INICIAR SESIÓN“Mara!”
Aku tertegun saat mendengar seseorang memanggil namaku cukup keras dari belakang. Ketika menoleh, aku melihat Hera dan Dania dua sahabat terbaikku sejak SMA berlari kecil mendekat. Seketika senyumku terulas tanpa bisa ku tahan. Padahal pagi ini mood-ku benar-benar berantakan. Tapi melihat mereka… rasanya seperti melihat matahari muncul setelah malam panjang yang melelahkan. Mereka langsung mengalungkan tangan di pundakku dari kanan dan kiri, membuatku seperti sandwich manusia. Sudah kebiasaan mereka sejak dulu. “Kenapa kamu datang sepagi ini?” tanya Hera sambil mengerutkan dahi, wajahnya jelas menunjukkan rasa ingin tahu yang besar. Aku hanya tersenyum kecil. Tidak berniat menjawab. Mereka sudah mengenalku terlalu lama; tanpa kata-kata pun mereka tahu apa yang sedang terjadi. “Aku tahu,” kata Dania sambil memainkan helaian rambut lurusnya yang selalu terlihat rapi. “Pasti gara-gara kamu habis berantem lagi sama Bianca, kan?” Aku mendengus, memutar bola mata ke langit-langit kampus. Bianca saudara tiriku sekaligus manusia paling menyebalkan di rumah memang selalu punya cara merusak pagi siapa pun. Termasuk aku. “Halah, sudah, nggak usah kamu pikirin,” ujar Hera sambil menepuk bahuku lembut. “Nanti malam kita jadi, kan? Ke basecamp?” “Tentu saja jadi.” Aku cepat mengangguk. “Aku butuh hiburan. Segera.” Mereka tertawa, seolah tahu bahwa ‘hiburan’ itu lebih penting daripada sarapan bagiku. Kami berjalan bersamaan menuju gedung fakultas. Angin pagi yang masih dingin menyelinap lewat celah seragam kuliahku. Kampus mulai ramai, namun suasananya masih cukup lengang untuk membuat langkah kami santai. “Oh iya,” ujar Dania tiba-tiba, nada suaranya berubah penuh semangat, “hari ini ada dosen baru. Katanya lulusan S3 luar negeri.” Aku mengerutkan dahi. “Dosen baru? Pengganti Pak Danu?” Hera mengangkat bahu. “Kayaknya begitu.” “Iya,” lanjut Dania, kini bersuara lebih pelan seolah membocorkan rahasia besar. “Aku dengar dia lulusan terbaik dari luar negeri. Tapi…” Ia mencondongkan tubuh ke arah kami. “Ada juga yang bilang dia killer.” Aku menjitak kepalanya pelan. “Kamu itu ya, gosip mulu. Mulut kayak emak-emak komplek.” Hera ikut mengangguk mantap. “Betul. Dia itu berita berjalan.” Dania manyun. “Lah itu info dari mahasiswa tingkat atas. Bukan gosip ku.” Aku menarik tangan mereka berdua. “Sudahlah. Ayo masuk kelas. Kita telat nanti.” Kami menaiki tangga ke lantai dua. Aku berjalan di tengah, memperhatikan beberapa mahasiswa lain yang juga sedang membicarakan dosen baru itu. Masih pagi, tapi gosipnya sudah berseliweran ke mana-mana, seperti angin berdebu. Kelas kami sudah terisi setengah. Aku memilih duduk di bangku tengah posisi favoritku. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap jelas melihat papan tulis. Hera dan Dania duduk di sisi kiri dan kananku, tetap dalam formasi sandwich favorit mereka. Bel berbunyi. Suara langkah sepatu pantofel terdengar dari luar. Ritmenya teratur, tegas. Seketika seluruh kelas hening seperti disihir. Dan saat pintu terbuka, aku melihatnya untuk pertama kali. Dosen baru. Seorang pria berperawakan tinggi, bahunya bidang, wajahnya tegas, rahangnya tajam, dan sorot matanya… tajam. Sangat tajam. Sorot yang seolah bisa menembus kulit kepala dan membaca isi pikiran setiap mahasiswa. Ia masuk tanpa ekspresi. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung sampai siku, memperlihatkan urat tangan yang jelas. Jam hitam sederhana melingkar di pergelangan kirinya. Gestur langkahnya… berwibawa sekaligus dingin. Seluruh kelas seperti terpaku. Termasuk aku. “Ganteng… tapi auranya serem banget,” bisik Hera. “Serem beneran,” tambah Dania, lalu melirikku. “Kayak tokoh utama drama kriminal yang punya masa lalu gelap.” Aku tidak menjawab. Entah kenapa, mataku sulit berpaling darinya. Ada sesuatu pada sosok itu yang membuat dadaku terasa aneh seperti sensasi déjà vu yang menggantung di ujung ingatan. Ia meletakkan buku di meja, menatap seluruh kelas dengan sorot yang sulit diartikan. Lalu seolah waktu melambat pandangannya berhenti tepat padaku. Detik itu, napas ku tercekat. Tatapannya terlalu langsung. Terlalu dalam. Tidak wajar bagi seorang dosen yang baru masuk ruangan. Seolah… ia mengenaliku. “Aku Profesor Rassel,” katanya dengan suara bariton yang dingin. “Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian.” Hera langsung menunduk, terkesan. Dania juga. Tapi aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya… masih tertuju padaku. Tidak bergeser sedikit pun. Jantungku berdegup keras. Dan dalam sepersekian detik itu, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan hanya ketegasan. Bukan hanya kewibawaan. Tapi… pengakuan. Seolah dia pernah melihatku sebelumnya. Seolah dia benar-benar tahu siapa aku. Lalu Hera berbisik di telingaku."Mara mari kita taruhan.kamu harus taklukin hati dosen killer ini." Aku membulatkan mata. menoleh ke arah Hera.lalu dengan tatapan mata.dia tertawa. Padahal aku yakin… aku belum pernah bertemu dengannya. Atau… Jangan-jangan aku pernah? Dan aku yang sudah melupakannya? Namun ketika ia membuka halaman bukunya dan hendak mulai menjelaskan materi, tanpa sengaja mata kami bertemu dan bersitatap.**** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la
**** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny
*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
**** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k
**** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d
**** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto







