MasukAku buru-buru mengalihkan pandanganku ketika mataku tanpa sengaja bertemu dengan tatapan dingin itu. Entah kenapa, wajahnya terasa tidak asing sejak pertama kali ia masuk kelas. Ada sesuatu yang samar, seperti kenangan yang berusaha muncul ke permukaan, tetapi menguap setiap kali ingin kutangkap.
Aku sempat melamun, mencoba mengingat di mana aku pernah melihat sosok itu, sampai suara Hera dan Dania menepuk bahuku bersamaan, hampir membuatku tersentak. “Pertemuan kali ini kita akhiri. Untuk pertemuan selanjutnya, kita ulangan untuk materi hari ini. Terima kasih.” Suara Pak Rassel menggema di seluruh ruangan, tegas, berat, dan sama sekali tidak memberi ruang untuk keluhan. Begitu ia keluar, kelas langsung berubah menjadi pasar malam. Semua mahasiswa kompak mengeluh, entah karena tugas, cara bicaranya, atau sekadar melampiaskan stres. “Gila sih… benar-benar dosen killer,” gerutu Hera sambil menghembuskan napas panjang. “Baru pertemuan kedua, kita sudah dikasih tugas. Apa hidup mahasiswa memang sekeras ini?” "Tapi Mara kamu ingat ucapanku tadi ya."Suaranya lebih pelan agar Dania tak mendengar. Aku memutar bola mataku dengan malas. Dania memijat pelipisnya sambil mendengus. “Lebih gila lagi, cara dia ngasih tahu itu kayak ngasih hukuman, bukan informasi.” Aku mencoba tertawa kecil, meski pikiranku masih tertahan pada tatapan laki-laki itu. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuatku gelisah tanpa alasan jelas. “Sudahlah,” ujarku akhirnya. “Ayo ke kantin sebelum penuh.” Kami berjalan keluar kelas. Hera dan Dania masih sibuk mengeluh, sementara pikiranku melayang entah ke mana. Tatapan Pak Rassel kembali terlintas di kepalaku cara dia menyapu ruangan seolah bisa membaca isi kepalaku dan menghentikan pandangannya tepat padaku… terlalu lama untuk sebuah ketidaksengajaan. Dan, entah mengapa… aku yakin aku pernah melihatnya sebelumnya. Sesampainya di kantin, aku baru sempat menarik kursi ketika langkahku mendadak terhenti. Bukan karena kantin penuh, tetapi karena suara yang sama sekali tidak ingin kudengar hari ini. “Oh, lihat siapa yang datang. Amara…” Nada itu penuh sindiran, bahkan sebelum aku melihat wajahnya. Bianca. Sosok yang paling kuharapkan hilang dari hidupku, tetapi entah kenapa selalu muncul seperti hantu penasaran. Ia berdiri dengan tangan terlipat, ditemani dua sahabat setianya yang lebih pantas disebut pengawal daripada teman. “Lagi sibuk pura-pura rajin, ya?” tanya Bianca sambil menilai penampilanku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. “Atau sibuk cari perhatian dosen baru?” Aku menghela napas panjang. Hari ini sudah cukup melelahkan, dan aku tidak punya energi untuk drama murahan. “Aku cuma mau makan,” jawabku datar. Aku melangkah melewatinya, tapi Bianca memiringkan tubuhnya, menghadangku dengan senyum sinis. “Eh, jangan buru-buru.” Tangannya bertumpu di pundakku. Lembut. Terlalu lembut untuk ukuran Bianca. Artinya: ia sedang siap-siap menyebar racun. “Aku dengar Pak Rassel itu dosen killer. Cocok sih,” ujarnya sambil menaikkan alis. “Orang seperti kamu biasanya cepat tumbang.” Aku menoleh pelan. “Orang seperti aku itu yang seperti apa, Bi?” “Hmmm…” Ia pura-pura berpikir. “Yang sok pintar, sok kuat, tapi sebenarnya rapuh. Tinggal disentil sedikit, jatuh.” “Bianca, hentikan,” potong Hera, maju selangkah. “Kita mau makan. Kamu mau apa, sih?” Bianca mendelik, lalu tertawa kecil. “Tenang. Aku cuma menyapa.” Ia kembali menatapku. Kali ini lebih tajam. Lebih menusuk. “Lagipula… aku penasaran. Tatapan Pak Rassel tadi lama banget berhenti di kamu.” Ia menyipit. “Jangan-jangan… kalian saling kenal?” Jantungku langsung mencelos. Hera dan Dania kompak menatapku, menunggu jawaban. Aku tersenyum miring, pura-pura santai meski hatiku mulai tak karuan. “Kamu bisa tahu begitu jelas berarti kamu punya mata-mata di kelas, ya? Wajar sih… fans club kamu kan banyak.” Bianca mendengus. Jelas ia kesal karena tidak berhasil membuatku kehilangan kontrol. Tapi bukannya berhenti, ia justru menatapku lama, seolah mencari celah yang bisa ditembus. “Kalau begitu, bagus,” ucapnya akhirnya. “Jangan sampai dosen killer itu tahu betapa… rapuhnya kamu.” Ia menekankan kata “rapuh” dengan senyum puas. Aku mengabaikannya. Atau berusaha mengabaikannya. Kami duduk di meja kosong yang tersisa, tetapi kata-katanya masih menggaung di kepalaku. Rapuh? Mungkin aku tidak sekuat yang selalu kutunjukkan. Tapi aku bukan seseorang yang mudah dipecahkan. Setidaknya selama ini aku bertahan, meski banyak hal yang sebenarnya ingin menjatuhkanku. Namun yang lebih mengganggu daripada ucapan Bianca adalah tatapan Pak Rassel. Tatapan yang seolah mengenaliku. Padahal aku yakin sangat yakin aku belum pernah bertemu dengan dosen itu sebelumnya. Atau… Apakah aku benar-benar yakin? Aku menarik napas panjang, menenangkan diriku. Tetapi firasatku tetap tidak hilang. Ada sesuatu yang janggal sejak tadi. Sesuatu yang menempel di benakku seperti bayangan yang mengikuti ke mana pun aku melangkah. Hari ini terasa terlalu panjang.**** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la
**** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny
*** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba
**** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k
**** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d
**** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto







