Share

Mengejar Cinta Dosen Killer
Mengejar Cinta Dosen Killer
Author: Lusiana

1.Amara

Author: Lusiana
last update publish date: 2025-11-22 22:26:49

Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang baik. Tapi hidup tidak pernah memberi ruang yang cukup untuk itu. Namaku Amara, mahasiswi yang sering dibilang “sedikit nakal”meski menurutku, itu hanya cara lain untuk bertahan. Orang-orang di kampus mengenalku sebagai gadis cerdas dan lumayan menarik. Tapi mereka tidak pernah tahu apa yang membentukku sampai menjadi seperti sekarang.

Aku tumbuh di keluarga yang… berantakan, kalau boleh jujur. Ibuku, Bu Rani, menikah lagi dengan cinta pertamanya, Pak Bagas. Pernikahan itu sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, tepat ketika aku masih kecil. Ayah kandungku pergi entah ke mana, meninggalkan celah besar dalam hidupku yang tidak pernah benar-benar terisi.

Di rumah, aku tidak pernah benar-benar merasa dicintai secara utuh. Pak Bagas memiliki seorang putri seumuranku, Bianca. Dan sejak awal, aku dan Bianca tidak pernah cocok. Bagiku, Bianca adalah simbol dari semua kasih sayang yang tidak pernah bisa kudapatkan. Dia selalu tampak lebih dekat dengan ibuku, seolah-olah dialah putri kandung dan aku hanya tambahan yang tidak diinginkan.

Pagi itu, seperti biasa, suasana rumah terasa menyesakkan. Aroma roti panggang memenuhi ruang makan, tapi tidak cukup untuk membuatku betah berlama-lama di sana.

“Mara, ayo sarapan dulu!” suara ibuku memanggil dari meja makan.

Aku menoleh sekilas. Hanya sekilas. Lalu kutarik tas dan bersiap pergi ke kampus tanpa berkata apa-apa. Aku tahu sikapku kasar, tapi setiap kali melihat mereka duduk bertiga seperti keluarga sempurna, ada sesuatu di dadaku yang terasa mengganjal. Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Ketika aku melangkah keluar, aku masih sempat mendengar suara Bianca yang selalu berhasil membuat darahku naik.

“Lihat, Ma. Anak itu nggak punya sopan santun banget. Diajak bicara malah melengos.”

Aku menggertakkan rahang, tapi tetap berjalan. Hal seperti itu sudah terlalu sering kudengar. Bianca tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatku terlihat buruk di hadapan orang lain.

Dari balik pintu, aku bisa mendengar ibuku menghela napas panjang. Aku tahu dia tidak sepenuhnya membela Bianca, tapi dia juga tidak benar-benar membelaku. Dan entah kenapa, itu selalu membuatku lebih sakit.

“Sudah, sudah. Kita lanjutkan makan,” suara Pak Bagas terdengar tenang namun tegas. “Nanti kalau Amara pulang, tolong nasihati, Ma. Biar dia tidak seperti itu.”

“Iya, Pa…” suara ibuku terdengar kecil dan ragu.

Aku berdiri di teras, menutup mata sejenak. Kadang aku bertanya-tanya, sejak kapan aku menjadi masalah di rumah ini? Sejak kapan kehadiranku dianggap beban? Padahal aku hanya ingin dicintai tanpa syarat seperti dulu… sebelum semuanya berubah.

Aku menyalakan motor dan menarik napas panjang. Setiap pagi selalu seperti ini penuh ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun di balik semua itu, kampus adalah pelarianku. Di sana aku bisa menjadi apa saja: cerdas, ceria, bahkan sedikit nakal. Tidak ada yang mengingatkanku tentang keluarga, tidak ada yang menghakimiku.

Di perjalanan menuju kampus, angin pagi menampar lembut wajahku. Untuk sesaat, aku hampir bisa melupakan ucapan Bianca. Tapi bayangan ibuku yang hanya diam… itu yang paling sulit kuhapus.

Aku sering berpikir: kalau saja ayah tidak pergi, apa hidupku akan berbeda? Apa aku masih akan bangun setiap pagi dengan rasa sesak seperti ini? Entahlah.

Yang jelas, aku tidak ingin terus hidup seperti ini. Ada bagian diriku yang ingin bebas, ingin bahagia, ingin merasakan kasih sayang yang tidak pernah berhasil kutemukan di rumah sendiri.

Mungkin itulah alasan kenapa aku seperti ini keras, bandel, dan kadang suka menantang batas. Mungkin karena di luar sana, aku sedang mencari hal yang tidak pernah aku dapatkan di rumah: pengakuan, perhatian… atau cinta.

Hari itu, ketika motor berhenti di parkiran kampus, aku menarik napas panjang. Aku akan menjalani hari seperti biasa: menjadi Amara versi yang orang-orang lihat. Versi yang kuat, berani, dan tidak peduli.

Padahal, jauh di dalam hati… aku masih gadis kecil yang hanya ingin dipeluk ibunya dan diberi tahu bahwa dia cukup.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   113.Jam Sepuluh yang Mengubah Segalanya

    Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   112.Garis yang Tak Bisa Disembunyikan

    Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   111.Rahasia yang Terlalu Berat

    **** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   110.Pesan dari Jarak

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   109.Jarak yang Diciptakan

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesannya singkat. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang rapi. Tenang. Seolah semuanya normal. Padahal tidak ada yang benar-benar normal. Pesan itu terkirim beberapa detik kemudian. Aku meletakkan ponsel di meja bar dan menghela napas panjang. Di luar negeri? Itu bohong. Aku bahkan masih berada di kota yang sama. Namun entah kenapa kalimat itu terasa lebih mudah daripada mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku sedang menghindar. Bahwa aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke apartemen dan melihat Amara seolah tidak terjadi apa-apa. Bahwa kehadiran Rika membuat semua yang selama ini kusimpan rapi kembali berantakan. Sudah empat hari sejak malam itu. Empat hari aku tidak pulang. Aku bahkan mengambil cuti dari kampus. Pagi tadi aku mengirim email resmi kepada bagian administrasi. Saya mengambil cuti beber

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   108.Bayangan yang Kembali

    **** Aku masih duduk di kursi seberang sofa. Amara tertidur dengan selimut yang tadi kuselipkan di bahunya. Napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia tidak menyimpan kerumitan apa pun. Berbeda denganku. Kepalaku terasa penuh. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang terasa tiba-tiba sempit. Kenapa semuanya terasa begitu rumit? Beberapa jam lalu aku hanya duduk di ruang kerja, menatap foto lama yang tidak seharusnya masih kusimpan. Foto yang membawa kembali seseorang yang sudah lama pergi dari hidupku. Rika. Nama itu seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengusap wajah dengan kasar. Mataku kembali ke arah Amara. Perempuan itu datang ke hidupku tanpa rencana. Tanpa perhitungan. Tanpa izin. Awalnya hanya mahasiswa yang terlalu jujur dengan perasaannya. Lalu entah sejak kapan… dia menjadi seseorang yang mulai kupikirkan terlalu sering. Namun tepat ketika aku mulai membiarkan semuanya berjalan… masa lalu itu kembali muncu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   95.Di Antara Pintu dan Tatap

    **** Pagi setelah hujan itu, aku bangun dengan perasaan yang belum pernah kukenal sebelumnya. Bukan sekadar degup-degup manis di dada. Lebih seperti kesadaran bahwa hidupku diam-diam berubah arah. Ponselku berbunyi berkali-kali. Dania. Hera. Aku menatap layar beberapa detik sebelum akhi

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   94.Di Antara Rintik dan Rahasia

    **** Mobil berhenti tepat di depan kosku. Hujan benar-benar tinggal sisahanya titik-titik kecil yang jatuh malas di kaca depan. Aku belum langsung membuka pintu. Pak Rassel juga belum mematikan mesin. “Amara,” panggilnya pelan. Aku menoleh. Jantungku kembali tidak tenang. “Kita tidak bisa pur

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   93.Hujan yang Membuka Rahasia

    **** Suara hujan di atap mobil terdengar seperti ketukan yang sabar. Tidak tergesa, tidak juga berhenti. Hanya jatuh, berulang, konsisten. Aku memandangi jemariku sendiri yang masih sedikit gemetar. “Pak…” suaraku serak, “Bapak pernah merasa… tidak pernah cukup di rumah sendiri?” Ia menoleh per

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   92.Hujan yang Tidak Memilih Sisi

    **** Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu taman dinyalakan lebih awal. Meja panjang di halaman belakang sudah tertata dengan taplak putih dan lilin-lilin kecil. Ternyata “cuma bikin pasta” versi Bianca berarti mengundang setengah lingkar pertemanannya dan beberapa rekan bi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status