Share

Bab 13 (21+)

Author: QueenShe
last update Last Updated: 2025-10-17 14:31:11

Malam itu, Raya sengaja menunggu hingga larut. Ia duduk di mejanya sambil berpura-pura menyelesaikan beberapa dokumen, padahal matanya selalu mengarah ke pintu ruangan Ares.

Pukul 19.30, lampu di ruangan Ares akhirnya padam. Pria itu keluar, mengenakan jas formal yang sudah ia lepas, hanya kemeja putih dengan lengan digulung.

Ares terkejut melihat Raya masih ada. "Belum pulang?"

"Baru saja selesai, Pak," jawab Raya sambil merapikan meja. "Saya perlu menyelesaikan beberapa dokumen untuk besok
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Cynta
hampir aja yaa.. 🫣
goodnovel comment avatar
Eti Rachmawati
aku suka ceritanya......, aku ga sabar nunggu kelanjutan cerita ini
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 454

    Ares bangkit dari ranjang dengan gerakan yang jauh lebih gesit daripada sebelumnya. Senyum miringnya masih bertahan, seolah tugas "melap badan" ini adalah proyek bisnis paling menguntungkan yang pernah ia tangani. Ia melangkah menuju kamar mandi luas di kamar itu, dan tak lama kemudian terdengar suara gemericik air hangat yang mengisi wastafel porselen.Raya hanya bisa memperhatikan punggung suaminya dari tempat tidur, hatinya berdegup sedikit lebih kencang. Ada rasa geli sekaligus haru melihat seorang Ares Mahardika, pria yang biasanya hanya memegang pena mewah dan dokumen triliunan rupiah, kini sibuk menyiapkan baskom, handuk kecil, dan memilihkan piyama."Semuanya sudah siap, Nyonya," bisik Ares, suaranya rendah dan serak saat ia duduk di tepi ranjang.Ares kembali ke sisi ranjang dengan sebuah baskom berisi air hangat yang mengepulkan aroma lavender dan sandalwood—minyak esensial penenang yang sengaja ia campurkan. Di lengannya, tersampir handuk putih bersih yang sangat lembut dan

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 453

    "Pelan-pelan, Sayang. Jangan memijak lantai terlalu keras," instruksi Ares dengan nada sangat serius, tangannya menyangga pinggang Raya seolah istrinya itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Ares, aku cuma mau duduk di kursi roda, jaraknya cuma satu langkah," protes Raya, namun suaranya kalah telak oleh tatapan tajam Ares.Kursi roda elektrik yang dipesan Ares sudah seiap dipakai, lengkap dengan bantalan ekstra empuk yang bahkan jauh lebih nyaman daripada kursi pesawat first class.Bahkan saat Raya mencoba menggeser duduknya agar lebih nyaman, Ares langsung sigap memegangi bahunya."Kenapa? Ada yang sakit? Perlu aku panggilkan dokter?"Ibu Ratih yang berdiri di dekat pintu masuk hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah menantunya."Pak Ares, tenang sedikit. Tidak apa-apa kalau Raya bergerak sedikit untuk mencari posisi nyaman. Kalau Pak Ares terlalu tegang begini, Rayanya malah ikut stres."Ares hanya bergumam kaku, "Saya hanya ingin memastikan semuanya aman,

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 452

    Kamar rawat VVIP yang tadinya tenang dan penuh haru itu kini berubah total menjadi ruang riuh yang lebih mirip lounge eksklusif daripada kamar rumah sakit. Ares berdiri mematung di sisi ranjang, tangannya bersedekap dengan wajah yang mengeras, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang sedang digempur habis-habisan oleh para "sahabat" lamanya.Geri, yang duduk dengan santai di kursi dekat nakas, menatap Ares dengan cengkeraman tawa yang tertahan. "Res, jujur ya... kami semua tadinya sempat taruhan diam-diam. Kami pikir, di usia kita yang sudah kepala empat lewat lima tahun ini, 'torpedo' kamu itu sudah masuk masa pensiun atau setidaknya sudah agak layu sebelum sempat memanjang," celetuk Geri tanpa filter sama sekali.Ares memejamkan mata rapat-rapat. Urat di pelipisnya berdenyut. Ia bisa merasakan tatapan Ibu Ratih yang duduk di sofa bersama Dio, memperhatikan gerombolan pria paruh baya yang bertingkah seperti remaja puber itu."Geri, jaga bicaramu. Ada Dio dan Ibu disini," desi

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 451

    ​Ibu Ratih duduk di kursi tepat di samping ranjang, tangannya yang mulai keriput namun terasa sangat sejuk terus mengusap jemari Raya yang masih terpasang selang infus. Di sudut ruangan, Dio duduk di sofa, pura-pura asyik dengan ponselnya namun telinganya terpasang lebar-lebar untuk menyimak percakapan ibu dan kakaknya. ​"Raya... bagaimana awalnya bisa begini? Pak Ares menelepon Ibu kemarin suaranya gemetar, hampir menangis dia. Ibu langsung lemas, jantung Ibu rasanya mau copot," ujar Ibu Ratih dengan nada yang sarat akan kekhawatiran. Matanya yang teduh menatap dalam ke arah Raya, mencari kepastian bahwa putri sulungnya itu benar-benar baik-baik saja. ​Raya menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal yang telah diatur sedemikian rupa oleh Ares tadi. "Maaf ya, Bu, sudah buat Ibu jantungan sampai harus terbang jauh-jauh dari Surabaya." ​"Jangan minta maaf, ceritakan saja," desak Ratih. ​"Sebenarnya... aku juga bodoh, Bu," aku Raya pelan, matanya menatap l

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 450

    "I—Ibu?" Raya mengulang panggilannya dengan suara yang nyaris hilang. Tangannya dengan gemetar menarik kerah baju rumah sakitnya setinggi mungkin. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. ​Ibu Ratih berdiri mematung di ambang pintu, matanya berkedip beberapa kali seolah sedang memproses pemandangan yang baru saja tertangkap indranya. Di belakangnya, David membuang muka ke arah dinding koridor dengan ekspresi yang sangat menderita, sementara si perawat muda di sampingnya sudah menunduk dalam, menatap ujung sepatunya sendiri seakan-akab itu adalah benda paling menarik di dunia. ​Keheningan yang mencekam itu hanya pecah saat Dio, yang baru saja selesai memarkir mobil, melangkah masuk dengan santai. "Lho, ngapain pada berhenti di pintu? Ayo mas—" Ucapan Dio terhenti. Ia melihat kakaknya, Ares, yang sedang berdiri tegak namun dengan telinga yang memerah, lalu melihat Raya yang sudah separuh bersembunyi di balik bantal. ​"Kenapa Bu? Bukannya dari kemarin udah gak

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 449

    "Kamu mau aku jawab jujur kan?" tanya ares pelan dan hati-hati. Kepala Raya otomatis mengangguk-ngangguk. "Janji ya, jangan marah? Aku gak mau kamu stres lagi." Ares menatap kedua mata Raya dalam. Terlihat kedua netra istrinya istrinya itu bergetar, ada kilat keraguan dan ketakutan disana. "Aku janji," jawab Raya pelan. "Begini sayanh," suara Ares terdengar rendah, nyaris seperti gumaman. "Dulu, saat Lulu hamil Kenzie... aku masih sangat muda. Aku sedang gila kerja, sedang membangun fondasi Mahardika Group yang baru raja di alihkan padaku. Jadi aku harus bekerja kerasa agar tidak goyah." Ares menghela napas perlahan. "Saat itu aku memberikan semua fasilitas terbaik, rumah sakit terbaik, dokter terbaik. Tapi aku tidak ada di sana. Aku memberikan uang, tapi tidak memberikan diriku sendiri. Aku tidak pernah memindahkan kamar, memesan kursi roda, bahkan aku jarang sekali mengelus perutnya." Ares menoleh kembali ke arah Raya yang kini matanya berkaca-kaca. "Dan Tania..." Ares men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status