Home / Romansa / Mengejar Cinta Puteri Bangsawan / Bab 20. Masa Lalu yang Belum Usai

Share

Bab 20. Masa Lalu yang Belum Usai

Author: Enday Hidayat
last update publish date: 2024-08-06 00:00:04
“Aku tidak siap untuk negosiasi.”

Arjuna berterus terang, matanya menatap jauh ke arah hamparan padang rumput yang bergoyang tertiup angin senja. Ia sulit berbohong kepada masa lalunya itu; kepada sosok yang pernah mengenal setiap lekuk jiwanya, baik yang terang maupun yang gelap.

“Ada sedikit kekacauan dengan diriku. Seolah ada dua orang yang berdebat di dalam kepala, dan aku tak tahu mana yang harus didengarkan.”

Kirana tersenyum tipis, senyum yang mengandung pengertian mendalam, seolah ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 97. Kutukan yang Membelah Hati

    Suara teriakan penuh amarah itu membuat Kong terperanjat kaget. Ia menoleh ke arah sumber suara, dan pemandangan yang terlihat membuatnya terpaku. Kabut senja yang menyelimuti hutan perlahan tersapu angin, memperlihatkan sosok yang berdiri di depan akar besar.“Astaga!” seru Kong tanpa sadar, matanya terbelalak lebar. “Apa aku tidak salah lihat?"Sosok srikandi perang bertubuh besar, berotot padat, dan berwajah garang kini telah berubah drastis. Pakaian perang yang berlumuran tanah terlihat lebih longgar mengikuti lekuk tubuh yang baru.“Kemuning...?” gumam Kong, matanya tidak berkedip sedikit pun, seolah takut pemandangan itu lenyap seperti mimpi. "Benarkah itu kau?"Ia hampir tidak percaya pada penglihatannya. Wanita yang baru saja bertarung sengit dengannya di atas daun kering, mampu mengayunkan gada seberat ratusan kati dengan mudah, kini menjadi ramping dan mempesona, berdiri anggun memancarkan wibawa seorang pejuang yang tak pernah luntur. Wajahnya berubah menjadi cantik jelita

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 96. Kemesraan Terpanas

    Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 95. Percuma Keluar Keringat Bertarung

    Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 94. Jadi Raja Sungguh Enak

    Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 93. Ada Masalah dengan Kejujuran Perempuan

    Arjuna memandang Anjali. Matanya yang tajam menyelidik seolah mencari kebohongan yang terselip dalam bola mata yang kecoklatan itu. “Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan,” ucapnya menusuk. Anjali tertegun sejenak. Julukan Empat Iblis Hitam yang melekat karena kehebatan ilmu mereka, dan tak selamanya mencerminkan hati mereka yang sesungguhnya. Mereka datang bukan untuk berbuat jahat, tapi hanya mencari tempat berlindung dari kejaran musuh yang mengancam nyawa. Kong tampak siap menjadi perisai bagi mereka. Kesediaannya itu sebenarnya hanyalah bentuk kepercayaan yang mudah dimanfaatkan. Di balik sikapnya yang murah hati, ia memiliki keterbatasan yang tak disadari banyak pendekar. Jika benar-benar terdesak, Arjuna yang harus turun tangan, karena ia mengerti kemampuan lawan jauh melampaui apa yang bisa dihadapinya sekalipun didampingi empat wanita tangguh itu. Kong takkan sanggup menghadapi pasukan pemburu itu. Ilmu yang tersisa dari alam atas hanyalah kecepatan lari yang luar

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 92. Wangsit yang Tak Diinginkan

    Dara Hiti melompat tinggi ke udara keluar dari arena pertarungan, jungkir balik dua kali, dan mendarat dengan ringan di hadapan Arjuna. Ia menatap lekat-lekat dan bertanya untuk memastikan, "Kau serius dengan kata-katamu tadi?" Arjuna mengangkat kepalanya sedikit, matanya menyapu wajah rupawan itu. "Apa aku kelihatan main-main?" Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru jika mengira aku akan menolak. Makhluk apapun yang pikirannya waras pasti memenuhi permintaan ksatria tertampan dan terkuat di muka bumi." Dara Hiti melangkah pergi, Arjuna menegur. "Kau mau ke mana?" "Belakang pohon." "Aku ingin di sini." Dara Hiti terdiam sesaat, ia mendadak jadi gugup. "Aku...aku malu bermesraan di depan banyak orang." "Emangnya daying boleh protes?" Ragu-ragu Dara Hiti mendekat. Arjuna tidak sabar menunggu, ia menarik tangan lembut itu sehingga terjatuh ke dalam pangkuannya. "Aku belum pernah disentuh laki-laki," bisik Dara Hiti saat Arjuna mengecup bibirnya. "Mungkin agak kaku dan tidak bisa

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 54. Kakek Bermulut Cabul

    Mereka melepas caping yang menjadi senjata andalan terakhir. Angin caping menderu-deru mencari sasaran. Arjuna pasti jadi rica-rica jika terkena sambaran. "Pulanglah kalian ke neraka!" Arjuna menggunakan jurus Kuda Liar Membelah Surai untuk mengirim mereka ke alam abadi. Kaki dan tangan bergerak d

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 51. Tua-tua Keladi

    Arjuna memperkirakan ada sepuluh orang bersembunyi di balik pohon di sekitar mereka. Sepuluh kakek bercaping itu rata-rata sudah tua, tapi mata mereka begitu muda melihat Citrangada dan Larasati, sangat liar. "Biarkan saja," kata Bajang. "Kelihatannya mereka mencium aroma ayam bakar. Kita kasih

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 50. Seperti Dalam Kisah Mahabharata

    Mereka mengurangi lari kuda saat memasuki hutan hitam. Semak-belukar tumbuh malang-melintang sehingga cukup menyulitkan untuk dilewati. Pemandangan di sekitar tampak cukup gelap, sinar matahari tidak dapat menembus rimbunnya dedaunan, dahan mati yang tergantung patah menciptakan halusinasi yang

  • Mengejar Cinta Puteri Bangsawan   Bab 47. Tabir Gelap Mulai Terungkap

    "Entahlah." Resi Kamandalu menghela nafas seolah ingin menghalau misteri yang menggantung di kepalanya. "Aku tidak kenal siapa ayahmu. Jadi aku tidak tahu suara tanpa wujud itu milik siapa." Arjuna termenung. Bagaimana kalau suara itu adalah suara ayahnya? Ia ingin menyelamatkan putranya yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status