Share

Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku
Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku
Author: Sansan

Bab 1

Author: Sansan
Setelah pacaran lima tahun, akhirnya pacarku setuju menemuiku orang tuaku. Namun, saat makan, dia tiba-tiba beralasan ada urusan kantor dan pergi dengan tergesa-gesa.

Aku memaksakan senyuman saat mengantar Ayah dan Ibu pulang, lalu terdiam sambil mengeluarkan ponsel.

Benar saja, sahabat perempuan pacarku kembali mengunggah sesuatu di linimasa.

[ Didesak keluarga buat nikah nggak usah takut, cukup punya pria yang mau menemanimu bertemu orang tua. ]

[ Hadiahnya satu ciuman, teruskan seperti ini ya! ]

Foto pertama memperlihatkan pacarku merangkul lengannya dengan mesra, bersama-sama memberi hormat sambil bersulang kepada para orang tua. Foto lainnya adalah seorang perempuan menempelkan wajahnya ke pipi pria itu dan menciumnya.

Melihat tanda like dari pacarku, aku menutup Instagram dan menelepon ayahku.

"Ayah, aku sudah memikirkannya. Aku mau menikah dengan pria yang Ayah perkenalkan untuk perjodohan itu."

"Ya, dia yang membantuku membuat pilihan."

....

Setelah menutup telepon, aku mengirim pesan putus kepada Henry.

Sesuai dugaan, dia malas membalas, malah menyuruh temannya mengirimkan sebuah video permintaan maaf yang direkam di dalam ruang karaoke.

Di layar yang bergoyang, wajah Henry terlihat biasa saja, seperti setiap hari ketika kami bertengkar lalu berdamai. Tidak panik, tidak menyesal, hanya ada sedikit rasa tidak sabar di wajahnya.

"Sonya, maaf." Dia tersenyum ke arah kamera. "Maaf, aku melewatkan pertemuan orang tua yang sudah kamu persiapkan dengan susah payah. Aku tahu aku salah, lain kali pasti aku perbaiki. Jangan marah lagi ya."

Aku menatap video itu dengan ekspresi hampa. Baru saja hendak menekan keluar, aku melihat Henry menoleh dan pandangannya jatuh pada Lindy yang duduk di sampingnya. Penuh kasih sayang sekaligus tak berdaya.

"Aku sudah minta maaf ke Sonya sesuai yang kamu bilang. Sekarang kamu pasti senang, 'kan?"

Kamera beralih ke Lindy. Dia mengenakan atasan bahu terbuka dengan garis leher rendah. Begitu mendengar itu, dia langsung merangkul leher Henry dan tertawa riang.

"Begitu dong! Aku paling nggak tega lihat gadis kecil seperti Sonya nangis. Kalau kamu nggak minta maaf yang benar dan membujuknya balik, aku pasti akan menghajarmu!"

Setelah berkata begitu, dia menekan kepala Henry ke dadanya, pura-pura hendak memukul. Orang-orang di sekeliling pun tertawa, begitu juga Henry.

Hanya aku yang tidak bisa tertawa. Aku teringat pertama kali Henry meninggalkanku demi Lindy, dia sangat panik. Takut aku minta putus.

Setelah mengantar Lindy, dia langsung pulang dan memohon maaf padaku. Katanya dia hanya menjaga perasaan teman, bukan sengaja. Katanya lain kali pasti tidak akan begitu lagi dan memintaku tenang.

Kali kedua dia meninggalkanku, dia terjebak macet dan meneleponku tujuh atau delapan kali. Katanya ini tidak disengaja. Dia segera pulang, menyuruhku jangan cemas dan tidur lebih awal.

Kali ketiga, bahkan tidak ada telepon. Hanya satu tangkapan layar tiket pesawat.

[ Liburan bareng sahabat dekat, lupa ngabarin kamu. ]

[ Jangan mikir macam-macam. Nanti setelah aku puas main, aku pulang temui orang tuamu. Akhir tahun kita nikah. ]

Sekarang, akhir tahun tinggal dua bulan lagi. Aku sudah membuat janji dengan Ayah dan Ibu untuk bertemu dengan Henry secara resmi. Namun, dia kembali membatalkan janji. Bahkan permintaan maafnya pun demi menyenangkan perempuan lain.

Mengingat wajah Ayah yang marah di meja makan, tatapan Ibu saat pergi yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan, serta tanda like Henry yang sama sekali tidak peduli padaku, akhirnya aku mengerti.

Pernikahan adalah usaha dua orang, penyesuaian dua keluarga. Kalau satu orang saja, tidak ada gunanya.

Aku harus mengganti calon pasanganku.

....

Malam itu, Henry tidak pulang. Dia juga tidak lagi mengirim satu pesan pun atau menelepon sekali pun.

Aku tidak peduli, tidak bertanya, dan menambahkan kontak pria yang Ayah perkenalkan untuk perjodohan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 10

    "Aku yang lebih dulu bersalah padanya," kata Henry. Matanya masih menatap pintu masuk gedung."Apa salahmu padanya? Perempuan kaya dan manja seperti dia tahu apa soal ketulusan?"Kebetulan, aku keluar tepat saat mendengar kalimat itu. Begitu melihatku, Henry langsung mendorong Lindy dan berjalan ke arahku, sementara Lindy menariknya agar tidak pergi."Sonya, bisa kita bicara?" Nada suaranya hampir seperti memohon.Lindy mencibir. "Kamu sampai memohon padanya? Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa dia akan memperlakukanmu seperti ini?"Aku terus berjalan menuju mobil yang menungguku. Tiba-tiba, terdengar suara perkelahian dari belakang.Saat menoleh, Henry sedang mendorong Lindy hingga terjatuh ke tanah. Lindy menjerit sambil memaki, lalu bangkit dan mencakar wajahnya.Dua orang yang dulu disebut sahabat itu saling menerkam seperti binatang buas di depan gedung perusahaan, menarik perhatian banyak orang. Sampai akhirnya, ada yang menelepon polisi.Ketika mobil polisi datang, wajah Henr

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 9

    Saat aku menceritakan hal ini kepada Paul, dia terlihat sangat senang. Dia mengusap kepalaku sambil berkata bahwa aku sudah tumbuh dewasa, juga sudah belajar menyembunyikan emosiku.Aku sedikit malu. Sebenarnya aku sudah lama dewasa, hanya saja di matanya aku akan selalu menjadi adik tetangga kecil yang manis dan polos. Dalam hidupku, kemajuan sekecil apa pun selalu layak mendapat pujian darinya.Karena itu, ketika Paul memberitahuku bahwa dia telah mengaturkan sebuah pekerjaan untukku, aku tidak menolak. Aku tahu keluarga Paul beberapa tahun terakhir meraup kekayaan besar dari bisnis dan perusahaannya juga termasuk yang teratas di kota ini.Lagi pula, karena aku sudah memutuskan untuk menikah dengannya, rasanya tak perlu terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti ini.Hanya saja aku tidak menyangka, pekerjaan yang dia atur untukku ini ternyata masih akan berkaitan dengan Henry. Atau lebih tepatnya, Paul yang baru pulang dari luar negeri juga tidak menyangka bahwa Henry ternyata beker

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 8

    Aku mendengarkan kata-kata yang dulu pernah begitu kunanti-nantikan itu, tetapi tak tahu harus berekspresi seperti apa.Aku menatapnya, tiba-tiba merasa pria yang dulu pernah membuatku patah hati setengah mati ini, kini terasa begitu asing. Dia mengira dengan cara seperti ini dia bisa menebus pengkhianatannya padaku? Bisa menebus malam-malam ketika aku menangis sendirian sampai fajar? Salah besar!Di tengah keheningan ini, aku menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah bayangan di bawah pohon tak jauh dari sana. "Sayang, mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana buat lihat?"Sayang?! Begitu kata itu terucap, semua orang tertegun, serempak menoleh ke arah bawah pohon di samping. Tak seorang pun berani percaya bahwa kata "sayang" itu keluar dari mulutku.Paul melangkah keluar dari bayangan. Cahaya matahari jatuh tepat ke tubuhnya. Dia mengenakan kemeja putih sederhana, berkacamata bingkai emas, lengan baju digulung asal. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, senyum samar tampak di sudut bi

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 7

    Mendengar perkataan Henry, kepalaku benar-benar penuh tanda tanya.Kadang aku juga cukup kagum dengan cara berpikir orang ini. Hari itu di pesan singkat, aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas bahwa aku akan menikah, tetapi sekarang dia masih berdiri di sini, bertanya apakah di hatiku masih ada dia. Kalau dia datang sedikit lebih terlambat, mungkin aku sudah punya anak."Henry, kalau aku nggak salah ingat, kita sudah putus, 'kan? Jadi, sekarang kamu ngapain? Menahanku?" Nada suaraku sangat dingin, sama sekali tidak memberinya ruang untuk berkhayal. "Maaf, sudah terlambat.""Aku belum setuju! Aku belum setuju putus sama kamu!" Henry sangat marah. "Kalau kamu masih marah karena Lindy, aku bisa suruh dia minta maaf ke kamu. Sonya, jangan ngambek lagi. Ikut aku pulang ya? Bukannya kita sebentar lagi mau nikah?"Aku mengangguk. "Untuk bersama, memang butuh persetujuanmu. Tapi untuk putus, nggak perlu. Kamu benar, aku memang mau nikah. Sayangnya calon suamiku bukan kamu.""Jangan ngomo

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 6

    Aku mengangguk dan menjawab iya. Karena sudah memutuskan untuk berpamitan dengan masa lalu, mulai sekarang di mata dan hatiku hanya akan ada dia seorang. Soal yang lain, hal-hal yang seharusnya dilupakan, sejak lama sudah kulupakan.....Pernikahanku dengan Paul dijadwalkan dua bulan kemudian. Setiap hari setelah bersama dengannya, hidupku terasa penuh dan bahagia.Sedikit bayangan muram saat baru putus dulu pun sudah lenyap tanpa sisa. Paul perlahan mengisi hidup dan duniaku, sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana dulu Henry bersikeras tidak mau melepaskanku saat kami berpisah.Akhirnya, suatu hari ketika aku berbaring di tempat tidur, aku menerima telepon dari sahabatku, Risty.Risty adalah sahabat terbaikku. Selama bertahun-tahun, setiap detail antara aku dan Henry selalu dia saksikan. Kalau harus ditanya, selain orang tuaku, siapa orang di dunia ini yang paling berharap aku putus dengan Henry, itu sudah pasti Risty.Hari itu, aku seharian berbelanja dan sangat lelah. Aku berbaring

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 5

    [ Sonya, kamu ini nggak ada habis-habisnya ya? ][ Cuma masalah sekecil ini, kamu sampai mau putus sama aku? Kita sudah susah payah sampai sejauh ini, jangan ngomong putus cuma karena emosi. Cepat kembali! ][ Aku tahu kamu masih mempermasalahkan Lindy. Bukannya aku sudah jelaskan semuanya? Antara aku dan dia nggak ada apa-apa, cuma sahabat. Kamu masih ngambek apa lagi? ]Melihat kata-kata yang terus bermunculan di layar, aku merasa agak linglung.Dalam hubungan antara aku dan Henry ini, sejak awal selalu aku yang berkorban, selalu aku yang mengambil inisiatif. Bahkan dulu ketika dia dan Lindy melakukan hal-hal yang sudah kelewat batas, dia tidak pernah sekali pun terlihat sepanik ini.Aku bisa melihatnya dengan jelas. Karena aku bilang aku akan menikah, dia benar-benar panik dan ingin menahanku. Sayangnya, sudah terlambat.Bagiku, cinta dan sikap Henry sudah tidak penting lagi. Dia mau mencintai siapa pun itu urusannya, mau bersahabat dengan siapa pun juga terserah. Semua tidak ada hu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status