LOGINSetelah perdebatan kecil dengan Bela yang membuat kepalaku sedikit pening, aku mencoba menenangkan diri dengan memesan makanan dan minuman. Aroma kopi dari meja sebelah menyusup ke hidungku, membantu meredakan emosi yang tadi sempat memuncak. Aku menarik napas panjang, berusaha mengalihkan pikiran.
“Mara, kamu beneran sudah kenal Pak Rassel?” tanya Hera sambil menyodok lenganku pelan. Dania langsung mengangguk cepat, seolah menguatkan pertanyaan Hera. Aku hanya bisa memutar bola mata. “Ngaco kamu. Kenal dari mana?” jawabku, mencoba tetap tenang. “Tapi aku lihat-lihat, tadi Pak Rassel memang lagi banyak melihat kamu,” ucap Dania, matanya membesar penuh gosip. “Sampai segitunya ya kamu perhatian sama Pak Rassel, sampai tahu beliau melihat Amara?” Hera ikut menimpali Dania dengan nada menggoda. “Aku sumpah nggak kenal sama Pak Rassel,” kata Dania lagi, tapi kali ini aku yakin dia cuma mencoba memantik suasana. “Ngapain diributkan sih. Biarpun kenal atau enggak, itu urusan Amara,” Hera mulai kesal pada Dania yang tak berhenti menggulingkan isu. Dania akhirnya mengangguk kecil, entah menyetujui atau menyerah. Tak lama kemudian makanan datang. Aku, Hera, dan Dania segera fokus pada piring masing-masing. Setidaknya, begitu seharusnya. Namun, Dania tetaplah Dania. Ketika suasana mulai tenang, ia malah membuka obrolan baru. “Gaes, gimana kalau kita taruhan?” Aku dan Hera spontan menatap Dania bersamaan. “Maksudnya?” tanya kami kompak. Padahal Hera sudah lebih dulu mengajak untuk taruhan.Tetapi Dania juga ikut-ikutan. Dania menyandarkan punggungnya ke kursi, wajahnya penuh ide nakal. “Jadi gini. Taruhan ini kita tujukan untuk Amara. Kalau Amara bisa menaklukkan hati Pak Rassel, kita belikan sepeda motor baru buat Amara. Tapi kalau Amara nggak bisa menaklukkan hati Pak Rassel dalam enam bulan, Amara harus traktir jajan kita berdua selama satu tahun penuh.” Aku membelalakkan mata. Hera tampak terkejut, tapi kemudian mulai berpikir. Ia mengangguk-angguk seolah menimbang peluangnya. “Hmm… aku setuju,” katanya akhirnya. “Astaga, kalian serius? Taruhan macam apa itu? Enggak. Aku nggak setuju,” sergahku cepat. “Ayolah, Mara…” Dania merengek seperti anak kecil. “Enggak. Pokoknya aku tetap enggak.” “Mara, ayolah. Ini nggak serius kok. Setelah kamu mendapatkan hati Pak Rassel, kamu bebas mau langsung putus juga boleh,” ujar Dania, seolah semuanya sesederhana menulis nama di kertas. “Mana bisa seperti itu. Kasihan dong,” timpalku. Ada hal-hal yang tak bisa dijadikan permainan, termasuk perasaan seseorang. Namun Dania dan Hera tampaknya tidak berniat berhenti. Hera mendorong piringnya sedikit, lalu menatapku dengan mata menyipit penuh rencana. “enam bulan itu lama, Mara,” kata Hera lagi, kali ini lebih lembut. “Dan jujur, bukan berarti kamu beneran harus jatuh cinta sama Pak Rassel. Ya ampun, ini cuma tantangan seru-seruan.” “Seru buat kalian,” dengusku. Dania tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke depan. “Mara, kamu itu cantik, pinter, dan kadang nyebelin sih… tapi kamu punya peluang. Aku yakin Pak Rassel bisa tertarik.” “Serius, Dan? Dari mana percaya dirinya muncul?” tanyaku kesal, tapi pipiku mulai terasa hangat. “Dari cara beliau melihat kamu di kelas tadi,” jawab Dania cepat. Aku terdiam. Sebenarnya aku juga sempat merasa Pak Rassel beberapa kali menatap ke arahku, tapi aku mengira itu hanya perasaanku saja. Dan meski aku tidak punya maksud apa-apa, aku bisa merasakan tatapan itu meninggalkan sedikit rasa aneh di dadaku. “Enggak. Aku nggak mau taruhan seperti itu,” ulangku akhirnya. Hera menyandarkan dagu ke tangan. “Oke… kalau gitu aku tanya sekali lagi. Bukan soal taruhannya, tapi soal kamu. Kamu beneran nggak tertarik sama Pak Rassel? Bahkan sedikit pun?” Aku menelan ludah. Jujur? Aku tidak tahu. Pria itu terlihat terlalu dewasa, terlalu tenang, terlalu… berbahaya untuk hatiku. Tatapannya bisa membuatku gugup, caranya bicara membuatku seperti murid bodoh yang ingin terus belajar. Tapi mana mungkin aku mengakui itu di depan dua ratu gosip ini? “Nggak,” jawabku cepat. Terlalu cepat. Dania langsung terkekeh. “Jawaban tercepat sekaligus paling bohong yang pernah aku dengar.” “Dania!” protesku. Hera menatapku lama, sampai aku merasa tidak nyaman. “Mara… kalau kamu tidak tertarik, kamu pasti sudah menegaskan dari tadi tanpa wajah merah begitu.” “Aku nggak merah!” “Kamu merah,” jawab mereka bersamaan. Aku menutupi wajahku dengan tangan. Sial. Namun sebelum aku bisa membalas, Dania berkata, “Oke. Gini aja. Taruhannya tetap berjalan… tapi Amara boleh menolak kalau dari awal Pak Rassel memang tidak menunjukkan ketertarikan apa-apa.” “Loh, jadi taruhannya tetap?” sergahku kaget. Hera mengangguk. “Iya. Tapi sekarang lebih adil. Kamu cuma perlu membuka peluang. Sisanya biar takdir.” Aku terdiam. Antara kesal, bingung, dan… penasaran. Tiga bulan bukan waktu yang sebentar, tapi juga bukan waktu yang terlalu panjang. Dan siapa tahu… mungkin aku akan tahu sesuatu tentang diriku sendiri. Dania tersenyum lebar, seperti sudah menang dari awal. “Jadi… setuju?” Aku menatap mereka bergantian. Dua sahabat gila yang selalu membuat hidupku lebih kacau tapi juga lebih berwarna. Aku menarik napas panjang. akhirnya, tanpa sadar, aku mengangguk pelan. “Baik. Tapi kalau ada yang salah, kalian berdua yang bertanggung jawab.” Hera dan Dania bersorak kecil, sementara aku hanya bisa memegangi dada yang kini berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Apa yang baru saja aku setujui? apa yang akan terjadi selama tiga bulan ke depan?Pagi itu datang terlalu cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar sempat tidur atau hanya terpejam beberapa menit di antara gelisah yang tak berujung. Alarm berbunyi pukul tujuh, tapi aku sudah duduk di tepi kasur sebelum itu, menatap kosong ke lantai. Perutku terasa mual. Bukan hanya karena kondisi yang belum sepenuhnya bisa kuterima… tapi juga karena hari ini. Hari penentuan. Aku mandi lebih lama dari biasanya, seolah air bisa menenangkan pikiranku. Tapi tidak ada yang berubah. Bayangan tentang percakapan itu terus berputar di kepalaku. Bagaimana jika dia marah? Bagaimana jika dia menyangkal? Atau lebih buruk… Bagaimana jika dia tetap tenang seperti kemarin dingin, jauh, seolah aku bukan siapa-siapa? Aku mengenakan pakaian paling sederhana yang kupunya. Tidak ingin terlihat mencolok. Tidak ingin menarik perhatian. Aku hanya ingin… ini cepat selesai. Jam di kampus menunjukkan pukul 09.47 saat aku berdiri di depan pintu ruangannya. Sepuluh langkah
Roy tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di kursi dekat meja, menatap kami bergantian seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak kami ucapkan. Suasana di basecamp berubah menjadi canggung. Tangisku memang sudah mereda, tapi bekasnya masih terasa jelas di wajahku. “Aku beli minum,” kata Roy akhirnya, memecah keheningan. “Kalian mau apa?” “Air putih aja,” jawab Hera cepat. Dania mengangguk pelan. Aku tidak mengatakan apa-apa. Roy menatapku sebentar lebih lama, lalu mengangguk kecil sebelum keluar ruangan. Begitu pintu tertutup, Hera langsung menghembuskan napas panjang. “Ini gak bisa lama-lama disembunyiin, Ra.” Aku menunduk. “Aku tahu.” “Tapi kamu juga gak bisa cerita ke sembarang orang,” tambah Dania hati-hati. Aku memeluk tubuhku sendiri. “Aku bahkan belum siap cerita ke dia…” Nama itu tidak perlu disebut. Kami semua tahu siapa yang dimaksud. Hera menyandarkan tubuhnya ke kursi, wajahnya terlihat serius. “Kalau kamu terus nunda, nanti malah makin sulit.” “Aku takut,” b
**** Sudah lebih dari satu bulan. Satu bulan sejak pesan singkat itu. Dan satu bulan sejak Pak Rassel seperti menghapusku dari hidupnya. Di kampus kami tetap bertemu, tapi rasanya seperti orang asing. Ia tetap mengajar seperti biasa tenang, rapi, profesional. Tidak ada satu pun sikapnya yang menunjukkan bahwa pernah ada sesuatu di antara kami. Ia bahkan jarang menatapku. Jika aku bertanya di kelas, ia menjawab seperti menjawab mahasiswa lain. Singkat. Formal. Dingin. Pada akhirnya aku menyerah. Dua minggu lalu aku mengundurkan diri sebagai asisten dosen. Tidak ada yang bertanya terlalu banyak. Mereka hanya menganggap aku sibuk dengan skripsi. Padahal sebenarnya aku hanya tidak sanggup lagi berada terlalu dekat dengannya. Tidak sanggup berpura-pura semuanya baik-baik saja. Dan hari ini… semuanya menjadi jauh lebih buruk. Tanganku masih gemetar saat menyerahkan benda kecil itu pada Dania. Kami bertiga duduk di kamar kosku. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
**** Aku menatap layar ponsel cukup lama setelah pesan itu terkirim. Tanda centang dua muncul hampir seketika. Artinya pesan itu sudah sampai. Tapi tidak ada balasan. Tidak ada satu kata pun. Aku menghela napas pelan. Jari-jariku masih menggenggam ponsel erat, seolah kalau kulepas semuanya akan terasa lebih nyata. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang sangat Pak Rassel. Singkat. Rapi. Dingin. Aku menelan ludah. Biasanya… bahkan untuk hal sekecil apa pun, ia akan menambahkan satu kalimat lain. Jaga diri. atau Jangan pulang terlalu malam. Hal-hal kecil yang membuatku merasa diperhatikan. Tapi kali ini tidak ada apa-apa. Hanya jarak. Aku menunggu beberapa menit lagi. Tidak ada balasan. Akhirnya aku mematikan layar ponsel dan menyandarkan punggung di kursi halte depan apartemen. Angin sore terasa sedikit dingin. Lucunya, aku baru sadar sesuatu. Ia bahkan tidak memberitahuku langsu
**** Aku menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Pesannya singkat. Amara, saya sedang di luar negeri untuk beberapa hari. Ada urusan pekerjaan. Jangan menunggu saya di apartemen. Kalimat yang rapi. Tenang. Seolah semuanya normal. Padahal tidak ada yang benar-benar normal. Pesan itu terkirim beberapa detik kemudian. Aku meletakkan ponsel di meja bar dan menghela napas panjang. Di luar negeri? Itu bohong. Aku bahkan masih berada di kota yang sama. Namun entah kenapa kalimat itu terasa lebih mudah daripada mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku sedang menghindar. Bahwa aku tidak tahu bagaimana harus kembali ke apartemen dan melihat Amara seolah tidak terjadi apa-apa. Bahwa kehadiran Rika membuat semua yang selama ini kusimpan rapi kembali berantakan. Sudah empat hari sejak malam itu. Empat hari aku tidak pulang. Aku bahkan mengambil cuti dari kampus. Pagi tadi aku mengirim email resmi kepada bagian administrasi. Saya mengambil cuti beber
**** Aku masih duduk di kursi seberang sofa. Amara tertidur dengan selimut yang tadi kuselipkan di bahunya. Napasnya teratur, wajahnya tenang seolah dunia tidak menyimpan kerumitan apa pun. Berbeda denganku. Kepalaku terasa penuh. Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit apartemen yang terasa tiba-tiba sempit. Kenapa semuanya terasa begitu rumit? Beberapa jam lalu aku hanya duduk di ruang kerja, menatap foto lama yang tidak seharusnya masih kusimpan. Foto yang membawa kembali seseorang yang sudah lama pergi dari hidupku. Rika. Nama itu seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Aku mengusap wajah dengan kasar. Mataku kembali ke arah Amara. Perempuan itu datang ke hidupku tanpa rencana. Tanpa perhitungan. Tanpa izin. Awalnya hanya mahasiswa yang terlalu jujur dengan perasaannya. Lalu entah sejak kapan… dia menjadi seseorang yang mulai kupikirkan terlalu sering. Namun tepat ketika aku mulai membiarkan semuanya berjalan… masa lalu itu kembali muncu
*** Aku terbangun perlahan. Bukan karena suara apa pun. Hanya karena tubuhku terasa berbeda. Hangat. Berat. Dan entah kenapa… sangat sadar akan setiap sentuhan kecil di kulitku. Beberapa detik aku hanya berbaring dengan mata masih setengah tertutup. Langit-langit kamar asing terlihat
Langit sudah benar-benar gelap ketika aku akhirnya berjalan keluar dari gerbang kampus. Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Rassel sudah menunggu di dalam mobilnya, seperti yang sering ia lakukan beberapa hari terakhir. Lampu kabin redup ketika aku membuka pintu dan duduk di kursi pen
**** Malam itu aku hampir tidak bisa tidur. Bukan karena ciuman itu saja. Tapi karena cara Rassel menatapku sebelum aku turun dari mobil. Tatapan yang hangat… namun juga penuh sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga dan takut kehila
**** Pertemuan dengan Dania dan Hera berjalan lebih canggung dari yang kuduga. Rassel berdiri di sampingku, terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Lengannya sempat melingkar di pinggangku sebelum akhirnya turun perlahan, seolah ia sadar sedang diawasi. Dania menatapku penuh arti. Hera tersenyum







