Share

Bab 8

Author: LV Edelweiss
last update publish date: 2026-03-11 11:46:27

Rasa tak percaya, tapi ini sungguh nyata. Ada begitu banyak cafe kopi di kota ini, kenapa Anya harus bertemu dengan orang ini? Bagaimana mungkin dunia ini hanya selebar daun kelor, pikirnya.

Anya diam. Saking nervous-nya, ia bahkan sampai tak sanggup untuk sekedar menyapa laki-laki yang sudah membuat dahinya bengkak dan memerah itu. Yup, Bintang sedang berada di depan Anya saat ini. Menatap dirinya sembari meletakkan tangan di atas meja.

“Saya mau pesan,” tutur Bintang datar.

“Oh, ya. Mau pesan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 29

    Pagi menjelang. Suara azan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Bersaing dengan suara alarm Anya yang memecah keheningan ruang kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Anya mengerjapkan mata sesaat. Lalu meraih ponselnya yang ada di dekat bantal dan melihat kepada angka jam yang tertera di layarnya. Sudah pukul lima pagi. Ia lalu bangkit dan segera berjalan ke arah kamar mandi kos sebelum penghuni kamar lainnya bangun. Kalau sampai antri, maka dapat dipastikan Anya akan terlambat sampai ke hotel. Beruntung, baru ada Anya dan salah seorang penghuni kamar kos lainnya. Jadi Anya bisa langsung masuk dan mandi dengan segera. Selang lima belas menit, ia pun sudah selesai. Anya kembali ke kamarnya dan langsung membangunkan Anne. “Bun ... Bunda .... Sudah subuh, Bun.” “Eum ....” Anne membuka mata perlahan dan langsung melihat Anya dengan dahi yang bertaut. “Sudah adzan ya?” tanyanya. “Udah, Bun. Bunda langsung mandi ya? Sebelum yang lain bangun.” Anne langsung bangkit dan mengambil

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 28

    Bintang duduk di teras depan rumahnya dengan sesekali melihat kepada layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun ia masih belum bisa memejamkan mata. Semua orang tampak sudah masuk kamar masing-masing. Sesekali mulutnya bergerak mengulang kalimat ijab qabul yang besok akan diucapkannya. Dan karena ada pergantian nama mempelai wanita, maka Bintang harus mengubah hapalannya—mengingat penuh nama Anya dan melupakan nama Bulan. Jangan sampai salah. “Belum tidur, Bin?” Rahayu datang dan mengalihkan atensi putranya. “Belum Ma.” Bintang segera meletakan ponselnya di atas meja teras. Rahayu mendekat dan duduk di dekat Bintang. “Bagaimana? Kamu sudah hapal kan?” tanyanya perempuan berkerudung hitam itu. “Alhamdulillah, sudah Ma.” Rahayu manggut-manggut. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan jalan. Tampak suasana di jalanan sudah mulai sepi. Sebab mereka tinggal di komplek perumahan pensiunan TNI, jadi tidak begitu ramai kendaraan yang lalu lalang. “Ke

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 27

    Selama perjalanan menuju ke kosannya, Anya tampak murung dan tidak banyak berbicara. Pandangannya terus tertuju hanya pada jendela mobil, membuat Bintang yakin jika telah terjadi sesuatu pada calon istrinya itu. “Kita makan siang dulu ya?” ucap Bintang memecah keheningan di antara mereka. “Aku belum lapar, Om. Kita langsung pulang aja. Lagian aku mau istirahat, nanti sore aku harus kerja.” Anya membuat alasan. “Kerja?” tanya Bintang tak percaya. “Besok kita sudah akan menikah, Anya. Kenapa kamu masih mau kerja sore ini?” “Ya habis mau gimana lagi, Om. Aku kan belum izin sama bosku. Ntar kalau aku dipecat, aku mau makan apa?” Bintang tertawa pelan mendengar kata-kata Anya. Selama mereka kenal, baru kali ini ia melihat Anya pasrah pada keadaan. Biasanya sangat optimistis. Lagi pula, sudah akan menjadi istri orang, bisa-bisanya Anya masih memikirkan tentang biaya hidup. Lantas, apa guna dirinya, pikir Bintang. “Om ngetawain aku?” tanya Anya dengan ekspresi wajah kesal namun tidak

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 26

    Bintang diam dengan pandang yang masih tertuju kepada Anya. Dahinya mengernyit, raut wajahnya penuh tanya. Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba Anya bertanya tentang Bulan?“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Bintang. “Aku cuma penasaran aja, Om. Kira-kira, kalau misalnya calon istri Om tiba-tiba muncul, Om bakal tetap nikah sama aku, atau lebih milih balik sama dia?” tanya Anya penasaran.Bintang masih diam. Lalu kembali membuang pandang ke arah layar ponselnya. “Kita lihat saja nanti, mana yang lebih dulu. Dia muncul di depan saya, atau foto kita selesai dicetak,” ucapnya santai.Anya tercengang mendengar jawaban Bintang. Bagaimana bisa, laki-laki ini membuat keputusan pernikahan dengan cara sesederhana itu? Ini kan bukan perkara main-main. “Kalau duluan dia muncul?” tanya Anya.“Kamu tahu dari mana kalau dia bakal muncul?” Bintang balik bertanya. “Yah ... siapa tahu kan, tiba-tiba dia jatuh dari langit terus langsung duduk di pangkuan Om.”“Kamu terlalu banyak nonton film fantasi

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 25

    Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam Persit di sampingnya. “Untung ada baju Mama, ya?” ucapnya membuka obrolan. “Iya, Mama Om Bintang baik banget,” puji Anya. “Mama memang begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” “Nggak kayak anaknya ya?” “Heuh? Maksud kamu?” tanya Bintang. “Nggak ... nggak ada apa-apa, Om.” Anya tersenyum pelan tanpa Bintang lihat. Selang beberapa menit kemudian, mobil crossover hitam itu sudah tiba di depan sebuah studio foto. Bintang dan Anya segera turun dan masuk ke dalam bangunan berlantai dua tersebut. Saat sudah di dalam, mereka langsung disambut oleh seorang pria yang merupakan karyawan studio tersebut. Pria itu mengarahkan Bintang dan Anya untuk naik ke lantai dua guna melakukan sesi p

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 24

    Andini …,” panggil Rahayu lembut pada menantunya. “Iya, Ma? Ada apa?” tanya Andini. “Minta tolong, make-up kan Anya sebentar, ya? Kamu kan ahlinya kalau masalah make up sama masak,” pinta Rahayu. “Ok, Ma. Aman.” “Mama ke belakang dulu ya?” Rahayu berlalu keluar kamar. Sementara Andini, ia segera masuk ke kamarnya untuk mengambil peralatan ‘tempur’ yang biasa digunakannya jika ada acara di kantor Langit, yaitu satu set perlengkapan make up lengkap. “Maaf ya Mbak, aku jadi merepotkan.” Anya benar-benar tidak enak dengan calon kakak iparnya itu. “Apa sih Mbak, ini tuh pekerjaan kecil.” Andini tersenyum tulus. Tanpa menunda lagi, Andini pun langsung memoles wajah Anya. Pertama-tama ia beri pelembab dulu, lalu melapisi wajah gadis itu dengan foundation dan concealer agar lebih mulus. Lanjut meratakannya dengan bedak padat berwarna senada. Pakai bulu mata. Eye liner. Perona pipi (blass on). Dan yang terakhir, lipstik dengan warna natural. “Wah ... Mbak Anya benar-benar beruba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status