, bahkan saat aku sakit demam sampai tak bisa bangun dari tempat tidur, dia tidak pernah mengubah jadwalnya. Sebaliknya, dia selalu mengatakan hal yang sama.

"Karierku lagi naik, setiap langkah sangat penting. Kamu bisa nggak lebih pengertian dan jangan ganggu aku?"

Namun, begitu aku membuka ponsel, aku selalu bisa melihat unggahan baru Lindy. Henry bolos kerja untuk menemaninya mencoba kedai teh susu baru.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 10

    "Aku yang lebih dulu bersalah padanya," kata Henry. Matanya masih menatap pintu masuk gedung."Apa salahmu padanya? Perempuan kaya dan manja seperti dia tahu apa soal ketulusan?"Kebetulan, aku keluar tepat saat mendengar kalimat itu. Begitu melihatku, Henry langsung mendorong Lindy dan berjalan ke arahku, sementara Lindy menariknya agar tidak pergi."Sonya, bisa kita bicara?" Nada suaranya hampir seperti memohon.Lindy mencibir. "Kamu sampai memohon padanya? Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa dia akan memperlakukanmu seperti ini?"Aku terus berjalan menuju mobil yang menungguku. Tiba-tiba, terdengar suara perkelahian dari belakang.Saat menoleh, Henry sedang mendorong Lindy hingga terjatuh ke tanah. Lindy menjerit sambil memaki, lalu bangkit dan mencakar wajahnya.Dua orang yang dulu disebut sahabat itu saling menerkam seperti binatang buas di depan gedung perusahaan, menarik perhatian banyak orang. Sampai akhirnya, ada yang menelepon polisi.Ketika mobil polisi datang, wajah Henr

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 9

    Saat aku menceritakan hal ini kepada Paul, dia terlihat sangat senang. Dia mengusap kepalaku sambil berkata bahwa aku sudah tumbuh dewasa, juga sudah belajar menyembunyikan emosiku.Aku sedikit malu. Sebenarnya aku sudah lama dewasa, hanya saja di matanya aku akan selalu menjadi adik tetangga kecil yang manis dan polos. Dalam hidupku, kemajuan sekecil apa pun selalu layak mendapat pujian darinya.Karena itu, ketika Paul memberitahuku bahwa dia telah mengaturkan sebuah pekerjaan untukku, aku tidak menolak. Aku tahu keluarga Paul beberapa tahun terakhir meraup kekayaan besar dari bisnis dan perusahaannya juga termasuk yang teratas di kota ini.Lagi pula, karena aku sudah memutuskan untuk menikah dengannya, rasanya tak perlu terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti ini.Hanya saja aku tidak menyangka, pekerjaan yang dia atur untukku ini ternyata masih akan berkaitan dengan Henry. Atau lebih tepatnya, Paul yang baru pulang dari luar negeri juga tidak menyangka bahwa Henry ternyata beker

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 8

    Aku mendengarkan kata-kata yang dulu pernah begitu kunanti-nantikan itu, tetapi tak tahu harus berekspresi seperti apa.Aku menatapnya, tiba-tiba merasa pria yang dulu pernah membuatku patah hati setengah mati ini, kini terasa begitu asing. Dia mengira dengan cara seperti ini dia bisa menebus pengkhianatannya padaku? Bisa menebus malam-malam ketika aku menangis sendirian sampai fajar? Salah besar!Di tengah keheningan ini, aku menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah bayangan di bawah pohon tak jauh dari sana. "Sayang, mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana buat lihat?"Sayang?! Begitu kata itu terucap, semua orang tertegun, serempak menoleh ke arah bawah pohon di samping. Tak seorang pun berani percaya bahwa kata "sayang" itu keluar dari mulutku.Paul melangkah keluar dari bayangan. Cahaya matahari jatuh tepat ke tubuhnya. Dia mengenakan kemeja putih sederhana, berkacamata bingkai emas, lengan baju digulung asal. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, senyum samar tampak di sudut bi

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 7

    Mendengar perkataan Henry, kepalaku benar-benar penuh tanda tanya.Kadang aku juga cukup kagum dengan cara berpikir orang ini. Hari itu di pesan singkat, aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas bahwa aku akan menikah, tetapi sekarang dia masih berdiri di sini, bertanya apakah di hatiku masih ada dia. Kalau dia datang sedikit lebih terlambat, mungkin aku sudah punya anak."Henry, kalau aku nggak salah ingat, kita sudah putus, 'kan? Jadi, sekarang kamu ngapain? Menahanku?" Nada suaraku sangat dingin, sama sekali tidak memberinya ruang untuk berkhayal. "Maaf, sudah terlambat.""Aku belum setuju! Aku belum setuju putus sama kamu!" Henry sangat marah. "Kalau kamu masih marah karena Lindy, aku bisa suruh dia minta maaf ke kamu. Sonya, jangan ngambek lagi. Ikut aku pulang ya? Bukannya kita sebentar lagi mau nikah?"Aku mengangguk. "Untuk bersama, memang butuh persetujuanmu. Tapi untuk putus, nggak perlu. Kamu benar, aku memang mau nikah. Sayangnya calon suamiku bukan kamu.""Jangan ngomo

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 6

    Aku mengangguk dan menjawab iya. Karena sudah memutuskan untuk berpamitan dengan masa lalu, mulai sekarang di mata dan hatiku hanya akan ada dia seorang. Soal yang lain, hal-hal yang seharusnya dilupakan, sejak lama sudah kulupakan.....Pernikahanku dengan Paul dijadwalkan dua bulan kemudian. Setiap hari setelah bersama dengannya, hidupku terasa penuh dan bahagia.Sedikit bayangan muram saat baru putus dulu pun sudah lenyap tanpa sisa. Paul perlahan mengisi hidup dan duniaku, sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana dulu Henry bersikeras tidak mau melepaskanku saat kami berpisah.Akhirnya, suatu hari ketika aku berbaring di tempat tidur, aku menerima telepon dari sahabatku, Risty.Risty adalah sahabat terbaikku. Selama bertahun-tahun, setiap detail antara aku dan Henry selalu dia saksikan. Kalau harus ditanya, selain orang tuaku, siapa orang di dunia ini yang paling berharap aku putus dengan Henry, itu sudah pasti Risty.Hari itu, aku seharian berbelanja dan sangat lelah. Aku berbaring

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 5

    [ Sonya, kamu ini nggak ada habis-habisnya ya? ][ Cuma masalah sekecil ini, kamu sampai mau putus sama aku? Kita sudah susah payah sampai sejauh ini, jangan ngomong putus cuma karena emosi. Cepat kembali! ][ Aku tahu kamu masih mempermasalahkan Lindy. Bukannya aku sudah jelaskan semuanya? Antara aku dan dia nggak ada apa-apa, cuma sahabat. Kamu masih ngambek apa lagi? ]Melihat kata-kata yang terus bermunculan di layar, aku merasa agak linglung.Dalam hubungan antara aku dan Henry ini, sejak awal selalu aku yang berkorban, selalu aku yang mengambil inisiatif. Bahkan dulu ketika dia dan Lindy melakukan hal-hal yang sudah kelewat batas, dia tidak pernah sekali pun terlihat sepanik ini.Aku bisa melihatnya dengan jelas. Karena aku bilang aku akan menikah, dia benar-benar panik dan ingin menahanku. Sayangnya, sudah terlambat.Bagiku, cinta dan sikap Henry sudah tidak penting lagi. Dia mau mencintai siapa pun itu urusannya, mau bersahabat dengan siapa pun juga terserah. Semua tidak ada hu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status