Compartir

4 Taruhan Konyol

Autor: Lusiana
last update Última actualización: 2025-11-22 22:27:01

Setelah perdebatan kecil dengan Bela yang membuat kepalaku sedikit pening, aku mencoba menenangkan diri dengan memesan makanan dan minuman. Aroma kopi dari meja sebelah menyusup ke hidungku, membantu meredakan emosi yang tadi sempat memuncak. Aku menarik napas panjang, berusaha mengalihkan pikiran.

“Mara, kamu beneran sudah kenal Pak Rassel?” tanya Hera sambil menyodok lenganku pelan.

Dania langsung mengangguk cepat, seolah menguatkan pertanyaan Hera. Aku hanya bisa memutar bola mata.

“Ngaco kamu. Kenal dari mana?” jawabku, mencoba tetap tenang.

“Tapi aku lihat-lihat, tadi Pak Rassel memang lagi banyak melihat kamu,” ucap Dania, matanya membesar penuh gosip.

“Sampai segitunya ya kamu perhatian sama Pak Rassel, sampai tahu beliau melihat Amara?” Hera ikut menimpali Dania dengan nada menggoda.

“Aku sumpah nggak kenal sama Pak Rassel,” kata Dania lagi, tapi kali ini aku yakin dia cuma mencoba memantik suasana.

“Ngapain diributkan sih. Biarpun kenal atau enggak, itu urusan Amara,” Hera mulai kesal pada Dania yang tak berhenti menggulingkan isu.

Dania akhirnya mengangguk kecil, entah menyetujui atau menyerah.

Tak lama kemudian makanan datang. Aku, Hera, dan Dania segera fokus pada piring masing-masing. Setidaknya, begitu seharusnya. Namun, Dania tetaplah Dania. Ketika suasana mulai tenang, ia malah membuka obrolan baru.

“Gaes, gimana kalau kita taruhan?”

Aku dan Hera spontan menatap Dania bersamaan. “Maksudnya?” tanya kami kompak.

Padahal Hera sudah lebih dulu mengajak untuk taruhan.Tetapi Dania juga ikut-ikutan.

Dania menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya penuh ide nakal. “Jadi gini. Taruhan ini kita tujukan untuk Amara. Kalau Amara bisa menaklukkan hati Pak Rassel, kita belikan sepeda motor baru buat Amara. Tapi kalau Amara nggak bisa menaklukkan hati Pak Rassel dalam enam bulan, Amara harus traktir jajan kita berdua selama satu tahun penuh.”

Aku membelalakkan mata. Hera tampak terkejut, tapi kemudian mulai berpikir. Ia mengangguk-angguk seolah menimbang peluangnya.

“Hmm… aku setuju,” katanya akhirnya.

“Astaga, kalian serius? Taruhan macam apa itu? Enggak. Aku nggak setuju,” sergahku cepat.

“Ayolah, Mara…” Dania merengek seperti anak kecil.

“Enggak. Pokoknya aku tetap enggak.”

“Mara, ayolah. Ini nggak serius kok. Setelah kamu mendapatkan hati Pak Rassel, kamu bebas mau langsung putus juga boleh,” ujar Dania, seolah semuanya sesederhana menulis nama di kertas.

“Mana bisa seperti itu. Kasihan dong,” timpalku. Ada hal-hal yang tak bisa dijadikan permainan, termasuk perasaan seseorang.

Namun Dania dan Hera tampaknya tidak berniat berhenti. Hera mendorong piringnya sedikit, lalu menatapku dengan mata menyipit penuh rencana.

“enam bulan itu lama, Mara,” kata Hera lagi, kali ini lebih lembut. “Dan jujur, bukan berarti kamu beneran harus jatuh cinta sama Pak Rassel. Ya ampun, ini cuma tantangan seru-seruan.”

“Seru buat kalian,” dengusku.

Dania tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. “Mara, kamu itu cantik, pinter, dan kadang nyebelin sih… tapi kamu punya peluang. Aku yakin Pak Rassel bisa tertarik.”

“Serius, Dan? Dari mana percaya dirinya muncul?” tanyaku kesal, tapi pipiku mulai terasa hangat.

“Dari cara beliau melihat kamu di kelas tadi,” jawab Dania cepat.

Aku terdiam. Sebenarnya aku juga sempat merasa Pak Rassel beberapa kali menatap ke arahku, tapi aku mengira itu hanya perasaanku saja. Dan meski aku tidak punya maksud apa-apa, aku bisa merasakan tatapan itu meninggalkan sedikit rasa aneh di dadaku.

“Enggak. Aku nggak mau taruhan seperti itu,” ulangku akhirnya.

Hera menyandarkan dagu ke tangan. “Oke… kalau gitu aku tanya sekali lagi. Bukan soal taruhannya, tapi soal kamu. Kamu beneran nggak tertarik sama Pak Rassel? Bahkan sedikit pun?”

Aku menelan ludah. Jujur? Aku tidak tahu. Pria itu terlihat terlalu dewasa, terlalu tenang, terlalu… berbahaya untuk hatiku. Tatapannya bisa membuatku gugup, caranya bicara membuatku seperti murid bodoh yang ingin terus belajar. Tapi mana mungkin aku mengakui itu di depan dua ratu gosip ini?

“Nggak,” jawabku cepat. Terlalu cepat.

Dania langsung terkekeh. “Jawaban tercepat sekaligus paling bohong yang pernah aku dengar.”

“Dania!” protesku.

Hera menatapku lama, sampai aku merasa tidak nyaman. “Mara… kalau kamu tidak tertarik, kamu pasti sudah menegaskan dari tadi tanpa wajah merah begitu.”

“Aku nggak merah!”

“Kamu merah,” jawab mereka bersamaan.

Aku menutupi wajahku dengan tangan. Sial.

Namun sebelum aku bisa membalas, Dania berkata, “Oke. Gini aja. Taruhannya tetap berjalan… tapi Amara boleh menolak kalau dari awal Pak Rassel memang tidak menunjukkan ketertarikan apa-apa.”

“Loh, jadi taruhannya tetap?” sergahku kaget.

Hera mengangguk. “Iya. Tapi sekarang lebih adil. Kamu cuma perlu membuka peluang. Sisanya biar takdir.”

Aku terdiam. Antara kesal, bingung, dan… penasaran. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar, tapi juga bukan waktu yang terlalu panjang. Dan siapa tahu… mungkin aku akan tahu sesuatu tentang diriku sendiri.

Dania tersenyum lebar, seperti sudah menang dari awal. “Jadi… setuju?”

Aku menatap mereka bergantian. Dua sahabat gila yang selalu membuat hidupku lebih kacau tapi juga lebih berwarna.

Aku menarik napas panjang.

akhirnya, tanpa sadar, aku mengangguk pelan.

“Baik. Tapi kalau ada yang salah, kalian berdua yang bertanggung jawab.”

Hera dan Dania bersorak kecil, sementara aku hanya bisa memegangi dada yang kini berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

Apa yang baru saja aku setujui?

apa yang akan terjadi selama tiga bulan ke depan?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   85.Jarak yang Menggema

    **** Balasan revisi itu masuk keesokan paginya. Pukul 08.17. Aku sedang duduk di bangku taman depan fakultas ketika notifikasi itu muncul. Hera dan Dania belum datang. Suasana masih setengah sepi. Kubuka emailnya. File revisi terlampir. Komentarnya rapi. Objektif. Detail. Profesional. Aku membaca setiap catatan dengan pelan. Tidak ada kalimat personal. Tidak ada tambahan di luar konteks akademik. Bahkan tanda baca terasa lebih tegas. Di salah satu paragraf ia menulis: Argumentasi sudah kuat. Pertahankan struktur ini. Sederhana. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang ditahan. Aku menghembuskan napas panjang. Baik. Kalau ini format barunya, aku bisa menyesuaikan. Hera datang lima menit kemudian, langsung duduk di sampingku. “Update?” Aku menyerahkan ponsel tanpa bicara. Ia membaca cepat, lalu mengangkat alis. “Formal banget.” “Yup.” “Lo kecewa?” Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku nggak tahu.” Dania datang sambil membawa dua roti. “Apa la

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   84.Garis yang Tidak Simetris

    **** Aku tidak menyangka malam itu aku benar-benar mengirim revisi lewat email. Biasanya aku akan menunda, mencari alasan untuk datang langsung. Mengatakan ada bagian yang lebih mudah dijelaskan tatap muka. Tapi kali ini, aku menahan diri. Kalau aku yang menawarkan jarak, maka aku juga harus konsisten. Subjek email itu terasa lebih kaku dari biasanya. Revisi Bab 3 – Final Draft Tidak ada emotikon kecil. Tidak ada tambahan, “Mohon di priksa ulang, Pak.” Hanya kalimat seperlunya. Aku menatap tombol send beberapa detik. Lalu kuklik. Selesai. Beberapa menit pertama terasa biasa saja. Aku bahkan sempat membuka catatan lain. Tapi ketika lima belas menit berlalu tanpa balasan, pikiranku mulai bergerak sendiri. Biasanya dia cepat membalas. Biasanya. Aku meletakkan ponsel di meja. Menghadap layar ke bawah. Jangan berharap. Aku yang memilih ini. Satu jam kemudian notifikasi berbunyi. Jantungku berdegup sedikit lebih keras dari yang pantas. Kubuka. Balasanny

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   83.Retakan yang Mereka Tunggu

    *** Aku tidak langsung pergi ke parkiran setelah keluar dari ruangan Pak Rassel. Kakiku justru membawaku ke taman kecil di belakang fakultas tempat Hera dan Dania biasa nongkrong kalau jam kosong. Dari jauh, aku sudah melihat mereka duduk berhadap-hadapan, dua gelas es kopi di meja, ekspresi yang terlalu siap menyambut gosip. Hera yang pertama menyadari kedatanganku. “Wajah lo kenapa?” tanyanya tanpa basa-basi. “Itu muka orang yang habis debat tapi pura-pura tenang.” Dania langsung menoleh. “Bimbingan?” Aku menjatuhkan diri ke kursi kosong. “Iya.” “Dan?” mereka berdua kompak mendekat. Aku menghembuskan napas panjang. “Pak Rassel berubah.” Hera menyipitkan mata. “Berubah gimana? Tambah dingin? Atau tambah perhatian?” “Lebih formal,” jawabku pelan. “Dingin, tapi bukan dingin marah. Lebih ke… menjaga jarak.” Dania langsung memukul meja pelan. “YES.” Aku menatapnya tajam. “Lo bisa nggak sih jangan reaksi dulu?” “Sorry, sorry,” katanya, tapi senyumnya terlalu leba

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   82.Ritme yang Tidak Netral

    **** Aku mencoba membuktikan pada diri sendiri bahwa semua ini masih terkendali. Caranya sederhana: bersikap lebih formal. Lebih tegas. Lebih dingin. Senin pagi itu, ketika Amara masuk kelas dan duduk di barisan depan seperti biasa, aku tidak menoleh ke arahnya sebelum kelas benar-benar dimulai. Biasanya, ada sepersekian detik ketika pandangan kami bertemu. Hari itu, tidak. “Ada yang mau mereview materi minggu lalu?” tanyaku datar. Beberapa mahasiswa saling pandang. Hening. Lalu tangan itu terangkat. Amara. Aku tahu tanpa harus melihat. “Iya?” kataku singkat. Ia berdiri. “Bagian tentang bias penelitian. Saya rasa beberapa contoh kemarin bisa diperjelas lagi.” Nada suaranya stabil. Profesional. Aku mengangguk. “Silakan.” Ia menjelaskan dengan runtut. Tidak berlebihan. Tidak mencari perhatian. Tepat. Kelas memperhatikannya. Dan aku memperhatikan caranya menjelaskan tanpa sekali pun mencari persetujuanku lewat tatapan. Ia menjaga jarak. Sesuai yang k

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   81.Tepi yang Bergeser

    **** Aku selalu percaya satu hal: batas itu tidak hilang begitu saja. Ia tidak runtuh dengan ledakan. Ia hanya bergeser pelan, hampir tak terasa, sampai suatu hari kau berdiri di tempat yang berbeda dan bertanya kapan kau melangkah sejauh ini. Dua hari setelah percakapan terakhir itu, aku sengaja menata ulang jadwal bimbingan. Rasional. Supaya lebih efisien. Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri. “Pak, jadwal Amara dipindah ke Kamis sore?” tanya staf administrasi saat aku menyerahkan revisi daftar. “Iya. Ada bentrok ruang,” jawabku singkat. Padahal tidak ada. Kamis sore lebih sepi. Lebih tenang. Lebih berbahaya. Hari itu datang juga. Aku sudah berada di ruang kerja lima belas menit sebelum jadwalnya. Map-map tersusun rapi. Laptop terbuka. Jendela sedikit kubuka agar udara masuk. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memperhatikan hal sekecil itu. Ketukan terdengar. Tiga kali. Ritmenya kukenal. “Masuk.” Amara muncul dengan tas selempang dan map biru d

  • Mengejar Cinta Dosen Killer   80.Garis yang Mulai Kabur

    **** Aku tidak pernah suka membawa pekerjaan pulang. Tapi malam itu, setelah rapat selesai dan kampus mulai sepi, aku tetap duduk di ruang kerja dengan map milik Amara terbuka di depan mata. Halamannya sudah kubaca dua kali. Revisi metodologinya rapi. Referensinya mulai tajam. Secara akademik, ia berkembang. Secara pribadi. Aku berhenti di sana. “Fokus,” gumamku pada diri sendiri. Ponsel di meja menyala. Notifikasi email masuk. Bukan dari dia. Tapi entah kenapa, yang terlintas justru pesan singkatnya tadi siang. Senang bisa bantu, Pak. Singkat. Netral. Tanpa embel-embel. Aku menyandarkan punggung ke kursi. Sejak kapan aku memperhatikan hal-hal sekecil itu? **** Keesokan paginya, aku datang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku ingin suasana tenang sebelum kelas dimulai. Saat membuka pintu ruang dosen, aku melihat seseorang sudah duduk di kursi luar, laptop terbuka. Amara. Ia mengangkat kepala ketika mendengar langkahku. “Pagi, Pak.” “Pagi,” jawabku oto

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status