Se connecterAngin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya.
"Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka. Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini." Ares menghela napas pendek. "Baiklah." "Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat. Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia. "Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal. "Kamu jelek kalau sedang serius begitu," goda Ares santai, wajah dinginnya sesaat digantikan oleh kehangatan yang membuat jantung Celine kembali berantakan. "Hahh?! Ish, ngeselin!" dengus Celine. Tak lama, taksi pesanan Celine tiba. Ia segera masuk dan pergi meninggalkan Ares. Di dalam taksi, pikiran Celine berkecamuk hebat. Ada rasa bersalah yang menggerogoti hatinya karena ia tidak pulang semalaman dan justru berakhir di ranjang bersama pria lain. Namun di sisi lain, bayangan Eros yang tertawa bahagia menyuapi janda di tengah kemacetan kembali menyayat ulu hatinya. 'Kenapa aku harus merasa bersalah padahal aku yang disakiti?' batin Celine geram. Ia membenci dirinya yang masih merasa berdosa pada pernikahan ini. Hatinya berdesir ngilu setiap kali memori pengkhianatan itu muncul. 'Aku harus selesaikan ini secepatnya. Aku tidak mau jadi korban yang bodoh.' Taksi berhenti di depan rumah mewahnya. Celine menarik napas panjang, membayar argo, dan memberikan selembar uang lebih. "Kembaliannya buat Bapak saja." Tangan Celine sedikit gemetar saat mendorong pintu utama. Matanya langsung membelalak. Ruang tamu berantakan. Sebuah vas bunga mahal dari Venesia hancur berkeping-keping di lantai pualam. Firasatnya memburuk, ia segera berlari menaiki tangga menuju kamar mereka. Ceklek. Di atas ranjang, Eros tertidur tengkurap dengan pakaian kantor yang masih melekat berantakan. Mendengar suara pintu, pria itu menoleh. Matanya memerah dan berair, seolah ia baru saja melalui malam yang berat. Begitu melihat Celine, Eros langsung melompat dari ranjang dan menerjang Celine dengan pelukan erat. "Dari mana kamu?! Pulang ke mana kamu kemarin?!" bentak Eros, suaranya serak bercampur amarah. "Ninggalin suamimu sendiri semalaman! Padahal aku cuma bilang pulang duluan pakai taksi, tapi kamu malah nggak pulang!" Celine mendorong dada Eros sekuat tenaga hingga pelukan itu terlepas. "Aku nginep di rumah temen!" Eros tertawa sumbang, matanya menatap Celine meremehkan. "Kamu mana ada temen, Cel! Kalau bohong jangan tolol-tolol deh!" "Aku bohong?" Celine menatap tepat di manik mata suaminya, dadanya naik turun menahan emosi yang membeludak. "NGACA, Mas!" "Setan mana yang kamu bawa sampai berani ngelawan kayak gini, hah?!" "Kamu setannya!" desis Celine tajam. Celine menghempaskan tangan Eros dan berjalan melewatinya, namun pria itu kembali mencengkeram lengannya, kali ini jauh lebih kuat hingga Celine meringis tertahan. "Aku ada salah apa sama kamu, Sayang?" tanya Eros, wajahnya mendadak berubah memelas. "Lepas! Dan don't call me like that again!" "Oke, fine! Aku minta maaf kemarin nggak bisa jemput kamu di toko karena macet. Aku salah. Puas?" "Itu bukan poinnya, Eros!" teriak Celine, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Terus apaaa?! Apa yang bikin kamu semarah ini sama aku? Kamu nggak pernah kayak gini, Cel! Jawab aku, aku salah apa?!" Celine menatap wajah pria yang selama ini ia layani dengan sepenuh hati. "Bukan salah kamu..." suara Celine bergetar. "Tapi salahku... karena terlalu percaya sama bajingan kayak kamu!" "Cukup, Celine! Kamu nggak akan pergi ke mana-mana!" Eros menarik sebuah koper dari sudut ruangan dengan kasar. "Aku sudah nyiapin baju kamu. Nanti siang kita pergi liburan keluarga bareng Mama dan Papa ke vila!" "Aku nggak ikut!" tolak Celine tegas. Eros memajukan wajahnya, menatap Celine dengan kilat manipulatif. "Kamu tega nolak Mama? Kamu lupa sebaik apa Mama sama Papa selama ini ke kamu yang yatim piatu? Kamu mau bikin mereka sedih cuma karena keegoisanmu?" Celine terdiam. Kata-kata Eros mengunci pergerakannya. Lucien dan Hera adalah sosok orang tua yang tak pernah ia miliki. Ia tidak bisa melukai hati mereka dengan membatalkan liburan secara sepihak dan merusak suasana keluarga. "Sekarang mandi. Siap-siap," perintah Eros mutlak. Celine berjalan gontai, lalu duduk di tepi ranjang. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut dengan kedua tangan. Otaknya berputar cepat. Jika ia menggugat cerai sekarang atau meledak marah, ia tak punya bukti kuat tentang janda itu selain penglihatannya di dalam taksi. Eros pasti akan memutarbalikkan fakta. Itu hanya akan menjadi bom bunuh diri baginya. Ia harus memakai topengnya. Menyembunyikan kenyataan bahwa ia tahu tentang perselingkuhan itu, dan membuka rahasia ini di waktu yang tepat saat bukti sudah di tangan. Satu jam kemudian, Celine keluar dari kamar mandi. Wajahnya sudah dipoles riasan yang sempurna, menutupi sisa sembab dan lebam di hatinya. Ia merapikan kemejanya, memastikan kerahnya menutupi bercak merah di leher—karya Ares semalam. "Ayo berangkat, Mas," ucap Celine dengan nada yang ia buat setenang dan selembut mungkin. Eros menoleh, senyum lega terukir di bibirnya. Ia mendekat dan mengelus puncak kepala Celine. "Kamu udah baikan?" "Iya. Makasih ya, Mas." Celine memaksa sudut bibirnya naik membentuk senyum palsu. "Nah gitu dong. Lain kali kalau mau sesuatu bilang ya, Sayang. Jangan ngambek minggat kayak kemarin," ucap Eros penuh kemenangan, merasa trik manipulasinya berhasil menundukkan sang istri kembali. Mereka pun berjalan menuju mobil, bersiap menuju bandara untuk terbang ke Pulau Serenity. Di dalam pesawat nanti, Celine harus menyiapkan mentalnya dua kali lipat. Ia bukan hanya harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia di samping suami yang mengkhianatinya.Desahan Ares kian berat, tangannya secara naluriah menekan lembut belakang kepala Celine, menuntun gerakan gadis itu untuk mencapai puncak. Tubuh tegap itu menegang hebat saat gairahnya meledak, menodai wajah dan sudut bibir Celine. Ares menatap pemandangan di bawahnya dengan tatapan penuh kepemilikan. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar."Muntahkan di sini," perintah Ares rendah.Celine menurut, membiarkan Ares membersihkan sisa percintaan kilat mereka dengan lembut. Pria itu kemudian membantu Celine mengenakan kembali bikininya, merapikan helai rambut yang berantakan karena angin pantai."Rasa Mas Ares masih sama," bisik Celine sambil menatap mata Ares yang kini sedikit lebih lembut.Ares menaikkan sebelah alisnya. "Sama?""Tidak cair, manis... tidak pahit seperti yang sering aku baca di internet," Celine menjawab jujur, wajahnya kembali merona.Ares terkekeh pendek, suara baritonnya terasa hangat di telinga Celine. "Kamu juga masih sama sensitifnya seperti dulu, Elin.""Ihh
Di balik dinding batu karang yang menjulang, waktu seolah berhenti berputar. Suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengiring bagi napas yang kian memburu. Ares memojokkan Celine, tangan besarnya mengelus punggung mulus itu hingga turun ke bawah, meremas lembut bokong Celine yang kenyal."Kamu cantik sekali, Elin..." bisik Ares, suaranya serak tertahan di ceruk leher Celine.Celine hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu kokoh Ares yang keras. "Mas..." "Boleh saya lepas?" tanya Ares pelan namun penuh tuntutan, matanya menatap kaitan tali bikini putih yang melilit tubuh istrinya sang adik.Celine ragu sejenak, namun rasa rindu yang membuncah mengalahkan akal sehatnya. "Iya..."Dengan satu tarikan lembut, Ares melepaskan kaitan bra dan bikini Celine. Keindahan tubuh yang selama ini ia mimpikan di malam-malam sepinya kini terpampang nyata. Putih, proporsional, dan sempurna."God... kamu masih sama, Elin. Tidak ada yang berubah," gumam Ares, matanya mena
Gagang pintu terus berputar dengan kasar. Jantung Celine seolah melompat ke tenggorokan. Dalam posisi masih di pangkuan Ares, ia hanya bisa mematung sementara pria itu menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Eline, dengar..." Ares berbisik rendah, tangan besarnya mendongakkan dagu Celine agar menatap matanya. "Saya tidak mau merusak hubungan dengan keluarga, termasuk hubungan kamu dengan mereka. Sekarang, lewat balkon, kembali ke kamarmu. Saya akan mengurus Eros." "Mas..." Celine merintih kecil. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba menyeruak. Ares tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong tubuh mungil Celine, membawanya menuju balkon yang menghubungkan deretan kamar lantai dua. Pelukan Celine mengerat, kepalanya bersandar di dada bidang Ares yang berdetak kuat. "Tapi mas... aku masih-" "Saya akan menemuimu lagi besok," bisik Ares saat menurunkan Celine di batas balkon kamarnya sendiri. "Saya tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini tidak akan." Celine menatapnya r
"Lepasin, Mas!" desis Celine, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Ares tidak bergeming. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi seluruh luka yang selama ini Celine sembunyikan. "Aku tidak mau Mas Eros sampai berpikir macam-macam kalau melihat ini!" Celine mencoba menyentakkan tangannya. "Macam-macam?" Ares menyeringai dingin, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Dari awal kamu itu sudah milik saya, Celine. Milik saya." Celine terbelalak, napasnya tertahan. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Aku sudah menikah!" Suara Celine yang agak meninggi rupanya terdengar hingga ke lantai bawah. "Sayang! Kamu tidak apa-apa di atas?" seru Eros dari ruang tengah, suaranya terdengar cemas. Celine membeku. Jantungnya berpacu liar. "Ga-gapapa, Mas! Aku cuma hampir terpeleset tadi!" sahutnya dengan nada yang diusahakan senormal mungkin. Belum sempat Celine ber
Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib
Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada







