Share

Bab 9 Sakit

last update Last Updated: 2023-11-21 17:53:58

Pukul delapan, Fabian pulang ke apartemen dan terkejut melihat Alisya sedang tertidur di sofa dengan tubuh menggigil. Bahkan tas kuliahnya tergeletak begitu saja di lantai. Ia buru-buru menghampiri Alisya dan memeriksa kondisinya. Suhu tubuhnya cukup tinggi.

"Alisya," panggilnya.

Alisya membuka mata dengan susah payah karena kepalanya pening. "Mas..."

"Badan kamu panas. Kita ke rumah sakit, ya."

Alisya menggumam tak setuju. "Jangan..."

"Loh, kenapa? Badan kamu panas banget. Kamu harus diperiksa..."

"Gak... mau..."

"Alisya...," lirih Fabian, ingin memaksa tapi ekspresi Alisya benar-benar terlihat tak suka. Ia menghela nafas, lalu melepaskan jas kerjanya untuk menyelimuti Alisya. "Oke, kamu tidur di kamar aja. Jangan di sini."

Mengangkat tubuh Alisya ala pengantin, Fabian membawa gadis itu ke kamarnya dan menidurkannya pelan-pelan. Fabian lalu keluar untuk mengambil alat untuk mengompres Alisya. Dengan telaten ia mengelap wajah Alisya, dan menyingkirkan anak rambut gadis itu sebelum meletakkan kain itu ke dahinya.

"Kamu udah makan?" tanya Fabian, memperhatikan mata Alisya yang begitu sayu dan redup.

"Belum."

"Kamu tetep harus makan biar bisa makan obat. Sebentar, saya bikinin bubur."

Alisya langsung memegang tangan Fabian, mencegahnya pergi. Ia berkata lirih, "Kasih obat aja, Mas. Besok biasanya udah sembuh."

"Kamu belum makan, Alisya. Perut kamu kosong."

"Udah biasa kok, Mas," ucap Alisya. Ia tak terlalu banyak berpikir dan hanya ingin tidur saja. Biasanya juga saat sakit seperti ini orang rumah hanya akan membiarkannya di dalam kamar sampai ia sembuh sendiri. Bahkan tak ada yang ingin repot-repot mengompres kepalanya seperti yang dilakukan oleh Fabian.

Fabian terdiam sejenak, lalu menghela nafas. "Kamu jangan tidur. Saya bikinin makanan dan pokoknya kamu harus makan."

Kali ini Alisya tak bisa mencegah Fabian lagi. Alisya merasa aneh karena ada orang yang sedang mengurusnya saat ia sakit. Tapi tak urung, kilasan bayangan-bayangan yang membuat hatinya sakit membuat Alisya kembali menangis. Saat ia merasa lemah, Alisya selalu berpikir bahwa keberadaannya di dunia ini sangat tidak diinginkan. Tak seorangpun peduli, bahkan ayahnya.

Alisya teringat, saat ia dan Tasya masih SMP, Tasya pernah terkena usus buntu dan harus dioperasi. Seluruh keluarga repot mengurus Tasya, padahal saat itu Alisya juga sedang tak enak badan karena hujan-hujanan saat ayahnya lupa menyuruh sopir untuk menjemputnya. Alisya hanya diam di kamar dan tertidur sambil memeluk foto ibunya. Paling-paling hanya Mbok Sita, orang yang membantu mengurus rumah, yang akan mengantarkan makanan ke kamar Alisya karena kasihan melihatnya.

Alisya juga teringat saat-saat di mana ia iri melihat kedekatan Tasya dengan ibunya. Alisya iri karena Tasya masih bisa memeluk dan mengeluh apapun pada ibunya. Lalu ibunya akan membelai kepala Tasya dan membela anaknya mati-matian, entah ia salah atau benar. Apalagi saat mereka bertengkar dan Alisya selalu dimarahi karena dianggap yang paling salah. Tasya juga selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan saat sakit. Bahkan perhatian ayahnya. Ayahnya yang selalu sibuk untuk Alisya, menjadi tidak sibuk demi Tasya.

"Alisya? Kenapa? Ada yang sakit?"

Alisya membuka mata, tanpa sadar air matanya terus meleleh karena mengingat kenangan buruk. Itu terjadi begitu saja, padahal Alisya tak bermaksud ingin menangis. Fabian kembali sambil membawa semangkuk sup, bukan bubur. Masih mengepul dari mangkuk dan aromanya menguat ke Indra penciuman Alisya. Sepertinya tak buruk.

"Saya gak jadi bikin bubur soalnya lama, tapi saya liat ada bahan buat bikin sup di kulkas. Kamu, ada yang sakit?"

Alisya buru-buru menggeleng sambil berusaha menghapus air matanya, tapi Fabian menahan tangannya dan mengambil tisu untuk membantu Alisya mengelap air matanya. Fabian melakukannya dengan sangat lembut.

"Panas ya? Gak apa, nanti minum obat panasnya akan turun," ucap pria itu, melepas kompres Alisya dan membersihkan seluruh bagian wajahnya. Setelah wajah Alisya bersih dari air mata, Fabian pelan-pelan membantu Alisya untuk duduk agar bisa memakan sup yang sudah ia buat. Untungnya memang tak terlalu sulit membuat sup dan hanya perlu direbus sampai sayur dan proteinnya matang. Walaupun potongan sayurnya tak terlalu rapi. "Gak apa kan, makan sup dulu?"

"Iya, Mas," lirih Alisya. Saat ia ingin mengambil mangkuk supnya, Fabian malah melarang.

"Saya aja yang nyuapin," sela Fabian, lalu menyuapkan sesendok sup untuk Alisya setelah memastikan suhunya sudah dingin.

Sungguh sulit untuk tidak semakin jatuh cinta pada Fabian. Alisya yang belum pernah diperlakukan seperti ini (kecuali oleh ibunya sebelum meninggal), benar-benar tak bisa menampik bahwa hatinya sudah tak tertolong lagi. Rasanya seperti ia mendapatkan tempat hangat yang nyaman untuk berlindung. Rumah. Mungkin itu istilah yang tepat. Fabian benar-benar pria yang hangat.

Malam ini, ia segera tertidur setelah Fabian memberikan obat penurun panas padanya. Sebelum menutup mata, Alisya ingat bahwa Fabian masih berada di sisinya untuk memeras kain yang akan digunakan untuk mengompres keningnya lagi. Setelah itu Alisya benar-benar tertidur berkat efek obat itu.

Biasanya Alisya akan terbangun dalam kondisi sesak karena menangis semalaman, tapi pagi ini hatinya begitu lapang. Alisya kaget saat mendapati sosok Fabian yang tertidur di sisi ranjangnya sambil menyandarkan diri di dinding. Pakaian kerjanya juga belum diganti. Itu berarti sejak semalam Fabian menjaganya di kamar ini. Alisya melepas kompresnya dan berusaha bangkit, tapi malah tak sengaja membangunkan Fabian.

"Alisya, panasnya udah turun?" tanya Fabian, refleks menyentuh kening Alisya.

"Mas kok tidur di sini?"

"Saya gak sengaja ketiduran, tapi saya gak ngapa-ngapain kok. Cuma ganti kompres kamu aja. Ini udah gak panas lagi, tapi kamu jangan banyak gerak dulu," omel Fabian.

"Maaf ya, Mas. Aku ngerepotin," lirih Alisya dengan mata sayu. Ia merasa tak enak karena Fabian sampai tidak bisa beristirahat dengan baik. "Padahal ditinggal juga gak apa."

"Semalam kamu ngigau, saya cemas. Terus suhu tubuh kamu gak turun-turun juga, padahal kamu sampe menggigil terus. Saya khawatir kamu ada apa-apa kalo saya tinggal."

"Mas sampe gak ganti baju," gumam Alisya dengan nada sendu. "Aku ngerepotin banget."

"Gak, Alisya. It's not a big deal, jadi gak perlu kamu pikirin. Kamu itu udah kayak adek saya dan kebetulan saya memang gak punya adek cewek. Saya seneng kok punya adek yang manis dan penurut kayak kamu, jadi saya memang pengen jagain kamu," ucap Fabian dengan tulus.

Kalau saja, Alisya tidak sedang jatuh cinta pada Fabian, mungkin Alisya akan terharu dengan ucapan pria itu. Tapi saat ini Alisya malah merasa tersentil. Fabian memang baik, perhatian, hangat dan sangat pengertian. Tapi itu karena Fabian menganggapnya sebagai adik perempuan.

"Mana Mama lagi di luar kota," gumam Fabian, memeriksa ponselnya. Ia lalu seperti menghubungi seseorang.

"Halo, Mbak. Ini saya. Hari ini saya gak bisa ke kantor, ada urusan mendadak. Nanti untuk kerjaan, tolong kirim ke email saya ya. Saya akan kerja dari rumah."

Alisya tercenung. "Loh, Mas? Gak apa, Mas kerja aja."

Fabian memutuskan sambungan teleponnya, menoleh pada Alisya. "Gak, Alisya. Saya gak bisa fokus kerja kalo kamu sakit. Setidaknya kalo di rumah, saya bisa sekalian ngawasin kamu. Ya udah, saya bikin bubur dulu."

Setelah itu Fabian meninggalkan Alisya untuk membuat bubur. Alisya merenung sendirian di kamar. Ucapan Fabian terngiang-ngiang di kepala, merasuk ke sanubari dan menggelitik egonya. Hanya sebatas adik. Sebuah pernyataan yang merusak kesenangan Alisya. Tapi, andaikata Fabian mengetahui perasaannya, kira-kira apa yang akan terjadi dalam hubungan mereka?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 39 Sugar baby

    "Apa?! I-istri?!" pekik Kak Clara dengan ekspresi syok, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.Yang masuk tadi adalah Clara, sang sekretaris lucu yang naksir Fabian. Tentu saja wanita itu syok melihat bosnya sedang berciuman mesra dengan Alisya. Alisya jadi benar-benar merasa tak enak hati melihat ekspresi melodramatis di wajah Clara. Clara juga menatapnya seolah ia adalah pengkhianat."Dek Alisya, kamu tega!" ucapnya dengan nada dramatis, lalu berbalik dan melangkah pergi keluar ruangan Fabian."Kak Clara!" pekik Alisya, berusaha mencegah kepergian Clara. Langkah Clara terhenti, berbalik. "Padahal Kakak udah percaya banget sama kamu. Tapi kamu gak ngasih tau apa-apa.""Aku bisa jelasin...""Cukup! Sudah terlambat, Dek Alisya.""Kak Clara, maaf ya," cicit Alisya, merasa bersalah. Ia menghampiri sekretaris itu dengan hati-hati. "Harusnya aku jujur dari awal.""Padahal Kak Clara tulus bantuin kamu," ucapnya dengan ekspresi murung. "Kan Kak Clara malu jadinya ngaku-ngaku di depan

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 38 I D C

    Sepanjang perjalanan pulang, Fabian hanya membisu. Alisya ikut terdiam sambil sesekali melirik suaminya yang nampak begitu terganggu dengan ucapan Via tadi. Memangnya apa yang diperbuat oleh Fabian terhadap gadis bernama Risa itu. Lalu Alisya menggeleng. Ia tak mau memikirkannya. Rasanya semakin kesal saja. Di apartemen, Alisya meletakkan belanjaannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar, ia kaget karena Fabian tak kunjung masuk ke dalam kamarnya yang kini sudah bertransformasi menjadi kamar mereka. Alisya mencari Fabian ke ruangan lain dan mendapati Fabian sedang merenung di ruang kerjanya."Mas?"Fabian tersentak. "Kamu gak tidur? Katanya capek." "Mas ngapain di sini?" tanya Alisya, duduk di meja Fabian.Fabian menghela nafas. "Saya ada kerjaan, jadi...""Mas," potong Alisya, mendesah kecil dan mendekati Fabian. Ia menyentuh wajah pria itu dengan kedua tangannya. "Aku gak suka sama si Via-Via itu."Fabian menahan tangan Alisya. "Mungkin saya harus jujur sam

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 37 Siapa sih Risa?!

    Ketika Fabian kembali, suasana terasa agak sunyi. Fabian melirik heran pada raut tegang teman-temannya, lalu menoleh pada Alisya. Gadis itu malah menatapnya dan tersenyum manis."Telponnya udah, Mas? Aku pengen pesen makanan tapi nungguin Mas dulu," ucap Alisya dengan nada santai. Fabian mengangguk dan segera memanggil pelayan. Karena yang lain sudah memesan makanan, jadi mereka hanya memesan untuk mereka saja. Alisya memesan beberapa varian dumpling dan bebek panggang, juga penutup berupa egg tart dan green tea sorbet. Cukup banyak untuk dirinya sendiri. Sementara yang lain mulai nampak rileks karena Alisya sepertinya tak menggubris perkataan Via tadi.Benarkah seperti itu?"Kayaknya aku mesen kebanyakan ya, Mas," ucap Alisya, saat pelayan mengantarkan pesanan mereka. "Kalo gak abis, nanti Mas yang abisin ya?""Ya udah, makan aja dulu," angguk Fabian. Alisya menikmati makanannya dengan santai, tapi ia hanya mencicipi sedikit-sedikit saja setiap menu. Ia melirik ke arah yang lain ya

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 36 Kencan, tapi...

    Demi rencana ini Alisya sampai nekat membeli pakaian baru di butik dekat kampus. Di jam yang sudah ditentukan, ia menunggu di lobi apartemen sambil memperhatikan setiap mobil yang masuk dan keluar. Begitu mobil yang ia kenali berhenti di depannya, Alisya buru-buru masuk. Entah kenapa ia merasa Fabian nampak sangat tampan walaupun baru pulang kerja."Seat belt-nya," ucap Fabian, memajukan tubuh untuk memasangkan sabuk pengaman Alisya. Namun ia tak segera menjauh, melainkan mencuri kecupan di bibir gadis itu. Alisya cukup tersipu terhadap kecupan ringan itu. "Tapi aku masih heran deh, Mas. Kok tiba-tiba jadi mesra banget sama aku? Perasaan kemaren sampe pura-pura punya pacar dan nyuruh aku cari cowok lain yang seumuran."Fabian menatap Alisya sejenak, mendesah kecil dan mulai menjalankan mobilnya. "Kamu mau jawaban yang jujur?""Yang jujur, dong.""Eum jujur aja sih, kamu emang cantik. Banget. Kamu memang sangat menarik dari segi penampilan. Dengan kamu terus-terusan godain saya, rasan

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 35 Momongan?

    Hari ini, pagi terasa begitu berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Alisya sedang menggoreng telur dan Fabian berdiri di belakangnya, memeluknya. Kuliah Alisya dimulai agak siang, sementara Fabian sepertinya memutuskan untuk datang lebih siang ke kantor. Mereka benar-benar seperti pengantin baru yang lengket satu sama lain. "Udah ah, Mas. Kemaren aja gak mau sama anak kecil," omel Alisya."Kan saya udah minta maaf.""Gak mau duduk?" Fabian malah membenamkan wajahnya ke leher Alisya. Alisya mendesah, mematikan kompor dan meletakkan telur di piring. Ia menepuk-nepuk tangan Fabian yang berada di atas perutnya. "Mas, aku baru kepikiran.""Kepikiran apa?""Gimana kalo aku hamil?"Fabian terdiam sejenak. "Kamu gak mau hamil?""Kan aku, masih kuliah. Kayaknya aku belom siap deh," ucap Alisya seraya melepaskan tangan Fabian dan membalikkan badan. Fabian tersenyum kecil dan mengangguk. "Kalo gitu kita ke dokter ya. Tapi kemaren kita gak pake pengaman."Alisya setengah cemberut melihat per

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 34 Lembar baru

    Alisya mendesah saat Fabian mengecup bahunya dari belakang. Sepertinya pria itu sudah bangun. Tangan Fabian yang bertengger di perutnya mulai naik turun, mengelusi kulit mulus Alisya. Nafas hangat sang pria kembali menginvasi leher belakang Alisya, membuat gadis itu menggelinjang kegelian."Mas...""Badan kamu wangi banget, saya suka," bisik Fabian, kembali berusaha menggoda gadis itu. Alisya membalikkan badannya, menghadap ke arah Fabian yang langsung menempelkan kening mereka. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menjadi seorang istri. Alisya menyentuh rahang pria itu, merasakan jambangnya yang kasar namun ada sensasi menyenangkan saat mengelusnya. "Kamu suka?" tanya Fabian, mengelus tangan Alisya yang nangkring di wajahnya."Dulu aku gak suka cowok yang ada bulu di muka. Tapi kayaknya aku berubah pikiran setiap liat Mas," kekeh Alisya. "Kenapa gak suka?""Eum, di sekitarku penuh sama cowok-cowok ganteng yang mukanya putih mulus," cengir Alisya."Saya jelek ya?""Nggak!" bantah A

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 33 Ayo mulai...

    Malam ini Fabian mengajak Alisya untuk bersiap-siap. Sebenarnya Alisya tak paham. Apa Fabian mengajaknya pergi kencan? Kemarin Fabian tak pernah lagi mengungkit-ungkit panggilan sayangnya terhadap Alisya hingga Alisya nyaris yakin bahwa ia hanya salah dengar saja. Sikap Fabian juga lembut, tapi bukan sesuatu yang menunjukkan ke arah kemesraan. Lalu mengenai Windy juga, Fabian hanya bilang bahwa Mama Jihan akan mengurus segalanya. Alisya kembali libur kuliah. Kebetulan memang hari Sabtu. Dan Alisya menghabiskan hari Sabtu ini dengan mencuci pakaian yang belum sempat ia cuci. Ia juga agak mengeluh karena pola makannya sangat tidak teratur kemarin. Perutnya malah kembali buncit karena asal memakan makanan. Yah, apa boleh buat. Ia harus memulai lagi diet dan work out-nya dari nol. Tapi siang ini Fabian menghubunginya untuk bersiap-siap pukul 6 sore. Jangan bilang Fabian ingin mengajaknya berkencan.Alisya tak memiliki banyak pakaian cantik. Pakaian tercantik yang dimilikinya adalah gaun p

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 32 Ehem

    "Dia yang duluan narik rambut saya, Bu. Tanya aja sama anak-anak. Sekelas jadi saksi kok, kalo Alisya yang nyerang duluan," kata Windy, membela diri. Alisya yang duduk di kursi berbeda langsung menatap tajam Windy. "Saya membela diri karena dia ngatain saya lonte, Bu.""Eh, lo duluan yang nyemperin gue dan ngajak ribut," elak Windy, lalu menatap Ketua Prodi. "Dia mukul meja saya tiba-tiba, Bu. Padahal saya dan temen-temen saya gak ngapa-ngapain."Alisya langsung naik darah. "Gak ngapa-ngapain gimana?!""Sudah! Hentikan!" pekik Ketua Prodi, pusing karena dua gadis itu saling melempar tuduhan. "Kalian berdua itu sudah mahasiswa, ribut kok kayak bocah-bocah SD."Alisya dan Windy langsung tertunduk melihat kemarahan wanita paruh baya berkacamata tebal yang menjabat sebagai Ketua Prodi, sekaligus dosen yang tadinya akan mengajar mereka. Bu Puan namanya. Kali ini Bu Puan hanya bisa menghela nafas melihat kelakukan anak didiknya itu. Di depannya juga berjejer teman-teman Windy dan Alisya yan

  • Mengejar Cinta Mas Bian    Bab 31 Ke kampus lagi

    Keadaan Alisya mulai membaik di hari kedua. Karena Alisya mati-matian menolak dibawa ke rumah sakit, Fabian sampai memanggil seorang dokter pribadi untuk memeriksa Alisya. Mama Jihan juga datang untuk merawatnya dan Fabian menepati janjinya untuk tak mengatakan apapun. Sang mertua yang menjaganya saat Fabian pergi ke kantor hari ini. "Kamu kok kurus banget, sih. Makan yang banyak dong, Nak," omel Mama Jihan saat menyuapi Alisya makan siang. Mau tak mau Alisya harus makan bubur buatan Mama Jihan, padahal Alisya tak terlalu menyukai makanan lembek itu. Waktu itu Fabian sangat tepat saat membuatkannya sup. Suhu tubuhnya sudah normal, walau perasaannya belum pulih sepenuhnya. Kemarin Fabian bertanya apa ia mau pergi ke psikiater, dan Alisya langsung menolak karena takut. "Udah sehat?" tanya Fabian yang pulang kerja lebih awal. Ia memeriksa kening Alisya dan bernafas lega."Kalo ada apa-apa, langsung hubungi Mama ya Bi," pesan sang mertua, sebelum meninggalkan apartemen Fabian. Sebenarn

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status