ログイン***Thalia tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Biasanya, ia dan Satria Merah hanya saling berbalas pesan melalui direct message di media sosial. Namun kali ini, pria itu tampak lebih berani dengan meminta nomor ponsel pribadinya.Tanpa banyak pertimbangan, Thalia memberikannya. Niatnya sederhana, ia hanya butuh hiburan. Belakangan ini ia tidak terlalu aktif di media sosial dan merasa butuh teman mengobrol yang lebih privat melalui Whats@pp untuk mengalihkan pikirannya.[Kita mungkin tidak akan pernah bertemu, tapi setidaknya punya teman chatting sepertimu sudah cukup seru,] tulis Thalia.[Oke, tidak apa-apa. Biarkan takdir saja yang nanti bekerja untuk mempertemukan kita. Haha,] balas Satria Merah di seberang sana.Percakapan mereka tidak pernah sekadar basa-basi kosong. Keduanya memiliki minat yang sama besar dalam dunia literasi. Karena sama-sama hobi membaca, obrolan mereka selalu mengalir lancar, terutama saat mulai membedah isi buku atau sekadar berbagi referensi bacaan
Anna melangkah mendekat, lalu membungkuk perlahan untuk memeluk pundak Thalia dari belakang. Pelukan yang seharusnya terasa hangat itu justru memberikan sensasi dingin yang ganjil bagi Thalia."Aku hanya bercanda, kok. Tidak perlu setegang itu, Sayang," ucap Anna dengan nada manis, kembali memasang topeng sebagai sosok kakak yang begitu menyayangi adiknya.Thalia berdeham pendek, wajahnya memanas karena rasa canggung yang memuncak. Ketidaknyamanan terpancar jelas dari caranya menghindari kontak mata."Anna, bisakah kamu menyuruh mereka mematikan kamera dan pergi? Ini ruang privat, aku memesannya agar bisa makan dengan tenang," potong Amar dengan raut wajah datar. Tidak ada ledakan amarah, hanya nada dingin yang menuntut.Anna tersenyum miring. Sejujurnya, dadanya terasa sesak karena amarah yang sudah ia pendam selama beberapa hari terakhir. Namun, melihat Amar yang bersikap begitu tenang seolah tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun, justru membuatnya semakin sakit hati."Kalau
Suara Amar membuat Thalia mendongak, dia menatap Amar dengan mata membulat, lalu berdeham menjauhkan kepalanya dan mengusap wajah. "Maaf, aku tidak sadar karena terlalu ngantuk," jawabnya menahan ekspresi datar agar tidak terlihat terlalu memalukan. Amar tersenyum miring, "ayo keluar." Dia lebih dulu membuka pintu, ketika Thalia melihat mobil tidak terparkir di garasi rumah, Thalia menoleh kebingungan. "Ini di mana?" "Kita makan malam dulu," "Aku tidak lapar," tolak Thalia yang kembali menegakkan duduknya. "Mau naik ke kursi roda atau aku bopong masuk?" Amar tidak memberi pilihan Thalia untuk menolak, dia sudah siap dengan kursi roda di sebelah mobilnya. Mau tidak mau Thalia mengikuti perintah Amar untuk duduk di kursi roda lalu didorongnya ketimbang harus dibopong masuk, Thalia pasti akan sangat malu. Thalia menunduk, dia pikir perjalanan ke dalam akan mulus namun di pintu utama ada seseorang
Amar berdehem, lalu melangkah maju dengan suara yang sengaja dikeraskan."Thalia, kamu tersenyum-senyum sendiri. Apa ada sesuatu yang sangat asyik?"Pertanyaan itu meluncur dengan nada menyelidik. Amar ingin tahu, atau lebih tepatnya, ia merasa terusik karena bukan dialah yang menjadi alasan di balik senyuman itu.Thalia mendongak dengan raut yang berubah pias. Rasa gugup seketika menyergapnya, membuat jemarinya bergerak cepat menutup aplikasi dan menonaktifkan data seluler. Ia sangat takut jika tiba-tiba notifikasi pesan baru muncul di layar saat Amar sedang mengawasinya."Tidak, aku... aku hanya melihat video lucu," jawab Thalia terbata. Ia segera memalingkan wajah, menyadari sepenuhnya bahwa ia adalah pembohong yang sangat buruk di depan mata tajam suaminya.Tiba-tiba, Amar mengulurkan tangannya.Gerakan itu terlihat begitu lugas di mata Thalia yang sedang panik. Berpikir bahwa pria itu ingin menyita ponselnya, Thalia dengan refleks secepat kilat menyembunyikan benda pipih itu
Thalia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menetralkan debar jantung yang kian tak beraturan. "Aku tidak sedang mengerjai. Memang benar, agak mual dan pusing."Amar tidak menyahut lagi, namun ia justru mempererat dekapannya pada kaki Thalia, seolah ingin memastikan bahwa Thalia benar-benar aman dalam lindungannya. Langkah tegapnya kini membawa mereka memasuki halaman rumah kayu yang asri.Di teras, Citra sudah berdiri dengan cemas. Wajahnya yang tadi pucat kini menunjukkan raut lega sekaligus haru melihat pemandangan di depannya, anak lelakinya yang keras kepala itu tengah menggendong istrinya dengan penuh penjagaan."Syukurlah, kalian sudah sampai," ucap Citra lirih, suaranya masih menyimpan sisa-sisa rasa bersalah. Tadi Citra tidak pulang bersama Amar, ia membonceng sepeda motor tetangga yang kebetulan lewat. Amar menghentikan langkahnya tepat di depan tangga teras. Ia menatap ibunya datar, namun sorot matanya tak lagi setajam di ladang tadi. "Ibu, tolong siapkan air hanga
"Tidak!" sahut Thalia cepat, hampir refleks.Digendong di punggung seperti ini saja sudah sukses membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan rasa grogi menjalar ke seluruh tubuh. Apalagi jika harus dibopong di depan, Thalia yakin ia tidak akan berhenti merutuk karena wajah mereka yang akan terpaut terlalu dekat."Begini saja sudah cukup," imbuh Thalia pelan.Ia kemudian memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya lebih erat di leher Amar, lalu menyandarkan pelipisnya di bahu kokoh sang suami. Selain karena rasa lelah yang mulai menghinggap setelah kejadian traumatis tadi, Thalia sengaja menunjukkan bahwa ia merasa aman dalam posisi itu. Ia hanya ingin memastikan Amar tidak lagi memaksanya untuk berganti posisi yang lebih intim.Di balik punggung lebar itu, Thalia memejamkan mata sejenak. Menghirup aroma maskulin Amar yang bercampur dengan udara gunung yang segar, sebuah perpaduan yang anehnya mulai terasa nyaman. Amar berjalan dengan langkah tegap, seolah berat badan Thalia
Braaak!Suara benturan terdengar keras, bergema di antara pepohonan. Thalia memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram erat sandaran tangannya, menunggu rasa sakit yang akan menghantam tubuhnya. Namun, rasa sakit itu tak pernah datang.Ia hanya merasakan sentakan hebat yang hampir membuatnya terp
*** "Ibu, apa aku boleh ikut?" pinta Thalia, matanya menatap penuh harap pada Citra yang sedang bersiap-siap menuju ladang. Citra menghentikan gerakannya sejenak, menatap menantunya dengan lembut. "Boleh saja, Thalia. Tapi di sana mungkin terik, Ibu khawatir kamu tidak nyaman." "Tidak apa-apa,
Anna berdiri mematung di tengah ruang tamu yang sepi, merasakan dadanya sesak oleh sesuatu yang ia sendiri sulit definisikan. Apakah ini murni cemburu karena Amar memilih wanita lain, atau sekadar ego seorang diva yang terluka karena miliknya merasa dicuri? Kabar dari pembantunya bahwa Amar membaw
Amar berdiri dengan tenang, merapikan kemejanya tanpa menatap Anna. "Bukankah itu yang ingin kamu dengar untuk konsumsi publik, Anna? Bahwa adikmu dan anakmu dijaga dengan baik? Aku hanya melakukan peranku sebagai suami yang sempurna di depan kamera." Amar kemudian berbalik pada Thalia, membungku







