Share

2 Bertemu

Author: Lusiana
last update publish date: 2025-11-22 22:26:52

“Mara!”

Aku tertegun saat mendengar seseorang memanggil namaku cukup keras dari belakang. Ketika menoleh, aku melihat Hera dan Dania dua sahabat terbaikku sejak SMA berlari kecil mendekat. Seketika senyumku terulas tanpa bisa ku tahan. Padahal pagi ini mood-ku benar-benar berantakan. Tapi melihat mereka… rasanya seperti melihat matahari muncul setelah malam panjang yang melelahkan.

Mereka langsung mengalungkan tangan di pundakku dari kanan dan kiri, membuatku seperti sandwich manusia. Sudah kebiasaan mereka sejak dulu.

“Kenapa kamu datang sepagi ini?” tanya Hera sambil mengerutkan dahi, wajahnya jelas menunjukkan rasa ingin tahu yang besar.

Aku hanya tersenyum kecil. Tidak berniat menjawab. Mereka sudah mengenalku terlalu lama; tanpa kata-kata pun mereka tahu apa yang sedang terjadi.

“Aku tahu,” kata Dania sambil memainkan helaian rambut lurusnya yang selalu terlihat rapi. “Pasti gara-gara kamu habis berantem lagi sama Bianca, kan?”

Aku mendengus, memutar bola mata ke langit-langit kampus. Bianca saudara tiriku sekaligus manusia paling menyebalkan di rumah memang selalu punya cara merusak pagi siapa pun. Termasuk aku.

“Halah, sudah, nggak usah kamu pikirin,” ujar Hera sambil menepuk bahuku lembut. “Nanti malam kita jadi, kan? Ke basecamp?”

“Tentu saja jadi.” Aku cepat mengangguk. “Aku butuh hiburan. Segera.”

Mereka tertawa, seolah tahu bahwa ‘hiburan’ itu lebih penting daripada sarapan bagiku.

Kami berjalan bersamaan menuju gedung fakultas. Angin pagi yang masih dingin menyelinap lewat celah seragam kuliahku. Kampus mulai ramai, namun suasananya masih cukup lengang untuk membuat langkah kami santai.

“Oh iya,” ujar Dania tiba-tiba, nada suaranya berubah penuh semangat, “hari ini ada dosen baru. Katanya lulusan S3 luar negeri.”

Aku mengerutkan dahi. “Dosen baru? Pengganti Pak Danu?”

Hera mengangkat bahu. “Kayaknya begitu.”

“Iya,” lanjut Dania, kini bersuara lebih pelan seolah membocorkan rahasia besar. “Aku dengar dia lulusan terbaik dari luar negeri. Tapi…” Ia mencondongkan tubuh ke arah kami. “Ada juga yang bilang dia killer.”

Aku menjitak kepalanya pelan. “Kamu itu ya, gosip mulu. Mulut kayak emak-emak komplek.”

Hera ikut mengangguk mantap. “Betul. Dia itu berita berjalan.”

Dania manyun. “Lah itu info dari mahasiswa tingkat atas. Bukan gosip ku.”

Aku menarik tangan mereka berdua. “Sudahlah. Ayo masuk kelas. Kita telat nanti.”

Kami menaiki tangga ke lantai dua. Aku berjalan di tengah, memperhatikan beberapa mahasiswa lain yang juga sedang membicarakan dosen baru itu. Masih pagi, tapi gosipnya sudah berseliweran ke mana-mana, seperti angin berdebu.

Kelas kami sudah terisi setengah. Aku memilih duduk di bangku tengah posisi favoritku. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap jelas melihat papan tulis. Hera dan Dania duduk di sisi kiri dan kananku, tetap dalam formasi sandwich favorit mereka.

Bel berbunyi.

Suara langkah sepatu pantofel terdengar dari luar. Ritmenya teratur, tegas. Seketika seluruh kelas hening seperti disihir.

Dan saat pintu terbuka, aku melihatnya untuk pertama kali.

Dosen baru.

Seorang pria berperawakan tinggi, bahunya bidang, wajahnya tegas, rahangnya tajam, dan sorot matanya… tajam. Sangat tajam. Sorot yang seolah bisa menembus kulit kepala dan membaca isi pikiran setiap mahasiswa.

Ia masuk tanpa ekspresi. Kemeja putihnya rapi, lengan digulung sampai siku, memperlihatkan urat tangan yang jelas. Jam hitam sederhana melingkar di pergelangan kirinya. Gestur langkahnya… berwibawa sekaligus dingin.

Seluruh kelas seperti terpaku.

Termasuk aku.

“Ganteng… tapi auranya serem banget,” bisik Hera.

“Serem beneran,” tambah Dania, lalu melirikku. “Kayak tokoh utama drama kriminal yang punya masa lalu gelap.”

Aku tidak menjawab. Entah kenapa, mataku sulit berpaling darinya. Ada sesuatu pada sosok itu yang membuat dadaku terasa aneh seperti sensasi déjà vu yang menggantung di ujung ingatan.

Ia meletakkan buku di meja, menatap seluruh kelas dengan sorot yang sulit diartikan. Lalu seolah waktu melambat pandangannya berhenti tepat padaku.

Detik itu, napas ku tercekat.

Tatapannya terlalu langsung. Terlalu dalam. Tidak wajar bagi seorang dosen yang baru masuk ruangan.

Seolah… ia mengenaliku.

“Aku Profesor Rassel,” katanya dengan suara bariton yang dingin. “Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian.”

Hera langsung menunduk, terkesan. Dania juga. Tapi aku tetap tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya… masih tertuju padaku. Tidak bergeser sedikit pun.

Jantungku berdegup keras.

Dan dalam sepersekian detik itu, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan hanya ketegasan. Bukan hanya kewibawaan.

Tapi… pengakuan.

Seolah dia pernah melihatku sebelumnya. Seolah dia benar-benar tahu siapa aku.

Lalu Hera berbisik di telingaku."Mara mari kita taruhan.kamu harus taklukin hati dosen killer ini."

Aku membulatkan mata.

menoleh ke arah Hera.lalu dengan tatapan mata.dia tertawa.

Padahal aku yakin… aku belum pernah bertemu dengannya.

Atau…

Jangan-jangan aku pernah?

Dan aku yang sudah melupakannya?

Namun ketika ia membuka halaman bukunya dan hendak mulai menjelaskan materi, tanpa sengaja mata kami bertemu dan bersitatap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   113.Jam Sepuluh yang Mengubah Segalanya

    Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   112.Garis yang Tak Bisa Disembunyikan

    Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   111.Rahasia yang Terlalu Berat

    **** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   110.Pesan dari Jarak

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   109.Jarak yang Diciptakan

    **** Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesannya singkat. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang rapi. Tenang. Seolah semuanya normal. Padahal tidak ada yang benar-benar normal. Pesan itu terkirim beberapa detik kemudian. Aku meletakkan ponsel di meja bar dan menghela napas panjang. Di luar negeri? Itu bohong. Aku bahkan masih berada di kota yang sama. Namun entah kenapa kalimat itu terasa lebih mudah daripada mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku sedang menghindar. Bahwa aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke apartemen dan melihat Amara seolah tidak terjadi apa-apa. Bahwa kehadiran Rika membuat semua yang selama ini kusimpan rapi kembali berantakan. Sudah empat hari sejak malam itu. Empat hari aku tidak pulang. Aku bahkan mengambil cuti dari kampus. Pagi tadi aku mengirim email resmi kepada bagian administrasi. Saya mengambil cuti beber

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   108.Bayangan yang Kembali

    **** Aku masih duduk di kursi seberang sofa. Amara tertidur dengan selimut yang tadi kuselipkan di bahunya. Napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia tidak menyimpan kerumitan apa pun. Berbeda denganku. Kepalaku terasa penuh. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang terasa tiba-tiba sempit. Kenapa semuanya terasa begitu rumit? Beberapa jam lalu aku hanya duduk di ruang kerja, menatap foto lama yang tidak seharusnya masih kusimpan. Foto yang membawa kembali seseorang yang sudah lama pergi dari hidupku. Rika. Nama itu seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengusap wajah dengan kasar. Mataku kembali ke arah Amara. Perempuan itu datang ke hidupku tanpa rencana. Tanpa perhitungan. Tanpa izin. Awalnya hanya mahasiswa yang terlalu jujur dengan perasaannya. Lalu entah sejak kapan… dia menjadi seseorang yang mulai kupikirkan terlalu sering. Namun tepat ketika aku mulai membiarkan semuanya berjalan… masa lalu itu kembali muncu

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   99.Jarak yang Kamu Minta

    **** **** Setelah malam itu, sesuatu berubah. Bukan pertengkaran. Bukan putus. Tapi… dingin. Rassel benar-benar menjaga jarak. Di kampus, ia kembali menjadi dosen yang terlalu profesional. Nada suaranya datar. Tatapannya singkat. Tidak ada sentuhan diam-diam. Tidak ada pesan tanpa ala

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   98.Retak di Ujung Cemburu

    **** Aku tidak pernah suka bar. Terlalu bising. Terlalu penuh orang yang pura-pura bahagia. Tapi malam itu, aku duduk di sana. Remon yang menyeretku. “Lo butuh minum,” katanya sambil mendorong segelas di depanku. “Aku nggak minum,” jawabku datar. Remon mendengus. “Sejak kapan lo jadi

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   97.Api yang Tak Disembunyikan

    **** Hari itu semuanya berubah tipis. Bukan meledak. Bukan terbongkar. Tapi terasa. Rassel mulai berbeda. Ia tidak lagi hanya mencari celah untuk berbicara berdua. Ia mulai memperhatikan setiap orang yang terlalu dekat denganku. Terlalu lama berbicara denganku. Terlalu sering menyebut n

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   96.Batas yang Hampir Runtuh

    **** Hari-hari berikutnya tidak lebih mudah. Justru semakin terasa rumit. Aku dan Pak Rassel menjalani rutinitas seperti biasa. Bimbingan, rapat, revisi proposal, kelas metodologi. Semua berjalan profesional. Terlalu profesional, sampai kadang terasa dibuat-buat. Tapi aku mulai sadar satu hal.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status