Share

Bab 3

Author: Sansan
Aku membalas singkat, "besok sampai", lalu mengangkat koper dan berjalan ke luar.

Henry akhirnya mulai panik, melangkah cepat ke depan ingin menghentikanku.

"Sonya, kamu serius? Kamu ini sudah 20-an tahun. Nggak bisa dewasa sedikit ...." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, ponselnya ikut berdering. Telepon dari Lindy.

Suara perempuan itu terdengar penuh semangat dan manja. "Henry, Sonya sudah maafin kamu belum? Kita sudah janji, kalau dia nggak maafin kamu, kamu nggak boleh datang cari aku lagi."

"Aku cuma mau jadi sahabatmu, nggak mau jadi orang ketiga yang merusak hubungan orang lain. Itu murahan banget."

Mendengar keluhan Lindy yang lembut itu, Henry refleks menatapku. Saat dia melihatku sedang mengobrol dengan ibuku, ketegangan di wajahnya perlahan mereda, berubah menjadi keangkuhan seolah-olah semuanya masih dalam kendalinya.

"Tenang, aku paling ngerti Sonya. Dia cuma lagi ngambek sama aku, gampang dibujuk. Nih, baru saja aku bilang mau ketemu orang tua lagi, dia langsung ngabarin ibunya. Kami sudah lima tahun bersama, aku paham betul karakter dia."

Selesai berbicara, dia melepaskan tangannya dengan penuh percaya diri, mengira aku akan seperti dulu, membawa koper kembali ke kamar dengan lesu saat melihatnya benar-benar tidak peduli.

Namun hari ini, aku tidak ragu sedikit pun. Di bawah tatapan Henry yang kaget, aku menggenggam koper erat-erat, mendorong pintu, dan pergi.

....

Malam hari, aku meletakkan koper di hotel, lalu pergi sendirian ke mal. Saat melewati toko perhiasan, entah kenapa, aku melangkah masuk.

Pacaran lima tahun, aku sudah berkali-kali mengatakan kepada Henry bahwa pada hari melamarku, dia harus membelikanku cincin berlian seri Galaxy. Itu model klasik dari merek tersebut, impianku sejak kecil.

Jumat lalu, aku menemukan struk pembelian cincin di saku Henry, seri Winter. Warna yang tidak kusukai, model yang tidak kusukai, bahkan ukurannya pun satu lingkaran lebih besar. Harus dililit tali merah hampir setengah lingkar agar bisa dipakai dengan pas.

Sekarang kalau dipikir-pikir, ada hal-hal yang memang tidak bisa dipaksakan. Cincin begitu, pernikahanku dengan Henry juga begitu.

Aku tersenyum tipis, melepas cincin itu, bersiap bertanya kepada pramuniaga tentang harga jual kembali.

Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara Lindy. "Henry, lihat deh, itu Sonya, 'kan? Aku bilang juga apa, dia nggak benar-benar marah. Lihat tuh, masih sempat-sempatnya datang buat merawat cincin."

Pandangan Lindy jatuh pada cincin yang baru saja kulepas. Dia terdiam sejenak, lalu berbalik dan mengeluh pada Henry, "Henry, kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau itu cincin lamaranmu? Kemarin kamu suruh aku coba, habis itu langsung beli sesuai ukuranku. Pantes saja Sonya marah sama kamu. Kamu jahat banget!"

Dia mencubit lengan Henry, bermesraan tanpa peduli orang sekitar.

Wajah Henry kaku sesaat, refleks ingin menghindar. Namun, saat melihat ekspresi acuh tak acuh di wajahku, dia memaksakan diri berhenti dan menatapku sambil berkata, "Cuma cincin lamaran, memangnya kenapa? Kalau kamu suka, aku belikan satu lagi."

"Aku paling nggak tahan lihat orang dimanja terus jadi manja berlebihan, merasa mau nikah jadi bisa ngambek seenaknya? Sampai kabur dari rumah! Sungguh kekanak-kanakan!"

Kalau dulu, Henry bahkan tidak perlu sengaja mengucapkan kata-kata provokatif seperti ini. Dia cukup mengunggah foto di mana dia sedang bersenang-senang dengan Lindy, atau sekadar bertanya tentang dasinya.

Aku akan melupakan semua emosiku, lalu mengambil inisiatif mencarinya duluan. Aku akan berbicara terus tanpa henti, sampai dia merasa kesal dan memblokir pesanku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 10

    "Aku yang lebih dulu bersalah padanya," kata Henry. Matanya masih menatap pintu masuk gedung."Apa salahmu padanya? Perempuan kaya dan manja seperti dia tahu apa soal ketulusan?"Kebetulan, aku keluar tepat saat mendengar kalimat itu. Begitu melihatku, Henry langsung mendorong Lindy dan berjalan ke arahku, sementara Lindy menariknya agar tidak pergi."Sonya, bisa kita bicara?" Nada suaranya hampir seperti memohon.Lindy mencibir. "Kamu sampai memohon padanya? Kalau dia benar-benar mencintaimu, apa dia akan memperlakukanmu seperti ini?"Aku terus berjalan menuju mobil yang menungguku. Tiba-tiba, terdengar suara perkelahian dari belakang.Saat menoleh, Henry sedang mendorong Lindy hingga terjatuh ke tanah. Lindy menjerit sambil memaki, lalu bangkit dan mencakar wajahnya.Dua orang yang dulu disebut sahabat itu saling menerkam seperti binatang buas di depan gedung perusahaan, menarik perhatian banyak orang. Sampai akhirnya, ada yang menelepon polisi.Ketika mobil polisi datang, wajah Henr

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 9

    Saat aku menceritakan hal ini kepada Paul, dia terlihat sangat senang. Dia mengusap kepalaku sambil berkata bahwa aku sudah tumbuh dewasa, juga sudah belajar menyembunyikan emosiku.Aku sedikit malu. Sebenarnya aku sudah lama dewasa, hanya saja di matanya aku akan selalu menjadi adik tetangga kecil yang manis dan polos. Dalam hidupku, kemajuan sekecil apa pun selalu layak mendapat pujian darinya.Karena itu, ketika Paul memberitahuku bahwa dia telah mengaturkan sebuah pekerjaan untukku, aku tidak menolak. Aku tahu keluarga Paul beberapa tahun terakhir meraup kekayaan besar dari bisnis dan perusahaannya juga termasuk yang teratas di kota ini.Lagi pula, karena aku sudah memutuskan untuk menikah dengannya, rasanya tak perlu terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti ini.Hanya saja aku tidak menyangka, pekerjaan yang dia atur untukku ini ternyata masih akan berkaitan dengan Henry. Atau lebih tepatnya, Paul yang baru pulang dari luar negeri juga tidak menyangka bahwa Henry ternyata beker

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 8

    Aku mendengarkan kata-kata yang dulu pernah begitu kunanti-nantikan itu, tetapi tak tahu harus berekspresi seperti apa.Aku menatapnya, tiba-tiba merasa pria yang dulu pernah membuatku patah hati setengah mati ini, kini terasa begitu asing. Dia mengira dengan cara seperti ini dia bisa menebus pengkhianatannya padaku? Bisa menebus malam-malam ketika aku menangis sendirian sampai fajar? Salah besar!Di tengah keheningan ini, aku menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah bayangan di bawah pohon tak jauh dari sana. "Sayang, mau berapa lama lagi kamu berdiri di sana buat lihat?"Sayang?! Begitu kata itu terucap, semua orang tertegun, serempak menoleh ke arah bawah pohon di samping. Tak seorang pun berani percaya bahwa kata "sayang" itu keluar dari mulutku.Paul melangkah keluar dari bayangan. Cahaya matahari jatuh tepat ke tubuhnya. Dia mengenakan kemeja putih sederhana, berkacamata bingkai emas, lengan baju digulung asal. Kedua tangannya dimasukkan ke saku, senyum samar tampak di sudut bi

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 7

    Mendengar perkataan Henry, kepalaku benar-benar penuh tanda tanya.Kadang aku juga cukup kagum dengan cara berpikir orang ini. Hari itu di pesan singkat, aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas bahwa aku akan menikah, tetapi sekarang dia masih berdiri di sini, bertanya apakah di hatiku masih ada dia. Kalau dia datang sedikit lebih terlambat, mungkin aku sudah punya anak."Henry, kalau aku nggak salah ingat, kita sudah putus, 'kan? Jadi, sekarang kamu ngapain? Menahanku?" Nada suaraku sangat dingin, sama sekali tidak memberinya ruang untuk berkhayal. "Maaf, sudah terlambat.""Aku belum setuju! Aku belum setuju putus sama kamu!" Henry sangat marah. "Kalau kamu masih marah karena Lindy, aku bisa suruh dia minta maaf ke kamu. Sonya, jangan ngambek lagi. Ikut aku pulang ya? Bukannya kita sebentar lagi mau nikah?"Aku mengangguk. "Untuk bersama, memang butuh persetujuanmu. Tapi untuk putus, nggak perlu. Kamu benar, aku memang mau nikah. Sayangnya calon suamiku bukan kamu.""Jangan ngomo

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 6

    Aku mengangguk dan menjawab iya. Karena sudah memutuskan untuk berpamitan dengan masa lalu, mulai sekarang di mata dan hatiku hanya akan ada dia seorang. Soal yang lain, hal-hal yang seharusnya dilupakan, sejak lama sudah kulupakan.....Pernikahanku dengan Paul dijadwalkan dua bulan kemudian. Setiap hari setelah bersama dengannya, hidupku terasa penuh dan bahagia.Sedikit bayangan muram saat baru putus dulu pun sudah lenyap tanpa sisa. Paul perlahan mengisi hidup dan duniaku, sampai-sampai aku hampir lupa bagaimana dulu Henry bersikeras tidak mau melepaskanku saat kami berpisah.Akhirnya, suatu hari ketika aku berbaring di tempat tidur, aku menerima telepon dari sahabatku, Risty.Risty adalah sahabat terbaikku. Selama bertahun-tahun, setiap detail antara aku dan Henry selalu dia saksikan. Kalau harus ditanya, selain orang tuaku, siapa orang di dunia ini yang paling berharap aku putus dengan Henry, itu sudah pasti Risty.Hari itu, aku seharian berbelanja dan sangat lelah. Aku berbaring

  • Menerima Pria yang Dijodohkan Orangtuaku   Bab 5

    [ Sonya, kamu ini nggak ada habis-habisnya ya? ][ Cuma masalah sekecil ini, kamu sampai mau putus sama aku? Kita sudah susah payah sampai sejauh ini, jangan ngomong putus cuma karena emosi. Cepat kembali! ][ Aku tahu kamu masih mempermasalahkan Lindy. Bukannya aku sudah jelaskan semuanya? Antara aku dan dia nggak ada apa-apa, cuma sahabat. Kamu masih ngambek apa lagi? ]Melihat kata-kata yang terus bermunculan di layar, aku merasa agak linglung.Dalam hubungan antara aku dan Henry ini, sejak awal selalu aku yang berkorban, selalu aku yang mengambil inisiatif. Bahkan dulu ketika dia dan Lindy melakukan hal-hal yang sudah kelewat batas, dia tidak pernah sekali pun terlihat sepanik ini.Aku bisa melihatnya dengan jelas. Karena aku bilang aku akan menikah, dia benar-benar panik dan ingin menahanku. Sayangnya, sudah terlambat.Bagiku, cinta dan sikap Henry sudah tidak penting lagi. Dia mau mencintai siapa pun itu urusannya, mau bersahabat dengan siapa pun juga terserah. Semua tidak ada hu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status