INICIAR SESIÓN
Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang baik. Tapi hidup tidak pernah memberi ruang yang cukup untuk itu. Namaku Amara, mahasiswi yang sering dibilang “sedikit nakal”meski menurutku, itu hanya cara lain untuk bertahan. Orang-orang di kampus mengenalku sebagai gadis cerdas dan lumayan menarik. Tapi mereka tidak pernah tahu apa yang membentukku sampai menjadi seperti sekarang.
Aku tumbuh di keluarga yang… berantakan, kalau boleh jujur. Ibuku, Bu Rani, menikah lagi dengan cinta pertamanya, Pak Bagas. Pernikahan itu sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun, tepat ketika aku masih kecil. Ayah kandungku pergi entah ke mana, meninggalkan celah besar dalam hidupku yang tidak pernah benar-benar terisi. Di rumah, aku tidak pernah benar-benar merasa dicintai secara utuh. Pak Bagas memiliki seorang putri seumuranku, Bianca. Dan sejak awal, aku dan Bianca tidak pernah cocok. Bagiku, Bianca adalah simbol dari semua kasih sayang yang tidak pernah bisa kudapatkan. Dia selalu tampak lebih dekat dengan ibuku, seolah-olah dialah putri kandung dan aku hanya tambahan yang tidak diinginkan. Pagi itu, seperti biasa, suasana rumah terasa menyesakkan. Aroma roti panggang memenuhi ruang makan, tapi tidak cukup untuk membuatku betah berlama-lama di sana. “Mara, ayo sarapan dulu!” suara ibuku memanggil dari meja makan. Aku menoleh sekilas. Hanya sekilas. Lalu kutarik tas dan bersiap pergi ke kampus tanpa berkata apa-apa. Aku tahu sikapku kasar, tapi setiap kali melihat mereka duduk bertiga seperti keluarga sempurna, ada sesuatu di dadaku yang terasa mengganjal. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Ketika aku melangkah keluar, aku masih sempat mendengar suara Bianca yang selalu berhasil membuat darahku naik. “Lihat, Ma. Anak itu nggak punya sopan santun banget. Diajak bicara malah melengos.” Aku menggertakkan rahang, tapi tetap berjalan. Hal seperti itu sudah terlalu sering kudengar. Bianca tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatku terlihat buruk di hadapan orang lain. Dari balik pintu, aku bisa mendengar ibuku menghela napas panjang. Aku tahu dia tidak sepenuhnya membela Bianca, tapi dia juga tidak benar-benar membelaku. Dan entah kenapa, itu selalu membuatku lebih sakit. “Sudah, sudah. Kita lanjutkan makan,” suara Pak Bagas terdengar tenang namun tegas. “Nanti kalau Amara pulang, tolong nasihati, Ma. Biar dia tidak seperti itu.” “Iya, Pa…” suara ibuku terdengar kecil dan ragu. Aku berdiri di teras, menutup mata sejenak. Kadang aku bertanya-tanya, sejak kapan aku menjadi masalah di rumah ini? Sejak kapan kehadiranku dianggap beban? Padahal aku hanya ingin dicintai tanpa syarat seperti dulu… sebelum semuanya berubah. Aku menyalakan motor dan menarik napas panjang. Setiap pagi selalu seperti ini penuh ketegangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun di balik semua itu, kampus adalah pelarianku. Di sana aku bisa menjadi apa saja: cerdas, ceria, bahkan sedikit nakal. Tidak ada yang mengingatkanku tentang keluarga, tidak ada yang menghakimiku. Di perjalanan menuju kampus, angin pagi menampar lembut wajahku. Untuk sesaat, aku hampir bisa melupakan ucapan Bianca. Tapi bayangan ibuku yang hanya diam… itu yang paling sulit kuhapus. Aku sering berpikir: kalau saja ayah tidak pergi, apa hidupku akan berbeda? Apa aku masih akan bangun setiap pagi dengan rasa sesak seperti ini? Entahlah. Yang jelas, aku tidak ingin terus hidup seperti ini. Ada bagian diriku yang ingin bebas, ingin bahagia, ingin merasakan kasih sayang yang tidak pernah berhasil kutemukan di rumah sendiri. Mungkin itulah alasan kenapa aku seperti ini keras, bandel, dan kadang suka menantang batas. Mungkin karena di luar sana, aku sedang mencari hal yang tidak pernah aku dapatkan di rumah: pengakuan, perhatian… atau cinta. Hari itu, ketika motor berhenti di parkiran kampus, aku menarik napas panjang. Aku akan menjalani hari seperti biasa: menjadi Amara versi yang orang-orang lihat. Versi yang kuat, berani, dan tidak peduli. Padahal, jauh di dalam hati… aku masih gadis kecil yang hanya ingin dipeluk ibunya dan diberi tahu bahwa dia cukup.**** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la
**** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny
*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
**** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k
**** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d
**** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto







