Share

Bab 340

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-21 08:49:21

Pelayan hotel mengantarkan troli berisi sarapan mewah ke kamar mereka. Aroma kopi yang kuat dan roti panggang hangat memenuhi ruangan. Namun suasana mendadak berubah serius saat mereka mulai duduk berhadapan.

Raya menunduk, mengaduk bubur ayamnya dengan gerakan mekanis. Sendoknya berputar-putar tanpa tujuan, menciptakan pusaran kecil yang tidak pernah ia makan. Hatinya masih terasa seperti medan perang yang baru saja luluh lantak, penuh reruntuhan dan abu.

"Sayang," panggil Ares lembut. Pria
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 413

    Pintu kamar mandi terbuka pelan. Raya melangkah keluar dengan wajah yang sudah ia usahakan terlihat tenang. Mata yang masih sedikit sembab, tapi ia memaksakan senyum tipis di bibirnya. Ares yang masih duduk di tepi ranjang langsung mendongak, matanya menatap istrinya dengan pandangan penuh penyesalan dan kekhawatiran. "Raya—" "Aku harus menyelesaikan packing," potong Raya dengan nada yang berusaha terdengar normal, tapi suaranya sedikit bergetar. Ia langsung berbalik, berjalan menuju koper yang masih terbuka di sudut kamar, menghindari tatapan Ares. Tangannya meraih beberapa pakaian yang masih tersebar, mulai melipatnya dengan gerakan mekanis—terlalu cepat, terlalu kaku, tidak seperti biasanya yang teliti dan rapi. Ares bangkit dari ranjang, langkahnya cepat menghampiri Raya. "Sayang, tunggu. Kita harus bicara—" "Tidak ada yang perlu dibicarakan," ucap Raya tanpa menoleh, tangannya terus melipat pakaian meski tangannya gemetar. "Kamu sudah minta maaf. Aku sudah dengar. Sekarang

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 412

    Berdiri di depan wastafel, kedua tangan Raya mencengkeram tepi marmer dingin dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Wajah yang pucat, mata yang mulai memerah, bibir yang gemetar menahan tangis. Ia menarik napas panjang—sangat panjang—berusaha mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Tapi dadanya tetap terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, meremas jantungnya dengan kuat. ​"Kenapa, Ares?" bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Satu tetes jatuh, lalu disusul yang lain. Raya segera membuka keran air, membasuh wajahnya dengan air dingin—berusaha menghilangkan jejak air mata sebelum semakin banyak yang jatuh. "Atau kamu sudah mulai lelah dengan Kelana?" Kata-kata Ares terus bergema di kepalanya. Berulang-ulang. Seperti lagu yang tidak bisa berhenti. "Karena dia anak Tania?" Selama ini, ia telah menerima segala kerumitan hidup Ares dengan tangan terbuka. Ia menghadapi Kenzie, Lul

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 411

    Raya terdiam sejenak, ia bisa merasakan perubahan suhu di antara mereka. Tatapan menyelidik Ares bukanlah tatapan yang biasa ia terima. Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang membangun tembok pertahanan, seolah-olah sedang berhadapan dengan lawan bisnis, bukan istrinya. "Atau... atau kamu sudah mulai lelah dengan Kelana?" tanya Ares akhirnya mengatakan kecurigaannya. "Karena dia anak Tania? Karena semua drama yang terjadi jadi kamu—" "Ares, tolong stop," potong Raya tegas sambil menyentuh lengan Ares. ​Raya menarik napas panjang, mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia tidak menyangka bahwa usulannya akan ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpedulian. ​"Ares, dengarkan aku dulu sampai selesai," ucap Raya, suaranya sedikit bergetar namun tetap lembut. "Aku tidak bermaksud mengabaikan ulang tahun Kelana. Justru sebaliknya." ​Ares masih diam, hanya menaikkan satu alisnya, menunggu penjelasan yang masuk akal bagi logikanya yang sedang dipenuhi prasangka. ​

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 410

    Suara ritsleting koper terdengar di sudut kamar yang luas. Raya sibuk melipat pakaian dengan rapi, menyusunnya di dalam koper besar yang sudah setengah penuh. Shopping bag berisi oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman berjejer rapi di samping koper. "Ares, kaos polo biru yang kamu pakai kemarin sudah dicuci atau belum?" tanya Raya sambil memeriksa lemari. "Sudah," jawab Ares tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang terbuka di pangkuannya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan kacamata baca. Lengan piyamanya digulung sampai siku, menunjukkan betapa ia tengah serius bekerja meski sudah larut malam. "Bagus," gumam Raya sambil mengambil kaos itu dari gantungan dan melipatnya dengan hati-hati. Ia melirik jam di nakas, hampir pukul sepuluh malam. Besok pagi mereka akan terbang kembali ke Jakarta. Kembali ke kehidupan normal mereka. Kembali ke Kelana. Kelana. Raya terhenti sejenak, tangannya masih memegang lipatan kaos. Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya. "Sa

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 409

    David terdengar menarik napas dalam di ujung sana. "Tuan, pihak medis mengatakan kondisinya... cukup serius. Dr. Miller ingin menyampaikannya langsung pada Anda." Ares mengernyit. "Sambungkan sekarang." "Baik, Tuan. Tunggu sebentar." Terdengar suara klik, lalu suara Dr. Miller yang familiar. "Mr. Mahardika," sapa Dr. Miller berhati-hati l. "Terima kasih sudah bersedia menerima telepon saya." "Langsung saja. Apa yang terjadi dengan Tania?" tanya Ares terdengar lelah. Dr. Miller terdiam sejenak sebelum menjawab. "Setelah kejadian kemarin, kami mengobservasi Tania dengan ketat seperti yang dijanjikan. Awalnya dia terlihat damai. Lebih tenang dari sebelumnya. Kami pikir percakapan dengan Anda membantunya mencapai semacam closure." "Tapi?" dorong Ares, merasakan ada sesuatu yang tidak disampaikan. "Tapi semalam, kondisinya berubah drastis," jelas Dr. Miller nadanya khawatir. "Dia mengalami episode depresi yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Menolak makan, menolak minum, bahkan m

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 408

    Matahari pagi San Francisco bersinar cerah, menembus jendela kamar hotel dan membangunkan Raya dengan lembut. Ia mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum saat merasakan lengan kekar Ares yang masih melingkar possesif di pinggangnya. "Bangun, Sayang," bisik Ares di telinga Raya, suaranya masih serak khas baru bangun. "Kita punya satu hari penuh untuk menikmati kota ini." Raya berbalik dalam pelukan Ares, menatap wajah suaminya yang tampan bahkan di pagi hari. "Pagi, suamiku yang tampan." Ares tersenyum, mengecup bibir Raya singkat. "Pagi, istriku yang cantik. Ayo mandi. Kita punya banyak tempat yang harus dikunjungi." Dua Jam Kemudian - Union Square Ares dan Raya berjalan beriringan di trotoar yang ramai, tangan mereka saling bertaut erat. Raya mengenakan dress casual berwarna putih dengan cardigan krem, rambut dikuncir ekor kuda tinggi. Ares dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku dan celana chino hitam—tampilan kasual tapi tetap berkelas. Di tangan kanan Raya sudah ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status